LOGINMenikah itu hal yang sakral. Una tahu itu. Namun, dalam keadaan yang tidak bisa dipahaminya, dia harus menikah dengan Abi--dosennya sendiri. Tanpa cinta dan tanpa rencana, Una kira semua akan berakhir begitu saja. Tapi, jika rasa cinta itu semakin muncul, sementara ada hati yang harus dijaga, bagaimana Una bisa menyelesaikan semua?
View More“Cari laki-laki lain untuk menghamili kamu, Wa.”
Ucapan Kaisar pagi itu, bagaikan palu godam yang menghantam dada Djiwa. Perempuan yang masih gadis itu seketika membeliakan bola matanya. Bagaimana bisa, suaminya sendiri dengan begitu tenang memintanya untuk hamil bersama pria lain? “Ka-kamu ... serius, Mas?” bisik Djiwa tak percaya, suaranya tercekat. “Kamu gak lagi bercanda, kan? Kenapa Djiwa harus hamil sama pria lain?” Kaisar mendesah berat. “Aku sudah muak! Mami terus mendesak lagi soal ahli waris. Aku sudah muak dengan tekanan itu. Dan dia terus menanyakan kapan kamu hamil.” Djiwa menelan ludahnya susah payah. “Kalau begitu ... kenapa gak sama kamu aja, Mas? Djiwa punya suami, kenapa Djiwa harus hamil sama pria lain?” tanyanya bingung. “Kamu? Jangan bercanda! Aku gak akan mempertaruhkan malam-malamku dengan kamu!” Ucapan Kaisar kali ini benar-benar menyayat hati Djiwa. Mulut Dijwa terbuka, tapi tak ada kata-kata yang keluar dari sana. “Cari pria terhormat kalau bisa. Kalau tidak bisa, aku yang akan mencarikannya untukmu,” ucap Kaisar, suaranya tetap dingin, seakan apa pun yang ia katakan sudah final. “Aku tidak sedang bernegosiasi.” Dada Djiwa terasa menyesak—seolah diremas dari salam. Kedua tangannya terkepal erat di samping tubuh, sampai buku-buku jarinya memutih. Mulutnya sudah terbuka, hendak memprotes. Namun Kaisar lebih cepat, suaranya menampar udara lebih dulu. “Kamu harus hamil, aku gak mau tahu! Menikahi kamu aja udah bikin aku malu di depan kedua saudaraku, dan sekarang kamu masih mau mempermalukan aku dengan tidak bisa memberikan keturunan?” Kaisar menautkan tangan di depan dada, tatapan datar namun menekan. “Jadi, lakukan saja—atau biaya rumah sakit kakekmu aku cabut!” Djiwa dengan cepat menggeleng, tak terima dengan ancaman itu. “Nggak, Mas. Jangan lakuin itu ke kakek, aku mohon! Kakek butuh biaya besar untuk rumah sakit sampai sembuh, Mas.” Hembusan napas Kaisar terdengar berat, tapi bukan karena ragu. “Kalau begitu, hari ini juga kamu putuskan. Supaya aku tidak cabut biaya rumah sakit kakek kamu.” Iya atau tidak. Itu pilihan tersulit untuk Djiwa. Apalagi ini menyangkut nyawa sang kakek. Padahal pernikahan mereka baru berusia satu tahun. Dan selama itu, Djiwa baru tahu kalau suaminya selama ini tidak mencintainya. Terpaksa. Ya, Kaisar terpaksa menikahinya karena wasiat sang kakek. Karena kakeknya dulu berteman sangat dekat dengan kakek Djiwa, dan memutuskan untuk saling menjodohkan cucu mereka. Jika Djiwa tahu ini sejak awal. Sumpah demi apapun, Djiwa tidak akan pernah mau menikah dengan Kaisar. Padahal selama ini, dia mencoba mencintai sang suami. Tapi pria itu tidak pernah sedikitpun membalas usahanya. “Bagaimana?” Kaisar menaikkan satu alisnya, menunggu keputusan sang istri. Djiwa