Home / Romansa / Mari Bercerai, Tuan CEO! / Chapter 5. Semua telah berakhir.

Share

Chapter 5. Semua telah berakhir.

Author: Kester
last update publish date: 2026-07-07 08:22:31

“Lucy, kau benar-benar menginjak harga diriku!” suara Amora bergetar menahan amarah.

Ia melangkah cepat, menembus kerumunan tamu pesta. Sepatunya menghentak lantai marmer, sementara musik yang tadinya bergema keras mendadak terhenti begitu ia tiba di tengah podium. Semua kepala serentak menoleh.

“Hei, lihat ada wanita gemuk yang ingin ikut-ikutan pesta bersama kita,” celetuk seorang tamu dengan nada mengejek.

Beberapa orang berbisik menggunjingnya. Tatapan mereka penuh jijik menyapu tubuh Amora, seolah keberadaannya adalah aib.

Lucy, yang berdiri anggun dengan dress mahal berkilauan, menyunggingkan senyum sinis. Ia melangkah pelan mendekati Amora, tatapannya penuh kemenangan.

“Mana Vicktor?” tanya Amora, dingin namun jelas.

Suasana menjadi hening sejenak, lalu seseorang menimpali dengan keras, “Hah, aku tidak salah dengar kan? Wanita ini mencari kekasihmu, Lucy?”

Sorakan kecil menyusul.

“Apa kau tidak malu? Lihatlah tubuhmu… seperti babi berukuran seratus kilo!”

"Aku yakin, seorang CEO tidak seputus asa itu mau berkencan dengannya, jika di bandingkan dengan Lucy, jelas seperti langit dan bumi."

Gelak tawa meledak, memenuhi ruangan. Beberapa orang menutup hidung pura-pura jijik, yang lain berbisik sembari melirik penuh hinaan.

Wajah Amora memerah, bukan karena malu, melainkan karena marah. Kedua tangannya mengepal kuat, giginya bergemeletuk. Ia menatap lurus pada Lucy yang berdiri hanya beberapa langkah darinya.

Lucy mendekat, berbisik dengan nada rendah namun penuh racun, “Kau seharusnya tahu tempatmu, Amora. Vicktor hanya mengasihanimu… tidak lebih.”

“Berhenti mempermainkanku, Lucy!” suara Amora meledak, membuat beberapa tamu terdiam sesaat. “Aku tidak datang untuk ditertawakan. Aku datang untuk menuntut pria bajingan itu.”

Lucy terkekeh pelan, lalu menepuk pundak Amora seakan merendahkan. “Kalau begitu… tunjukkan padaku, wanita gemuk. Bisakah kau benar-benar melawanku?”

Suasana pesta mendadak tegang. Semua mata kini hanya tertuju pada dua wanita yang berdiri berhadapan.

Tak lama, Vicktor datang, berdiri di samping Lucy. Tidak terlalu gugup seperti kemarin, seolah hubungannya bersama Lucy bukanlah sesuatu yang harus di tutupi.

Tatapannya santai, bibirnya mengukir senyum manis yang terasa begitu menusuk hati Amora.

"Hai, Amora. Akhirnya kau pulang juga," ucapnya lembut, seperti tidak ada kesalahan yang pernah ia lakukan.

Saat tangannya terulur hendak menyentuh pipi Amora, dengan sigap wanita itu menepis keras.

"Jangan sentuh aku!" bentaknya penuh kebencian.

Bagi Amora, Vicktor kini menjijikkan. Sejak perselingkuhan itu terbongkar, bukan hanya melayani, disentuh pun ia tak sudi.

"Jangan berani bermain-main denganku, Vicktor!" suara Amora bergetar menahan amarah. "Shane Group milik keluargaku! Bukan milikmu!"

Semua orang yang ada di sana mulai kebingungan. Wanita gemuk di hadapan mereka mengaku pemilik Shane Group, yang mereka tahu perusahaan itu milik Vicktor, kekasih Lucy.

