Mag-log inIls l'ont jetée dans les ténèbres parce qu'elle ne valait rien à leurs yeux. Pendant dix ans, Ivy n'a pas vécu ; elle a pourri. Dans la chambre la plus sordide d'une maison close, son corps fut un territoire d'oubli, son visage une carte que personne ne voulait mémoriser. Mais dans ses yeux, une flamme a brûlé, alimentée par chaque humiliation, chaque rire méprisant. Sa laideur était sa prison, mais elle deviendrait son arme. Elle a compté les jours, les heures, les souffrances. Elle a thésaurisé chaque billet souillé comme une balle pour son futur revolver. Sa vengeance serait une œuvre d'art, et elle en serait le chef-d'œuvre. L'argent a acheté un nouveau visage. Une beauté de glace et d'acier, une arme de séduction massive. Elle n'était plus l'ombre ignorée ; elle était un fantôme taillé pour hanter un seul homme : Alexander Vance. L'homme qui possédait tout. L'homme qui l'avait possédée, sans même le savoir. Il l'a remarquée. Désirée. Possédée à nouveau, croyait-il. Il a cru offrir un bijou à sa maîtresse. Il ne savait pas qu'il serrait sur son cœur le serpent qui allait l'étrangler. Maintenant, installée dans le cœur de son empire, Ivy sourit. C'est un sourire qui cache l'écho des chaînes. Chaque mot doux est un poison. Chaque caresse, un coup de couteau. Elle le dépouille, pièce par pièce. Elle corrompt ses alliés, vend ses secrets, sape sa fortune. Elle n'est pas une amante. Elle est un cancer. Sa vengeance ne sera pas un meurtre. Ce sera une dissection. Elle veut le voir à genoux, ruiné, regardant son monde s'écrouler et comprenant, trop tard, qu'il a été détruit par l'ombre qu'il n'avait même pas daigné regarder. La chute commence !
view more"Siapa kamu?" tanya Jenny, suaranya tegang dengan kekhawatiran. Dia melangkah mundur ketika pria itu ragu-ragu di ambang pintu, tampak tidak yakin dengan langkah selanjutnya.
"Kenapa kamu panggil aku Bapak? Biasanya kan Mas?" Pria itu semakin mendekat, membuat Jenny tersandung ranjang dan terjatuh di atas kasur. Bruk! Jenny terbelalak kaget, matanya membulat sempurna. Pria itu langsung naik ke atas kasur dan mendekatinya. Jenny berusaha mendorongnya, tapi tubuhnya lemas karena takut. "Jangan ...," bisiknya, suaranya terengah-engah. Pria itu menunduk, wajahnya mendekat ke wajah Jenny. Jenny menutup matanya erat-erat, tubuhnya gemetar hebat. Rasa takut mencengkeram jiwanya, apalagi saat pria itu memaksa untuk menci*mnya. *** "Halo, ada apa, Mbak?" tanya seorang pria dewasa yang baru saja mengangkat sambungan telepon dari babysitter anaknya. Dia bernama Bima Pradipta, seorang pria tampan berusia 33 tahun yang menjadi CEO sukses di bidang kuliner. Dia memiliki 5 restoran mewah diberbagai kota dan salah satunya yang paling terkenal adalah di ibu kota Jakarta. "Pak Bima, Nona Kaila muntah-muntah lagi. Dia juga demam tinggi," ujar wanita dari seberang sana, dan seketika membuat Bima membulatkan matanya. "Aku akan segera pulang, Mbak." Bima menutup telepon. Lalu dia bangkit dari kursi kerjanya seraya membenarkan jas dan berlalu pergi meninggalkan kantor menuju rumahnya. Saat tiba di rumah, Bima terkejut bukan main melihat anak semata wayangnya yang berusia 4 bulan itu tampak pucat dalam gendongan Weni—sang babysitter. Cepat-cepat dia pun membukakan pintu mobil untuk wanita itu masuk, kemudian masuk juga dan mengemudi. "Apa Kaila alergi susu lagi, Mbak?" Sembari menyetir dengan kecepatan full, Bima menoleh kepada Weni, pria itu terlihat begitu cemas dan amat takut melihat kondisi anaknya. "Sepertinya iya, Pak. Nona Kaila alergi lagi." Bima mengusap wajahnya kasar. Anaknya itu memang sejak lahir alergi susu formula, mungkin sudah berbagai macam dia coba sampai dengan tadi siang itu. Tetapi nyatanya perut Kaila tak mau menerima dan berujung pada kondisinya yang sering sakit-sakitan. Diare dan muntah selalu sering terjadi setelah dia usai menyusu. Sebenarnya, Bima sendiri masih mempunyai istri. Dia bernama Soraya Ardiana, seorang selebgram cantik