MasukPelangi di Mata Laila — Wafa Farha 2 "Ada noda di seragam puteriku." Suara Rani tercekat. Mengingat kondisi Laila tampak lemah, membuatnya curiga anaknya itu telah mendapat pelecehan. Bagi Laila, ini bukan masalah harga diri atau kehormatan yang banyak diagungkan manusia. Melainkan rasa sakit ... juga malu, setiap kali orang yang dicintai memandangnya dengan jijik. Padahal, bukan keinginannya, mahkota kehormatan Laila hilang, lantaran seorang pria memaksanya malam itu. Namun, Laila bisa apa? Semua di luar maunya. Cara terbaik kala menghadapi musibah, adalah bersahabat dengan takdir. Mengupayakan kebaikan semampu diri. Lantaran tak semua hal di dunia ini, berjalan sesuai kemauan kita. Namun, percayalah, bahwa selalu ada harapan di depan sana. Ini adalah kisah memilukan seorang Ibu yang mendapati puteri kesayangannya telah dinodai seseorang. Bagaimana dia akan menjalani hidup ke depan, jika orang jahat tersebut adalah orang terdekatnya? Bagaimana pula gadis jelita bernama Laila menghadapi masa depannya? Setelah tenggelam dalam kubang air mata.
Lihat lebih banyakAnalyn POV
"Do it now."
My friend Shirley was grinning at me.
"Yeah, what are you waiting for, Ana? There's nothing to worry about," my other friend Tessa said and gave me a light push toward the boy's locker room.
It was about seven pm on Thursday, two nights before my high school graduation. The school was already closed, so the building was as quiet as the graveyard. So why was I at school instead of staying home and having a movie marathon, you ask? Let me tell you why.
You see...there's this guy, no, scratch that. A werewolf named Ambrose Vikander who was in my graduating class. He is also the most popular guy in school. Rumor has it that he had killed humans before and even some werewolves that got in his way somehow. But despite the rumor, girls in my school fawned all over him. He even managed to have a group of human girls as his groupies!
I never talked to him, but I managed to steal a glance or two when we passed each other in the halls. And boy, was he hot! The boy looked like he was thrown in the fire and then molded into perfection. He had the sharpest, most mesmerizing green eyes and longish black hair that fell all over his forehead. I saw him smiling once, and that was enough for me to hear the birds sing.
And, me, Analyn Sabado, the eighteen-year-old daughter of Emilio Sabado, made the worst decision of her life right before graduation day.
"I don't think this is a good idea, Shirley. What if there's a boy in there? It'll be so embarrassing!" I winced. Shirley decided it'd be awesome if I went inside the boy's locker room and stole the infamous Ambrose's gym shorts.
"Don't be a wuss, Ana. There's no one in there," Tessa insisted.
"Maybe he already took it out. Most of us cleared our lockers because the schools were about to end," I tried again. Why, why did I agree to this dumb prank?
"No, he didn't. I saw him going in wearing it today. He came out wearing his normal clothes but didn't have any bag in his hand. And I know he didn't go back in," Shirley said.
"What the fuck? Have you been stalking him? Why don't you go get it if you are one of his groupies?" I said irritably.
"That's silly. Come on, do it. You've never done anything daring in your life. This could be the bravest thing you've done right before graduation," Shirley said.
"Do it," Tessa encouraged me.
"Do it, do it, do it," Shirley chanted.
Ugh...I didn't want to look like a wuss either. They were right. I've never done anything in my life, and this was my last chance before I stepped into the real world.
I just need to go in and grab it, then leave.
Easy peasy, lemon squeezy.
I took a deep breath and walked right inside the testosterone heaven that was now empty.
Okay cool, the coast is clear. Shirley was right. I was worried for nothing.
The locker doors were never locked, and I learned from a reliable source that the beastman's locker number is six, so I went straight for the gold.
I swung open the door, and Tadaaaa! There lie his magical shorts. I wondered if it was actually magical. I quickly grabbed it. I turned around and prepared to dash out of their full speed, but I rammed straight into what felt like a concrete wall.
My forehead throbbed at the impact. My vision blurred, so I closed my eyes and held my hands out to touch whatever was in front of me. I don't remember a wall being there.
My hands cupped something smooth and hard. I moved my hands around
Oh no.
Don't tell me.
"Stop touching my abs and tell me what the fuck do you think you are doing here?" a thunderous voice roared, shaking me to my core.