menelan ludahnya berat. “Djiwa ... Djiwa akan pikir-pikir lagi, Mas.” Tatapan Kaisar tetap dingin. “Baiklah, aku beri kamu waktu tiga hari dari sekarang,” setelah mengatakan itu, Kaisar meninggalkan kamar mereka. Sementara Djiwa terpaku di tengah-tengah ruangan tersebut. Kakinya mendadak lemas setelah mengetahui fakta mengejutkan ini. Tak hanya itu, tapi permintaan sang suami yang tak masuk akal. Djiwa menghembuskan napas pelan. “Ke mana aku harus mencari pria terhormat? Apalagi … anak itu bakal jadi pewaris keluarga Reinard,” gumamnya, terdengar bingung dan putus asa. Djiwa tersentak ketika pandangannya jatuh pada jam dinding. Sudah pukul setengah tujuh pagi—sebentar lagi waktu sarapan. “Ya Tuhan!” Panik kecil menyengat dadanya. Djiwa langsung meninggalkan kamar, hampir setengah berlari menuju dapur. Rutinitasnya sudah menunggu, menyiapkan sarapan untuk keluarga besar Reinard—yang terdiri dari ibu mertuanya, para kakak ipar, serta keponakannya. Keluarga Reinard adalah keluarga konglomerat yang keras memegang adat patrilineal. Semua tinggal dalam satu atap, mertua, anak, menantu—hierarki yang tak pernah benar-benar terlihat, tapi selalu terasa menekan. Dan Djiwa, sebagai menantu bungsu yang tak bekerja seperti dua menantu lainnya, otomatis menjadi tangan utama rumah itu. Memasak, beres-beres, memastikan semua berjalan sempurna. Ia memang tidak sendirian, ada pembantu lain membantunya. Mudah mengurus rumah semewah dan seluas ini dengan para pembantu. Tapi tak mudah bagi Djiwa yang dituntut untuk melakukan semuanya tanpa kesalahan. Ruang demi ruang seperti tak ada habisnya, dan tiap sudut menuntut kesempurnaan. Sekitar setengah jam kemudian, Djiwa bersama dua pembantu lainnya akhirnya selesai menyiapkan sarapan. Dan kini tugas Djiwa melayani ibu mertuanya dan sang suami, Kaisar. “Ini teh hijaunya, Mi,” Djiwa menyerahkan teh hangat milik sang ibu mertua ke hadapannya. “Terima kasih,” ucap Sekar datar, tanpa menoleh. Kini Djiwa giliran melayani sang suami. Tapi ketika dia hendak meletakkan roti panggang untuk Kaisar, pria itu segera menarik piringnya. “Aku bisa sendiri, kamu langsung duduk saja,” kata pria itu dengan nada dingin. Djiwa tersenyum kecil, lalu duduk di kursi sebelah kiri sang suami. Baru saja tangannya hendak meraih roti panggang, suara ibu mertuanya yang tajam memecah keheningan meja makan. “Satu tahun. Sudah genap satu tahun Djiwa menjadi menantu keluarga Reinard.” Sekar menoleh, tatapannya langsung mengarah pada menantu bungsunya. “Tapi kamu belum juga hamil.” Pelan, tangan Djiwa yang tadi terulur menggantung di udara turun kembali ke pangkuan. Ia menunduk dalam-dalam, jemarinya saling menggenggam erat. Tidak berani menatap siapapun—terutama ibu mertuanya. Bahkan ia bisa merasakan tatapan para kakak iparnya yang mencemooh dari kedua sisi meja makan, membuat dadanya sesak. Malu? Tentu saja. Keluarga suaminya benar-benar keluarga terhormat dari kalangan elit— memiliki garis keturunan Jawa dan Belanda murni. Sekar Ayunda Reinard yang berdarah Jawa, dan suaminya mendiang Diederick Von Reinard yang merupakan konglomerat Belanda. Pemilik perusahaan