Compartir

Bab 43—Titik Merah

last update Fecha de publicación: 2026-09-13 17:51:23

Teriakan pertama pecah. Seorang wanita menjatuhkan gelasnya, mundur cepat saat melihat titik merah kecil berkedip di antara bunga panggung.

Dalam detik, kepanikan menjalar seperti api menyambar kain kering.

"Semua orang, tetap tenang! Menuju pintu keluar terdekat!" Suara petugas keamanan Vance Group berteriak dari segala arah. Tamu yang menyamar kini bergerak terbuka, membentuk barisan mengarahkan kerumunan menjauh.

Elina tidak bergerak ke pintu keluar. Ia bergerak berlawanan.

"Nyonya Vance!" L
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Mantan Dokter Jenius Menikahi CEO Beracun    Bab 44—Di Antara Kita

    Teriakan belum sepenuhnya padam, tapi di tengah keributan itu, Gideon sudah menemukan pola yang tidak dilihat siapa pun.Ponsel Gideon bergetar."Persempit," kata Gideon, suaranya berubah—dingin, cepat, tanpa ruang untuk emosi. "Radius sinyal. Berapa meter?""Sedang dihitung ulang," jawab Leon, jarinya bergerak cepat di layar tablet. "Tunggu... radius maksimal lima belas meter dari titik pancar."Elina menghitung dalam kepala. Lima belas meter dari mana kotak logam itu diletakkan—itu mencakup hampir separuh area taman terbuka, termasuk meja tempat nenek Gideon masih duduk, termasuk area dekat pintu kaca tempat tiga orang yang tadi ia curigai berdiri."Terlalu luas," gumamnya."Aku tahu." Gideon menatap kerumunan, rahangnya mengeras. "Leon, siapa saja yang berada dalam radius itu saat sinyal pertama terdeteksi?""Menghitung... total dua puluh enam orang.""Persempit lagi. Siapa yang bergerak keluar radius dalam sepuluh detik pertama setelah hologram muncul?"Hening sesaat. Leon mengeti

  • Mantan Dokter Jenius Menikahi CEO Beracun    Bab 43—Titik Merah

    Teriakan pertama pecah. Seorang wanita menjatuhkan gelasnya, mundur cepat saat melihat titik merah kecil berkedip di antara bunga panggung.Dalam detik, kepanikan menjalar seperti api menyambar kain kering."Semua orang, tetap tenang! Menuju pintu keluar terdekat!" Suara petugas keamanan Vance Group berteriak dari segala arah. Tamu yang menyamar kini bergerak terbuka, membentuk barisan mengarahkan kerumunan menjauh.Elina tidak bergerak ke pintu keluar. Ia bergerak berlawanan."Nyonya Vance!" Leon di earpiece, nyaris berteriak. "Menjauh dari panggung! Sekarang!""Apa itu bom?""Belum dipastikan—""Kalau belum dipastikan, aku harus melihatnya.""Elina." Suara Gideon — tajam, penuh perintah. "Jangan mendekat.""Aku dokter, Gideon. Kalau ada yang terluka sebelum tim jinak tiba, aku yang akan menanganinya."Hening beberapa detik."Dua puluh meter," kata Gideon akhirnya, suaranya berat. "Tidak lebih."Elina menyelip di antara tamu yang berlarian. Sebelum memegang gelas wine, sebagian lain

  • Mantan Dokter Jenius Menikahi CEO Beracun    Bab 42—Kartu di Bawah Serbet

    Kursi di seberang nenek Gideon terasa lebih dingin dari yang seharusnya, meski udara malam Hotel Arthera cukup hangat."Duduk, duduk." Nenek Gideon melambaikan tangan, gelangnya berdenting pelan. "Jangan berdiri seperti sedang menunggu vonis dokter."Elina duduk, menjaga punggungnya tetap tegak. "Terima kasih sudah mengundang saya, Bu.""Bu?" Nenek itu mendengus, meraih gelas tehnya. "Panggil saya Oma. 'Bu' terdengar seperti aku sedang wawancara kerja denganmu.""Baik, Oma.""Nah, begitu lebih baik." Ia menyipitkan mata, menatap Elina dari ujung rambut sampai ujung sepatu—penilaian yang jauh lebih teliti daripada obrolan basa-basi biasanya. "Kamu bukan salah satu yang kupilihkan untuk Gideon malam ini.""Bukan, Oma.""Kupikir juga begitu. Anak-anak pilihanku biasanya sudah gemetar duluan kalau kupanggil dua kali." Ia terkekeh, suaranya renyah. "Kamu malah jalan santai seperti mau makan siang.""Saya tidak tahu harus takut pada apa.""Itu masalahnya." Nenek Gideon mencondongkan tubuh,

