LOGINDi kediaman Darto, Amina tidur pulas di dalam kamarnya. Darto membuka mata dan dia melihat Amina sudah rebah di sebelahnya. Darto ingin buang air kecil, dia menyibak selimut dan turun dari atas ranjang menuju ke kamar mandi di dalam kamar tersebut. Saat melihat jam di dinding ternyata waktu sudah menunjukkan pukul dua pagi. Tadinya Darto pikir Yuyun juga merindukan dirinya sama seperti yang dia rasakan. Melihat keadaan rumah begitu tenang Darto tahu tidak ada seorang pun yang terjaga pada mal
Samsudin sudah selesai dari kandang area yang menjadi jatahnya untuk dikerjakan hari ini, dan ketika hendak mengambil gerobak untuk mengangkut kotoran sapi dia kebetulan melihat kandang bagian Nardi belum diselesaikan. "Nardi edan, masa gerobak pakan malah ditinggal di sini," omel Samsudin seraya menoleh kesana-kemari untuk menemukan Nardi. "Ke mana sih perginya itu orang!" Omelnya lagi. Saat hendak meninggalkan area tersebut Samsudin mendengar erangan wanita entah dari mana datangnya. "Ooh, Mas Nar, oohh, oowhh, ookhh, awh, aahh, aahhh, sshhh, ooohhh, terus Mas, oohh, oohh," Samsudin mengusap tengkuknya sendiri yang mulai meremang. "Nardi lagi genjotan? Suara siapa itu? Tukang jamu? Kayaknya bukan, tapi masa si Lindar? Apa kepalanya pengen dipalu sama suaminya si Lindar," gumam Samsudin sambil geleng-geleng kepala sendiri. Tepat saat berjalan melewati gang di celah-celah antara bangunan kandang Samsudin mel
Sekitar beberapa menit kemudian terdengar suara ketukan dari luar pintu, Darto terjaga dari lamunannya dan dia melihat Lindar masuk ke dalam ruangan kerjanya dengan sebuah buku catatan di dalam genggaman tangannya, wanita itu dengan santai berjalan seolah-olah Darto bukan seorang majikan melainkan pacar yang sudah biasa dia layani.“Pak, pagi-pagi sudah melamun?” Tegurnya sambil mengukir senyum.Darto menatap Lindar sekilas lalu membuang napas kasar seakan-akan enggan melihat Lindar masuk ke dalam ruangannya.Senyum Lindar mendadak lenyap dari bibirnya lantaran Darto tidak menyambutnya dengan kemesraan dan kehangatan seperti hari-hari sebelumnya. Lindar langsung meletakkan catatan tersebut di meja lalu bergegas pergi meninggalkan ruangan. Darto menatap buku catatan yang ditinggalkan Lindar di meja, Darto memeriksanya sebentar. Kedua matanya menatap buku tapi isi kepalanya penuh dengan sosok Yuyun.Sekitar satu jam kemudian Sarinten datang dan meletakkan makan siang u
Rangga tidak segera menimpali perkataan Wina barusan, Rangga hanya bisa menghela napas panjang menatap Yuyun pergi meninggalkan ruangan kerjanya. Wina masih tidak bisa memahami apa sebenarnya tujuan Rangga melakukan tindakan tersebut tepat di depan Yuyun.“Om? Ayo, aku sudah nggak tahan,” pinta Wina pada Rangga seraya menggesekkan bokongnya pada tongkat Rangga yang masih terbalut dalam celana.Mendengar permintaan dari Wina Rangga baru sadar kalau sejak tadi dia dan Wina masih dudu di sofa dengan tubuh merapat. Rangga segera berdiri dari sofa dan berjalan menuju ke arah meja kerjanya.Melihat Rangga pergi dari sisinya, Wina pikir Rangga ingin berpindah tempat. Wina ikut berdiri lalu melepaskan celana dalamnya. Sambil berjalan mendekati Rangga Wina menjinjing rok pendeknya sampai sebatas pinggang. Aksi Wina tersebut membuat Rangga mengangkat wajah dan menatap area intim Wina yang telanjang sampai ke pinggang.Sampai di dekat Rangga, Wina langsung rebah di atas meja ke
Karena Narti sangat menginginkannya, Samsudin juga tidak enggan memberikan kepuasan sekali lagi padanya. Samsudin segera mengangkat bokong Narti dan memasukkan tongkatnya dari belakang Narti, kini Narti menungging sambil meremas tepian ranjang sementara Samsudin menyodoknya dengan cepat dari belakang. “Ah, ah, ah, Mas, ooh, ooh, terus Mas, aku ingin ooh, aku ingin ooohhhh, Mas, Mas-Sam,” ucap Narti dengan napas tersengal-sengal. “Aku puaskan kamu Nar, ooh, oh, ah, ah, ah, ooh, ooh, Nar pepekmu enak sekali, ooh, aku pengen sodok kamu setiap hari ooh, Nar, pengen gejrot kamu terus aku, oooh,” timpal Samsudin. Samsudin menarik pinggang Narti hingga tegak di atas pangkuannya, dan dia membuat pinggang langsing Narti bergerak naik turun, liang intim dan dinding area intim Narti terasa kencang menggosok tongkat Samsudin yang mencuat tegak ke atas. “Ooowwwhhh, Mas, Sam, pepekku oohh, owhh, owh, ooooooookkkh,” erang Narti sambil merem melek kenakan dip
“Kamu nggak mau cerita?” kejar Samsudin seraya melepaskan kaos ketat Narti dan meletakkannya di meja lalu mengangkat tubuh langsing Narti membawanya ke dalam kamar. “Mas, itu, em sebenarnya tadi aku cuma bohong ke Mas Anto, aku kesal sama dia, aku nggak tahu dia ketemu sama kamu di jalan,” jawab Narti jujur. Samsudin membaringkan tubuh Narti di ranjang lalu melepaskan celana pendek yang menutupi sisi intim Narti. Kini Samsudin melepaskan celana dalam Narti dan tinggal bra yang dia buka ke atas dada Narti. Samsudin menatap tubuh telanjang itu dengan tidak sabar. “Mas mau ngapain, aku sudah bilang tadi aku capek, Mas,” tolak Narti. “Pepek kamu seksi Nar, tenang saja, nggak akan sakit kok, aku cuma pengen jilati biar nggak sakit lagi,” rayu Samsudin sambil membuka paha Narti dan mulai menjilatinya dengan penuh nafsu. “Sluurpp, umhh, ungh, Nar, ooh, seksi sekali,” ujar Samsudin sambil menyapukan lidahnya naik turun pada sisi intim Narti. Samsudin
Kedua kaki Narti gemetaran saat selesai melakukan hubungan intim dengan Anto pagi ini. Dia agak kesulitan berjalan. Anto melihatnya menjadi tidak tega, dia segera memapahnya dan membantunya pergi ke kamar mandi.“Kakimu pasti sakit sekali, Nar, maafkan aku yang nggak tahu aturan, harusnya aku nggak hajar kamu pagi-pagi begini, aku nggak mikir panjang karena kamu cuek sejak semalam,” ujarnya pada Narti.“Mas Anto sekarang mainnya kasar sekali, pepekku sampai pedih Mas, kakiku juga sampai gemetaran,” timpal Narti sambil meremas lengan Anto yang kini tengah memapahnya ke kamar mandi.“Apa hanya itu saja?” tanya Anto karena belum puas dengan jawaban Narti atas perubahan sikap Narti terhadapnya.“Aku juga tahu Mas membawa Nyonya Amina ke rumah ini, di ranjang sempit itu pasti cairan Mami tumpah-tumpah,” ujar Narti dengan kepala menunduk.“Mami ngeyel pengen dengar deritan ranjang di kamarku sambil aku genjot pepeknya yang becek penuh lendir itu, dia nggak pernah puas
Pagi-pagi sekali Sarinten menyiapkan sarapan untuk keluarga Darto. Janda berusia tiga puluh dua tahun beranak satu tersebut sudah enam bulan bekerja di kediaman Darto sejak diceraikan oleh suaminya.Darto memiliki istri sambung bernama Amina, wanita berusia empat puluh tahun pengelola empat toko pe
Brak! Saking terburu-buru sampai terdengar gebrakan keras di pintu. Sarinten bersembunyi di belakang punggung Devan, wanita itu malah merangkul pinggang Devan.Yuyun mendengar suara pintu terbuka dan tertutup kembali langsung berbalik dan mengetuk pintu kamar mandi. “Mas! Mas Devan di dalam? Burua
Tak lama kemudian, Darto dan Amina berjalan bersama-sama menuju ke ruang makan. Seperti biasa Amina mengenakan baju terusan ketat sepanjang lutut. Kedua bahu jenjangnya tampil mulus karena baju yang dikenakan Amina hanya sampai sebatas dada.Anto hampir memuntahkan kopinya menatap kedua bola yang h
Yuyun sebenarnya merasa lelah karena belakangan ini dia sering bercinta dengan Darto. Tidak ada waktu untuk memikirkan Rangga karena tubuhnya sudah tidak mampu menerima sentuhan intim dari Rangga. Yuyun sampai melamun dalam pelukan Rangga."Kamu kenapa? Ada yang mengganggu pikiran kamu, Yun?"







