LOGIN“Marielle... apa kau menangis?” bisik Aldric lirih, nada suaranya kehilangan seluruh kedinginan dan otoritas mutlak yang biasa ia tunjukkan sebagai seorang Grand Duke yang agung.Sentuhan tangan Aldric di bahunya terasa begitu nyata, namun alih-alih menepisnya seperti biasa, Marielle justru merosot pelan ke lantai kamarnya. Pertahanan yang ia bangun dengan susah payah sejak pagi runtuh seketika. Di hadapan pria yang telah merenggut satu-satunya tempat ia bisa bernafas lega, wanita itu menangis sejadi-jadinya. Isakannya tertahan di tenggorokan, berubah menjadi ratapan pilu yang menyayat hati siapapun yang mendengarnya.Aldric terpaku di tempatnya. Pria yang terbiasa bersikap sombong, dingin, dan memperlakukan dunia sesuka hatinya itu mendadak merasa seolah ada cengkraman tak kasat mata yang meremas dadanya hingga sesak. Melihat air mata mengalir deras di pipi Marielle, membuat rasa bersalah yang asing menusuk tajam relung hatinya, menghadirkan rasa sakit yang jauh lebih menyiksa ke
“Tidak mungkin menghancurkan tempat tinggal seorang wanita yang kau sukai?” ucap Marielle mengulang kalimat pria itu dengan nada suara yang bergetar hebat akibat perpaduan antara amarah dan rasa tidak percaya.Tangan Aldric yang tadi sempat menyentuh helaian rambutnya ditepis dengan kasar. Marielle mundur dua langkah, menjaga jarak dari sosok penguasa Valerante yang menatapnya dengan senyuman tipis penuh kepemilikan. Manik peraknya menyalang tajam, memantulkan bara emosi yang siap meledak kapan saja.“Bentuk kasih sayang macam apa yang menghancurkan satu-satunya tempat pulang seseorang, Grand Duke?” seru Marielle sinis, tawanya terdengar hampa dan dingin. “Jika ini cara Anda menunjukkan ketertarikan, maka cara Anda tidak ada bedanya dengan seorang tiran haus darah!”Aldric tidak marah mendengar ejekan itu. Sebaliknya, sebelah alisnya terangkat perlahan. Ia memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana panjangnya, menikmati bagaimana wanita di hadapannya meradang dalam sangkar yang i
“Apa?!” Suaranya langsung menggelegar ke seluruh ruangan.Kertas-kertas lembar revisi di atas meja kerja Marielle mendadak terasa begitu berat. Manik peraknya membelalak lebar, menatap kosong pada wajah Diana yang basah oleh air mata. Untuk sepersekian detik, detak jantung Marielle seolah berhenti berdenyut. Rumah kecil di tepi hutan itu bukan sekadar bangunan kayu tempat ia bernaung. Tempat itu adalah simbol kebebasannya, satu-satunya jangkar yang mengingatkannya bahwa ia memiliki dunia sendiri di luar tembok dingin dari istana maupun kastil Valtore yang sekarang ia tempati sekarang.“Tidak... itu tidak mungkin,” bisik Marielle tertahan, suaranya bergetar hebat. Ia bangkit dari kursi begitu cepat hingga benda itu bergeser kasar dan membentur lantai batu. “Semalam badai salju sangat lebat, tapi bagaimana bisa...?”“Para pengawal gerbang bilang mereka melihat kepulan asap hitam pekat dari arah hutan selatan sejak subuh, Lady. Saat patroli mendekat, bangunan itu sudah ambruk menjad
“Segera dilaksanakan, Yang Mulia. Rumah itu akan rata dengan tanah sebelum fajar menyingsing,” jawab Caesar pelan, lalu berbalik dan menghilang dalam kegelapan lorong kastil, meninggalkan Aldric seorang diri dengan rencana gelap yang mengunci takdir Marielle selamanya di Valtore.Aldric masih berdiri melihat pintu yang sudah kembali tertutup rapat. Kali ini Aldric benar-benar tak akan melepaskan wanita yang pernah ia singkirkan itu.Dinginnya badai salju malam itu tidak mampu meredam langkah kaki Caesar yang bergerak tanpa suara. Berbeda dengan prajurit resmi kastil yang mengenakan pelindung perak berkilau, Caesar menyelimuti tubuhnya dengan jubah hitam legam yang menyatu sempurna dengan pekatnya malam. Sebagai bayangan sekaligus algojo pribadi Grand Duke Aldric, ia terbiasa bergerak di atas garis batas aturan. Tanpa membawa obor atau lentera, ia membelah hutan lebat di tepi benteng, menuju satu titik kecil yang menjadi satu-satunya tempat tujuan Marielle untuk pulang begitu proyek
