Mag-log in"But I'll abide for my time right now. Pero darating din ang araw na mas bibigyan pa kita ng mas higit pa sa nakukuha mo mula sa trabaho mo ngayon... Mark my words, Ria. Magiging akin ka din ng buong-buo." ~Jacinto Mathias Gusto mo bang malaman ang baho ng iba? Gusto mo bang marinig ang istorya ng isang disenteng binata na nahulog sa maduming bayaran? Do you want to know that behind her innocent face conceal her unholy self? Or does it more interesting to hear about a man who has dignified appearance hides an intense desire of something that should be considered wicked? Do you think it's a waste if an influential, wealthy, and decent man chose to be with an immoral, good for nothing, and prostitute woman? Well, what do you think? Do you have time to know and hear about these spicy rumors? Then come and satisfy your curiosity. Learn to know that expectations, moral standards, and bad reputation doesn't matter in love... Nothing matters when it comes to love. ~SpadeLucker
view more“Bagus gelangnya, apakah aku boleh memakainya?”
“Jangan! Kita tidak tahu apa yang akan terjadi kalau kamu memakai perhiasan ini. Bisa saja hilang dijambret orang. Aku tidak mau hasil kerja kerasku ini sia-sia.” Satu kotak berisi beberapa perhiasan tampak berkilau di dalamnya. Aku Arindi, menatap benda tersebut begitu takjub. Ingin sekali aku memakai salah satu dari perhiasan tersebut. Namun, aku hanya bisa berangan-angan tanpa bisa terwujud. “Kamu jangan salah paham dulu. Maksud aku, semua perhiasan ini cukup disimpan saja sebagai tabungan kita biar lebih aman. Aku tidak ingin hasil kerja kerasku hilang begitu saja. Aku ingin masa tua kita ada bekal, tidak perlu lagi capek-capek kerja sama orang. Cukup menikmati hidup saja dengan buka usaha mandiri!” Aku hanya bisa tersenyum getir, saat suamiku, mas Raka, melarangku untuk memakai perhiasan tersebut. “Ya sudah, tidak apa-apa, Mas. Aku paham maksud kamu baik. Aku mau masak, tapi bahan makanan sudah habis. Aku minta uang belanja,” ucapku, menengadahkan tangan ke arahnya. Mas Raka mengeluarkan uang sebanyak sepuluh ribu lalu memberikannya padaku. Aku yang biasa disapa Arin, menerima uang tersebut. Sambil berjalan, aku menatap uang itu dengan kebingungan yang setiap hari aku alami. “Uang segini aku harus beli apa? Sedangkan mas Raka nggak suka kalau teman nasinya hanya satu jenis,” gumamku. Aku terus berjalan hingga aku telah tiba di tempat penjual sayuran. “Hanya itu, Rin? Saya perhatikan, tiap hari kamu belanja hanya sepuluh ribu saja. Apa kamu lagi mengikuti trend tikotok?” tanya salah satu tetanggaku, yang kebetulan sedang membeli sayuran. “Ehem … suami saya sedang menunggu di rumah. Saya permisi!” pamitku, aku tidak ingin berlama-lama di tempat itu dengan tatapan heran para tetangga ke arahku. Aku menghela napas panjang. Sepertinya mereka menganggapku sedang mengikuti tren sepuluh ribu di tangan istri yang tepat. Tidak, mereka belum tahu saja, keadaan yang memaksa diriku untuk hidup irit seperti ini. Sesampainya di rumah, aku segera mengolah sayuran itu. Namun, saat aku menghidupkan kompor, beberapa kali apinya tidak kunjung menyala. “Gasnya habis,” gumamku. Aku bergegas menghampiri mas Raka yang berada di dalam kamar, tiduran sambil memainkan ponsel. “Gas habis, aku minta uang untuk beli gas,” pintaku. Mas Raka menoleh ke arahku. “Perkara gas saja kamu sampai menggangguku? Kamu punya otak, kamu bisa berpikir bagaimana cara mengatasinya,” celetuk mas Raka. Ucapan mas Raka cukup tidak mengenakan di hati. Dalam situasi seperti ini, aku dipaksa untuk berpikir bagaimana mengatasi masalah yang aku hadapi. Aku tidak memiliki uang, semua tabungan, mas Raka yang menyimpan. “Baiklah!” Aku pun kembali ke dapur, aku tahu maksud mas Raka baik, ingin masa tua kami bahagia. Namun, jika ditanya apakah nafkah sepuluh ribu untuk satu hari cukup? Jawabannya tentu saja tidak. Di era modern ini, apa pun serba mahal. Aku menatap tabung gas cukup lama. Mencari jalan keluar supaya aku tetap bisa menyajikan makanan. Aku mendekati pintu belakang, mengedarkan pandangan menyisir lokasi belakang rumah. Lokasi rumah yang kami tempati banyak ditumbuhi pepohonan di sekitarnya. Aku menyunggingkan senyuman kecil, saat sebuah ide terlintas di dalam kepalaku. “Kenapa aku baru kepikiran?” Aku menjentikkan kedua jariku. Aku mengambil beberapa batu yang tergeletak di belakang rumah. Lantas menyusunnya hingga terbentuklah sebuah tungku darurat walaupun bentuknya sedikit aneh. Namun, tidak apa-apa, sebagai wanita aku harus serba bisa. Setelah tungku itu jadi, aku memungut patahan dahan dan ranting kayu. Aku mulai memasak dengan bahan bakar seadanya. “Masakannya sudah matang, Mas. Mari makan!” seruku, membangunkan mas Raka yang masih berkutat dengan ponselnya. “Ya!” sahut