MasukNAYARA terlahir dengan keistimewaan yang baru terungkap ketika umurnya sepuluh tahun. Keistimewaan tersebut terkait dengan orang tuanya yang menghilang secara misterius. Sejak bayi NAYARA dititipkan di sebuah panti asuhan oleh ibunya sendiri. Perempuan itu berpesan pada pengurus panti bahwa di usia tiga puluh tahun akan ada yang mencari anaknya. Mereka adalah orang-orang dari dunia bawah yang memiliki kepentingan untuk saling memperebutkan kekuasaan. Kemampuan supranatural NAYARA yang luar biasa serta didampingi dua penjaga astralnya, mereka bertualang di dunia bawah untuk menemukan kebenaran tentang orang tuanya dan sebuah pusaka yang konon diciptakan untuk mempersatukan beberapa kerajaan yang terpecah. Demi mengungkap semuanya, NAYARA nyaris kehilangan nyawa dan kekasihnya.
Lihat lebih banyakSome people called me selfless; others said I was kind. That was probably why Calista decided to ask me for help...aside from being my best friend.
“I’m afraid I can’t help you this time,” I said quietly. A tear slid down her face, making me feel even worse. I wished with everything in me that I could save her, but this situation was far beyond my power. “You’re my only hope, Sophia,” she cried. “I have no one else to run to. The Alpha is a monster. I’m sure I won’t even survive one night in his home.” She didn’t need to explain. Everyone knew who... what he was. The stories of his cruelty were whispered in corners and silenced whenever footsteps approached. “Calista... maybe you should speak to your father,” I suggested gently. “He might change his mind.” She let out a hollow laugh. “You don’t know my father. If he could sell my elder sister to a brothel for gold, he would be happier to sell me to the Alpha. I’m sure the Alpha is offering him more than gold.” I shook my head. Elder Marek and his endless greed. “When is the wedding?” I asked. “In a week,” she whispered. “A week?” My heart dropped. “There’s nothing we can do in a week.” She stepped closer, lowering her voice as she was worried someone was eavesdropping . “I’ve thought of something.” “And what might that be?” I asked cautiously. “I’ll run away,” she murmured. “And I’ll need your help.” “What?” I almost screamed, but she quickly covered my mouth, her eyes wide with fear. “What happens if we get caught?” I demanded once she removed her hand. “If we’re careful enough, we won’t,” she insisted, though I could hear the doubt beneath her bravery. “Calista, that won’t work. The Alpha’s senses are sharp. He would find us in a heartbeat.” She fell silent, thinking. Then she looked up at me again, desperation blazing in her eyes. “Help me. Please.” I searched my mind for another solution... any other solution... but none came. Except one dangerous idea. “If we can create a distraction... maybe,” I began slowly. She cut me off immediately. “What distraction?” “Someone else to confuse his senses,” I said carefully. “My father won’t allow anyone near me. It’s a miracle you’re even here,” she replied. Silence fell between us. We stared at each other. I already knew what she was about to suggest. “No... no, Calista. I can’t do that,” I said firmly. “Sophia, please,” she begged. “I’ll die if I marry him.” “And I’ll die if we get caught!” I snapped. “They won’t kill you. You’re a Beta, not a lowly Omega. They won’t dispose of you easily. The worst they can do is whip you.” I wasn’t sure about that. The Alpha was not known for mercy. Not anymore. Suddenly, Calista dropped to her knees, clutching my legs as tears streamed down her face. “Help me, please. I’m counting on you.” “Calista, stop...” She began hitting her head against the floor. “Let me just die now since I’m going to die anyway!” “Alright! Stop. I’ll help you.” She stopped. Then slowly, a relieved smile broke through her tears. She jumped up and hugged me tightly. I hugged her back, even though deep down I knew I might have just signed my own death sentence. We planned everything carefully. Calista would be moved to the Alpha’s residence a day before the wedding, as tradition required. The Alpha had made it clear