Grand Reinard Corporation, yang beroperasi di dalam dan luar negeri. Serta memiliki banyak anak cabang—mulai dari perusahaan industri, hotel, dan juga rumah sakit. Kekayaan itu diwarisi anak-anak mereka, si tiga bersaudara. Radja si anak pertama, Sultan si anak kedua, dan Kaisar yang merupakan anak bungsu. “Saya sudah membuat janji temu dengan dokter kandungan terbaik,” lanjut Sekar, mendorong kartu nama pada Kaisar yang duduk di sebelah kirinya—agar memberikan pada Djiwa. Pria itu dengan malas meraihnya, lalu menyerahkannya pada sang istri tanpa menoleh. Gerakannya sangat malas, seolah tak tertarik sedikitpun. Lalu Sekar menambahkan. “Saya tidak mau tahu! Kamu harus segera periksa.” “Mungkin Djiwa mandul, Mi!” Inggrit—istri Radja, si sulung—menimpali, membuat semua yang di meja makan menatap ke arahnya. Sementara Radja sendiri, sang suami, hanya meliriknya sekilas. “Bisa jadi, Mbak Grit. Sebenarnya Djiwa ini mandul, tapi dia sengaja tidak mau memberitahu Mami dan Mas Kaisar. Supaya tidak diceraikan!” imbuh Fairish—istri Sultan, anak kedua, ikut memanasi keadaan. Kedua istri kakak ipar Djiwa memang selalu merendahkannya karena perbedaan kasta mereka yang bagaikan langit dan bumi. Inggrit, merupakan lulusan S2 jurusan designer kampus ternama di Amerika. Tak hanya itu, Inggrit juga putri dari pengusaha kaya raya, dan sekarang dia mengelola butik besar. Dan istri Sultan—Fairish, merupakan lulusan S2 Hukum, dan sekarang bekerja sebagai pengacara sekaligus anak dari pemilik Firma Hukum terbesar. Sedangkan Djiwa? Hanya perempuan yang kebetulan beruntung menjadi kandidat menantu dari keluarga tersebut. Karena kakeknya adalah teman lama dari ayah Sekar yang merupakan kakek Kaisar. Pernikahan mereka terjadi karena sebuah wasiat dari tetua mereka yang sudah meninggal sekitar satu tahun yang lalu, sebelum Djiwa dan Kaisar resmi menikah. Kata ‘mandul’ itu seperti tamparan keras yang menghantam pipi Djiwa. Tuduhan itu menusuk harga dirinya yang sudah rapuh karena Kaisar tidak pernah menyentuhnya. Djiwa merasakan wajahnya memucat. Ia melirik Kaisar di sampingnya, tetapi pria itu menatap piringnya dengan ekspresi bosan—seolah mendengarkan pidato yang sudah dihafalnya. Seperti biasa, Kaisar tidak akan membelanya di depan ibu mertuanya itu. Tak bicara apapun, membiarkan Djiwa dimaki dan dihina di depan keluarganya. Djiwa mengangkat pandangannya, menatap ibu mertuanya. “Mi, Djiwa ... rahim Djiwa baik-baik saja,” ucapnya berusaha membela diri, suaranya bergetar. BRAK! Sekar menggebrak meja dengan ujung pisau selai di tangannya—membuat semua yang di meja makan terlonjak kaget, sedangkan tatapan Sekar dingin dan menusuk. “Tidak ada kata ‘baik-baik saja’, Djiwa! Lakukan apa yang saya minta, dan kirimkan hasilnya. Saya ingin memastikan sendiri!” “Lakukan saja, Wa … apa yang dikatakan Mami,” akhirnya Kaisar membuka suara, setelah sejak tadi terdiam cukup lama. Namun bukan membela, melainkan ikut intimidasi sang istri. Djiwa menelan ludahnya berat. Matanya yang merah sejak tadi tampak berkaca-kaca setelah pria yang seharusnya melindungi, justru ikut menyudutkannya. “Lagipula,” Kaisar kembali melanjutkan. “Aku yakin yang bermasalah di sini kamu. Apa salahnya untuk cek ke dokter, agar bisa tahu kamu negatif atau positif mandul.” Tangan Djiwa di atas pangkuannya sudah mulai bergetar karena menahan emosi. Mengepal erat sampai buku-buku jarinya memutih pucat. Bagaimana bisa suaminya sendiri mengucapkan itu di meja makan, di depan seluruh anggota keluarga? “Dengar baik-baik,” Sekar kembali buka suara, nada bicaranya tegas penuh perintah. “Saya beri kamu tenggat waktu tiga bulan dari sekarang. Kamu harus hamil.” Setiap katanya penuh tekanan dan menuntut, membuat Djiwa kesulitan bernapas dengan baik. Tapi tak sampai disitu saja, Sekar menambahkan dengan nada ketus. “Jika tidak, saya sendiri yang akan meminta Kaisar menceraikan kamu.” Nada Sekar merendah tajam, menusuk tanpa ampun. “Setelah itu kamu bisa pulang ke rumah gubukmu, dan menghabiskan sisa hidupmu merawat kakekmu yang sakit-sakitan itu.”“Di hari kematian Ayah, aku dan Ibu langsung ke rumah sakit. Di sana kami menunggu jenazah Ayah yang masih dalam perjalanan. Di UGD yang ramai, aku melihat ada anak kecil yang berdiri linglung di ujung ruangan. Dia mendekatiku dan menarik-narik bajuku. ‘Mama Papa nggak bangun lagi,’ ucapnya. Aku berjongkok dan menyejajarkan pandang. Tatapan matanya sangat polos. Aku langsung memeluknya karena kutahu kami di posisi yang sama. Hebatnya dia nggak menangis. Dia keren sekali. Ya, anak itu adalah Aksa. Sesaat kemudian keluarga Aksa datang, aku nggak ingat siapa, yang jelas Aksa langsung bersama mereka. Mungkin itu Mama sama Papa. Aku nggak sempat bertemu karena jenazah Papa sudah datang. Malam itu UGD memang ramai banget, mungkin malaikat maut sedang berbondong menjemput orang-orang baik.”Itu adalah awal pertemuanku dengan Aksa. Pertemuan pertama kami bukan di ruangan dosen, melainkan jauh dari itu. Sekarang Mas Abi masih memelukku. Dia memelukku sangat erat dan menciumi ujung kepalaku. Di
Sekarang aku hidup seperti zombi. Menapak tanah, tapi tanpa nyawa. Berpikir, tapi seperti nggak punya otak. Aku benar-benar masa bodo dengan yang terjadi padaku sekarang. Semua orang di kampus sudah tahu mengenai hubunganku dengan Mas Abi. Aku juga sudah melakukan sidang skripsi dengan ala kadarnya. Sidang ini diundur satu minggu, itu pun Mas Abi yang mengurus. Semua persiapanku sudah lenyap. Aku tidak peduli dengan penjelasanku yang kurang memuaskan. Aku seharusnya mendapatkan nilai B, tapi Prof. Nanang memberiku nilai A. Apa dia merasa bersalah? Harusnya enggak. Kan, di sini aku yang salah.Sejak kembali ke Jakarta, Ibu tinggal bersamaku di sini. Mas Abi yang membawanya. Katanya supaya aku nggak banyak melamun. Padahal, aku nggak melamun. Aku hanya tidur dalam waktu yang sangat lama. Aku tetap lelah padahal nggak melakukan apa-apa. Aneh, kan? Psikolog yang merawatku mengatakan kalau aku depresi. Dulu aku menyepelekan Rania yang harus menjalani terapi ke psikolog, sekarang aku yang m
