เข้าสู่ระบบ“Song Jingren?” Sumpit dan mangkok kecil di tangan Moran hampir saja terlepas dari genggaman. Ia benar-benar tidak menyangka pria itu akan menampakkan batang hidungnya di kediaman ini.Di sisi lain, Tuan Besar Yang sudah lebih dulu pucat. Ia langsung berdiri dari kursinya, bahkan sumpitnya masih tergenggam di tangan. Kepalanya menunduk dalam.“Jenderal Song… maafkan ucapan istriku tadi,” katanya tergesa. “Kami sama sekali tidak bermaksud menyinggungmu.”Nyonya Yang ikut berdiri. Wanita itu bahkan tidak berani menatap menantunya. Kepalanya ikut menunduk.Moran yang melihat itu lantas meletakkan alat makannya di meja dan bangkit berdiri. Sudut bibirnya terangkat ringan sama halnya dengan tangan yang begitu saja melingkar di lengan Song Jingren. “Jingren, Ibu hanya bertanya kenapa kamu tidak bisa hadir bersamaku, tidak memiliki maksud lain.” Moran sebenarnya sudah bersiap menghadapi amarah, tetapi Song Jingren justru membalas senyum meski hanya sesaat sebelum menoleh pada mertuanya. “A
Jin Lin mengangguk cepat dan segera menyusul keluar. Ia tahu benar, begitu Song Jingren memutuskan sesuatu, bahkan langit pun tidak akan mampu menahannya.Pada akhirnya, ia hanya bisa merapal doa dalam hati, berharap tidak akan terjadi keributan lagi di antara pengantin baru itu.***Asap tebal mengepul di dapur kediaman Keluarga Yang. Api di atas wajan menyala liar, membuat Tuan dan Nyonya Besar Yang saling pandang dengan wajah tegang.Mereka hampir yakin Moran akan mengulang bencana terakhirnya. Namun ketika hidangan akhirnya tersaji di meja, keduanya justru terdiam.Daging sapi tampak lembut. Sayurannya tertata rapi. Aromanya bahkan… menggoda. Yang paling mengejutkan? Tidak ada yang terbakar. Semua barang kembali seperti semula di tempatnya.“Moran… sejak kapan kamu bisa memasak seperti ini?” Nyonya Yang terkesiap, matanya tak lepas dari hidangan di meja makan.“Baru sehari di rumah Jenderal Song, kau langsung hebat dalam memasak?” Yang Tianyu ikut menimpali, nadanya setengah tida
Moran menyesap sedikit teh Longjing sebelum meletakkan kembali cangkirnya. Ancaman seperti ini terlalu langsung. Di zamannya dulu, orang-orang akan membungkusnya dengan senyuman.“Tuan Shen bercanda? Masalah pernikahan kemarin adalah urusan kita berdua. Tidak ada kaitannya dengan ayah.”Kekehan tawa Tuan Shen terdengar renyah di ruangan itu. “Moran… Kau menikah dengan Song Jingren. Menurutmu para pejabat lain masih akan menganggap Keluarga Yang netral?” Tuan Shen menatapnya, suaranya tetap datar. Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan, “Song Jingren memang belum menyatakan sikap politiknya. Tapi ia dekat dengan Pangeran Kedua. Apa itu masih belum cukup jelas?”Sepasang mata Moran nyaris berputar malas, meski ekspresinya tetap tertahan. Gadis itu membuang napas panjang.“Aku memang tidak mengerti politik istana,” ujarnya ringan. “Tapi sekalipun Song Jingren adalah suamiku, aku juga tidak bisa mengubah pendapatnya.”Tuan Shen akhirnya mendengus, seolah kehabisan kesabaran. “Kalau begit
Moran menatap pantulan wajahnya di cermin perunggu beberapa saat. Jemarinya merapikan ujung anting di telinga sebelum akhirnya ia menoleh pada Xi Bao.“Tidak apa-apa,” ujarnya tenang. “Jingren adalah pejabat militer. Banyak urusan di Biro Keamanan Internal. Ayah dan Ibu pasti bisa memakluminya.”Xi Bao terdiam sejenak. Ia lalu perlahan mengangguk, meskipun keraguan di wajahnya belum sepenuhnya hilang. “Kalau begitu… biarkan saya menyiapkan kereta,” katanya akhirnya.***Paviliun Sepuluh Ribu Tamu.Bangunan bertingkat tiga itu berdiri megah di tepi Jalan Qingyun, salah satu jalan paling ramai di kota. Meski matahari baru saja naik, ruang makan di dalamnya telah dipenuhi para tamu. Pedagang, pengelana, hingga para cendekiawan duduk memenuhi meja-meja kayu. Sementara para pelayan lalu-lalang membawa nampan berisi teko teh dan hidangan panas.Ketika Moran melangkah masuk, gelombang keramaian itu seolah menyambutnya dari segala arah. Aroma makanan, denting mangkuk porselen, dan suara tawa
