登入Alsaki Mahendra—pria yang mengambil tanggung jawab akan kesalahan dulu bersama Arista Adila—sang kekasih. Satu kesalahan mengubah nasibnya menjadi papa di usia muda, bahkan ketika Arista memilih pergi meninggalkan dirinya dan Gala Mahendra—anaknya demi sebuah mimpi menjadi penulis terkenal, ia tetap menjadi papa yang baik. Satu keharusan yang diajarkan orang tua, yakni bertanggung jawab hingga total akan sebuah kesalahan. Memilih menjalani hidup berdua dengan Gala hingga lima tahun setelah kepergian Arista membuat hatinya melupakan cinta. Akan tetapi, permintaan sang ibu untuk mencari mama pengganti untuk Gala—anaknya menjadi dilema besar. Selain ada ketakutan akan ditinggal pergi kedua kali, ada rasa masih sanggup mengurus Gala sendiri. Namun, pertemuan dengan Andyra Arsha perlahan mengubah segalanya. Akankah kisah mereka bisa bersatu dalam ikatan kedua kali? Atau justru Dyra terkejut karena seorang Alsaki adalah pria berstatus papa muda? Lalu bagaimana jika Arista datang kembali?
查看更多My name was never on the building, but my fingerprints were everywhere.
Oscar and I met in college, when ambition tasted like cheap coffee and borrowed textbooks. We were twenty—dreaming recklessly, believing love and hard work could carry us anywhere. He had vision. Big, dazzling ideas. I had precision. I knew how to turn those ideas into something banks, investors, and city councils would trust. We grew together. Or so I believed. Seven years later, we were twenty-seven, billionaires in the headlines, engaged in theory—and still waiting on a wedding Oscar kept postponing. There was always a reason. After the next funding round. After the next acquisition. After the market stabilizes. I told myself patience was love. That timing mattered. That my future wasn’t being delayed—it was being protected. While Oscar sold dreams, I built foundations. When the company was young and desperate for cash, banks wouldn’t lend and investors laughed us out of rooms. That was when I stepped in. I used my own savings. My inheritances. Every dollar I had. I bought distressed properties when the market was low, quietly, strategically. The contracts went under my name. Not the company’s. Not Oscar’s. Mine. I told myself it didn’t matter. We were building a life together. What was mine was his. What was his was ours. Those properties became the backbone of the real estate empire. Entire developments grew from assets I personally financed. Oscar knew this. He signed off on it. He thanked me—privately. Publicly, the credit was always his. I didn’t fight it. I loved him. That belief cracked the day he congratulated Amelie for my work. She stood beside him in the boardroom, polished and perfectly composed, accepting praise for an acquisition model I had finished at three in the morning—one tied to properties legally owned by me. I waited for Oscar to correct it. He didn’t. “I built that model,” I said calmly when the room fell silent. “The expansion strategy too.” Oscar smiled, but something behind his eyes shut down. “Let’s talk later,” he said. Later never meant resolution. It meant avoidance. That afternoon, he summoned me to his office. Amelie was already there, seated comfortably—too comfortably. “She’s been doing your work,” Oscar said, folding his arms. “While you’ve been… distracted.” My chest tightened. “What are you talking about?” I asked. Amelie tilted her head, wearing concern like perfume. “I didn’t want to say anything,” she said softly. “But I’ve been covering for Amber for weeks. She’s been leaving early. Taking calls. Meeting someone.” I looked at Oscar. “You know that’s not true,” I said. “You know who built this company. You know whose money kept it alive when it couldn’t afford its own properties.” His jaw clenched. “I know what I’ve been told.” Seven years. Seven years, and he chose the easiest lie. “I want you to apologize,” he said. “Publicly. Tomorrow. Admit you lied and thank Amelie for stepping up.” “And if I don’t?” I asked quietly. His eyes hardened. “Then you’re fired.” Fired. From a company standing on properties legally owned by me. By the man who had delayed marrying me while standing on my investments. I waited for panic. For the urge to fix things—like I always did. Instead, clarity settled in. “No,” I said. Oscar frowned. “No?” “I won’t apologize for work I did. I won’t give credit for assets I paid for. And I won’t stay engaged to a man who spent seven years postponing a future while taking credit for my sacrifices.” Slowly, deliberately, I removed the ring from my finger. I placed it on his desk. “It’s over,” I said. “The job. The engagement. All of it.” “Amber,” he warned. “You’re making a mistake.” I turned at the door, calm and certain. “No,” I said softly. “You already did.” And I walked out—twenty-seven years old, my name on the contracts, my money in the foundations, and my future finally my own.PAPA MUDA 49LAST EPISODEOleh: Kenong Auliya ZhafiraTanpa pikir panjang, begitu bibir wanita di depannya berhenti bicara, Alsaki