“Sekarang, katakan padaku... apa hukuman yang pantas untuk wanita keras kepala yang suka keluyuran di tengah badai es seorang diri?”Aldric tidak menunggu jawaban. Dengan gerakan yang tegas namun terkontrol, pria itu langsung membungkuk dan membopong tubuh Marielle dalam gendongannya. Marielle sempat terkesiap dan melingkarkan tangannya ke leher Aldric secara refleks, matanya membelalak kaget.“Hei! Apa yang Anda lakukan? Turunkan saya, Grand Duke!” protes Marielle, berusaha memberontak di tengah terpaan angin badai.“Diam dan simpan tenagamu, Marielle. Kau sudah cukup membuatku hampir kehilangan akal malam ini,” sahut Aldric dingin, suaranya mengandung nada frustasi yang teramat dalam.Marielle terdiam, merasakan dekapan erat dan kehangatan tubuh Aldric yang melindunginya dari amukan badai salju. Di balik ketegasan pria itu, Marielle tidak menyadari badai emosi yang tengah berkecamuk di kepala Aldric beberapa menit lalu.Langkah Aldric tegas menyusuri jalan untuk kembali masuk da
“Lepaskan kaki Anda, Grand Duke...” desis Marielle tajam melalui celah giginya yang terkatup kaku, berusaha keras menjaga raut wajahnya tetap tenang di hadapan para pelayan yang lalu-lalang.“Selesaikan makan malammu dulu, Pimpinan Strategi,” bisik Aldric santai, tetap mengunci lutut Marielle di bawah meja hingga wanita itu hampir kehilangan kesabarannya.Marielle menggertakkan giginya rapat-rapat. Tak sudi berlama-lama menjadi tontonan terselubung para pelayan, ia langsung menyambar serbet linen di pangkuannya, melemparkannya begitu saja ke atas piring, lalu berdiri dengan gerakan penuh wibawa.“Saya sudah kenyang, Grand Duke. Silahkan nikmati sisa makanan Anda seorang diri,” ketus Marielle dingin.Tanpa menunggu balasan, ia berdiri dan melangkah cepat keluar dari ruang makan utama. Punggungnya ditegakkan setegak mungkin, meski di dalam dadanya jantungnya berdegup kacau akibat gesekan fisik yang baru saja terjadi.Setibanya di kamar, udara hangat di dalam ruangan justru terasa m
“Selamat pagi Yang Mulia,” sapa Diana sambil membungkuk saat baru saja masuk ke dalam kamar Marielle.Cassian sudah duduk bersandar pada sandaran kasur, jemarinya sibuk membelai rambut Marielle yang masih terlelap.“Kau. Buatkan makanan kesukaan Marielle. Aku rasa dia membutuhkannya sekarang,” ujar
“Marielle!” Suara Cassian terdengar samar-samar. Marielle membuka mata disebuah tempat asing nan gelap. Rasanya sangat dingin dan mencekam, membuatnya sedikit ketakutan. “Di mana ini…?” bisiknya, tatapannya melihat ke semua arah tempat gelap. Ia memeluk dirinya sendiri, mengelus lengannya untuk
“Apa? Makan malam bersama Ratu?!” Suara Cassian meninggi, seakan tak percaya dengan apa yang ia dengar. Marielle mengangguk, bola matanya membesar dan berbinar. Kali ini dirinya tidak boleh gagal, dia harus segera mungkin bicara pada Ratu. Dia langsung meraih tangan Cassian menggenggamnya erat de
“Lady Marielle, apakah anda yakin ingin bertemu dengan Yang Mulia Ratu?” tanya Diana sekali lagi untuk memastikan.Marielle masih berdiri didepan cermin, merapikan gaun indah yang membalut tubuhnya. Sekali lagi ia menatap dari kejauhan lantai dua, Ratu tengah berbincang dengan serigala licik Valtor







