Se connecter"Ndin, boleh unboxing nggak?" "Apanya? Kado-kado di atas lemari itu?" Mata Andini terarah pada tumpukan kado yang di susun rapi di atas lemari oleh kedua sepupunya. "Bukan." "Terus apa?" "Unboxing kamu, dong." Andini memukul lengan Angga yang keras, lalu berbalik badan menjadi membelakangi Angga. "Dasar mesum! Udah mending aku nggak nyuruh kamu pulang ke rumah kamu sendiri."
Voir plusAs I scrolled through the pictures on my phone, a chill ran through me. The woman my husband had been seeing dared to send me photos flaunting their affair. I tossed the phone onto the bed, my heart felt as though it was on fire.
It was early summer in Dexy city and the heater was turned on but I felt so cold at this moment. He had told me he was going on a business trip, but instead, he'd gone on vacation with her. I scoffed at the absurdity of his lie. From the very start, he had made it clear—he only married me because his grandfather had forced him, and I could have refused. Tears welled in my eyes as I whispered, "But I didn’t listen... I was so madly in love with you, Julius. I needed you. I wanted to escape my own home so desperately. I did everything a loving wife would, We had so many maids in the house but I always woke up very early to serve him his favorite tea. I would make him his best food whenever he was upset. But all of my efforts only earned me a frosty glance from him. A noise at the door interrupted my thoughts. Was he back already? I cleaned my tears immediately, I didn’t want him to see me cry. I opened the door, only to be met by Athena—his mistress—standing on the doorstep. Athena was a vision of timeless beauty. Her long, flowing hair cascaded down her back in waves of rich, chestnut brown. “Bella,” she began, “I wanted to send those photos to my friends... I don’t know how I ended up sending them to you. I’m so sorry you had to see that.” I glanced past her—no sign of Julius. I sighed. “You don’t have to pretend with me. He’s not here, is he?” She smirked, dropping the fake apology. “I was trying to be nice for once, but look at you—taking my kindness for granted.” Exhausted, I muttered, “I don’t have the strength for this. Just leave or come back when he’s around.” Her smile widened. “I want to wait here for my lover. What do you think you can do about it?” I wasn’t in the mood to play nice, so I grabbed her arm, yanking her toward the stairs. “Stop! Wait, wait!” she protested. But I didn’t stop. “Wait! I’m pregnant with Julius’s child!” Her words hit me like a lightning strike, freezing me in place. "What do you mean you're pregnant with Julius’s child? You’re carrying his baby?” She smirked. "Yes, and he’s going to divorce you soon. You might as well start counting your days in this house." I laughed bitterly. "You really think you've won? His grandfather will never let him divorce me. So, keep dreaming. Your child is just going to end up a bastard, just like you’ll always be the mistress that can only meet him in secret." Her expression twisted with anger and she was about to retort. Then we heard footsteps. Suddenly, she smiled and deliberately threw herself off the stairs. The sharp sound of her scream echoed through the mansion. Julius rushed in, panic evident in his eyes. Before I could explain what happened, he shouted, "What is wrong with you? Are you trying to kill Athena? You’re not just selfish, Bella—you’re cruel. You disgust me." He scooped Athena into his arms and ran out, likely rushing to the hospital. Of course, I was the villain in his eyes. No matter what Athena did to me, he never cared, but if something happened to her, he lost his mind. I sat on the stairs, trying to process it all. Athena was pregnant? Maybe his grandfather would accept her after all. I’d never been able to conceive, even after all these years. But I didn’t have long to think. Julius stormed back in, grabbed my arm, and yanked me up forcefully. "You evil slut!" He didn’t even listen to a word I said as he dragged me outside and shoved me into his car. I wondered where we were going, but it didn’t take long for my question to be answered. "The police station? Are you seriously doing this, Julius? We’ve been married for five years, even though it was a loveless marriage. You don’t even trust my character a bit?" I asked, my voice trembling with disbelief. He didn’t respond; he just turned to the officers and said coldly, "Lock her up for a few days, then let her go. And make sure this doesn’t make the news." With that, he walked out, leaving me standing there in shock. It was then that I completely broke down. My parents showed up not long after, but instead of comforting me, they berated me, calling me a devil’s spawn. I scoffed, too exhausted to defend myself anymore. Any normal parents would be worried about their daughter’s well-being, but mine? They’d always been concerned only with their interests. My brothers arrived the next day, but not out of concern—they just wanted advice on their failing business. I had always been the brains behind their success, though no one ever gave me credit. That night, as I lay in the cold cell, one of my fellow inmates approached me and plunged a knife into my stomach. I didn’t scream, didn’t even resist. I was too tired to fight. "Who sent you?" I whispered with my last breath. "Sorry, I can’t tell you that. I’m just doing this to get my freedom," she replied coldly. The world faded into darkness. I woke up, weak and disoriented, I realized I wasn’t in the cell anymore. Instead I was in an unknown room. Everything in the room was rich and lavish. The floors