Pesan yang tidak terkirim membuat Aksa mengira aku sudah datang ke sekolahnya tepat tiga puluh menit setelah panggilan dengan Miss Yuli. Dia begitu antusias menantiku karena kami sudah janjian untuk main. Dia nggak sabar untuk ke playzone dan makan es krim. Alhasil, dia nggak mau menungguku di dalam kelas atau taman bermain seperti biasa setelah tiga puluh menit berlalu. Dia menungguku di depan gerbang. Mulanya masih ditemani satpam yang bertugas. Sejenak satpam itu ke toilet dan bersamaan Aksa melihatku datang. Dia mengira seorang wanita yang mengendarai motor seperti milikku di seberang jalan adalah aku. Dia sudah berjingkat-jingkat sambil melambaikan tangan. Namun, orang itu langsung pergi begitu saja. Aksa yang panik karena merasa ditinggal pun langsung berlari menyeberang tanpa mempedulikan apa yang ada di samping kanan dan kirinya. Setelahnya semua orang mengerumuni jalan itu.Rangkuman cerita itu kudengar langsung dari seseorang yang datang. Aku tidak tahu siapa. Mungin aku ken
Besok lusa aku sidang dan sekarang pada jam sebelas siang masih di kampus. Harusnya ini hari tenang untukku menyiapkan mental. Namun, aku harus menunggu satu dosen pengujiku yang sibuknya mengalahi rektor. Dia guru besar yang aktivitasnya nggak cuma di kampus ini. Aku sedang menunggu Prof. Nanang untuk memberikan draft skripsiku beserta surat tugas.Aku duduk di kursi ruang tunggu yang berada di front office. Bosan sekali menunggu, apalagi suasananya sangat sepi. Aku tidak tahu ke mana perginya mahasiswa lain. Saat kumainkan kakiku di lantai, aku melihat ada orang yang melewatiku. Aku mengenalnya dan dia mengenalku. Namun, kami nggak saling menyapa. Kami benar-benar menjadi orang asing. Itu Kak Alex. Dia baru saja masuk ke ruang dosen. Aku pandangi punggungnya dan bergumam dalam hati menyatakan ini memang yang terbaik untuk kami.Aku tidak akan mempermasalahkan mengenai Kak Alex karena yang lebih rumit sekarang adalah si Abimayu. Sampai tadi pagi, kami masih melakukan gencatan senjata
Aku tidak butuh persetujuan Mas Abi untuk pergi keluar bersama Kak Alex. Toh, dia juga tidak meminta persetujuanku untuk membawa Rania masuk ke kamar. Sekarang, di sinilah aku berada. Di sebuah kafe dekat kompleks. Di depanku ada Kak Alex yang sejak lima menit lalu masih konsisten mengaduk dan meneg
Aku masuk kamar Aksa, lalu menguncinya. Aku duduk di balik pintu sambil memeluk kedua kakiku yang terlipat. Aku yang salah. Aku yang bodoh. Aku yang sukarela menjatuhkan diri kepadanya. Wawa benar, harusnya aku nggak begini. Harusnya aku bisa tegas sejak awal dengan batasan-batasan kami. Aku yang mu
Pemakaman sudah selesai tepat sejak pukul sembilan tadi. Sekarang, orang-orang masih ramai berdatangan. Kerabat juga masih berkumpul. Mereka mengelilingi Mama dan Aya. Mama sudah benar-benar lemah. Dia hanya bisa duduk bersandar ketika satu per satu orang menyampaikan belasungkawa. Di antara semua o
Seperti yang kubilang, aku tidak mau diatur-atur dengan cara yang tidak adil. Mas Abi bisa dengan mudah bermesraan dengan Rania sampai mengucapkan kalimat ‘I love you’, masa aku tidak boleh? Aku tidak akan membiarkan dia seenaknya mengaturku. Aku tetap menjadi Una yang bebas dan kata ‘menikah’ hanya












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore