เข้าสู่ระบบDi dalam kereta, Yuechan memandangi kantong kain yang kini tersimpan di tangannya. Mereka belum menemukan Zhou An. Namun, untuk pertama kalinya, mereka memiliki pesan langsung yang mungkin berasal darinya. Jiang Xuan memperhatikan wajah istrinya. “Kau sedang memikirkan siapa yang memberinya perintah?” Yuechan mengangguk. “Ya. Tapi aku tidak ingin menebak-nebak nama seseorang hanya berdasarkan kalimat ini.” “Bagus. Kita akan mencari tahu lebih dahulu.” Yuechan menyandarkan kepala ke bantalan kereta. “Semoga saja kita bisa menemukannya sebelum jejaknya menghilang sepenuhnya.” Jiang Xuan menggenggam tangannya. “Kita akan berusaha.” Kereta terus bergerak meninggalkan desa, membawa mereka kembali menuju Qinghe. Di tangan Yuechan, secarik pesan itu terasa ringan. Namun, di balik beberapa baris tulisan tersebut, mungkin tersimpan jawaban yang telah ia cari selama bertahun-tahun. Dan kali ini, ia semakin dekat untuk mengetahui siapa yang sebenarnya mengetahui rahasia pengobatan
Pagi itu, Lin Yuechan sedang menikmati kue kacang ketika Fu Cheng datang membawa kabar terbaru. “Nyonya Muda, kami menemukan seseorang yang mungkin mengenal Zhou An.” Yuechan yang semula hendak mengambil kue kedua langsung meletakkan sumpitnya. “Di mana?” “Di sebuah desa di sebelah timur Qinghe. Menurut mantan pelayan Kediaman Lin, Zhou An pernah tinggal di sana setelah meninggalkan pekerjaannya.” “Apakah orang itu mengetahui keberadaannya sekarang?” “Belum pasti. Namun, ia mengatakan bahwa Zhou An pernah bekerja di sebuah penginapan kecil sebelum menghilang dari desa tersebut.” Jiang Xuan, yang duduk di samping Yuechan, mengangkat pandangan dari surat di tangannya. “Siapa nama orang yang memberikan informasi itu?” “Seorang pedagang kain bernama Liu. Ia mengenal Zhou An karena mereka pernah tinggal di desa yang sama.” Yuechan segera membersihkan jemarinya dengan saputangan. “Aku ingin pergi ke desa itu.” Jiang Xuan menoleh kepadanya. “Kau baru saja sarapan.” “Aku sudah s
Sore itu, Lin Yuechan bersiap meninggalkan kediaman Jiang bersama Jiang Xuan. Pertemuan dengan pegawai lama toko obat akan dilakukan di sebuah kedai teh kecil di bagian selatan Qinghe. Tempat itu dipilih karena cukup tenang dan jauh dari keramaian jalan utama. Sebelum berangkat, Yuechan memastikan kotak kecil berisi salinan dokumen telah tersimpan di dalam tasnya. Jiang Xuan memperhatikan gerakannya dari dekat pintu. “Bukankah kau hanya perlu membawa satu atau dua lembar catatan?” Yuechan mengangkat tasnya. “Bagaimana kalau orang itu mengingat sesuatu yang berkaitan dengan dokumen lain?” “Kalau begitu, kita bisa meminta Fu Cheng membawanya nanti.” “Bagaimana kalau saat itu aku lupa apa yang ingin kutanyakan?” Jiang Xuan terdiam sesaat, kemudian mengulurkan tangan untuk mengambil tas tersebut. “Berikan kepadaku. Setidaknya bahumu tidak perlu menanggung seluruh isi ruang kerjaku.” Yuechan menyerahkan tas itu sambil tersenyum puas. “Suamiku memang paling bisa diandalkan.” “B
Pagi itu, Lin Yuechan masih berada di tempat tidur ketika Jiang Xuan selesai mengenakan jubah luarnya. Cahaya matahari menyelinap melalui celah tirai, jatuh tepat di wajah Yuechan yang berusaha bersembunyi di balik selimut. “Yuechan, sudah waktunya bangun.” “Tidak.” Jiang Xuan menoleh. “Bahkan kau belum tahu aku akan mengajakmu melakukan apa.” “Kalau bukan mengajakku makan, aku tidak tertarik.” Jiang Xuan terkekeh pelan. “Aku hanya ingin memberitahumu bahwa Fu Cheng akan kembali membawa kabar pagi ini.” Mendengar nama Fu Cheng, Yuechan membuka sedikit selimutnya. “Apakah dia menemukan Zhou An?” “Belum tentu. Dia juga membawa dokumen yang baru dikirim dari Kediaman Lin.” Yuechan akhirnya duduk, rambutnya sedikit berantakan. “Kenapa kau tidak mengatakannya sejak awal?” “Aku baru saja mengatakannya.” “Tapi kau mengatakannya setelah membangunkanku.” Jiang Xuan menatap istrinya dengan geli. “Baiklah. Lain kali aku akan membiarkanmu tidur sampai tengah hari, lalu memberitah
Setelah memastikan kondisinya tidak menunjukkan tanda kegawatan saat itu, ia meminta pelayan mengambilkan obat yang telah diresepkan tabib. “Kau harus makan terlebih dahulu, lalu minum obat dan beristirahat.” Jiang Xuan memandang istrinya. “Bagaimana dengan penyelidikan?” “Akan tetap berjalan meskipun kau tidur selama satu jam.” “Kalau ada laporan penting?” “Aku akan menyuruh Fu Cheng membacanya keras-keras di samping tempat tidurmu.” Jiang Xuan tertawa kecil, lalu segera berhenti ketika rasa tidak nyaman kembali terasa di dadanya. Senyum Yuechan menghilang. “Jangan memaksakan diri hanya karena ingin menenangkanku.” Tatapan Jiang Xuan melembut. “Baik. Aku akan beristirahat.” Yuechan baru terlihat lega setelah mendengar jawaban itu. Sambil membantu suaminya meninggalkan ruang kerja, ia kembali memikirkan nama Zhou An. Penyelidikan tentang ibunya perlahan menemukan arah baru, tetapi ia tidak ingin kehilangan sesuatu yang jauh lebih berharga dalam usahanya mencari kebenaran
Pagi berikutnya, Lin Yuechan sudah duduk di ruang kerja Jiang Xuan sebelum matahari benar-benar meninggi. Di atas meja terbentang beberapa surat lama milik mendiang ibunya. Ada surat yang ditujukan kepada Lin Weichen, catatan mengenai kebutuhan rumah tangga, serta beberapa lembar kertas berisi tulisan pribadi yang belum pernah dibaca Yuechan sebelumnya. Di samping semuanya, terletak secarik kertas kecil dengan kalimat yang terus mengusik pikirannya. Jika obat berikutnya kembali diganti, jangan meminumnya sebelum diperiksa. Yuechan menopang dagu dengan satu tangan. “Menurutmu, berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk membandingkan tulisan tangan?” Jiang Xuan, yang sedang membaca laporan di seberangnya, mengangkat pandangan. “Tergantung jumlah dokumen dan kejelasan tulisannya.” “Kalau begitu, kita mungkin harus duduk di sini sampai siang.” “Bukankah kau biasanya mengeluh jika harus duduk terlalu lama?” “Itu berbeda.” “Apa bedanya?” Yuechan menunjuk surat-surat di atas meja.