Malam itu akhirnya berlalu tanpa kejadian lain yang mengkhawatirkan. Entah bagaimana caranya, hidangan yang Moran siapkan ternyata cukup mengejutkan para penghuni rumah.Bahkan Wen Ruyue yang biasanya cukup pemilih dalam urusan makanan tampak mengangguk beberapa kali sepanjang makan malam. Sementara Song Guoting, yang sejak awal tidak banyak berbicara, akhirnya menghabiskan satu mangkuk nasi hingga bersih. Sikap diamnya saja sudah cukup menjadi jawaban bahwa ia merasa puas.Walau malam itu juga Moran dan Jingren harus bersandiwara sebagai sepasang suami istri yang sesungguhnya.***Keesokan paginya, langit baru saja memucat ketika halaman kediaman Song Jingren kembali sibuk. Song Guoting harus berangkat lebih awal untuk kembali ke perbatasan. Urusan militer tidak pernah memberi banyak waktu untuk beristirahat.Namun Wen Ruyue tidak ikut pergi bersamanya. Ia memutuskan tinggal di kediaman itu selama beberapa hari lagi, sekalian menunggu Song Jingwen, putri bungsunya, pulang dari Akadem
Gadis yang kini telah resmi menjadi istri Song Jingren itu menoleh kepada Jin Lin yang baru saja kembali mengganti air untuk kesekian kalinya. Sementara itu, Song Jingren hanya duduk diam di tepi dipan. Sesekali tangannya mencengkeram sisi ranjang dengan kuat, seolah menahan gelombang rasa sakit yang datang silih berganti.“Nyonya, tetapi Jenderal tadi sudah meminum sup penghenti pendarahan,” jawab Jin Lin. Wajahnya pun tidak luput dari bayang-bayang kekhawatiran. “Saya tidak mungkin membuatnya lagi.”“Sup herbal itu terlalu lambat efeknya.” Moran mengerutkan kening. “Di mana tabib? Kenapa dia belum sampai juga? Jika terus seperti ini, dia akan mati kehabisan darah!”Ia segera menekan kain bersih pada luka cambukan yang terbuka di punggung Song Jingren. Kedua tangannya menekan sekuat mungkin, tetapi darah masih merembes keluar, perlahan membasahi kain yang baru saja diganti.Usahanya hampir tidak memberi hasil.Jin Lin terdiam sejenak sebelum berkata pelan, “Tabib sedang dipanggil dari
"Kenapa? Berharap pria lain yang datang ke sini?" sindir pria itu dengan nada datar. Moran mengatupkan bibirnya. Sejenak merutuki kebodohannya. Memangnya siapa lagi kalau bukan Song Jingren? Hanya dia yang bisa datang ke kamar ini. Juga pedang ganda di pinggang sudah memperjelas identitasnya.Diam-
Moran mengganti pakaiannya dengan baju pengantin. Entah dari mana datangnya gaun pengantin itu, tetapi Moran sungguh tak punya pilihan lagi selain melaksanakan dekrit. Seharusnya pernikahan bisa dibicarakan pelan-pelan. Hanya saja Song Jingren ini benar-benar menguji kesabarannya. Dengan dibantu o
Daftar belanja masih tergenggam di tangan Moran. Kertas itu sudah kusut oleh keringat. Tanpa berpikir lebih lama, ia menyodorkannya kepada Xi Bao.“Kau beli sisanya. Aku pulang dulu,” ucapnya cepat.“Nona tapi anda—”Xi Bao belum sempat bertanya ketika Moran sudah berbalik dan berlari.Langkah wani
Tanpa Moran tahu di malam yang sama itu tersiar kabar bajak laut menyerang pelabuhan selatan ibu kota. Dalam gelapnya malam, satuan elit Kekaisaran, Biro Keamanan Internal, bergerak cepat. Saat matahari terbit, dermaga telah berubah menjadi lautan darah. Di bawah komando Song Jingren, jenderal mud







