Share

Bab 17 | Kabur

Author: MAMAZAN
last update Petsa ng paglalathala: 2026-01-07 23:55:44

Bab 17

Lila duduk di kursi paling belakang dengan napas yang masih tersengal-sengal. Jantungnya berdegup kencang, memukul rongga dadanya seakan ingin melompat keluar.

Beberapa menit yang lalu, setelah ia luruh di lantai koridor, Lila menyadari bahwa ia tidak punya waktu untuk berlarut dalam ketakutan. Perintah Oliver untuk ke ruangannya adalah alarm bahaya. Ia tahu jika ia masuk ke sana, Oliver akan kembali mengklaimnya dengan cara yang lebih brutal sebagai bentuk pelampiasan amarah.

Dengan ger
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter
Mga Comments (1)
goodnovel comment avatar
kin
wilo kayaknya mesti menjauh dl biar tau perasaan Yudha nya ke wilo. kehilangan atau gak
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • Menjadi Tawanan Tuan Muda   Bab 88 | (21+) Desakan Waktu

    Bab 88Sisa-sisa akal sehat Lila perlahan mencair, tergantikan oleh kabut gairah yang kian menebal. Ruang perawatan khusus yang tadinya senyap kini sepenuhnya dipenuhi oleh napas memburu dan ritme detak jantung yang saling berpacu liar.Tanpa membiarkan Lila mengambil jeda untuk mengatur napas, Oliver bergerak memangkas sisa celah di antara mereka. Dengan gerakan yang tegas namun tetap terukur, tangan besar Oliver meraih salah satu kaki jenjang Lila, lalu mengangkatnya.Posisinya kini memberikan akses penuh tanpa halangan. Oliver menatap lurus ke dalam manik mata Lila yang sayu, menahan napasnya sejenak, lalu memberikan satu dorongan mantap.Blesss!“Ahhh… Ssshhhh!” Lila mendesis panjang, punggungnya melengkung ke belakang mencari sandaran.Oliver dengan sigap menahan punggung Lila, merengkuhnya erat.Sensasi panas dan padat seketika menjalar hebat saat ia merasakan kejantanan Oliver yang luar biasa tebal perlahan mengisi liang kewanitaannya hingga ke titik terdalam. Peregangan yang te

  • Menjadi Tawanan Tuan Muda   Bab 87 | (21+) Goodgirl

    Bab 87“Serve me then…”Sensasi dingin dari bisikan serak Oliver bergetar tepat di depan bibir Lila. Kata-kata itu bergaung bagai perintah mutlak yang tak memberi ruang untuk dirinya.Lila mendongak, menatap iris kelam Oliver yang kini menggelap dipenuhi binar gairah yang menuntut. Mengabaikan degup jantungnya yang berpacu liar dan kepanikan akan batas waktu tiga puluh menit, Lila mengulas senyum tipis—sebuah senyuman yang menjadi provokasi manis.Dengan berani, Lila berjinjit, memangkas sisa jarak di antara wajah mereka untuk memulai semuanya.Ia mencium bibir Oliver, memiringkan kepalanya sedikit lalu menyesap bibir tegas pria itu dengan lembut sebelum membuka mulutnya lebih dalam. Sentuhan awal yang berani itu seketika memicu desiran panas di dalam tubuh Oliver. Tanpa membuang waktu, tangan Lila sendiri bergerak turun, menyusup ke area pinggang pria itu dan mengusap gundukan terlarang milik Oliver yang berurat kasar dari luar celananya. Meski pria itu belum mengalami ereksi penuh,

  • Menjadi Tawanan Tuan Muda   Bab 86 | Percaya Padaku

    Bab 86"Ibumu aman. Sekarang, fokusmu hanya satu... percaya padaku."Ujaran Oliver bergaung rendah, menyusup hangat ke dalam sela-sela kecemasan yang sejak tadi mencengkeram dada Lila. Wanita itu terdiam, matanya menatap lekat-lekat pada raut wajah tegas pria berkuasa di hadapannya. Dorongan emosional yang meluap, rasa lega, syukur, sekaligus kepasrahan, membuat jemari Lila terangkat pelan, ragu-ragu untuk memeluk Oliver.Ck! decaknya dalam hati, merutuki gengsi tingginya yang mendadak terasa konyol di situasi seperti ini.Menepis seluruh keraguannya, Lila akhirnya memberanikan diri maju satu langkah dan melingkarkan kedua tangannya di pinggang kokoh Oliver. Ia merapatkan tubuhnya, menyandarkan keningnya di dada bidang pria itu, menyerap aroma maskulin khas Oliver yang selalu berhasil menenangkannya secara ajaib."Terima kasih, Tuan," bisik Lila tulus, suaranya terdengar meredam di balik kemeja Oliver.Oliver menaikkan satu alisnya. Tubuhnya sempat membeku seketika saat menerima peluka