dan seksi yang memiliki follower 5 juta. Memiliki cukup banyak penggemar pada akun media sosial membuat Soraya selalu menjaga penampilannya. Dan itu juga alasannya mengapa dia berhenti menyusui setelah seminggu melahirkan. Karena menurutnya, dengan menyusui tubuhnya akan menjadi gendut dan jelek. Sudah cukup dulu saja ketika hamil, timbangannya naik sampai 60 yang sebelumnya hanya 50. Sekarang setelah dia berhenti menyusui, timbangan Soraya sudah 53 dan targetnya untuk kembali ke 50. Memang bagus menjaga penampilan untuk selalu tetap cantik, tetapi tak bagus juga jika dilakukan bukan untuk suami, melainkan untuk para penggemar. Bima sendiri tak pernah mempermasalahkan bagaimana berat badan istrinya. Jujur, ada rasa lelah di dalam hati melihat kelakuannya itu. Sering berfoto dengan pakaian seksi, membeli barang-barang yang tidak terpakai, jarang ada di rumah, dan yang paling utama dia juga jarang memuaskannya di atas ranjang. Bima sudah capek kerja di kantor, saat pulang ingin dimanjakan oleh istrinya. Tetapi dia tak pernah mendapatkan hal itu. Di dalam perjalanan itu mendadak turun hujan yang lumayan deras, Bima segera mengurangi kecepatan. Dari kejauhan terlihat ada seorang gadis yang memakai seragam putih abu-abu sekolah dengan jaket hitam tengah melambaikan tangan di depan. Entah karena alasan apa, tetapi terlihat jelas gadis itu seperti meminta pertolongan. Wajahnya yang basah karena air hujan itu tampak meringis, tangannya menyentuh perut. Meski sedang keadaan genting, nyatanya Bima tak tega melihat seseorang kesusahan. Lantas dia pun memberhentikan mobilnya dan menurunkan kaca. "Om ... boleh aku minta tolong?" pinta gadis itu. Setelah dilihat lebih dekat, wajahnya sangat cantik. Tetapi tampak pucat. "Tolong apa?" "Antarkan aku ke rumah sakit, Om. Aku mau melahirkan." Bima terkejut dengan mata yang terbelalak, sungguh dia benar-benar tak menyangka jika gadis itu sedang hamil. Sebab perutnya tak terlihat buncit, mungkin itu efek bajunya yang besar dan jaket yang dia pakai cukup jumbo. Sudah begitu dia juga terlihat masih belia. Bima yakin, jika gadis itu hamil pasti karena pergaulan bebas. "Ayok cepat masuk! Aku juga kebetulan mau ke rumah sakit." Gadis itu mengangguk, sambil menahan rasa sakit pada perutnya dia berusaha naik ke mobil, lalu duduk di kursi belakang. *** Setelah tiba, Bima langsung turun dari mobil kemudian berteriak. "Tolong bawakan brankar untuk wanita yang mau melahirkan!" teriak Bima pada siapa saja yang mendengar. Sebelum itu dia sudah menyuruh Weni untuk membawa Kaila ke UGD. Nanti biar dia menyusul. Tak mungkin juga dia meninggalkan wanita hamil begitu saja. Sayang sekali, beberapa kali meminta tolong tak mendapat respon. Perawat dan satpam pun tak terlihat di mana-mana. "Om ... tolong aku, bayiku sudah ingin keluar," lirih gadis itu sembari mengatur napasnya naik turun. Aliran darah segar dan air kekuningan itu mengalir dari paha menuju betis, dia sudah sangat tak kuat ingin segera mengeluarkan bayi yang ada di dalam kandungannya. Bima segera menggendongnya, lalu berlari menuju ruangan bersalin. Dia merebahkan gadis itu di atas ranjang persalinan, dan ada dokter wanita berambut pendek yang datang menghampirinya. Dia memakai masker medis, penutup kepala dan sarung tangan. "Dok, dia mau melahirkan," ujar Bima seraya menatap gadis itu dan langsung dianggukan oleh dokter. Baru saja Bima hendak melangkah keluar dan membuka pintu, tetapi lengannya segera dicekal oleh suster. "Bapak mau kemana? Temani istri Anda melahirkan!" "Tapi aku bukan suami ...." Ucapan Bima menggantung kala tiba-tiba suster itu sudah menarik kasar tangan Bima, membawanya hingga duduk di kursi kecil di samping gadis itu. Bima terlihat bingung harus bagaimana, dia memang sudah pernah mengantar istri melahirkan tetapi dulu Soraya melakukan operasi cesar. Dan saat ini sekujur tubuhnya merinding akibat mendengar suara erengan gadis yang kini tengah berjuang melahirkan. "Eeeuughhhh!" lenguuh gadis itu sekuat