he did not wish to see her until the ceremony. If not for this forced union, I was certain he had no interest in her at all. Just as we were finalizing the details, a maid entered quietly and bowed. “Beta Calista, your father will soon return. I advise your friend to leave immediately. The Elder will not be pleased to find a guest here.” I didn’t need further warning. If Elder Marek caught me, I would not leave unpunished. Grabbing my small bag, I climbed through the window... the same way I had entered... and slipped into the shadows. The next time I saw Calista was the day she was to be taken to the Alpha’s house. Since Elder Marek was not accompanying her, it was easy to convince the guards to let me ride in the carriage. Calista claimed she needed comfort before facing her "new life". Throughout the journey, she squeezed my hand tightly and didn’t stop thanking me. Halfway through the trip, Calista suddenly called out, “Stop the carriage!” The guards exchanged looks but obeyed. “I need to relieve myself,” she announced. The head guard scanned the area uneasily. “This forest is dangerous, my lady. It would be better to wait until we arrive.” Calista frowned. “Would you prefer I embarrass myself in this carriage?” The guard flushed and quickly stepped down to open the door. I followed Calista out, but the guards trailed behind us. She hissed in irritation. “Are you planning to watch me pee?” “Elder Marek instructed us not to let you out of our sight,” the guard replied nervously. “My friend is coming with me,” Calista said firmly, glancing at me. “Aren’t you, Sophia?” I nodded, careful not to let my expression give anything away. Reluctantly, the guards stopped following us. The moment we were out of sight, we ran. We didn’t look back. We ran through thick bushes, over fallen logs, through thorny shrubs that scratched our skin. My lungs burned, but fear pushed me forward. We didn’t need to worry about the guards. Calista’s brother would handle them long enough to delay pursuit. My real fear was the Alpha. We reached the border just as the sun began to sink. This was where she would cross into neutral territory. It was time. I pulled her into one last hug. She was shaking, but there was hope in her eyes now. “Thank you, Sophia,” she whispered. “Goodbye. Be safe,” I replied softly. She stepped back, closed her eyes, and shifted. Her bones cracked and reshaped. Fur replaced skin. Within seconds, a beautiful blue wolf stood before me. She looked at me one last time. Then she ran. And I stood there watching until she disappeared beyond the trees. It was time to face the consequences of my actions. I walked back slowly and sat at the foot of a tree, waiting. Waiting for the Alpha’s guards to find me. Hours passed. The forest grew darker. The wind howled softly, carrying unfamiliar scents. Then I heard footsteps. I took a deep breath But it wasn’t the Alpha’s guards. It was the Alpha himself.Nay mengangguk. "Aku yakin orang-orang seperti kita sudah merasakan energi gelap yang semakin menyebar. Kalau dibiarkan dunia kita akan dikuasai kegelapan.""Kita tidak bisa hanya diam saja. Jujur, aku sangat kecewa dengan pilihan kakakku. Memalukan dan pasti merugikan dunia bawah.""Mungkin dengan bekerja sama dengan mereka, kakakmu bisa mewujudkan mimpinya menjadi satu-satunya penguasa dunia bawah.""Aku sekarang mengerti kenapa bejana itu diberikan padaku. Ayah dan ibu sepertinya sudah tahu tabiat anak laki-lakinya." Wajah Suri berubah muram. "Aku berharap kakakku bisa kembali pada tanggung jawabnya pada Banyuputih sebelum terlambat."Perlahan Nay menepuk pundak Suri. "Aku lapar. Kau mau mi instan?"Suri tersenyum kecil. "Seandainya makanan yang kau sebut mi instan itu bisa kumakan pasti tidak kutolak. Boleh aku di sini saja?""Mau menginap di sini pun boleh, Suri."Nay berjalan ke dapur mengambil mi instan cup yang cukup diseduh dengan air panas dari dispenser. Sambil menunggu mi
