Home / Romansa / Menjadi Istri Musuh Bebuyutanku / 34. Pertama dan Terakhir

Share

34. Pertama dan Terakhir

Author: prasidafai
last update publish date: 2026-08-12 20:30:23
Tanpa ragu sedikit pun, Puspa menggeser layar ponselnya ke arah ikon telepon berwarna merah.

Sebelum Rangga sempat mencoba meneleponnya kembali, Puspa bergegas mengetikkan balasan singkat, “Terima kasih ya, Pak. Saya baik-baik saja, kok. Tapi maaf, saya nggak bisa mengangkat video call. Saya ingin istirahat saja sekarang.”

Sementara itu, di lantai eksekutif firma hukum JD & Partners, suasana tampak tegang.

Begitu melihat sosok Jarren melangkah keluar dari lift, Yasmeen yang sejak tadi mondar-man
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
wh1teF1sh
amsyongghh, ini anak dan bapak apa kongkalikong yak...
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Menjadi Istri Musuh Bebuyutanku   134. Kamu Siap?

    Genggaman Puspa pada tali tasnya mengencang seketika. Bayangan masa lalu mendadak melesak liar di kepalanya. Bagaimana keras dan ringannya tangan Rangga sewaktu pria itu berani menyentuhnya secara paksa saat Puspa masih bekerja sebagai guru privat Sena. Jarren mencengkeram kemudi semakin erat, hingga buku-buku jarinya memutih kaku. Matanya menatap lurus jalanan dengan pendar dingin yang sarat ancaman. “Kemungkinan itu selalu ada, Mpus,” tutur Jarren dengan suara berat yang tertahan, “meski hanya nol koma sekian persen sekali pun. Aku juga akan cari tahu soal itu.” Puspa mengangguk pelan, mencoba menetralkan gejolak cemas di dadanya sewaktu mobil meluncur membelah gerbang sekolahnya. Beberapa hari kemudian, jam istirahat siang menyapa. Langkah Puspa yang agak melambat karena perut lima bulannya membawa tubuhnya kembali ke ruang guru. Namun begitu tiba di depan meja

  • Menjadi Istri Musuh Bebuyutanku   133. Tabur Tuai

    Jarren menatap lekat-lekat manik mata Puspa yang memancarkan keteguhan tanpa cela. Selapis amarah dan kepedihan merayapi sorot mata istrinya, tetapi di sana juga terpancar ketulusan. “Mas …” Puspa mengikis jarak, mengulurkan tangannya untuk meremas lembut jemari tegap Jarren, “apa yang kita tanam hari ini, itu yang akan kita tuai di kemudian hari. Bisa saja sekarang kita menyelamatkan Sena, lalu di kemudian hari orang lain akan mempermudah jalan kita, atau bahkan menolong anak-anak kita saat tangan kita sendiri nggak mampu mencapai mereka.” Sebuah desahan napas panjang lolos dari dada Jarren. Ketegangan di garis rahangnya sedikit mengendur sewaktu dia membalas genggaman hangat Puspa. “Kita lanjut bicara di mobil, Mpus,” bisik Jarren rendah, memberi isyarat halus bahwa pelataran rumah orang lain bukanlah tempat yang tepat untuk berdebat. Puspa sempat membuka mulut, hendak membantah ajakan menunda percakapan itu. Namun menangkap keseriusan di mata suaminya, wanita itu akhirnya meng

  • Menjadi Istri Musuh Bebuyutanku   132. Mama Kandung Sena

    Mata Puspa membola sempurna, pasokan udara di paru-parunya seakan mendadak mengencang.Di sisi Puspa, alis Jarren bertaut rapat dengan kelopak mata menyipit tajam.“Panti asuhan?” ulang Puspa, suaranya naik satu oktaf dipenuhi nada ketidakpercayaan yang membuncah.Sari mengangguk pelan, menyapu sudut matanya yang kembali membasah dengan lengan baju.“Tapi untuk apa Sena mau ditaruh di panti asuhan kalau kedua orang tuanya masih hidup, sehat, dan sangat mampu membiayai Sena, Mbak?” Puspa mengernyitkan dahi dalam-dalam, dadanya kempas-kempis menahan pusaran amarah yang mendadak membakar pembuluh darahnya.Puspa sungguh tidak habis pikir dengan jalan pikiran Rangga dan mantan istrinya. Hati nurani Puspa sebagai calon ibu dari bayi kembar berontak hebat.Bagaimana bisa ada orang tua berdarah dingin yang tega membuang darah dagingnya sendiri hanya demi ego pribadi?Sari meremas jemarinya yang gemetar, menjawab dengan raut wajah kian sedih, “Saya juga kurang paham detailnya, Bu. Saya cuma