segera memberikan kecupan mesra dan santai. Bibir yang saling bertemu seakan tahu jika luka dulu masih ingin diberi penawar. Mencairkan segala luka yang terjebak kesalahan lalu. Perlahan, kecupan itu kian tenggelam bersama kehangatan yang begitu mereka rindukan saat hati merasa ingin pergi tapi kenyataan menawan kuat perasaan. Sungguh sesuatu yang membuat jiwa sekarat. Alsaki menarik diri setelah lima menit berlalu menyelam indahnya cinta berbalut rindu. Ya, meski bertemu setiap hari tapi rindu itu justru semakin menggebu. Apalagi jika tentang menguraikan bahasa paling indah dari cinta. Hal itu dipastikan melumpuhkan debaran dalam sekali tarikan napas. "Aku mencintaimu ... menikahlah denganku, Andyra Arsha," pinta sang pria sekali kali. "Aku juga sangat mencintaimu. Jangankan menikah denganmu, hidup dan mati bersamamu pun aku mau," jawab Dyra tanpa l
PAPA MUDA 49LAST EPISODE HOleh: Kenong Auliya ZhafiraDyra sengaja berjalan lebih cepat untuk memastikan keberadaan Malik di taman belakang. Takutnya itu hanya tipuan belaka. "Aku lihat Malik dulu ada apa enggak, Mbak. Bentar," ujarnya sembari mengintip dari balik tembok. Ia dapat melihat pria bernama Malik itu tengah memainkan ponselnya. "Oke, Mbak ... Malik beneran ada di sini," ucapnya lagi setelah memastikan kebenarannya. Arista tanpa ragu menuju taman belakang dengan pose layaknya bintang. Meskipun pakaian sederhana, tetapi ada niatan untuk mencari perhatian dari pria yang sibuk menatap layar ponsel. Namun, semua itu percuma. Pria bernama Malik itu tidak melirik sama sekali. "Haduh ... aku ini kurang cantik apa gimana? Wajahnya datar begitu tanpa ekspresi," kesalnya. Dengan mendekat beberapa langkah, Arista mencoba mengajak bicara. "Biarlah urusan hati bisa dipikirkan sambli jalan atau biar menjadi bagian dari masa lalu. Karena hati emang tidak bisa dipaksa," ucapnya lagi dis
PAPA MUDA 49LAST EPISODE GOleh: Kenong Auliya ZhafiraPria yang ingin melibatkan apa pun yang ada di konter sebagai sarana bagian dari kejutan itu berbalik, lalu menjelaskan apa yang terbayang dalam benaknya. "Jadi, begini. Nanti, ponsel second yang ada di etalase dinyalakan semua. Aktifkan senter dan masukkan ke botol minum plastik. Lalu bentuk lambang hati di sini. Kita akan berada di dalam lambang itu saat mereka datang. Nanti minta Malik menutup mata mereka. Setelah kedua wanita itu melihat kita, kita bergantian mengatakan apa maunya kita. Gimana?" terang Alsaki sebagai pemilik ide yang cukup menghemat biaya. Adrian sendiri cukup mengagumi pola pikir pria di depannya. Soal memperlakukan wanita yang dicintai memang Alsaki bisa dikatakan sebagai juara. Hanya keadaan yang tidak mendukung hingga hatinya tersakiti dan terluka dalam. Akan tetapi, semua itu telah berlalu. "Boleh, Mas. Mau mulai sekarang, atau gimana? Takut mereka keburu datang." "Ya udah. Kita mulai sekarang." Ked
PAPA MUDA 49LAST EPISODE FOleh: Kenong Auliya ZhafiraMereka bergegas merapikan semua, lalu berjalan bersama layaknya teman. Tidak ada lagi rasa ingin menyaingi atau pun tersaingi. Tuhan memang Maha Pembolak-balik Hati manusia. Arista dan Dyra melihat dengan jelas para pria duduk lesehan di lantai konter tanpa alas sembari menyantap mi ayam bersama. Hal sederhana tapi terasa istimewa. "Punya kita, mana?" celetuk Dyra tiba-tiba yang membuat mereka berhenti mengunyah. "Ada. Duduk dulu. Ambil sendiri, tuh, di dekat Malik," jawab Alsaki sambil menelan mi yang telah berada di mulut. Mereka membaur bersama tanpa ada batasan sosial apa pun. Bahkan perasaan seakan mengerti bahwa ini bukan waktunya untuk bicara. Sekarang adalah waktu untuk menikmati kebersamaan tanpa ada celah kebencian. Sungguh pemandangan luar biasa untuk manusia yang pernah terluka karena masa lalu bisa duduk bersama tanpa saling mengingatkan luka. Hidup mungkin aslinya sederhana, hanya pikiran yang membuatnya rumit ta
PAPA MUDA 7 A Oleh: Kenong Auliya Zhafira Kehidupan yang terajut benang penuh kehitaman bisa menyisakan kekhawatiran tanpa ujung. Apalagi bias hasrat memulai hubungan baru tidak kunjung berpendar setelah lima tahun lamanya. Entah karena masih sakit atau cinta itu telah terkikis dan menyempit, tid
PAPA MUDA 6 B Oleh: Kenong Auliya Zhafira Entah kenapa ada perasaan tidak enak mendengar permintaan cucunya. Tidak biasanya Gala berseri keras meminta sesuatu. Ia pun diam-diam memperhatikan wanita yang tengah menikmati makan siangnya. "Masih muda. Dari cara bersikap sepertinya menyukai anak-an
PAPA MUDA 2Oleh: Kenong Auliya ZhafiraWaktu yang terus berputar terkadang belum mampu menghapus segala kesakitan karena lara hati. Karena bisa saja kejadian kecil membangkitkan lagi luka yang sangat ingin dilupa
PAPA MUDAOleh: Kenong Auliya Zhafira"Al, aku ingin kita cerai. Aku udah mencoba melahirkan Gala untukmu. Sekarang, tolong biarkan aku mengejar mimpiku. Aku nggak mau fokusku terganggu karena kehadiran bayi kecil itu. Semua yang terjadi di antara kita tidak akan jadi penyesalan. Aku harap kamu men












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
評論