LOGINWiduri tidak suka laki-laki kaya. Masa lalu ibunya membuatnya antipati dengan laki-laki kaya. Widuri sudah bertekad untuk berjodoh dengan laki-laki yang biasa saja. Hidup sederhana, tanpa harus memusingkan harta dan tahta. Namun bagaimana jika kenyataan tak sesuai harapan? Bagaimana jika seorang CEO tampan nan kaya justru mengejar cintanya? Mampukah sang CEO menaklukan hati Widuri yang belum pernah tersentuh?
View MoreDentuman musik terdengar menggema di ruangan dengan cahaya meremang. Botol minuman tampak berserakan di meja bersama piring dengan sisa camilan maupun buah.
Seorang gadis berpakaian seksi tampak menari di tengah ruangan, meliukkan tubuh indahnya mengikuti musik yang berdentum keras.
Seorang pria juga tampak bersama gadis itu, menari seraya memegangi pinggang ramping gadis itu dari belakang, bahkan sesekali mengusap hingga ke bagian perut dan paha. Dada pria itu menempel pada punggung gadis yang pakaiannya sedikit terbuka di bagian belakang, sesekali mencium pundak dan leher dengan tubuh bergerak mengikuti irama musik.
“Setelah ini, apa yang ingin kamu lakukan, hm?” tanya Pria itu sedikit keras karena suaranya tersamarkan dengan dentuman musik yang menggema.
Gadis itu berhenti menari, menyelipkan rambut ke telinga seolah ingin mendengar apa yang dikatakan oleh pria yang bersamanya.
“Hah? Apa yang kamu katakan?” tanya balik gadis itu setengah berteriak.
“Apa yang mau kamu lakukan setelah ini? Apa kita perlu memesan kamar?” Pria itu menjawab dengan pertanyaan dan suara yang keras.
Gadis itu tersenyum miring, lantas membalikkan badan dan berhadapan dengan pria tadi. Dia merangkulkan kedua lengan ke leher pria itu, lantas mendekatkan wajah mereka hingga jarak hanya sejengkal.
Gadis itu tanpa sungkan menyambar bibir pria itu, melumat dan menyesap berulang kali yang tentunya mendapatkan balasan dari lawannya. Gadis itu melepas pagutan bibir, menatap sang pria dengan senyum manis yang membuat pria mana pun akan tergila-gila padanya.
“Aku hanya ingin bersenang-senang, malam ini sampai pagi. Tapi ….” Belum juga gadis itu melanjutkan ucapan, ponsel yang berada di saku belakang rok mininya bergetar.
“Siapa sih yang menghubungi?” Gadis itu menggerutu, lantas mengambil ponsel yang tak berhenti bergetar.
“Tunggu sebentar!” ujar gadis itu pada sang pria.
Pria itu hanya mengangguk, kemudian memilih kembali ke sofa menunggu gadis yang bersamanya selesai menjawab panggilan.
Gadis itu sedikit merapat ke dinding, kemudian menjawab panggilan dari temannya.
“Halo, Rosie! Ada apa?” tanya gadis itu dengan ponsel menempel di telinga kanan, sedangkan telinga kiri ditutup menggunakan tangan satunya agar bisa mendengar dengan jelas.
“Selena, pergi dari sana sekarang!” Suara gadis yang dipanggil Rosie itu terdengar panik.
Selena—gadis yang menari bersama pria itu menggosok telinga kanan setelah menjauhkan ponsel dari telinga, merasa jika temannya berteriak begitu kencang. Dia lantas kembali menempelkan ponsel ke telinga, kemudian menanggapi ucapan temannya yang panik.
“Tenang, Rosie. Ada apa, hm?” tanya gadis bernama Selena itu santai.
“Alex menuju ke ruanganmu, dia naik menggunakan lift. Pergi dari sana, atau habis sudah kesenanganmu!” teriak Rosie dari seberang panggilan dengan suara melengking begitu keras.
“Apa?” Gadis bernama Selena itu berteriak dengan bola mata membulat. Seketika dia seperti orang yang hampir ketahuan sedang ingin mencuri. Selena mau berlari ke mana tapi tak tahu karena bingung, hingga membuatnya malah berjalan ke kanan dan kiri tapi urung.
“Ada apa?” Pria yang bersama Selena mematikan musik, lantas menatap gadis yang bersamanya itu sedang kebingungan.
Selena menghampiri pria tadi, lantas mendaratkan sebuah kecupan di bibir dengan tangan menyambar jaket yang berada di sandaran sofa.
“Baby, aku harus pergi. Kita ketemu besok lagi, oke!”
“Tapi ….” Pria itu ingin mencegah, tapi urung karena gadis yang belum selesai bersenang-senang dengannya itu malah kabur duluan. “Sialan! Padahal aku sudah berfantasi dengan tubuhnya!” gerutu pria itu sambil mengguyar kasar rambut ke belakang, menatap punggung Selena yang lari kalang kabut seperti dikejar setan.
Selena langsung memakai jaketnya sambil berjalan dengan setengah berlari, menyibakkan rambut panjangnya hingga tergerai ke belakang, kemudian mengambil langkah seribu untuk segera meninggalkan ruangan tempatnya bersenang-senang tadi.
“Mati aku!” Selena pergi dengan wajah panik.
Selena hendak berjalan ke arah lift, tapi urung saat mengingat jika temannya berkata kalau pria bernama Alex naik menggunakan lift. Akhirnya Selena pergi ke pintu darurat, melihat banyaknya anak tangga yang harus dilewati agar bisa sampai di lantai satu.
“Agh!!! Kenapa nasibku sangat sial!” umpat Selena kesal sendiri.
Dia melepas kedua highheels, kemudian mulai menuruni anak tangga yang berjumlah ratusan mungkin ribuan. Bagaimana tidak? Dia berada di lantai tujuh, tentu saja akan banyak anak tangga yang harus dipijak agar dirinya bisa sampai ke lantai dasar.
“Kenapa dia selalu membawa kesialan untukku?” Selena menggerutu sambil terus menuruni anak tangga dengan setengah berlari.
Di lantai bawah, tepatnya di depan pintu darurat lantai satu. Seorang pria bertubuh tegap dan tinggi, terlihat bersedekap dada menatap seorang gadis yang berdiri di depannya. Pria itu tak menunjukkan ekspresi wajah apa pun, begitu datar seperti televisi flat yang tak memiliki sebuah cekungan atau cembungan.
“Aku sudah melakukan apa yang kamu minta, apa aku boleh pergi?” tanya gadis itu antara takut dan kagum dengan pria di hadapannya.
“Kamu sudah pastikan dia turun lewat tangga darurat?” tanya pria bernama Alex itu dengan suara datar.
“Sudah,” jawab gadis bernama Rosie itu dengan senyum lebar. “Bukankah kamu tadi dengar, kalau aku berkata jika kamu naik menggunakan lift. Aku yakin seyakin-yakinnya jika Selena akan turun lewat tangga darurat,” imbuh gadis itu meyakinkan, ingin hendak lepas dari pria sedingin es dan sekaku papan triplek.
Alex menggerakkan telapak tangan di udara sebagai isyarat mengusir, tak peduli lagi dengan gadis itu karena tujuan utamanya ke sana adalah gadis bernama Selena.
Rosie tersenyum lebar, hingga kemudian mengambil langkah seribu untuk kabur dari hadapan pria bernama Alex. Pria tampan yang memiliki rahang kuat, dengan mata sedikit sipit tapi tak menghalangi tatapan tajamnya.
Alex menunggu beberapa saat, hingga kemudian memandang arloji yang melingkar di pergelangan tangan, lantas mulai berhitung, memperkirakan kapan gadis bernama Selena itu akan sampai.
“Lima, empat, tiga, dua, satu.” Benar saja, pada hitungan terakhir, pintu darurat yang berada di depan Alex terbuka.
Selena dengan napas tersengal keluar dari sana, membungkuk dan mengambil udara sebanyak-banyaknya untuk mengisi stok napas di paru-paru karena hampir habis sebab dirinya harus melewati ribuan anak tangga.
“Sialan!” umpat Selena kesal dengan napas masih terengah.
“Apa yang sialan?”
Suara yang dikenal mengejutkan Selena, gadis itu tak sadar jika ada seseorang yang berdiri di depannya. Seseorang yang sejak tadi dihindarinya, hingga rela turun lewat tangga darurat.
Selena mencoba mendongak dengan badan masih membungkuk, kesialan memang sedang datang mengerjainya, niat hati menghindar malah kini tertangkap. Membuatnya geram, karena sadar jika temannya bersekongkol dengan pria bernama Alex untuk menangkapnya.
“Mau ke mana lagi kamu, hah? Jangan harap bisa kabur lagi!” Alex meraih pergelangan tangan Selena, sebelum kemudian mengangkat tubuh gadis itu lantas memanggulnya di pundak.
Selena yang masih dalam kondisi syok, lantas berteriak dengan keras karena terkejut.
“Alex! Sialan! Turunkan!” teriak Selena berulang, memberontak agar bisa turun dari pundak pria bertubuh kekar itu. Bahkan sampai memukul punggung lebar pria yang memanggulnya seenak hati.
“Mengumpatlah sesukamu! Tapi aku takkan melepasmu!” balas pria berwajah datar itu santai, lantas mengayunkan kaki dengan santai menuju area parkir.
“Alex sialan! Rosie pengkhianat!” teriak Selena yang kesal.
Suasana pagi di rumah Mba Mira cukup membuat rooming di telinga. Mba Mira yang biasanya memang sudah cerewet, saat pagi hari kadar cerewetnya meningkat berkali-kali lipat. Seolah-oleh kalau berhenti bicara, maka berhenti pula bumi berputar. Ditambah dengan kelakuan si kembar yang tak mau diam, seolah memang sengaja untuk memancing emosi ibunya. Hanya Mas Radit yang tidak terpengaruh oleh kehebohan anak istrinya."Zaidan, letakkan mainannya!" teriak Mbak Mira yang kesekian kalinya."Zaidan, denger Bunda ngga? Letakan mainannya! Mandi dulu!" Mba Mira kembali mengulang titahnya dengan lebih keras."Iya iyaa, Idan mau mandi sama Ate Ui aja," jawab Si Bos kecil sambil mendekat ke arahku."Ate Ui sudah pakai baju kerja nanti basah, mandi sama Bunda saja!" Sang ibu menolak ide sang anak."Nggak mau!" tolak Zaidan dengan cepat."Yah, bantuin to ah! Kebiasaan nggak peka banget lihat istri repot." Kali ini Mba Mira mulai melebarkan g
Mba Mira kubuat terbengong-bengong dengan pernyataanku yang tak ingin menikah. Sementara Aku masih menyelimuti seluruh tubuhku, tak berniat membukanya, lebih ketakut melihat tampang Mba Mira saat ini. Setelah saling terdiam beberapa saat, tiba-tiba selimut yang kupakai ditarik paksa oleh Mba Mira."Bocah edan! Maksudmu opo dengan tidak usah menikah?" tanya Mba Mira sambil melotot."Ya ora opo-opo, Mbak. Aku merasa nyaman sendiri begini," jawabku sambil kembali memakai selimut yang tadi ditarik Mba Mira."Kamu jangan egois to, Wid. Bagaimana perasaan ibumu kalau kamu tidak menikah? Ibumu kan sudah lama kepengin nimang cucu, Wid," cicit Mbak Mira sedikit menekan suaranya takut membangunkan seisi rumah.Kutarik napasku, lalu kuhembuskan dengan kasar. Ibuku? Mana mungkin aku melupakan perasaan Ibuku. Bagiku hal terpenting di dunia ini adalah Ibuku. Aku akan rela melakukan apapun asalkan beliau bahagia."Naah kan, nggak bisa jawab kan
