LOGINSebagai menantu Safira selalu mencoba melakukan yang terbaik, tetapi selalu salah di mata sang mertua. Apa pun yang dilakukan Safira selalu menuai permasalahan. Ia mencoba bertahan, tetapi ucapan dan perlakuan Mirah, ibu mertuanya, selalu menyakiti hati. Apalagi ia belum juga diberi keturunan. Hal itu yang membuat mertuanya selalu memperlakukan Safira dengan buruk. Semua pekerjaan rumah dikerjakan oleh Safira. Tak pernah sedikit pun Mirah membantunya. Apalagi saat kakak iparnya pindah dan tinggal bersama mereka, bukan meringankan pekerjaan di rumah, tetapi malah semakin berat. Tak hanya tenaga Safira yang diperas oleh Mirah, tetapi materi juga. Safira dan Sadam yang menanggung kebutuhan di rumah, terkadang perempuan itu harus mengeluarkan uangnya sendiri untuk kebutuhan dapur. Ia diperlakukan sangat buruk oleh mertuanya sendiri. Hingga akhirnya Safira mulai tak tahan dengan ibu mertuanya. Ia meminta Sadam, sang suami, untuk tidak tinggal serumah lagi dengan Mirah dan mengontrak saja. Namun, Mirah tak pernah mengizinkan mereka pergi dari rumah itu dengan menjadikan pesan ayahnya Sadam sebagai senjata. Selain itu, Sadam juga selalu dipojokkan untuk selalu berbakti kepada Mirah. Semakin lama semakin tak tahanlah Safira tinggal di sana.
View MoreZafar menyelinap pergi dari rumah malam-malam. Sebenarnya ia pergi siang pun, yakin tak ada yang akan melarangnya. Semua orang di rumah sudah menganggapnya tak ada. Mereka tidak peduli lagi pada Zafar. Laki-laki itu tersenyum getir menoleh ke rumah yang akan ditinggalkannya. Ia tak akan pernah menyesal angkat kaki dari rumah bagai neraka baginya itu. Percuma tinggal di rumah yang sama sekali tidak menganggapnya ada. Percuma ada di tengah-tengah keluarga yang sama sekali tidak pernah peduli tentangnya. Teringat pada mendiang ayahnya, Zafar yakin ayahnya sedih melihat keluarga mereka yang berantakan seperti ini. Laki-laki itu berpikir semua karena keegoisan sang ibu. Zafar bertekad tidak akan pernah lagi menginjakkan kaki di rumah Mirah. Ia tidak ingin kembali ke rumah itu apa pun alasannya. Muak sudah Zafar bertahan selama ini. Awalnya ada Safira dan Sadam yang peduli padanya meskipun ia kesal pada kakaknya itu. Namun, setidaknya kehadiran Zafar masih ada yang menganggap. Setelah rum
Hati Zafar memang sangat kecewa dan marah pada Safira meskipun ia tahu keputusan Safira itu adalah yang terbaik. Jauh di lubuk hatinya yang paling dalam ia senang bisa bertemu dengan mantan kakak iparnya itu. Selama ini ia merasa yang peduli padanya hanyalah Safira dan Sadam. Namun, dengan semua hal yang terjadi waktu itu menyebabkan Safira harus angkat kaki dari rumah Mirah dan membuat Zafar merasa tidak ada lagi yang mempedulikannya. Apalagi setelah Sadam menikah dengan Ayunda dan ternyata semua jadi kacau. Sadam seolah lupa kalau ia memiliki seorang adik. Kakaknya itu sibuk dengan tingkah sang istri dan keadaan rumah yang sudah tidak seperti dulu lagi."Keadaan rumah kacau. Aku tak tahan lagi tinggal di rumah yang setiap hari selalu saja dipenuhi keributan sampai-sampai ibu dan kakak-kakakku lupa akan kehadiranku di rumah itu," tutur Zafar. Tatapan matanya fokus ke depan seolah sedang kembali ke rumah yang menurutnya sudah sangat tidak layak disebut rumah. Zafar menginginkan rum