"Ada apa Nona ingin bicara dengan saya?" tanya istri Tuan Hansen. "Sebelumnya terima kasih Nyonya sudah bersedia menemui saya. Benar saya bicara dengan Nyonya Adhisti?""Iya, betul. Saya Adhisti.""Ini soal Bastian, Nyonya.""Bastian malang. Dia masih menunggu di rumah itu, bukan?"Kening Nay sedikit berkerut. Ia tidak menduga Nyonya Adhisti tahu tentang keberadaan putranya. "Iya, Nyonya. Saya bertemu dengan Bastian dan saya berjanji untuk mempertemukan Nyonya dengan dia.""Hansen membawa saya ke sini karena menganggap jiwa saya terganggu. Berhalusinasi tentang Bastian secara berlebihan. Hansen mengira saya gila. Dia sama sekali tidak percaya. Tapi saya punya cara lain. Memintanya merenovasi rumah itu.""Semesta merangkum doa. Setelah sekian lama menunggu, akhirnya Bastian akan bertemu Nyonya. Selama ini dia mengira, Nyonya marah dan membencinya. "Saya tahu Bastian masih ada di rumah itu. Saya ingin dia pergi dengan tenang. Saya juga sudah belajar ikhlas melepasnya." Manik mata Nyo
Nay tidak tahu mengapa pikiran tentang dark force membuatnya merasa panas dan tidak nyaman. Cukup lama ia berdiri di depan jendela apartemennya dengan mata memperhatikan langit yang terlihat suram. Seharusnya ia lebih peka bukan malah abai seperti yang dilakukannya belakangan ini. Berhenti menjadi seorang Nayara rasanya memang tidak mungkin. Ia dibutuhkan untuk berkontribusi pada bumi tempatnya berdiri. Dark force tidak main-main. Sebarannya cepat tetapi tidak terlihat. Mempengaruhi atmosfer kehidupan manusia sampai ke hal-hal yang paling kecil. Semakin banyak di media sosial jari-jari manusia menuliskan kata-kata kasar, makian dan hinaan yang ditujukan kepada manusia lain hanya karena ketidaksukaan. Kasus perundungan yang berujung kematian pun semakin banyak terjadi. Korupsi, perampasan hak, intoleransi dan masih seabrek persoalan lain yang semakin memprihatinkan. Disadari atau tidak semua itu bisa mengakibatkan ketidakseimbangan berskala besar. "Selama masih ada doa manusia yang
Setelah menyelesaikan tugasnya, Nay berpamitan pulang. Ekspresi wajah Tuan Hansen berubah muram. Sangat berbeda dengan raut wajahnya saat Nay datang. Hampir bisa dipastikan penyebabnya adalah pertanyaan Nay tentang anak lelakinya. "Pak Bos sudah kenal lama dengan Tuan Hansen?" tanya Nay begitu ia sampai di ruangan Pak Oey. "Lumayan lama. Kenapa, Nay?""Istrinya apa masih ada, Pak?""Setahu saya masih. Sejak kematian anak laki-lakinya, dia mengalami guncangan mental. Menurut desas-desus sampai sekarang masih seperti itu.""Jiwa anak lelaki Tuan Hansen masih menunggu mamanya di rumah itu. Saya tidak mungkin mengabaikannya, Pak.""Mungkin beberapa kenalan bisa membantu memberikan informasi. Nanti saya infokan ke kamu, Nay. Saya ada urusan di luar. Kau periksa berkas ini, kalau sudah selesai kau bebas." Pak Oey mengambil tumpukan berkas dari atas meja kemudian memberikannya pada Nay. "Baik, Bos." Nay menerima berkas tersebut lalu masuk ke ruangannya. Nay memeriksa berkas yang diberika
Sudwika tidak mengelak untuk tidak mengiakan pertanyaan Nay. Karena memang kenyataannya seperti itu. "Begitu pentingkah kekuasaan bagi kalian para penguasa dunia bawah? Apa kalian terbiasa memanfaatkan orang lain untuk mencapai tujuan?" tanya Nay tidak suka. "Ini bukan tentang kekuasaan tapi keseimb
Sebuah anak panah terlihat melesat dan tepat mendarat di samping Nay. Berpendar membawa untaian cahaya yang seketika berpendar menerangi sekitar. Ujung runcingnya menyentuh lapisan air yang membeku hingga menimbulkan suara retakan yang merambat cepat. Dari bentuk dan energinya, anak panah itu bulan
"Sambutan selamat datang yang memang sedikit di luar kebiasaan. Tapi setidaknya dengan cara demikian aku jadi tahu kau punya kemampuan luar biasa. Mungkin juga yang paling hebat di rimba ini.""Jangan memuji terlalu tinggi. Aku takut jatuh terlalu rendah. Biasa-biasa saja, Nay. " Suri menggeser tubu
“Pasti tentang laki-laki itu. Iya kan?” Sepertinya Lalika sudah tahu apa yang ingin dibicarakan Nay.“Ya. Apa yang kau sarankan untukku?” Nay mengempaskan tubuhnya ke sofa dekat jendela di mana Lalika berdiri di sana.“Menurutmu?” Lalika mengembalikan pertanyaan pada Nay. “Karena aku tidak bisa memiki






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan