LOGINKabar tentang kehamilan Valeriana menyebar di kediaman Vallas secepat embun yang menguap diterpa matahari pagi. Dalam semalam, suasana rumah itu berubah sepenuhnya. Lorong-lorong yang biasanya dipenuhi langkah tergesa kini dipenuhi kehati-hatian. Para pelayan berjalan lebih pelan, berbicara lebih lirih, seolah takut suara mereka saja bisa mengganggu calon pewaris yang bahkan belum menampakkan keberadaannya.Anna menjadi orang yang paling sibuk. Ia hampir tidak membiarkan Valeriana melakukan apa pun sendiri. Bahkan untuk sekadar mengambil gelas air, wanita itu sudah lebih dulu bergerak mendahului. Tabib Pym pun meninggalkan daftar panjang tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan, lengkap dengan nada serius yang membuat seluruh penghuni rumah ikut tegang. Di sisi lain, Lucas tanpa banyak bicara langsung memperketat penjagaan di sekitar kediaman Vallas. Jumlah pengawal bertambah, meski semuanya diatur sedemikian rupa agar tidak membuat suasana terasa menyesakkan.Namun, dari semu
Anna yang sejak tadi berdiri di sudut ruangan akhirnya mengalihkan pandangannya kepada Valeriana. Ada keraguan yang sempat melintas di wajah pelayan itu sebelum ia memutuskan untuk berbicara.“Nyonya bertemu seorang nenek aneh sebelum pulang,” ucapnya pelan, seolah takut kata-katanya akan menambah beban suasana yang sudah cukup berat. “Awalnya saya pikir beliau hanya peramal jalanan biasa. Tapi setelah pertemuan itu, Nyonya terus melamun.”Kael yang duduk di sisi ranjang segera menoleh.“Seorang nenek?” tanyanya, alisnya berkerut bingung.Valeriana menggigit bibir bawahnya pelan. Dadanya terasa sesak. Ia tahu tidak ada gunanya lagi menyimpan cerita itu seorang diri. Terlalu banyak hal yang sudah terjadi. Kael kini mengetahui rahasia terbesar yang selama ini ia sembunyikan. Ia juga baru saja pingsan dan membuat semua orang di ruangan itu diliputi kecemasan.Tak ada lagi alasan untuk berdiam diri.“Nenek itu mengatakan sesuatu,” ujarnya lirih.Kael tidak menyela. Tatapannya tertuju penu
Tabib Pym menatap Valeriana beberapa saat lebih lama dari biasanya. Sorot matanya yang semula tajam dan penuh perhatian seakan tengah menimbang sesuatu yang tidak terlihat oleh orang lain di dalam ruangan itu.Lalu, perlahan-lahan, ekspresi serius di wajahnya berubah.Bukan kepanikan.Bukan pula kesedihan.Melainkan keterkejutan yang singkat, sebelum akhirnya melembut menjadi sesuatu yang hangat dan hampir tak terduga.“Nyonya Duchess,” ucapnya pelan, suaranya terdengar lebih lembut dari sebelumnya, “sejak kapan Nyonya sering merasa lelah?”Valeriana berkedip bingung.“Aku... tidak tahu,” jawabnya jujur. “Beberapa hari ini memang banyak hal yang terjadi.”Tabib Pym mengangguk kecil.“Apakah Nyonya juga lebih mudah merasa pusing? Nafsu makan berubah? Atau sesekali merasa mual?”Pertanyaan itu membuat Valeriana terdiam.Ia mencoba mengingat beberapa hari terakhir. Rasa lelah yang datang lebih cepat dari biasanya. Tubuh yang terasa berat. Perut yang sesekali tidak nyaman tanpa alasan yan
Valeriana menarik napas tajam. Matanya terbuka mendadak. Cahaya lampu di kamar utama kediaman Vallas langsung menyambut pandangannya.Bukan langit-langit putih rumah sakit. Bukan bau obat-obatan steril. Bukan suara mesin detak jantung. Ia berada di kamar Kael. Di dunia novel. Di sisi pria itu.“Nyonya!”Suara Anna pecah hampir seperti tangisan.Valeriana mengerjap beberapa kali. Pandangannya masih buram dan kepalanya terasa berat. Hidungnya sedikit perih, tetapi darah yang tadi mengalir tampaknya sudah dibersihkan.Dan tepat di samping ranjangnya, Kael duduk dengan wajah pucat.Sangat pucat.Bahkan lebih buruk dibanding saat tubuhnya sendiri dipenuhi luka.Pria itu seharusnya masih beristirahat. Seharusnya tidak bergerak terlalu banyak. Namun kini ia duduk di tepi ranjang Valeriana dengan napas sedikit berat, satu tangannya menggenggam jemari Valeriana erat seolah takut kehilangannya.Perban di bahunya tampak sedikit bergeser, pertanda ia bangun terburu-buru tanpa memedulikan kondisin
Awalnya, hanya ada kegelapan.Kegelapan yang begitu pekat hingga seolah menelan seluruh kesadaran, menyisakan kehampaan tanpa batas. Di tengah sunyi itu, sebuah suara samar perlahan muncul dari kejauhan.Pelan.Teratur.Tak pernah berhenti.Bip… bip… bip…Suara itu menggema seperti denyut kehidupan yang berusaha menembus kabut gelap di sekelilingnya.Valeriana merasa tubuhnya begitu berat. Seakan seluruh dirinya tenggelam jauh ke dasar lautan yang dingin dan tak berujung. Kesadarannya melayang tanpa arah, terombang-ambing di antara mimpi dan kenyataan, antara sadar dan tidak sadar. Namun di tengah semua itu, suara tersebut terus memanggilnya, menariknya perlahan dari jurang ketidaksadaran.Bip… bip… bip…Entah mengapa, suara itu terasa begitu akrab. Bukan suara pintu kayu tua di koridor Kediaman Vallas yang berderit saat malam tiba. Bukan langkah kaki para pelayan yang berjalan tergesa di lorong istana.Bukan pula bunyi lembut nyala lilin yang menari diterpa angin malam.Tidak.Itu ad
Wajah Valeriana seketika memucat.Kalimat itu menghantam kesadarannya begitu keras, seperti sambaran petir di tengah siang yang tenang—mendadak, memekakkan, dan meninggalkan getaran dingin yang menjalar hingga ke ujung jarinya.Kembalilah ke duniamu.Napas Valeriana tercekat.Nenek itu tahu.Entah bagaimana caranya, wanita tua itu mengetahui sesuatu yang bahkan tidak pernah berani ia ungkapkan kepada siapa pun. Kecuali Kael.Dadanya mendadak terasa sesak. Jantungnya berdetak tidak beraturan, seolah mencoba keluar dari rongga dadanya. Ribuan pertanyaan berdesakan di kepalanya dalam waktu bersamaan.Ia ingin bertanya.Ingin menarik tangan keriput nenek itu dan memaksanya menjelaskan semuanya. Siapa dirinya sebenarnya? Dari mana ia mengetahui rahasia itu? Dan apa maksud dari ucapan menyeramkan tentang pengorbanan?Namun sebelum Valeriana sempat membuka mulut, seseorang melintas di antara mereka sambil membawa keranjang besar berisi sayuran. Tubuh tinggi pria itu menutupi pandangannya han
Siang itu, suasana di Kediaman Duchy Vallas terasa jauh lebih damai dari biasanya. Setelah “Inspeksi Maut” dan pemecatan massal yang dilakukan Valeriana pagi tadi, para pelayan yang tersisa bekerja dengan efisiensi yang mengagumkan. Tak ada lagi bisik-bisik mencurigakan, tak terlihat pula wajah-waj
TRANG!Benturan logam yang nyaring memecah udara, bergema ke seluruh penjuru ruang latihan indoor kediaman Duchy Vallas. Percikan api kecil sempat menyala sesaat ketika dua bilah pedang saling menghantam dengan kekuatan penuh.“Whoa! Santai, Tuan! Santai!”Lucas terhuyung ke belakang beberapa langk
Matahari pagi baru saja mengintip malu-malu dari ufuk timur, menyiramkan cahaya keemasan ke jendela-jendela besar Kediaman Vallas. Kicau burung pipit terdengar bersahutan, menandai dimulainya hari baru di Kekaisaran Arcelia. Biasanya, pada pukul enam pagi, sayap kiri kediaman—wilayah kekuasaan Duch
Di bawah judul besar itu, Kirana menuliskan tiga poin utama—pilar kehidupannya mulai sekarang. --- 1. AMBIL HATI SUAMI (MISI: BUCIN) Status saat ini: Kael curiga 90%, percaya 10%. Target: Membuat Kael jatuh cinta atau setidaknya percaya bahwa aku benar-benar berada di pihaknya. Cara: Berhenti j







