Se connecterSuara ketukan pintu yang tiada henti berbunyi membuat seorang wanita dengan daster dan rambut acak-acakan itu terpaksa membukanya, namun saat iris coklat itu menangkap sosok lelaki dengan stelan jas hitam, dan tentu saja mata itu semakin membulat kala melihat lekuk wajah yang membuat ia kembali mengingat kejadian malam itu. Mlathi kembali menutup pintu dengan cepat, sebisa mungkin agar lelaki brengsek itu tidak bisa masuk. Namun, wanita dengan kondisi yang sudah mengenaskan itu ternyata kalah cepat. Eric yang tentu memiliki tenaga yang lebih besar, hingga bisa menahan pintu itu agar tidak tertutup. "Hey, aku hanya ingin berbicara padamu mengenai malam itu," sahut Eric sembari terus berusaha menahan pintu berwarna coklat yang telah mulai lapuk. "Tidak ada yang perlu dibicarakan! Aku hanya ingin kau pergi dan jangan ganggu hidupku!" teriak Mlathi terisak. "Tidak bisa! Aku tidak bisa tenang jika aku belum melihat keadaanmu!" ucap Eric keras kepala dan tidak menyerah sebelum ia berbicara empat mata dengan wanita itu. "Kau-" Mlathi menghentikan ucapannya saat ia merasa mual pada perutnya. Tanpa berfikir panjang lagi ia segera pergi ke kamar mandi dan tidak lagi peduli dengan keberadaan Eric. Eric sedikit terkejut ketika melihat apa yang terjadi di depannya, takut jika apa yang ia pikirkan itu terjadi. Dengan perasaan tidak menentu, lelaki dengan rahang tegas itu segera melangkahkan kakinya lebar untuk melihat kondisi wanita yang mampu membuat ia beberapa hari ini tidak bisa tidur dengan tenang. "Apa kau hamil?"
Voir plusUnknown POV
I laid on the grass underneath the night sky, listening to the faint song of a nearby cricket. I twirled a lock of my hair around my finger as I scanned the cloudy sky, searching for constellations.
Was that blood on the moon? It couldn’t be. Blood on the moon was a bad omen. My momma had always said that blood on the moon meant that blood would be spilled. Nothing was going to happen tonight; that was just an old wolves’ tale.
Clyde should be coming home soon; nothing would be out of the ordinary. It would be a perfectly normal night. Goddess, how I wished he would hurry up.
Clyde should have been home already. Of course, the Alpha needed him late tonight of all nights. It was a year ago today Clyde and I found each other. I just wanted to spend the evening with my mate.
Mind linking Clyde wasn’t an option; Alpha Delbert hated when people mind linked in his presence. He was so paranoid. He thought the world was out to get him or something.
Believe me, I wanted nothing to do with him. He gave me the willies. He was only my Alpha because of Clyde. I wish we had stayed with my pack, but you know that’s not proper.
I shook my head and sighed as I rolled over to my belly. I didn’t really care if I wrinkled my dress at this point. I had looked perfect an hour ago; it was his own fault if I wasn’t as pretty as a picture anymore.
A rustle coming from the bushes caused me to sit up abruptly. “Who’s there?” I call out, demanding an answer.
Clyde stumbled out of the brush; blood was dripping down from his hairline. I clambered to my feet and rushed to his side.
“Doll, we got to go. We got to make tracks.” Clyde heavily breathed out; his body was trembling.
“What? Why? What happened to you, honey?” I helped him cross the lawn to the back door leading into the kitchen.
“Alpha Delbert happened to me.” My feet halted, and I looked up at him. I searched his face for any sign of a joke. “We got to go.”
“Why do we have to go?” I didn’t understand why we were running.
“I tried to free that slave girl the Alpha picked up last month.” Clyde ransacked our kitchen, dumping food into a sack.
“Clyde, we talked about that!” I gasped as I followed him into the bedroom. “We were going to keep our noses down! It was safer that way.”
“I know, doll. I tried, but how could I turn away from her. She looked so scared.” Clyde opened our chest of drawers and threw in some random clothes.
I knew what he meant. Every time I saw that poor child, my heart was torn in two. No one deserved a life like that.
“Come on then. You said we go to make tracks.” I reached down and grabbed the shotgun from underneath our bed. I dumped the box of ammo inside my dress’s pocket. Clyde gave me a halfhearted smile.
The only sound coming from our little house was our footsteps. We crept back out the kitchen door to disappear into the night.
“Well, well, well,” a voice boomed from across the backyard. The hair on the back of my neck stood on end. I knew who that was, even if he was hidden in the shadows. That was Alpha Delbert.
“Oh, Alpha, it’s nice to see you,” the words were barely able to be formed. My mouth was so dry like all moisture evaporated. Fear took over my body in the form of cold sweat.
“Hmmm, really? Nice?” Alpha Delbert’s eyes glowed red in the darkness, followed by the smoldering crimson of a cigarette. “This ain’t a social call, dame.”
“Alpha, this has nothing to do with her.” Clyde stepped in front of me, blocking me from the Alpha.
“You know that’s not how this works, Clyde. I trusted you, and you betrayed me.” Alpha Delbert stepped out of the trees; he was a massive man. Alpha Delbert’s oil-slicked hair glinted in the moonlight. He took a long drag of the cigarette in his mouth before he spoke again. “You know I have always been an eye for an eye kind of man. You let my property go, so I will have to take yours.”
My heart was running a mile per minute. I clutched the back of Clyde’s shirt in one hand while I clung to the shotgun with the other.
“That’s not going to happen, Alpha,” Clyde growled. The next thing I knew, Clyde had shoved me towards the woods. “Run, doll!”
I hugged the shotgun as I ran. I refused to look back. The gnashing of teeth and growling faded with every stride. Thorns reached out and grabbed at my dress.
Tears streamed down my cheek as I prayed to the Moon Goddess to save my mate. My prayers would go unanswered; pain took over my soul. I fell to my knees, grasping my hand over my heart. He was gone; Clyde was dead.
I let the tears pour down my face as I scrambled to my feet. Clyde died protecting me; I wasn’t going to let his death be in vain. I ran for what seemed forever, but as soon as I made it to the cliff line, I heard the growl come from behind me.
I turned around and stared into the demon’s eyes; blood was smeared across his muzzle. Alpha Delbert stalked me slowly. I walked backward until my heel felt the edge of the ground.
***Come on, let’s go home. I won’t hurt you.*** Alpha Delbert’s voice assaulted my mind.
“Malarky!” I spat out as I cocked the shotgun with trembling hands and aimed it at Alpha Delbert.
***Drop the gun, dame.*** An angry fire burned in his eyes as he tried to use his Alpha tone on me. Unfortunately for him, it didn’t work because he was nothing to me but a murderer.
“Over my dead body! Kiss off!” I didn’t even blink as I wrapped my finger around the trigger. A deafening boom violently exploded from the barrel of the shotgun. Shattered bone fragments and blood spilled from Alpha Delbert’s shoulder.
I didn’t know if he was still alive or not, but I wasn’t going to take my chances. I took another step backward off of the cliff. Air hissed past my ears as I screwed my eyes shut, bracing for impact.
Mereka bertiga telah terpasang sabuk pengaman di tubuh. Semua kursi telah diisi oleh semua pengunjung. Elvina berada diantara lelaki kecil, dengan ekpresi takut, ia memegang erat sabuk pengaman di sampingnya. Alvin menoleh dan terlihat khawatir. "El, jika kau merasa takut, kita berhenti sekarang. Ok," ujar Alvin. Dengan menarik napas dalam, Elvina menggeleng. "Kita sudah naik, daripada turun lebih baik kita mencobanya." Dua orang pengawas lelaki berkeliling memastikan jika semua peserta wahana itu telah terpasang sabuk dengan aman. "Kalian semua sudah siap. Kita mulai sekarang," teriak lelaki berseragam itu dengan lantang. Semua para peserta wahana serempak berkata siap. Setelah itu, benda panjang itu mulai bergerak ke atas. Perlahan namun pasti dan akhirnya mulai bergerak dengan cepat. Suara teriakan langsung memenuhi sekitaran ketika wahana itu terbang dengan menjungkir-balikkan, seolah merasa tubuh
Mobil BMW seri 2 berwarna hitam itu melintas dengan kecepatan normal di tengah kendaraan lainnya. Tampak dua anak kembar duduk di jok belakang.Bocah laki-laki bersikap santai dengan tangan menyedekap di depan dada, sedang bocah perempuan itu mengedarkan pandangannya ke luar jendela. Melihat ramainya kota Jakarta."Lihat, orang itu hebat sekali dalam memainkannya," ujar Elvina takjub ketika melihat antraksi seorang badut sedang memutarkan beberapa bola tanpa henti.Alvano yang mendengar langsung melihat dengan ekor matanya, ia berdecak dengan senyum miringnya."Ck, apanya yang hebat? Mereka bisa melakukan itu karena telah berlatih keras selama bertahun-tahun. Aku juga bisa jika begitu," sahut Alvano memandang remeh.Elvina yang mendengar menatap jengkel ke arah saudaranya itu. "Kau memang selalu begitu. Hanya bisa mengatakan omong kosong tanpa pembuk
Lima tahun kemudian ....Seorang anak perempuan merangkak dengan hati-hati ke atas kasur. Ia terkekeh pelan melihat saudara kembarnya masih tertidur lelap, ada ide muncul untuk mengusil saudaranya.Gadis kecil itu mengulur tangannya yang memegang sebuah bulu merak lalu menggosoknya ke telinga sang kakak. Hingga membuat bocah lelaki itu mengeliat tidak nyaman. Gadis kecil itu tertawa pelan dan kembali menggosoknya ke lubang hidung sang kakak.Respon sama kembali terulang, bocah lelaki itu mengipas tangannya ke depan hidung untuk menyingkirkan benda yang mengusik tidurnya. Tentu saja hal itu mengundang tawa sang gadis."Aisshh, pergilah. Mengganggu saja," geram bocah lelaki itu yang masih belum membuka mata.Masih belum puas, sang gadis kecil kembali menggosok bulu merak itu ke telinga sang kakak lebih liar. Membuat bocah lelaki itu tidak
Tampak di ruang tamu, Mlathi sedang fokus membenahi dasi di kemeja Eric. Lelaki di depannya terus menatap wajah sang istri dengan tangan melingkar di pinggangnya."Kau sungguh tidak apa-apa jika aku tinggalkan? Apalagi sekarang kelahiranmu sebentar lagi," ucap Eric khawatir seraya tangannya mengelus lembut perut sang istri yang telah membesar."Tidak apa-apa, jangan khawatir. Bukankah ada Grace? Pergilah dan bekerjalah dengan tenang, ok. Apalagi hari ini kau ada rapat penting, kan?" Mlathi berucap dengan nada penuh keyakinan. Ia terus tersenyum untuk menghilangkan kecemasan sang suami.Eric menghela napas pelan, lalu menuntun Mlathi duduk di atas sofa. Ia menekukkan kedua lututnya ke lantai lalu mendekatkan wajahnya ke perut buncit sang istri."Juniorku, jangan nakal yah selagi Papa tidak ada. Jangan membuat Mama kalian merasa kesakitan, ok," ujar Eric menasehati hingga membua
Eric menghempaskan tubuhnya di atas kursi kekuasaanya sembari mendengus kesal. Tidak disangka hari ini seorang OB bisa membuat moodnya menjadi buruk.'Kau seperti seorang office boy, apakah kau ke sini untuk mengantar kopi para pegawai?'Kalimat gadis OB itu kembali terngiang
Setelah rapi dengan stelan jas biru dongker dengan dasi arsir putih tergantung rapi di bawah kerah kemeja putihnya. Kini, lelaki dengan paras yang memesona melangkah masuk ke sebuah gedung pencakar langit. Di setiap langkah kakinya, semakin membuat lelaki itu berkharisma dan elegan. Semua para pe
Matahari kembali datang, kembali melakukan tugasnya tanpa merasa lelah. Di sebuah kamar hotel VVIP, seorang wanita dengan senyum yang terus mengembang sembari memorinya terus bermain memikirkan kejadian tadi malam. Tidak disangka, bos dingin dan super cuek itu ternyata begitu gesit dan ganas di a
Gadis bertubuh kecil kini tidak lagi mengayuh sepedanya, dengan gontai ia mendorong di atas trotoar. Sesekali menghapus keringat di dahi karena sinar matahari siang itu menerpa tubuh mungilnya. Tidak peduli dengan kulitnya yang kini sudah tidak terawat lagi. Jangankan sekedar untuk memikirkan ata












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Notes
commentairesPlus