"Zafar," ucap Safira setengah berbisik.Ia tidak menyangka akan bertemu adik dari mantan suaminya setelah dua tahun berlalu. Yang membuat Safira sangat kaget adalah keadaan anak itu seperti tidak terurus dan sedang mengamen. Ia pun segera mendekati Zafar untuk memastikan kalau matanya tidak salah lihat.Tidak sengaja anak bungsu Mirah itu menoleh dan langsung terkejut saat seorang wanita yang dikenalnya sedang melangkah mendekat dan jarak keduanya bahkan kini sudah sangat dekat.Dengan tergesa Zafar pun segera melangkah pergi, menghindar dari mantan istri kakaknya itu. Tentu saja teman yang sedang bersama Zafar ikut terkejut karena orang yang sedang mengiringinya bernyanyi berhenti tiba-tiba dan pergi begitu saja."Loh, Zafar," panggil temannya seraya mengejar."Zafar, Zafar, tunggu!" panggil Safira yang juga ikut mengejar bersamaan dengan teman Zafar.Safira berjalan agak cepat bahkan hampir berlari kecil. Awalnya ia hanya ingin memastikan kalau orang yang dilihatnya memang adik dari
Sungguh sangat sakit menerima kenyatan pahit ini. Pernikahannya dengan laki-laki yang sangat dicintainya kini harus berakhir. Kapal rumah tangganya yang dijaga sepenuh hati ternyata harus karam di tengah laut kehidupan sebelum mencapai tujuan terakhirnya.Tak bisa dipungkiri dan dibohongi, hati perempuan berparas cantik itu sangat bersedih dan hancur. Ia benar-benar tidak menyangka kalau rumah tangga yang dianggapnya harmonis dan baik-baik saja, harus hancur seketika. Air matanya mengalir cukup deras sesaat setelah menerima akta cerai dari pengdilan agama. Statusnya kini sudah jelas dan sah menjadi seorang janda. Tidak pernah terbayang dan terpikir kalau pada akhirnya ia akan menyandang status janda. Tidak pernah sekali pun terbesit di dalam kepalanya untuk berpisah dengan Sadam apapun ujian rumah tangga yang akan mereka hadapi selama Sadam masih membela dan terus berada di sampingnya. Namun, takdir berkata lain. Tuhan mengatakan kalau ia dan Sadam memang sudah harus berakhir.Safira
Safira mengira Mirah benar-benar sakit, tetapi ternyata semua hanya kepalsuan. Ia tak mengerti alasan Mirah membohongi dirinya dan sang suami.“Ya, aku dan Mas Sadam buru-buru ke sini karena Ibu sakit. Kami pikir Ibu memang sakit,” ucap Safira masih dengan nampan di tangannya.Mirah berdiri dengan ang
Safira segera memasukkan semua pakaian ke dalam koper sedangkan Sadam bicara pada Aini dan Arif kalau mereka harus segera kembali ke rumah karena mendapat kabar kalau Mirah sedang sakit. “Maaf kami harus pulang sekarang, Bu, Pak,” kata Sadam pada mertuanya.Safira keluar dari kamar dengan koper ditar
“Ayo, kemasi baju-baju kita ke dalam koper,” ucap Sadam tiba-tiba saat masuk ke kamar sekaligus membuat istrinya kaget.“Kita mau ke mana, Mas?” tanya Safira masih mematung saat Sadam menurunkan koper dari atas lemari baju mereka.“Kita keluar dari rumah ini,” cetus pria berdada bidang itu.Safira mala
Acara arisan yang diadakan di rumah Mirah berlangsung tanpa menikmati makan siang yang disiapkan. Teman-teman Mirah keburu kehilangan selera makan karena sup iga buatan Mirah yang sangat asin. Padahal masih ada menu lain yang dihidangkan. Namun, mereka lebih memilih menikmati kue, buah dan minuman.S












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore