ANMELDENPagi berikutnya, Rosemary terbangun lebih lambat dari biasanya.
Cahaya matahari sudah cukup tinggi untuk menyelinap lewat celah jendela. Tidak ada ketukan pintu dari Oliver yang mengingatkannya soal sarapan.
Ia bangkit, mencuci muka, dan mengenakan kembali lilitan cravat serta mantelnya dengan gerakan yang sudah menjadi kebiasaan. Cermin kecil di sudut kamar
Moros dan kuda Oliver menghilang di ujung jalan, dan Rosemary akhirnya bisa bernapas.Ia berdiri di dekat jendela, menatap debu yang masih mengapung di tempat kuda-kuda itu tadi berdiri. Tangannya sedikit gemetar—bukan karena takut, tapi karena ketegangan yang baru saja berlalu.Dua jam. Dua jam ia duduk di ruang tamu dengan Benedict Harrington, menjawab pertanyaan-pertanyaan Oliver yang semakin tajam, menghindari tatapan yang semakin dalam.Hampir saja. Aku hampir ketahuan.Edmund muncul dari balik pintu, tongkatnya mengetuk lantai. “Mereka sudah pergi?”“Sudah.”“Harrington—” Edmund berhenti sebentar. “Apa dia selalu se
Benedict tidak menjawab, ia masih menatapnya.Rosemary bisa merasakannya—tatapan abu-abu itu belum sepenuhnya percaya. Ada sesuatu di balik mata itu yang masih menghitung, masih mencari, seperti seseorang yang tahu bahwa ada sesuatu yang salah tapi belum bisa menyebut apa.Tapi Benedict tidak punya bukti apa pun. Hanya firasat. Hanya keanehan-keanehan kecil yang belum bisa ia rangkai menjadi satu kesimpulan tepat.Ia duduk lagi.Rosemary menghembuskan napas pelan. Satu masalah selesai. Tapi ia tahu ini belum berakhir.“Maaf soal kemarin, Finch.” Ia sengaja mengalihkan pembicaraan, suaranya dibuat seringan mungkin. “Aku tidak jadi datang menemui Lord Wexford.”Oliver langsung
Sudah dua jam lebih sepuluh menit.Benedict belum bergerak dari kursinya. Oliver sudah menghabiskan tiga cangkir teh dan mulai mengoceh tentang arsitektur Sterling Manor—sesuatu tentang langit-langit yang lebih rendah dari yang ia kira, sesuatu tentang jendela yang mungkin dibangun pada era yang salah untuk gaya rumah. Martha mondar-mandir dengan nampan kosong, wajahnya semakin pucat setiap kali ia melirik ke arah mereka.Rosemary duduk di seberang mereka, tangannya terlipat di pangkuan, senyumnya sudah lama terkuras habis.Dia tidak akan pergi. Pikiran itu berputar-putar di kepalanya. Dia benar-benar akan duduk di sini sampai Edmund muncul.Lalu terdengar suara kereta di luar.Rodanya berderit di atas kerikil. Su
Pagi di Sterling Manor datang dengan cahaya yang lebih hangat dari biasanya. Musim dingin belum berakhir, tapi hari ini matahari cukup berani untuk muncul di balik awan.Di ruang tengah, Rosemary berdiri di samping Edmund, satu tangan siap menangkap kalau kakaknya kehilangan keseimbangan.Edmund melangkah. Satu. Dua. Tiga. Wajahnya berkeringat, tapi senyumnya tidak hilang. “Aku benci latihan ini.”“Dokter bilang kau harus melakukannya.”“Ya, dan kau bahkan lebih galak daripada dokter itu.”“Aku memang terlahir galak.”Edmund tertawa kecil, lalu terbatuk. Tapi batuknya tidak separah dulu—tidak lagi mengguncang seluruh tubu
Rosemary dan Henry kembali ke aula, dan tidak ada yang berubah.Musik masih mengalun, lilin-lilin masih menyala, para tamu masih tertawa dan berdansa dan berbisik tentang hal-hal yang tidak penting. Dunia di dalam ruangan ini tidak tahu bahwa sesuatu baru saja terjadi di taman yang gelap di luar jendela.Rosemary berdiri di samping Henry, membiarkan dirinya menjadi bayangan.Henry berbicara dengan seorang Earl tentang sesuatu—kebijakan perdagangan, atau aliansi politik. Rosemary tidak mendengarkan. Ia mengangguk pada waktu yang tepat, tersenyum pada waktu yang tepat. Tapi pikirannya ada di pohon ek, di topeng burung hantu yang miring, di tatapan abu-abu yang terlalu lama.Kau Rosemary Sterling.Suara Oliver masih terngi
Benedict masih berdiri di tempat yang sama, tangannya di saku, matanya tidak bergerak dari wanita di depannya.Dan untuk pertama kalinya malam itu, Rosemary benar-benar merindukan menjadi Edmund Sterling.“Lord Harrington,” kata Oliver, dengan nada dan ekspresi seseorang yang akan memperkenalkan dua orang penting dalam hidupnya, “izinkan saya memperkenalkan Nona Rosemary Sterling. Adik Lord Sterling.”Benedict mengalihkan perhatiannya pada wanita itu.“Jadi Anda Rosemary Sterling.”Kalimat itu jatuh seperti batu ke permukaan air yang tenang—bukan pertanyaan, bukan tuduhan, hanya pernyataan. Tapi ada sesuatu dalam cara Benedict mengucapkannya, dalam cara matanya tidak melepaskan
Rosemary sudah di kamar duluan.Ia duduk di tepi ranjangnya, masih dengan jas biru tua pinjaman Oliver yang belum sempat ia lepas, tangannya dipangkuan. Pesta dansa sudah berakhir, tapi malam itu belum selesai di kepala
Alice menarik Rosemary ke lantai dansa sebelum ada yang bisa menghentikannya.Tangan gadis itu menggenggam jemari Rosemary dengan ringan, tanpa ragu. Musik berikutnya dimulai—waltz lambat, biola yang mengalun lemb
Aula besar Kingsley telah berubah menjadi lautan cahaya dan warna.Rosemary berdiri di ambang pintu, menatap ke dalam. Lilin-lilin yang menyala di lampu gantung kristal memantulkan cahaya keemasan ke lantai marmer. Biol
Pagi itu, arena anggar Kingsley dipenuhi lebih banyak orang dari biasanya.Bukan hanya mahasiswa. Para bangsawan dari luar akademi juga mulai berdatangan—beberapa membawa serta keluarga, yang lain datang sendiri d







