تسجيل الدخولSementara itu di dalam kamar Reno, suasana terasa begitu panas dan sarat akan gairah. Viona yang sudah tidak tahan menahan hasrah gairahnya sejak kemarin, enggan menunggu sampai mereka tiba di Jakarta besok. Tanpa ragu, wanita cantik itu mengambil inisiatif meminta haknya malam ini pada sang suami."Vi, pelan-pelan ya, di sebelah kan ada Bang Rizal. Nanti dengar," bisik Reno memperingatkan sembari menatap dalam mata istrinya yang diliputi gairah."Mana bisa aku tahan, Ren. Kamu tuh bikin aku melayang terus," jawab Viona dengan desahan manja sembari melingkarkan kedua tangannya erat di leher tegap Reno.Namanya juga Viona, rasanya ada yang kurang jika ia tidak mengekspresikan kenikmatan yang dirasakannya. Erangan-erangan halus dan desahan nikmatnya terus lolos dari bibir indahnya, memecah kesunyian malam. Derit ranjang kayu tua yang bergoyang ritmis seolah menjadi musik pengiring dalam pergulatan intim mereka.Di balik dinding yang tipis, Rizal hanya bisa meremas sprei dengan napas mem
Reno dan Viona saling melempar pandangan, sementara di dalam kamar yang gelap, Rizal rupanya sedang menempelkan telinganya di balik pintu kayu, mendengarkan setiap kata percakapan itu dengan napas tertahan dan hati yang makin bergejolak panas."Nggak usah, Bu. Yang penting kita berdua udah sah secara hukum dan agama. Toh besok aku sama Viona juga udah harus balik ke Jakarta lagi," ujar Reno tenang sembari mengusap lembut punggung tangan istrinya.Bu Rahma manggut-manggut, meski raut wajahnya masih menyimpan sedikit rasa tidak enak pada warga sekitar."Lagian para tetangga juga belum ada yang tahu kalau kami sebenarnya udah nikah. Hanya keluarga Yunita kemarin. Kalau cuma mau bikin syukuran kecil-kecilan sih nggak apa-apa, Bu. Bikin besok malam atau kapan aja, meski aku udah berangkat, karena nggak sempat kalau sebelum aku berangkat. Bilang aja syukuran keselamatan atas keberangkatanku balik merantau. Kalau harus bikin pesta resepsi segala, jelas butuh biaya yang nggak sedikit, Bu," ta
"Iya, Sari. Ini aku," jawab Reno singkat dengan nada tenang. Sari mengikis jarak beberapa langkah, menyunggingkan senyum manis yang memancarkan rasa takjub. Matanya berbinar meneliti penampilan Reno dari atas ke bawah. "Pangling banget aku, Ren. Kamu makin tampan dan gagah aja sekarang. Kapan balik dari Jakarta?" Belum sempat Reno membalas, aura dingin nan mengintimidasi mendadak menyeruak dari arah belakang. Viona yang hatinya mulai terbakar cemburu seketika melangkah maju. Dengan gerak refleks yang elegan namun sarat akan klaim kepemilikan, Viona melingkarkan lengan mulusnya ke lengan tegap Reno, merapat erat ke sisi suaminya sembari melempar tatapan menusuk. Sari tertegun, matanya membelalak kaget melihat wanita cantik dan terlihat berkelas mendadak menempel sangat dekat pada Reno. Viona menyunggingkan senyum tipis yang penuh kepatuhan posesif. "Halo. Aku Viona, istrinya Reno." Mendengar pengakuan itu, raut wajah Sari seketika berubah pucat pasi. Binar gembira di matanya pada
Mendengar penolakan mentah-mentah dari ayah Yunita, mata Rizal membelalak kaget bukan main. Jantungnya seolah berhenti berdetak sesaat. Semalam dia sudah tercerahkan, di dalam benaknya yang licik, Rizal dari semalam jadi berharap besar bisa menjadi menantu seorang anggota dewan yang kaya raya itu. Rizal mengira dengan datang dan mau bertanggung jawab, keluarga Yunita akan menerimanya dengan tangan terbuka, menyediakannya fasilitas, dan memberinya jalan pintas untuk hidup enak tanpa perlu susah payah bekerja.Baru kemarin Viona dan Reno menyadarkannya, bahwa sebagai laki-laki, ia harusnya menghadapi masalah ini, bukan malah kabur dan ngumpet, enak juga pastinya kalau dapat mertua kaya. Dan sayangnya baru semalam Rizal kepikiran itu.Rizal jadi berpikir, jika ia datang untuk bertanggung jawab, Yunita pasti menerimanya karena wanita itu membutuhkan sosoknya sebagai ayah dari anak yang dikandung, dan keluarganya Yunita mau tidak mau akan menerimanya apa adanya.Dan Reno juga sudah berjan
Bu Rahma langsung menembak Rizal dengan pertanyaan itu. "Di dalam aja ayo kita bicaranya, Bu," ajak Reno.Reno mencengkeram bahu Rizal, mendorong abangnya itu masuk ke dalam rumah. Tak ada lagi tempat untuk menghindar. Rizal kini didudukkan di sofa kayu ruang tamu, sementara Reno berdiri tegap di depannya dengan kedua tangan bersedekap, memancarkan aura dominan dan intimidatif. Di sekelilingnya, Bu Rahma, Ravita, dan Viona menatap Rizal tajam. Ruang tamu sederhana itu mendadak berubah menjadi ruang sidang, dan Rizal duduk tertunduk lesu bagaikan terdakwa yang menantikan vonis eksekusi.Reno langsung melayangkan tembakan pertanyaan tanpa basa-basi. Suaranya berat dan menekan. "Sekarang jawab jujur, Jal! Kenapa kamu malah kabur dan ngumpet kayak pengecut? Mau sampai kapan kamu biarkan Ibu sama Ravita kena teror orang? Kamu nggak tahu, bahkan mereka meminta aku yang menggantikan posisimu untuk menikahi Yunita."Rizal makin mengkerut, tak berani menatap mata adiknya yang berkilat tajam.
Gertakan tegas dan tatapan tajam Reno sukses meruntuhkan sisa keberanian Rizal hingga nyalinya benar-benar menciut habis. Rizal tahu betul, Reno adalah tipe pria yang penyabar dan jarang meluapkan emosi. Namun, sekalinya murka karena batas kesabarannya dilangkahi, adiknya itu tak segan bertindak nekad dan tanpa ampun."I-iya, Ren... Iya, Abang pulang. Jangan main seret," jawab Rizal gugup, buru-buru memasukkan ponselnya ke dalam saku dan merapikan pakaiannya yang kusut.Melihat abangnya yang akhirnya menurut seperti ayam sayur, Reno tak membuang waktu lagi. Sebelum beranjak keluar, Reno menghampiri istri Dadang yang berdiri canggung di dekat pintu. Pria itu merogoh dompetnya, mengeluarkan banyak lembar uang merah seratus ribuan, lalu mengulurkannya dengan sopan."Mbak, sekali lagi saya minta maaf atas kelakuan Bang Rizal yang udah menyusahkan. Ini ada sedikit, anggap saja ganti rugi uang makan dan numpang tidurnya Bang Rizal selama beberapa hari di sini," ucap Reno dengan intonasi yan
"Nikahi putriku dan sebagai gantinya, biaya pengobatan ibumu dan utang-utang keluargamu dua ratus juta, lunas kubayar." Reno alias Reynald Notoharjo merasa seperti baru saja disambar petir di siang bolong. Pria berusia dua puluh lima tahun itu berdiri kaku di tengah ruangan mewah yang bahkan la
Viona yang masih menarik pergelangan tangan Reno menuju dalam rumah, mendadak langkahnya berhenti saat mendengar pertanyaan itu. "Bagaimana dengan Axel? Apa kamu sudah dapat kabarnya lebih lanjut?" Tubuh Viona langsung menegang. Beberapa detik yang lalu dia masih sibuk mengomel soal acara keluar
Keesokan paginya, Reno terbangun lebih dulu dibanding penghuni rumah lainnya, atau lebih tepatnya dibanding Viona yang masih berada di dalam kamar utama. Meski semalaman tidur di sofa ruang keluarga, tidurnya justru cukup nyenyak. Sofa itu bahkan jauh lebih empuk daripada kasur tipis yang selama
Brakk! Suara itu begitu keras hingga membuat mata Reno langsung terbuka sempurna. Beberapa detik kemudian suara benda pecah lainnya kembali terdengar, disusul tangisan yang terdengar putus asa dan nyaris histeris. Prang! Reno segera bangkit dari sofa. Jantungnya berdegup lebih cepat ketika m