Namun Vicktor hanya tertawa kecil, tatapannya dingin, penuh tantangan.

"Amora, Shane Group memang milik keluargamu... tapi itu dulu. Sekarang semua aset perusahaan, bahkan rumah orangtuamu, sudah menjadi milikku."

"Kurang ajar!" Amora kehilangan kendali. Tangannya melayang, hendak menampar wajah pria itu, meluapkan sedikit dari bara di dadanya.

Tapi Vicktor lebih cepat. Ia menangkap pergelangan tangan Amora, menggenggamnya kuat.

"Apa? Kau ingin marah padaku? Memukul? Mencabik? Atau mencekik leherku sampai putus?" suaranya meninggi, matanya menajam. "Satu hal yang harus kau tahu, Amora. Sepuluh tahun aku ikut membesarkan Shane Group. Tanpa aku, keluargamu sudah hancur sejak lama!"

Amora menatapnya tak percaya. Vicktor begitu frontal, seolah tak lagi peduli pada luka yang ia timbulkan.

"Kau... kau memang tak punya hati, Vicktor!" suara Amora bergetar, penuh kepedihan. Ia berusaha menahan air matanya, menolak menunjukkannya di depan pria itu dan semua orang yang sedang menontonnya.

Vicktor justru mendekat, menunduk agar wajah mereka sejajar. "Hati? Aku sudah membuangnya sejak lama, Amora."

Amora terdiam, tubuhnya bergetar antara marah dan putus asa. Untuk pertama kali, ia merasa benar-benar terpojok oleh lelaki yang pernah begitu ia percayai. Bahkan cinta tulusnya sama sekali tidak Vicktor hargai.

"Sudahlah, Amora. Terima kekalahanmu. Karena kau tidak di undang party, lebih baik kau keluar sekarang juga!" Tegas Lucy tak ingin pestanya terganggu.

Amora tak bisa lagi menahan emosinya. melangkah cepat mendekati Lucy. Dengan dorongan penuh amarah, ia menabrakkan tangannya ke bahu Lucy. "Ini rumahku! Kalian lah yang harus pergi dari sini!" teriaknya, suaranya bergetar penuh luka.

Lucy terhuyung ke belakang, matanya melebar karena tak menyangka Amora berani melakukan itu. "Dasar wanita gila!" balas Lucy, hendak menyerang balik.

Namun sebelum sempat terjadi, Vicktor segera bergerak. Ia meraih tangan Amora, menariknya menjauh dari Lucy dengan kasar. Wajahnya mengeras, sorot matanya penuh amarah.

"Amora! Jangan berani menyakiti Lucy!" bentaknya lantang, membuat ruangan bergemuruh oleh ketegangan.

Amora terdiam sejenak, tak percaya dengan apa yang ia dengar. Tubuhnya gemetar, matanya memerah menahan air mata yang hampir jatuh. "Kau... membelanya, Vick?" suaranya pecah.

"Diam!" Vicktor menoleh tajam, lalu menunjuk ke arah pintu. "Aku tak mau perdebatan ini berlarut. Sekarang kau pergi dari sini, Amora. Kita bercerai!"

Kata-kata itu bagaikan pisau menusuk hati Amora. Selama ini ia masih berusaha menahan diri, berjuang agar rumah tangganya tidak hancur. Namun kenyataan begitu kejam—suaminya sendiri memilih membela wanita penggoda itu di depan semua orang.

Ruangan sunyi sesaat, hanya tersisa isakan tertahan dan senyum puas di bibir Lucy yang menyaksikan kehancuran itu.

Amora menarik cincin dari jari manisnya, lalu menaruhnya langsung di telapak tangan Vicktor. Dengan tubuh sedikit gemetar, ia menatap suaminya dalam-dalam sebelum berucap, suaranya bergetar namun penuh ketegasan.

"Pernikahan kita sudah berakhir. Tapi ingat, Vick... semesta tidak akan tinggal diam. Kehancuranku akan menjadi titik awal kehancuranmu juga. Kupastikan kau akan menyesal seumur hidup!"