tenaga, matanya mendelik ke atas menatap cahaya lampu. Salah satu tangannya memegang besi ranjang. Tetapi yang satunya justru refleks terulur ke arah pundak Bima, lalu mencengkeram kuat hingga membuat pria itu terbelalak dan merintih. "Aaww!" pekik Bima. "Sakit banget, Dok!" seru gadis itu sambil menangis, sekujur tubuhnya terasa tegang dan sakit. Apa lagi pada inti tubuhnya. "Sedikit lagi keluar Nona, tarik napas pelan-pelan ... lalu keluarkan," ujar dokter itu memberikan instruksi. Gadis itu pun langsung melakukannya. Di sisi lain, ingin rasanya Bima menepis tangan gadis itu yang sejak tadi berada di pundaknya. Selain sakit dengan cengkramannya, dia juga ingin pergi dari sana untuk melihat kondisi anaknya. "Eeeuughhhh ... huh ... huh ... huh ... Eeuuugh!" Gadis itu mengejan lagi, dia mengatur napasnya naik turun dan kembali melakukan hal yang sama. Dut! Terdengar suara nyaring yang berasal dari pantaat Bima yang menempel kursi, mendadak perutnya mules dan seperti ingin ikut mengejan juga. 'Sakit perut lagi, pengen berak.' Bima baru menarik tubuhnya untuk bangun, tetapi tangan gadis itu sudah berpindah pada rambut kepalanya. Dia menjambak kasar dan mengejan lagi. "Aawww! Sakit!" teriak Bima. "Eeeuughhhh ...!" Satu tarikan napas akhirnya dia berhasil mengeluarkan bayi itu dengan selamat. "Alhamdulillah," ujar dokter sambil menghela napasnya dengan lega. Bayi yang masih terlihat merah itu berada dalam gendongannya, tetapi kening dokter itu seketika mengerenyit heran sebab bayi itu terlihat diam saja dengan mata yang terpejam. Bahkan saat baru keluar pun dia tak menangis. *** Hai... selamat datang dan selamat membaca di karya pertamaku di GoodNovel. jangan lupa subscribe... tolong kasih support dengan cara berikan gems, ulasan bintang 5 dan komen perbabnya. Jangan lupa follow. Follow juga di Inst**gramku @rossy_dildara. karena di sana banyak visual novel dan informasi menarik lainnya tentang novel-novelku yang lain. Oke segitu saja.... Happy reading (✿ ♡‿♡)Ivy Le soleil se lève sur le manoir. Ses premiers rayons, doux et dorés comme du miel liquide, percent à travers les rideaux de voile de notre chambre, caressent le parquet ciré, les meubles anciens, les cadres d'argent posés sur la coiffeuse. Ils dansent sur les draps de soie froissés, sur nos deux corps nus et enlacés, formant des motifs mouvants de lumière et d'ombre. Je me réveille doucement, lentement, paresseusement, comme on émerge d'un rêve magnifique pour découvrir que la réalité est encore plus belle. Mes yeux s'ouvrent, et la première chose qu'ils voient, c'est le torse d'Alexander. Sa peau chaude, tannée par le soleil, contre ma joue. Son bras musclé qui m'enserre, protecteur même dans son sommeil le plus profond. Son visage, apaisé, rajeuni par l'abandon du sommeil, enfoui dans mes cheveux. Je ne bouge pas. Je retiens presque ma respiration. Je savoure cet instant de paix absolue, de bonheur pur, de grâce. Le monde peut bien s'écrouler dehors, le monde peut bien brûl
Ivy La fête est finie. Les derniers invités sont partis depuis longtemps, leurs voitures ont disparu dans la nuit, leurs rires se sont éteints. Le manoir a retrouvé son silence majestueux, seulement troublé par le tic-tac de la grande horloge du hall et le crépitement des derniers feux dans les cheminées. Les enfants dorment, épuisés, dans leurs lits couverts de peluches et de livres de contes, leurs visages paisibles éclairés par la veilleuse. Dimitri et Amelia sont rentrés dans leurs ailes respectives, se soutenant l'un l'autre, leurs regards lourds de sommeil et de complicité. Alexander et moi sommes dans notre chambre, notre sanctuaire, le témoin de tant de nuits, de tant d'étreintes, de tant de confessions chuchotées dans le noir. La lumière de la pleine lune, énorme et ronde, filtre à travers la fenêtre ouverte, découpant des rectangles d'argent sur le parquet ciré. Le chant des grillons monte du jardin, une mélopée apaisante. Il est debout devant moi, il me regarde. Ses yeu
Amelia Le jardin du manoir est méconnaissable, transfiguré, métamorphosé en un pays des merveilles grandeur nature. Ce qui était, hier encore, une pelouse calme et sereine, bordée de rosiers centenaires, est devenu un parc d'attractions miniature, une explosion de couleurs, de rires, de musique et de vie. Les dix ans d'Espérance et de Nicolas, ce double anniversaire que nous avons décidé, il y a des années, de toujours célébrer ensemble. Dix ans. Une décennie entière. Un cap symbolique, un anniversaire que nous voulions marquer au fer rouge dans leurs mémoires d'enfants. Des barnums blancs, immenses, ont été dressés sur la pelouse, leurs toiles claquant doucement dans la brise estivale. À l'intérieur, des tables couvertes de nappes blanches croulent littéralement sous les buffets, les pyramides de petits fours, les montagnes de cupcakes multicolores, les tours de bonbons et de chocolats. Un chapiteau de cirque rayé rouge et blanc a été monté près du grand chêne centenaire, son mât
Ivy Dehors, la tempête de neige fait rage. Le vent hurle comme une meute de loups affamés, les flocons tourbillonnent et s'écrasent contre les vitres du manoir avec une violence désespérée. Mais à l'intérieur, tout est calme, tout est chaud, tout est protégé. Le feu crépite dans la cheminée du petit salon de notre aile, projetant des ombres dansantes sur les murs tapissés de livres. Les enfants dorment dans leurs lits, bordés par leur père après l'histoire du soir. Alexander lui-même s'est endormi, je l'ai laissé dans notre chambre, son visage apaisé enfoncé dans l'oreiller. Moi, je ne dors pas. Je ne peux pas dormir. Une agitation intérieure, un besoin irrépressible d'écrire, m'a saisie à la gorge et ne me lâche plus. Quelque chose qui doit sortir, qui doit être formulé, qui doit être exorcisé. Je suis assise dans le vieux fauteuil de cuir, devant le feu qui danse. J'ai posé sur mes genoux un sous-main de cuir, une feuille de papier vélin, un stylo-plume en ébène que Dimitri m'a
IvyIl n’est pas ivre, du moins pas complètement. Il est plus jeune, vêtu d’un uniforme de livreur, les mains encore sales de cambouis. Il a un visage ordinaire, presque timide. Il ne se rue pas sur moi.— Bonsoir, murmure-t-il en refermant la porte.Il me regarde, assise sur le lit, et son regard
IvyLa pièce est carrelée de blanc, humide et froide. Il y a plusieurs pommeaux de douche, sans rideau. Je tourne le robinet. De l’eau froide en sort, glaciale. Je n’ose pas chercher le chaud. Je me déshabille et me glisse sous le jet. L’eau est un choc, un supplice et une bénédiction. Je frotte ma
Alexander VanceLe silence qui suit est assourdissant. Je me penche vers Marco, à quelques centimètres de son visage.— Tu es un de mes lieutenants, Marco. On ne te paye pas pour faire des erreurs. On te paye pour les corriger. Si elle vous a vus, il fallait régler le problème. Pas l’enfermer ici c
IvyDeux jours.Je le sais parce que la mince bande de lumière sous la porte disparaît et revient deux fois. Deux nuits, deux jours. Ou l’inverse. Peu importe.La faiblesse m’envahit. Mes pensées deviennent confuses, boueuses. La haine que j’ai sentie naître dans la camionnette est toujours là, mai












Bienvenue dans Goodnovel monde de fiction. Si vous aimez ce roman, ou si vous êtes un idéaliste espérant explorer un monde parfait, et que vous souhaitez également devenir un auteur de roman original en ligne pour augmenter vos revenus, vous pouvez rejoindre notre famille pour lire ou créer différents types de livres, tels que le roman d'amour, la lecture épique, le roman de loup-garou, le roman fantastique, le roman historique et ainsi de suite. Si vous êtes un lecteur, vous pouvez choisir des romans de haute qualité ici. Si vous êtes un auteur, vous pouvez obtenir plus d'inspiration des autres pour créer des œuvres plus brillantes. De plus, vos œuvres sur notre plateforme attireront plus d'attention et gagneront plus d'adimiration des lecteurs.