  • Menjadi Tawanan Tuan Muda   Bab 85 | Menjalankan Misi Pemindahan

    Bab 85Jarum jam di dinding koridor rumah sakit menunjukkan tepat pukul 02.00 dini hari. Suasana gedung medis itu sunyi mencekam, hanya diwarnai oleh dentum dengung pendingin ruangan dan ritme hening malam. Di meja penjagaan, dua perawat jaga tampak mulai terkantuk-kantuk, sementara seorang dokter piket bersandar di kursinya dengan mata terpejam rapat.Di sudut koridor yang remang, tiga orang pria bertubuh tegap melangkah dengan tenang namun sigap. Mereka mengenakan jas putih dokter dan masker medis yang menutupi sebagian besar wajah. Di balik penyamaran itu, mereka adalah tim eksekutor terlatih bentukan Oliver.Pria yang memimpin pergerakan itu menyentuh earpiece nirkabel di telinganya. "Tim Alpha sudah berada di depan ICU. Bagaimana dengan retasan CCTV?"Suara mengetik kibor berkecepatan tinggi terdengar dari seberang saluran komunikasi. Itu adalah tim peretas milik Austin Harold yang bekerja dari lokasi rahasia."Tunggu hitungan ketiga," sahut peretas dengan nada dingin berwibawa.

  • Menjadi Tawanan Tuan Muda   Bab 84 | Pergerakan Austin

    Bab 84"Tapi kau tidak usah terlalu kepikiran," sambung Oliver pelan, menurunkan intensitas suaranya seolah sedang membagikan sebuah rahasia besar yang teramat sensitif. "Tuan Austin saat ini sedang berada di sini."Kata-kata Oliver menggantung di udara dengan bobot yang begitu berat. Pupil mata Jonathan seketika melebar. Pria tua itu mematung di tempatnya berdiri, lidahnya mendadak kaku sewaktu berusaha mencerna kalimat terakhir yang baru saja meluncur dari bibir pria muda di hadapannya. Sensasi haus kekuasaan mendadak berdesir hebat di dalam dadanya."Di sini?" ulang Jonathan dengan suara yang sedikit tertahan, matanya yang sarat akan intrik refleks mengedar, meneliti ruangan luas berdesain modern-minimalis tempat mereka berada saat ini."Ya. Beliau ada di kota ini dan sedang memantau langsung proyek-proyek investasinya," potong Oliver dingin tanpa mengalirkan emosi sedikit pun pada wajahnya. "Jadi bersiaplah, Jonathan. Begitu Tuan Austin memberikan lampu hijau untuk bertemu, dipasti

  • Menjadi Tawanan Tuan Muda   Bab 83 | Rencana Austin dan Oliver

    Bab 83Langkah kaki Oliver terdengar saat ia kembali menapakkan kakinya di gedung pencakar langit milik perusahaannya. Atmosfer dingin dan berwibawa seketika menyelimuti koridor.Sesuai dengan arahan dan strategi matang yang disusun bersama Austin Harold, Oliver kembali mengeksekusi rencana besarnya. Ia menyetujui langkah ekspansi perusahaan menuju pasar Eropa—sebuah keputusan bernilai fantastis yang melibatkan Austin secara langsung sebagai investor utama di balik layar.Baru saja Oliver mendudukkan dirinya di kursi kebesarannya, pintu ruang kerja berdesain elegan itu terdorong terbuka secara kasar.“Ck! Manusia ini sangat tidak sabaran!d” batin Oliver begitu melihat sosok Jonathan Miller melangkah masuk ke dalam ruangannya dengan tergesa-gesa. Wajah pria paruh baya itu dipenuhi oleh ketamakan yang sulit disembunyikan.“But it’s ok! Semakin kau tidak sabaran, membuat semuanya lebih cepat selesai!” tambah Oliver di dalam hatinya dengan kilatan dingin di mata."Aku dengar kontraknya su

  • Menjadi Tawanan Tuan Muda   Bab 7 | Mencicipimu

    Bab 7"Jangan seenaknya, Tuan!" Lila menyahut dengan wajah tertekuk. Amarahnya memuncak setiap kali pria ini merendahkannya. "Aku bukan tawanan Anda dan aku bukan kucing liar!""Kau..." Oliver menggeram rendah. Kalimat perlawanan Lila seolah menjadi bahan bakar bagi gairahnya yang liar.Di dalam ka

  • Menjadi Tawanan Tuan Muda   Bab 6 | Kau Adalah Tawananku

    Bab 6Ia mencondongkan wajahnya lebih dekat, hingga hidung mereka hampir bersentuhan. "Godalah dia… Buat dia bertekuk lutut padamu. Buat dia berselingkuh denganmu di rumah ini."Lila terbelalak. "Apa?! Anda gila! Saya tidak akan melakukan hal menjijikkan seperti itu!""Jangan munafik," desis Oliver

  • Menjadi Tawanan Tuan Muda   Bab 5 | Identitas Pria Asing Malam Itu

    Bab 5Jonathan berdehem, berusaha mencairkan suasana yang kaku. "Maaf Ayah tidak menyiapkan apa-apa saat kedatanganmu-"Lila pun datang kembali dari dapur, membawa nampan berisi secangkir kopi hitam pekat sesuai permintaan Oliver. Kehadirannya membuat Jonathan menjeda percakapannya dengan putra tir

  • Menjadi Tawanan Tuan Muda   Bab 4 | Tuan Muda

    Bab 4Lila membuka mata tepat jam 5 pagi. Kepalanya terasa berat dan berdenyut, efek dari hanya tidur selama 1 jam setelah pulang dari The Shadow Bar. Namun, rasa lelah itu kalah oleh kegelisahan yang merayap di dadanya. Ia harus kembali memulai pekerjaannya sebagai pelayan di Kediaman Miller.Pagi

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status