LOGINTersandung Cinta Tuan Muda Naira Putri tak pernah menyangka hidupnya akan berubah drastis hanya karena satu kesalahan kecil—menumpahkan kopi ke jas seorang pria asing yang dingin dan arogan. Pria itu adalah Adrian Alexander, pewaris konglomerat terkenal, yang sejak awal sudah menilai Naira sebagai gadis ceroboh dan tak tahu diri. Namun, takdir mempermainkan mereka. Dalam keadaan putus asa akibat tekanan keluarga, Adrian justru mengajukan tawaran yang tak bisa Naira tolak: pernikahan kontrak dengan syarat yang mengikat. Bagi Naira, ini adalah kesempatan untuk keluar dari masalah finansialnya. Bagi Adrian, ini hanyalah permainan untuk menenangkan keluarganya yang terus mendesaknya menikah. Seiring berjalannya waktu, batasan di antara mereka mulai kabur. Tatapan dingin Adrian perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih dalam, lebih berbahaya. Tapi di balik pernikahan ini, tersembunyi rahasia besar yang bisa menghancurkan segalanya. Ketika hati mulai terlibat dan masa lalu kembali menghantui, mampukah mereka bertahan? Atau perasaan yang tumbuh ini justru akan menjadi kehancuran bagi keduanya?
View MoreTiga tahun kemudian... Langit sore tampak teduh di atas taman kecil di panti asuhan Harapan. Angin berembus lembut, menerpa bunga-bunga yang tumbuh di sepanjang jalan setapak. Anak-anak berlarian sambil tertawa, membawa balon warna-warni dan bendera kecil bertuliskan "Terima Kasih, Kak Adrian & Kak Naira!" Di tengah keramaian itu, sepasang suami istri berdiri berdampingan, tangan mereka saling menggenggam erat. Adrian mengenakan kemeja putih sederhana, sementara Naira mengenakan gaun biru langit dengan riasan ringan. Wajah mereka tak lagi tegang seperti dulu—hanya ada ketenangan, kedewasaan, dan bahagia yang tak meledak-ledak, tapi terasa penuh. Hari itu bukan hari ulang tahun pernikahan mereka, bukan pula perayaan besar. Hari itu adalah hari peresmian ruang belajar baru di panti asuhan tersebut. Ruangan itu dinamai: Ruang Harapan – Persembahan dari Naira & Adrian. Sebuah ruang kecil, penuh buku, meja belajar mungil, dan papan tulis dengan hiasan tangan-tangan kecil anak-anak.
Langit sore mulai berubah jingga, senja yang hangat menelusup melalui jendela kamar kerja Adrian yang kini sudah menjadi ruang bersama mereka. Meja kayu di dekat balkon tampak rapi, kecuali satu benda yang kini tergeletak di atasnya: sebuah surat, dengan amplop putih sederhana, dan tulisan tangan Naira di bagian depannya. “Untuk Adrian, dari wanita yang memilihmu.” Adrian belum pulang. Tapi Naira duduk di tepi kursi, menatap surat yang baru saja selesai ditulisnya. Tangannya masih gemetar, bukan karena ragu, tapi karena beban emosi yang begitu dalam saat menuliskan tiap kata. Ia menarik napas panjang, sebelum perlahan mulai membaca ulang isi surat yang telah ditulisnya dengan tinta biru tua. --- Adrian yang aku pilih… Aku menulis surat ini bukan karena aku tak mampu mengatakannya secara langsung. Tapi justru karena aku ingin setiap kalimat dalam surat ini bisa kamu baca kembali, kapan pun kamu merasa ragu, atau lelah, atau lupa kenapa kita berjuang sejauh ini. Banyak hal y
Hari itu datang tanpa gemuruh. Tidak ada karangan bunga mewah, tidak ada gaun putih panjang, tidak ada sorotan kamera seperti satu tahun yang lalu saat mereka menikah karena kesepakatan bisnis. Tapi di dalam hati Naira, tanggal itu terasa lebih sakral dari apa pun yang pernah ia alami sebelumnya. Ini bukan sekadar hari ulang tahun pernikahan mereka. Ini hari di mana mereka memilih untuk mengulang segalanya, dengan kesadaran penuh dan cinta yang tumbuh dari keberanian untuk memperbaiki. Pagi hari, Adrian datang ke kamar Naira membawa nampan sarapan dan seikat bunga liar dari halaman belakang. “Selamat ulang tahun pernikahan—versi baru,” ucapnya sambil tersenyum. Naira tertawa kecil. “Kita benar-benar mulai dari awal, ya? Bahkan bunganya juga bukan yang mahal.” “Justru itu. Ini bukan tentang harga, tapi tentang niat. Sama seperti kita.” ** Mereka sepakat merayakan hari itu dengan cara paling sederhana: mengadakan syukuran kecil di panti asuhan tempat segalanya berubah. Tem
Udara pagi terasa segar di halaman belakang rumah mereka. Burung-burung mulai berkicau dari balik pepohonan, seolah menyambut awal yang benar-benar baru. Naira berdiri di depan meja kayu kecil, menyeduh dua cangkir teh hangat. Di dadanya, ada ketenangan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya—bukan karena semuanya sudah sempurna, tapi karena akhirnya ia memilih dengan sepenuh hati. Adrian muncul dari dalam rumah, masih mengenakan baju rumah dan wajah yang tampak tenang. “Mimpi buruk semalam?” tanyanya lembut, melihat wajah Naira sedikit lelah. Naira mengangguk kecil. “Iya, tapi tidak seperti dulu. Dulu aku merasa sendirian setelah bangun. Sekarang tidak.” Adrian duduk di hadapannya, lalu meraih salah satu cangkir. “Mungkin karena kamu sudah memilih untuk tidak berlari lagi.” “Mungkin,” balas Naira pelan. Mereka duduk dalam diam sejenak. Bukan keheningan yang canggung, tapi keheningan yang saling memberi ruang. “Aku tahu ini nggak akan langsung jadi hubungan yang ideal,”
Di meja makan yang luas dan mewah, suasana terasa tegang. Naira duduk berhadapan dengan Adrian, tetapi tidak ada satu pun kata yang keluar dari mulut pria itu. Hanya suara sendok dan garpu yang terdengar sesekali. Baru sehari setelah pernikahan mereka, dan Naira sudah merasa seperti tahanan di
Pernikahan yang digelar secara tertutup itu terasa begitu sunyi. Tak ada pesta meriah, tak ada gaun pengantin yang mewah seperti yang sering dibayangkan gadis-gadis lain. Hanya sebuah akad sederhana dengan beberapa saksi penting dari keluarga Nathaniel. Naira berdiri di sisi Adrian, merasa sedikit
Naira duduk di hadapan Adrian dengan tatapan penuh kebingungan. Sejak pertemuan mereka di kafe, hidupnya berubah drastis. Kini, ia kembali berhadapan dengan pria itu, tetapi dalam situasi yang jauh lebih rumit. "Jadi, kau ingin aku menikah denganmu?" tanya Naira, suaranya terdengar tidak percay
Malam itu, Naira nyaris tidak bisa tidur. Matanya menatap langit-langit kamar, pikirannya terus bergulat dengan satu pertanyaan besar—haruskah ia menerima tawaran Adrian? Pernikahan kontrak? Itu bukan sesuatu yang pernah terlintas dalam hidupnya. Namun, apakah ia benar-benar memiliki pilihan lain?
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.