  • Mantan Dokter Jenius Menikahi CEO Beracun    Bab 41—Undangan dari Bayang

    "Elina."Suara Gideon terdengar lagi, kali ini jauh lebih rendah — serak, penuh peringatan."Letakkan."Elina tidak menjawab. Matanya turun pada amplop itu. Tidak ada nama di sana. Tidak ada alamat juga. Hanya satu lambang kecil di bagian belakang, nyaris tak terlihat di bawah cahaya taman — seekor ular yang menggigit ekornya sendiri.Elina pernah melihat simbol itu. Bukan di rumah sakit. Bukan di arsip keluarga Vance. Melainkan pada salah satu kartu yang terselip pada buku milik Profesor Broto."Leon.""Ya?""Periksa semua kamera di area taman.""Sedang dilakukan.""Jangan hanya cari pria berjas abu-abu."Hening sejenak."Kenapa?""Karena orang yang menyerahkan amplop ini mungkin bukan orang yang membawanya."Leon langsung memahami. "Dimengerti."Elina mengangkat wajah. Pelayan yang membawa amplop masih berdiri di depannya. Terlalu tenang. Seorang pelayan hotel biasanya akan menunduk, meminta tanda terima, lalu pergi. Pria ini tidak. Ia justru menatap Elina dengan ekspresi yang sulit

  • Mantan Dokter Jenius Menikahi CEO Beracun    Bab 40—Tapi Itu Dulu

    Pintu kaca besar menuju area taman Hotel Aethera bergeser tanpa suara. Udara malam sejuk, bercampur aroma parfum mahal dan wine, langsung menyambut Elina. Musik jazz ringan mengalun di latar belakang — baginya, itu hanyalah kebisingan yang harus disaring.Ia melangkah masuk.Dalam sekejap, riuh rendah percakapan seolah tersedot keluar. Satu per satu kepala menoleh. Gaun hitamnya berkilau di bawah lampu taman, menciptakan kontras mematikan dengan kulit pucatnya. Setiap ketukan hak sepatu di lantai marmer terdengar seperti hitungan mundur — terukur, tenang, tak terbendung."Nyonya Vance, sepuluh meter di depan, arah jam dua. Rendra Pratama baru saja menumpahkan minumannya," suara Leon terdengar datar di telinga kirinya.Elina tidak menoleh, tapi sudut bibirnya terangkat tipis. Ia terus berjalan, punggung lurus, pandangan lurus ke depan — seolah tak satu pun dari mereka layak diakui keberadaannya."Elina?"Suara itu datang dari meja tengah. Rendra berdiri di sana, wajahnya campuran antar

  • Mantan Dokter Jenius Menikahi CEO Beracun    Bab 39—Dua Agenda, Satu Rahasia

    Limusin hitam membelah kegelapan menuju Hotel Aethera. Malam ini, dua orang memasuki gedung yang sama melalui medan yang berbeda. Di kabin sunyi, Gideon tidak lagi memejam. Ia duduk tegak, tangan di balik jas charcoal meraih saku dalam, lalu mengeluarkan benda kecil berwarna perak. Nyaris tak terlihat."Pakai ini." Suaranya rendah, perintah namun lembut.Elina menatap: earpiece mikro, teknologi mutakhir. "Untuk apa?""Hotel Aethera milikku, tapi malam ini terlalu banyak telinga asing di sini." Gideon meraih tangannya, meletakkan alat itu di telapak tangannya. "Terhubung langsung ke sistem keamananku. Kau bisa dengar instruksi Leon, dan dengar suaraku jika aku buka jalur dari rooftop."Elina menyisipkannya ke telinga kiri, menyembunyikannya di balik helaian rambut. "Kau ingin aku menjadi matamu di bawah?""Aku ingin kau aman." Tatapan Gideon bertahan sedikit lebih lama dari yang diperlukan. Elina mengalihkan pandangan lebih dulu. "Jika Rendra atau Sisca melampaui batas, aku akan tahu.

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status