Tanpa menunggu jawaban Vicktor, Amora berbalik. Langkahnya cepat, meninggalkan rumahnya membuat semua orang yang ada di sana ikut merasakan ketegangannya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Noor Sukabumi
sabar sabar jg meledak dulu emosi ku liat kelakuan bejatnya c victor
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Mari Bercerai, Tuan CEO!    Chapter 144.

    "Saya punya bukti rekaman video saat kejadian itu berlangsung," lanjut Amora, suaranya terdengar bergetar namun ada nada dingin yang tak terbantahkan di sana. "Begitu kondisi saya membaik dan saya bisa mengambil berkas pribadi saya, saya akan menyerahkan video pembunuhan itu langsung ke ruang penyidik."Dua polisi di hadapannya saling berpandangan, lalu mengangguk takzim. "Baik, Nyonya Amora. Kesaksian awal ini sudah lebih dari cukup untuk menahan Lucy dan Darius tanpa jaminan. Kami akan menunggu bukti video tersebut untuk memperkuat dakwaan pembunuhan berencana."Sementara itu, Vicktor yang berdiri di dekat pintu mendadak mematung. Wajahnya pias, matanya melebar tak percaya. "Amora... kau serius? Lucy... dia benar-benar membunuh Ayahmu?"Amora menoleh, menatap Vicktor dengan tatapan getir. "Kenapa, Vick? Kau masih tidak percaya kalau wanita yang selama ini bersamamu adalah seorang monster?""Bukan begitu, Amora. Tapi..." Vicktor memijat pelipisnya yang berdenyut kencang, mencoba menc

  • Mari Bercerai, Tuan CEO!    Chapter 143.

    "Amora! Jangan sembunyi, jalang! Kau pikir kau bisa lolos dariku?!"Suara pekikan Lucy menggema, memantul di dinding-dinding beton gedung tua yang lembap. Langkah kakinya yang menghentak kasar terdengar semakin dekat. Di sudut lain lantai lima itu, Darius sedang sibuk memeriksa beberapa jeriken di dekat tangga, mempersiapkan rencana cadangan mereka dengan senyum sinis.Amora mendekap perutnya erat-erat di balik tumpukan karung usang. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga dadanya terasa sakit. Kali ini, ia tahu Lucy tidak sedang menggertak. Wanita itu sudah benar-benar kehilangan akal sehatnya dan siap melenyapkan nyawanya secara sempurna.Suara langkah kaki Lucy berhenti tepat di depan lorong tempat Amora bersembunyi. Panik, Amora mencoba menggeser tubuhnya untuk berpindah tempat. Namun, karena penerangan yang sangat minim dan kondisi tubuhnya yang lemas, kakinya tidak sengaja menyenggol sebuah kaleng cat bekas.Prang!"Ketemu kau!"Lucy muncul dari balik kegelapan, matanya meloto

  • Mari Bercerai, Tuan CEO!    Chapter 142.

    Matahari sudah meninggi, namun hawa dingin di kediaman Maverick seolah tak mau beranjak. Setelah semalaman membiarkan amarah membakar logikanya, ketukan di pintu ruang kerja memaksa Maverick kembali ke realitas."Masuk," titah Maverick pendek. Suaranya serak.Bram, kepala pengawal pribadinya, melangkah masuk dengan wajah pias. "Tuan... kami sudah mengecek rute yang dilewati Nyonya Amora semalam."Maverick menegakkan punggung. "Lalu? Mana dia? Kenapa belum pulang?""Mobil Nyonya ditemukan di tepi jalan pertigaan arah pinggiran kota, Tuan. Mesinnya mati, tapi kunci mobil masih tertancap di sana. Nyonya... tidak ada di tempat."Jantung Maverick serasa berhenti berdetak. Rasa bersalah yang coba ia tekan sejak semalam mendadak mencuat ke permukaan, mencekik lehernya hingga terasa sesak. Kilasan pertengkaran hebat semalam berputar di otaknya. Kata-kata kasarnya, tuduhan murahan itu... Ia tahu ia lepas kendali. Ia hanya terlanjur buta oleh rasa cemburu pada Vicktor."Sialan!" Maverick mengge

  • Mari Bercerai, Tuan CEO!    Chapter 141.