Acara lamaran Lintang berlangsung sangat khidmat. Senyum tak lepas dari bibir gadis itu. Akhirnya pemuda yang selama hampir tiga tahun dekat dengannya ini, membuktikan keseriusannya.Begitu juga dengan Aris, kedua sahabat ini pernah berkelakar bahwa mereka akan jadi sodara ipar. Fanno berkali-kali pernah menawarkan diri untuk jadi adik ipar sahabatnya ini.Ternyata benar, ucapan itu adalah doa, maka ucapkanlah yang baik-baik agar menjadi doa yang baik-baik pula.Selesai acara lamaran, semua yang hadir menyantap hidangan yang telah disediakan oleh Ajeng.Fanno mendekati sahabat sekaligus calon Abangnya itu."Gimana kerjaan lu?""Sopan dikit kek, sekarang gue udah jadi calon Abang lu. Masa masih manggil seperti itu?" Aris protes."Oke, Bang, gue ralat. Gimana sekarang kerjaan lu, Bang?""Tetap aja, ya, tapi gapapa lah gue maklum.""Lagian, begitu aja jadi masalah. Pertanyaan gue kagak dijawab juga.""Lu kepo aja uru
Ekstra Part 19Menuju AkhirAris berusaha untuk menikmati pekerjaannya sebagai tukang cuci mobil. Meski bayaran yang dia terima tidak sebanyak ketika bekerja di kantor Papanya David. Tetap saja ia syukuri.Dua hari sudah waktu yang David janjikan untuk membawa Zara kepada keluarga Aris. Tapi belum ada tanda-tanda pria itu akan menepati janjinya."Gue cuma mau ngingetin, ini sudah hampir 2 x 24 jam, Dav," kata Aris lewat sambungan telepon."Gue usahain nanti malam, Ris.""Bener, ya?""Bener. Entar gue kirim alamatnya.""Lu datang ke rumah gue saja.""Enggak bisa, Ris. Lu tahu Zara seperti apa? Ini juga gue enggak yakin.""Lah, gue pikir udah deal.""Tadi 'kan gue bilang mau usahain.""Oke, gue tunggu kabar selanjutnya."Aris memutus sambungan telepon. Ia berharap David bisa membuktikan ucapannya.***Selepas magrib David mengirimkan alamat pad
Malam itu juga Aris pergi ke rumah David. Tidak sulit baginya untuk menemukan alamat orang kaya dan terkenal seperti keluarga David.Sebelumnya Aris mengirim pesan terlebih dahulu pada pria berambut klimis itu kalau dia sedang dalam perjalanan ke rumahnya.[Gue lagi di luar, Ris. Besok aja, ya, kita ketemu di kantor.]David beralasan.[Tanggung gue udah di jalan. Enggak apa-apa kalau lu enggak ada, gue ketemu Bokap lu aja.]Tulis Aris sambil tersenyum.[Oke, gue balik. Lu tunggu gue, jangan ngadu macem-macem sama bokap gue!]Aris tersenyum membaca balasan dari David. Pria itu ternyata sangat sayang dengan jabatannya, sehingga dia sangat takut kehilangan.Ternyata Aris sampai terlebih dahulu dari tuan rumah. Dia menunggu di dekat pos satpam. Kata Pak satpam barusan, David belum sampai ke rumah.Berselang lima belas menit, mobil David memasukkan pintu gerbang. Ia langsung mengajak Aris masuk melalui pintu samping dan duduk
"Mama tidak menyangka kamu tega mencoreng muka Mama dan Papa. Memberikan kesan buruk pada keluarga kita, Ris. Maksudnya apa ini?" Ajeng mengetuk-ngetuk layar ponselnya."Itu fitnah, Ma. Aris dijebak, Mama tahu 'kan wanita itu yang mengacau di acara wisudaku beberapa bulan ke belakang.""Iya, Mama tahu. Tapi ini tidak bisa dikatakan fitnah. Sedangkan jelas orang di dalam poto ini adalah kamu. Mama tidak bisa membayangkan kalau Papa sampai tahu." Ajeng merasa terpukul.Lagipula, Aris tak habis pikir, dari mana wanita itu mendapat nomor Ajeng."Aku bisa jelaskan, Ma.""Apa lagi yang mau dijelaskan? Semuanya sudah jelas, kamu tidak bisa beralasan." Ajeng berpaling."Adegan dalam poto ini rekayasa, Ma.""Tidak mungkin, kamu tidak bisa membodohi Mama. Kalau kamu tidak mau harusnya berontak dan menolak. Dari segi mana itu dibilang rekayasa. Atau kamu mau bilang itu adegan poto untuk kepentingan komersial? Kalaupun ia, Mama tidak setuju!"
Mobil melaju dengan kecepatan tinggi, Aris seperti kesetanan mengemudikan mobilnya. Ia terus merutuki kebodohannya, kenapa harus menuruti David. Bukankah ia sudah punya janji dengan Laila dan Ariel.Kenapa pula ia harus terus menerus merasa tidak enak pada David, bukankah ia juga punya hak
Ekstra Part 13Hati WanitaLaila mondar mandir sambil terus mengotak-atik ponselnya. Dari tadi ia menghubungi Aris tapi tidak diangkat. Akhir pekan ini, pria halalnya itu berjanji akan pulang cepat demi mengajak Ariel jalan-jalan."Habis ash
"Lepaskan aku! Kalian tidak punya hak menangkapku!"Helen terus meronta ketika dua orang sipir memegangi tangannya. Kedua pria itu membawa Helen ke luar sel tersebut."Lepaskan!!" Helen mencoba mengayunkan tangannya agar terlepas, tapi sia-sia karena tenaga dua orang pria itu tentu sa
Sedetik kemudian, Heru tersenyum miring dan terlihat bahagia melihat pemuda tempo hari menghajarnya di rumah sakit."Bagus, akhirnya kamu merasakan dinginnya jeruji besi, anak kecil.""Dasar bajingan!"Aris menegang kuat jeruji besi. Tubuhnya seperti ingin keluar dan menghajar H






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasanLebih banyak