  • Menjadi Istri Musuh Bebuyutanku   131. Sama-Sama Egois

    Sebuah cengkeraman kokoh bertumpu di udara, membekukan tangan pria itu tepat satu jengkal di depan kerah pakaian kerja hamil Puspa.Buku-buku jari milik Jarren mengunci pergelangan tangan berjaket kulit itu. Hawa dingin dari luar ruangan seolah mengkristal di sekitar tubuhnya, memancarkan aura intimidasi yang siap mematahkan lawan detik itu juga.“Tangan kotor Anda nggak layak menyentuh istri saya,” ucap Jarren penuh penekanan.Pria berjaket kulit itu mengaduh pelan, menggeram menatap Jarren dengan mata memerah oleh amarah. “Jadi kamu suaminya?! Berarti kamu papanya anak ini?!”Puspa mengembuskan napas lega yang panjang.Sekilas wanita itu mengukir senyum tipis sarat rasa terima kasih ke arah suaminya.Namun ukiran senyum itu melenyap tanpa sisa tatkala Puspa memutar kepalanya kembali, menghadapi pria di hadapannya.“Bukan, Pak,” tukas Puspa lugas. “Tadi saya juga sudah bilang kalau saya bukan mamanya Sena.”Pria itu menoleh cepat, melayangkan tatapan membunuh pada Puspa meski pergela

  • Menjadi Istri Musuh Bebuyutanku   130. Nggak Punya Mama

    “Sudah, Bu. Nggak direspons sama sekali,” sahut Atika dengan canggung. Kedua mata Puspa melebar sempurna. Bibirnya sedikit terbuka, mematung mencerna kalimat singkat yang meluncur dari mulut guru di hadapannya. “Memang mama Sena nggak pernah menanggapi pesan, panggilan telepon, atau bahkan undangan resmi dari pihak sekolah sejak awal tahun ajaran. Kontak beliau yang terdaftar di berkas nggak pernah aktif.” Atika mendesah pelan, meremas jemarinya sendiri. Puspa tertegun. Pikirannya melayang liar. Wanita itu berusaha keras untuk tidak pernah menghakimi kehidupan pribadi orang lain, tetapi nuraninya berontak kencang. Ibu kandung seperti apa yang hatinya sama sekali tidak tergerak saat mendengar putranya terluka di sekolah? Sementara Puspa, yang notabene hanyalah mantan guru privat tanpa ikatan darah, justru terseret melangkah hingga ke tempat ini karena naluri keibuannya? Kini, Puspa mulai memahami kepedihan tak kasatmata di balik binar mata Sena. Anak laki-laki itu tumbuh dala

  • Menjadi Istri Musuh Bebuyutanku   129. Kontrak Darurat

    Jemari Puspa membeku di atas layar ponselnya. Dahi wanita itu berkerut semakin dalam. Puspa menekan tombol balas, menari-narikan jarinya di atas papan ketik virtual. “Maaf, Bu. Saya nggak ada hubungan keluarga sama Sena. Jadi silakan hubungi ayah atau ibunya saja.” Puspa mengirimkan pesan, lalu menghembuskan napas panjang. “Aneh banget,” gumam Puspa lirih pada ruangan sepi. “Kenapa ngehubungin aku? Guru Sena dapat nomor aku dari mana, ya?” Baru saja Puspa membalikkan ponsel dan meletakkannya di sudut meja, denting suara notifikasi kembali memecah keheningan. Jemarinya yang berhias cincin pernikahan refleks terulur meraih kembali benda pipih itu. [Mohon maaf, Bu, nomor Ibu terdaftar sebagai kontak darurat atas nama Sena Baswara.] Tak berselang lama, sebuah foto terunduh otomatis di layar. Gambar yang menunjukkan anak laki-laki itu duduk lemas di atas kasur dengan hidung tersumbat kain kasa dan bercak darah segar mengering di sekitar bibirnya. Puspa mendesah berat. Rasa hangat

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status