    Deru mesin mobil sport milik Amora meraung membelah kesunyian malam. Jalanan kota yang mulai sepi menjadi saksi bisu bagaimana wanita itu melampiaskan seluruh rasa sesak di dadanya. Tangan kanannya mencengkeram kemudi erat-erat, sementara tangan kirinya berulang kali mengusap pipi yang basah oleh air mata.Tangisan tanpa suara itu belum benar-benar terhenti. Dadanya naik-turun menahan pasokan oksigen yang terasa menipis.Murahan.Kata itu terus berdengung di telinganya seperti kaset rusak. Kali ini, Maverick benar-benar keterlaluan. Pria itu tidak hanya menginjak harga dirinya, tetapi juga menghancurkan sisa-sisa rasa hormat yang sempat tumbuh di hati Amora."Lima puluh kali lipat?" Amora berbisik getir, tawa sarkas lolos dari bibirnya yang bergetar. "Akan kukembalikan, Maverick. Detik ini juga aku akan lepas dari nerakamu!"Pikirannya langsung berputar mencari jalan keluar. Tidak masalah jika ia harus menjual sebagian besar saham pribadinya di perusahaan. Baginya, kehilangan materi j

  • Mari Bercerai, Tuan CEO!    Chapter 140.

    Cengkeraman tangan Maverick baru terlepas saat mereka tiba di depan mobil Amora. Tanpa sepatah kata pun, Maverick merebut kunci dari jemari Amora yang masih gemetar."Mav, mobilmu—""Biar diurus anak buahku," potong Maverick pendek. Suaranya serak, dingin, dan tidak membantah. Ia memberi isyarat samar pada salah satu pria berjas hitam yang tiba-tiba muncul di area parkir, lalu membuka pintu kemudi mobil Amora dan masuk begitu saja.Amora menghela napas panjang, menahan kekesalannya sebelum akhirnya memutari mobil dan duduk di kursi penumpang.Begitu pintu tertutup, Maverick langsung menginjak pedal gas dalam-dalam. Mobil sport itu melesat membelah jalanan kota dengan kecepatan yang membuat jantung Amora berdegup kencang. Amora menoleh, mendapati rahang suaminya masih mengeras, lurus menatap jalanan di depan seolah-olah jalan aspal itu adalah musuh bebuyutannya.Keheningan di dalam kabin mobil terasa begitu mencekam dan menyesakkan."Mav, pelankan kecepatannya! Kau bisa membuat kita ke

  • Mari Bercerai, Tuan CEO!    Chapter 139.

    Cengkeraman Vicktor pada pergelangan tangan Amora terlepas paksa saat sebuah tangan kekar lain menyentaknya dengan kasar. Vicktor terhuyung selangkah ke belakang, matanya membelalak tak percaya mendapati sosok pria asing yang beberapa hari lalu sempat ia lihat sekilas di area kantor Shane Group kini berdiri kokoh di depannya.Pria itu—Maverick—menatap Vicktor dengan pandangan sedingin es, seolah-olah Vicktor tak lebih dari seekor serangga yang mengganggu jalannya.Amora memilih tetap diam. Dari posisinya, ia bisa melihat dengan jelas bagaimana rahang Maverick mengeras dan urat-urat di leher pria itu menegang. Ada kilat kemarahan yang membakar di mata abu-abu Maverick. Dia cemburu, batin Amora, ada sedikit rasa tak percaya menyeruak di hatinya melihat reaksi sehebat itu dari seorang Maverick."Kau siapa? Beraninya mengganggu urusan kami?!" bentak Vicktor sinis. Rasa percaya dirinya kembali naik. Di matanya, pria asing ini hanyalah pengganggu yang tidak tahu apa-apa tentang sejarahnya d

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status