were made of lithirum tiles, one of the most expensive tiles ever. The room was filled with expensive artworks. One of them could easily sell for 10 million dollars. Julius had a habit of traveling and he brought back home pieces of artwork with each trip. I was still trying to understand how I ended up here when a man I didn’t recognize came into the room and beside me. His piercing gaze met mine as he said, "You’re safe now. I made sure of it." His facial features were very beautiful, he had one of the rarest eye colours, violet. They would look weird on some other people but they looked perfect on him. "Who... are you?" I whispered. "Someone who knows the truth," he replied cryptically. "And someone who needs your help just as much as you’ll need mine." Those were the words I heard before I passed out again.Mata Andini terpejam. Napasnya terengah menikmati sisa permainan panas yang efek dari pelepasan yang terjadi itu belum juga usai.Angga masih enggan untuk memisahkan diri. Tubuh telanjangnya masih berada di atas tubuh Andini yang berkeringat. Berada di dalam Andini terasa begitu nikmat sampai dia tak ingin terpisah dan ingin kembali mengulangnya lagi nanti setelah keduanya beristirahat."Angga, kamu berat banget. Sesak napas akunya," keluh Andini berusaha untuk menyingkirkan tubuh Angga.Angga tertawa pelan. "Maaf," ucap Angga.Kerutan di kening Andini serta desisan pelan yang keluar dari bibir Andini mengiringi keluarnya milik Angga dari dalam milik Andini.Perih itu kembali terasa. Bersamaan dengan itu, cairan milik Angga yang bercampur dengan darah keperawanan Andini mengalir keluar. Angga tersenyum bangga.Dia menjadi yang pertama bagi Andini. Selama ini, dia hanya bisa melihat Andini sebatas tanpa hijab
Setiap berangkat bekerja bersama Angga, belum tentu pulangnya bisa dijemput Angga pula.Seperti sore ini, Andini harus pulang dengan naik ojek karena Angga tak bisa menjemputnya karena masih ada pasien.Harusnya Andini percaya. Tapi entah kenapa hatinya tidak bisa tenang. Bayangan Angga akan melakukan hal yang sama dengan dia atasan Andini terus terlihat di depan mata.Rasanya Andini tidak rela jika harus berbagi suaminya dengan wanita lain. Jangan sampai. Andini tidak mau."Hati-hati kalau suami kamu bisa kayak Pak Sandy. Nyesel kamu ntar."Ucapan Lila terus saja terngiang. Andini menggelengkan kepalanya pelan untuk mengenyahkan pikiran buruk itu dari kepalanya.Sesampainya di rumah, Andini langsung membersihkan dirinya. Menyiapkan makan malam yang dia pesan melalui online. Malam ini dia tidak ingin bau dapur. Jadi dia lebih memilih memesan makanan daripada harus memasak.Setelah semuanya selesai, Angga belum juga pulan
Pagi ini Angga dan Andini berangkat bersama. Baru kali ini Andini dengan suka rela mengiyakan permintaan Angga untuk berangkat bekerja bersama.Biasanya Andini akan beralasan kalau naik mobil pasti macet dan bisa jadi terlambat ke kantor.Tapi kali ini Andini tak banyak protes saat mobil Angga terjebak dalam kemacetan panjang. Sudah pukul tujuh. Itu artinya setengah jam lagi Andini harus sudah sampai di kantor kalau tidak mau dipotong gaji.Andini merasa, lebih baik dia berdoa agar mobil Angga segera lepas dari kemacetan daripada dia menggerutu kesal. Membuang-buang tenaga saja."Nanti sore kalau aku belum jemput kamu, kamu pesan taksi online aja, ya. Atau minta dijemput Bayu.""Tuh, kan. Kayak gini kalau bareng kamu, tuh. Belum tentu bisa jemput. Kadang telat jemputnya.""Kamu kayaknya kesel, ya, Ndin? Tapi nggak nolak waktu aku ajak bareng. Apa lagi pengen sama aku terus?""Kalau iya memangnya kenapa?" Da
Andini mengerjap pelan. Matanya menyesuaikan cahaya lampu yang menyala dengan terang.Ketika dia berusaha menggerakkan tubuhnya, dia mengernyitkan keningnya. Tubuhnya terasa sulit untuk digerakkan. Seperti ada beban yang menimpa tubuhnya.Seketika Andini menjauhkan tubuhnya saat dia menyadari tubuhnya sedang berada dalam pelukan Angga.Guling yang semalam dijadikan pembatas sudah teronggok di atas lantai. Entah siapa yang membuangnya, yang jelas Andini merasa tidak terima karena Angga mencari kesempatan untuk memeluk dirinya tanpa ijin."Hai, istri," sapa Angga dengan renyah saat matanya juga terbuka setelah merasakan gerakan di sampingnya.Andini memasang wajah datar. "Geli banget dipanggil begitu," balasnya sedikit ketus."Istri orang lain dipanggil begitu seneng, tersipu. Ini kenapa istriku dipanggil begitu malah kayak gini ekspresinya, sih?"
Weekend, hari yang paling di tunggu oleh Andini. Dia bisa bangun siang sesuka hatinya tanpa takut terlambat pergi bekerja.Tapi, harapan tinggal harapan. Angga memaksanya untuk bangun karena mereka akan pergi ke pusat perbelanjaan untuk membeli isi kulkas dan perabotan yang lai
"Sepertinya nama pengantin wanitanya yang tertulis di undangan bukan Andini. Tapi Vika atau siapa, gitu." "Iya, bener. Apa jangan-jangan yang ini udah di hamili duluan sama anaknya Pak Lurah." "Bisa jadi tuh. Mereka berdua kan, sering kemana-mana bareng. Ya kemana perginya kal
"Hallo, La. Bilang ke temen-temen hari ini aku nggak jadi ikut, ya?""Kenapa, Ndin? Kita udah rencanakan ini jauh-jauh hari, loh. Kamu juga paling antusias waktu kita usul pergi ke pantai."Andini menghembuskan napas pelan. Memang sedikit menyesal tak bisa pergi ke pantai deng
Sebenarnya, Andini tidak terlalu bisa memasak. Dia hanya bisa memasak makanan sederhana saja. Seperti pagi ini, Andini hanya mampu memasak nasi goreng dengan telur ceplok di atasnya sebagai topping.Dua piring nasi goreng sudah tersaji di atas meja. Entah bagaimana rasanya, n
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
commentairesPlus