เข้าสู่ระบบSaat ini, Kanaya atau sekarang dia lebih suka dipanggil Lana, ingin membesarkan kedua anaknya tanpa harus memohon apapun pada Lucas. Lana bahkan ingin menghapus nama Lucas dari hidupnya. "Kalian adalah hartaku yang paling berharga," bisik Lana sambil mencium kening kedua anak kembarnya yang kembali tertidur. "Mama tidak akan membiarkan ayah kalian mengetahui jika kalian ada di dunia ini. Dia telah membunuh nenek kalian, dan dia juga telah mencoba membunuh kalian sebelum kalian lahir."Lana menatap foto Lily yang terpajang di kamar si kembar. Lana ingin anak-anaknya mengetahui wajah nenek mereka yang sudah berani mengorbankan nyawanya supaya mereka bisa lahir ke dunia ini dengan selamat. "Mama, sekarang Mama bisa bertemu dengan Nenek Louisa dan Kakek. Kalian pasti bahagia di sana." Air mata Lana turun perlahan pada pipi. "Lana, maaf mengganggu." Suara Bibi Yaya ada di balik pintu. "Ini ada telepon dari Raymond." Bibi Yaya pun memberikan ponsel Lana. "Halo, Raymond." "Lana, aku a
"Lily!" Bibi Yaya yang tadi ikut menembak beberapa penjahat di sana, seketika membuang pistolnya dan menekan luka Lily dengan kuat. "Lukamu dalam. Lily, kita harus segera ke rumah sakit. Bibi Yaya mencoba membopong tubuh Lily, tapi langkah mereka terhenti saat mendengar suara mobil datang mendekat ke arah rumah. "Ke tempat rahasia, Bi!" seru Lily cepat. "Apa mereka datang lagi?" Kanaya panik, wajahnya pucat, tangannya memegangi perutnya yang seketika terasa sakit. "Bi, cepat!" teriak Lily. Mereka bertiga berjalan ke dalam rumah, menuju taman belakang. Bibi Yaya menyingkirkan beberapa tanaman, dan ternyata di tanah ada sebuah pintu kecil. Saat pintu dibuka, di bawahnya ada jalan kecil menuju ruang bawah tanah. "Masuk, Kanaya."Kanaya masuk diikuti oleh Bibi Yaya dan terakhir Lily. "Bawa Kanaya pergi, Bi," perintah Lily. Sebelum menutup pintu. Kedua mata Lily mengintip pada cela pintu.Terdengar ledakan yang sangat keras dari ruangan atas. Lily tadi melempar sebuah granat yang
Lily segera menggandeng tangan Kanaya dan mengajaknya pergi dari sana. Lucas terdiam di tempatnya. Dia sebenarnya sedikit kaget melihat Kanaya bersama ibunya, tapi saat teringat pengkhianatan yang dilakukan oleh Kanaya, Lucas merasa, dua orang itu pantas bersama. "Wanita murahan," ucap Lucas lirih. "Ada apa, Lucas?" tanya wanita yang sedang duduk bersama Lucas. "Tidak ada apa-apa, Selena. Kita lanjutkan saja makan malamnya. Di dalam mobil, Lily meminta Kanaya untuk tidak menangis. Lily juga tidak mengenal wanita yang bersama dengan Lucas. "Dia benar-benar sudah melupakanku, Ma. Aku kira, dia masih sangat mencintaiku, tapi ternyata aku salah." Tangan Kanaya menghapus air matanya. Lily bingung harus mengatakan apa. Dia teringat akan pengkhianatan mendiang suaminya dan sahabatnya. Sekarang menantunya pun harus merasakan hal yang dia alalamai."Kanaya, di dalam perutmu, ada dua bayi yang membutuhkan ibunya yang kuat dan kamu jangan terlalu memikirkan tentang Lucas. Sekarang, hal ut
Dinginnya aroma rumah sakit selalu berhasil menciutkan nyali Kanaya, namun rasa sakit yang melilit perutnya jauh lebih menakutkan daripada aroma obat-obatan di sekelilingnya.Lily terus menggenggam tangan menantunya itu, membisikkan doa-doa yang tidak putus, sementara Dokter Rose dengan sigap melakukan pemeriksaan darurat."Tenang, Kanaya. Tarik napas perlahan, jangan biarkan pikiranmu menguasai tubuhmu," instruksi Dokter Rose dengan nada tenang namun tegas.Setelah beberapa menit yang terasa seperti selamanya, kram di perut Kanaya mulai mereda. Dokter Rose melepaskan sarung tangan karetnya dan menatap Kanaya dengan tatapan yang sulit diartikan, campuran antara simpati dan kekaguman."Ini adalah tension cramp yang cukup hebat, Kanaya. Tubuhmu bereaksi terhadap trauma emosional yang kamu alami. Apa ada hal yang sudah terjadi?" tanya Rose pada Lily."Ibuku meninggal, Rose." "Oh Tuhan! Aku turut berduka, Lily. Kehilangan Nenek Louisa adalah pukulan besar, tapi kamu harus ingat, ada n
Belum Lily berucap, tangannya segera ditarik menjauh dari Lucas oleh Deasy. "Lily! Apa-apaan kamu ini? Kenapa malah muncul lagi dihadapan Lucas? Dia itu sangat membencimu dan aku tidak mau dia sampai merasakan kesedihan seperti dulu." Deasy berbicara dengan suara lirih dan ditekankan. "Kau tahu, kan? Aku tidak menyakiti Lucas.""Iya, aku juga sudah berusaha selama ini untuk memberitahukan Lucas untuk tidak membencimu, tapi dalam pikirannya, Lucas sudah menganggap kamu wanita yang buruk karena meninggalkannya dan aku bingung harus menjelaskan bagaimana?""Deasy, aku hanya ingin bertemu ibuku yang kata Kanaya, dia sedang sakit parah di sini.""Apa? Kamu bertemu Kanaya?" Kedua alis Deasy mengkerut kaget."Iya, dan kamu tahu? Dia sedang mengandung anak dari Lucas. Kita akan segera memiliki cucu!" Lily tampak bahagia, hingga dia menggenggam tangan Deasy. "Kanaya hamil?""Iya, Deasy. Lucas harus mengetahui hal ini dan kesalahan pahaman antara mereka akan berakhir. Aku tidak mau Lucas mem
"Kanaya, ayo makan dulu. Kamu kenapa dari kemarin duduk sendirian di taman dan melamun? Apa kau merindukan Lucas?""Aku tidak apa-apa." Kanaya beranjak dari bangku taman dan masuk menuju ruang makan. Dia atas meja sudah tersedia berbagai makanan yang tentu dibuat sendiri oleh Lily. "Makan sup yang banyak kalau kamu tidak mau nasi. Untuk sekarang, kamu harus hidup dan sehat untuk anakmu. Jangan memikirkan hal yang terlalu berat. Kasihan bayi yang ada di dalam kandunganmu, apa kau tidak mau dia tumbuh dengan sehat?""Tentu saja aku mau dia tumbuh dengan sehat.""Ya sudah, kamu harus makan yang banyak dan besok akan aku ajak kamu berkebun supaya tidak terlalu memikirkan Lucas."Kanaya mengangguk dan dia mulai mengambil sup. "Enak sekali supnya? Perutku juga nyaman.""Ya sudah, makan yang banyak, kalau suka besok aku buatkan lagi. Katakan, makanan apa yang kamu sukai?""Aku suka semua masakan, terutama masakan mamaku." Kanaya tiba-tiba tertunduk. "Kalau kau merindukan mamamu, panggil