Hai kamu iya kamu selamat malam. Pak sendok up nieh. Semoga klen suka yaaa. Btw, ada yang nungguin pak sendok nggak nih? kalu sudah baca boleh loh tinggalin jejak, jangan lupa ulasannya yaa bintang lima dooong. i lup u ols🥰🥰*****Malam semakin larut, anak-anak Mba Mira sudah terlelap, setelah kubacakan mereka dongeng. Mba Mira sendiri biasanya akan tidur dengan Mas Radit dulu, namun akan bergabung denganku saat Mas Radit telah tidur. Pernah aku keberatan, nggak enak rasanya kalau kehadiranku mengganggu kebersamaan mereka, namun Mba Mira tidak peduli, dengan alasan sudah minta ijin Mas Radit, dan Mas Radit juga tidak keberatan.Pukul 21.15 kuputuskan untuk mengirim pesan pada ibuku, mengecek sudah tidur atau belum. Saat pesan yang kukirim langsung centang biru, segera saja ku-video call nomor Ibu."Assalamualaikum bu," sapaku ketika wajah Ibu telah mun
Hai Bestie bab 10 up yaa. Semoga kaian suka deh, pokoknya masih ada si bucin Satria sama si eneng cantik Widuri.*****Ketika waktu maghrib tiba, sudah menjadi kebiasaan di keluarga Mba Mira, untuk laki-laki biasanya salat di masjid, sementara yang perempuan akan salat berjamaah di musala rumah. Hari ini Mas Radit ke masjid bersama bos dan temannya yang baru kutahu bernama Bayu. Sementara kaum hawa yang telah selesai berjamaah, mulai berkutat dengan persiapan makan malam."Sambelnya mana, Lik Sur?" tanya Mba Rima setelah tak melihat sambel ikut tersaji di meja makan."Tadi kan Mba Widuri yang ngulek to, Mba. Di taruh mana aku kok nggak lihat, yo?" tanya Lik Sur padaku.Aku langsung teringat sambal yang tadi kutaruh di dekat rice cooker. "Owalah iya, tadi tak taruh di dekat rice cooker, malah lupa, tak ambil dulu ya." Aku segera melesat kembali ke dapur mengambil sambel.Saat kembali ke ruang makan, para pria telah duduk m
Jadwal keberangkatan kereta Ayah dan Ibu ke Jakarta pukul sepuluh malam ini. Setengah jam sebelum waktu keberangkatan kami telah sampai di Stasiun Tawang. Dari pada terburu-buru kata Ibu, jadi lebih baik berangkat lebih awal.Meskipun malam namun suasana stasiun cukup ramai. Beberapa
Kupuaskan dua hari ini libur di rumah dengan tidak kemana-mana, benar-benar di rumah saja, menikmati kebersamaan dengan Ayah dan Ibu. Banyak kegiatan yang kami lakukan, dari beberes rumah, mengurus bunga, atau mencoba menu baru.Di setiap kegiatan kami Ayah tanpa sungkan ikut membant
Melihat Ayah dan Ibu kembali bersama benar-benar seperti mimpi. Aku bahkan sudah sempat menganggap Ayahku sudah meninggal. Rasa kecewa dan sakit hati memaksaku untuk melupakan Ayah dan keluarga kayanya. Tapi Tuhan ternyata berkehendak lain, Ayah sekarang ada di tengah kami.
Teh di gelas Ayah masih setengah cangkir, sementara 3 biji lumpia di atas piring yang ku hidangkan sudah habis tak tersisa. Belum ada pembicaraan yang serius antara kami. Sesekali Ayah menanyakan nama tetangga yang melintas di depan rumah."Ayah mau lagi












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.