mas Raka, ia keluar dari dalam kamar, lantas pergi menuju ruang makan. “Mas, apa nggak sebaiknya aku saja yang menyimpan tabungan kita? Em … maksud aku … aku juga bisa kok kamu percaya,” ujarku. Aku mulai menyantap masakanku, duduk bersebelahan dengan mas Raka. Tak kusangka, mas Raka tiba-tiba menghentikan makannya. Ia menoleh ke arahku, tatapannya sungguh membuatku merasa tidak nyaman. “Maaf, aku percaya kok sama kamu. Tapi lebih aman jika aku yang menyimpannya.” Aku menghela napas panjang, aku pikir mas Raka akan marah padaku. Namun, ternyata tidak. Nada bicaranya lembut, sungguh menenangkan hati walaupun aku merasa keiritan di dalam rumah tangga kami membuatku cukup menguras pikiran. “Iya, Mas. Aku paham, tidak apa-apa, kamu saja yang menyimpannya,” sahutku. Siang ini aku tengah sibuk menjahit baju robekku dengan tangan di teras rumah. Lumayan, walaupun robek, masih bisa dijahit dan bisa dipakai. Kalaupun ingin membeli yang baru, aku harus menunggu lebaran tiba, itu pun jika mas Raka mendapatkan THR dari tempat kerjanya. Sementara mas Raka, ia menghabiskan waktu libur kerjanya hanya di rumah. “Aw!” pekikku. Untuk yang kedua kalinya tanganku tertusuk jarum. Namun, aku terus melanjutkan aktivitas menjahitku, karena besok aku harus pergi ke kondangan pernikahan temanku. “Permisi!” Aku mengangkat kepalaku, membuka kacamata yang sedari tadi bertengger di hidung. Seorang wanita berdiri di hadapanku. Membawa tas jinjing, dan beberapa kali ia mengusap kedua matanya. “Gita!” Aku menyimpan bajuku di atas meja. Berdiri lalu menghampiri wanita yang ternyata adalah temanku. Menjatuhkan tasnya, Gita berhambur memelukku. Menangis sesenggukan di dalam pelukanku. “Kenapa? Ada masalah?” tanyaku. “Aku diusir dari rumah, ibu tiriku menguasai rumahku, dan ayahku hanya diam saja.” Gita menumpahkan tangisannya. Aku berusaha menenangkan. Kami mengurai pelukan, wajah Gita basah dan kemerahan. Kulihat dia sangat terluka atas perlakuan keluarganya. Aku bisa memahami kesakitan yang Gita rasakan. “Kamu yang sabar, Git. Sebaiknya kita masuk ke dalam, kamu terlihat sangat lelah,” ajakku. Aku meraih tas Gita yang tergeletak di teras, membawanya masuk sambil menuntun wanita itu. “Kamu duduk dulu, aku ambil minum dulu di dapur!” ujarku, Gita menurut, ia duduk di ruang tamu. “Ada tamu? Siapa?” Mas Raka baru saja keluar dari kamar mandi, kami berpapasan saat aku pergi ke dapur. “Gita, temanku. Dia diusir dari rumah, aku mau buatkan minum untuknya,” jawabku. “Oh!” Mas Raka berlalu dari hadapanku. Aku segera membuatkan minum. “Diminum dulu. Jangan terlalu banyak pikiran.” Aku menaruh segelas teh di atas meja. “Terima kasih, Rin. Aku minta solusi, aku harus bagaimana sekarang? Apa aku harus tidur di kolong jembatan, di jalanan? Aku tidak punya uang untuk mengontrak rumah,” ucap Gita. “Aku tidak tahu, Git. Nanti aku minta pendapat suamiku. Sekarang kamu istirahat saja dulu di sini,” jawabku. “Kamu tunggu sebentar, aku mau ambil bajuku dulu di teras,” lanjutku. “Em … Rin. Boleh aku numpang ke kamar mandi?” tanya Gita, yang kubalas dengan anggukan. Aku mengambil baju yang telah selesai kujahit. Aku kembali ke dalam, kudengar suara ponsel mas Raka berdering di dalam kamar. Namun, aku tidak menemukan suamiku di dalam sana. “Dari bos,” gumamku. Aku mencari mas Raka sambil membawa ponselnya. Langkah kakiku terhenti saat kulihat mas Raka berdiri di depan pintu kamar mandi yang sedikit terbuka.A/N:Hey, I'm glad that you made it til this chapter. Thank you for your time!But before you proceed, read this note first.Chapter 1-15 are intend for Jack's POV. While from here on until the last chapter will be for Maria's POV. Why? I'll tell you the reason to the last chap after the epilogue. For now, enjoy a different perspective and opinion but with the same emotions. Let's begin to hear the side of Maria...~~~~MasaklapMatalino. Mabait. Maalagang Anak. Maraming kaibigan. May itsura. Matino. Lahat na yata ng 'M' mailalarawan mo sa kanya.Hindi 'nga lang ako sigurado sa 'malaki'?Ipinilig ko ang ulo ko at piniling sumimsim sa hawak na sigarilyo."Ayan na naman ang titig! Hoy! Baka malusaw 'yan!" Saway ni Nicole habang nasa kabilang kanto kami sa tindahan ni Aling Lara.Sa maliwanag pa na hapon ay nagsisimula ng magpakalunod sina Mang Raffy, Jimbo, Ramil, at Landon sa alak.Dinamay pa si Jack n
Kung sana alam koPasado Alas Kuatro y medya ay naalimpungatan ako at nagising. Panay na ang tilaok ng manok at nag-aagawan na din ang liwanag at dilim sa labas.Mahimbing pa din ang tulog ni Maria nang dahan-dahan akong umalis mula sa kutson. I heard her mumbled under her breath which made me smile before she shifted her position.Napailing na lang ako at agad na dumako ang isip sa nangyari kagabi. Napakagat ako ng labi at napatingin sa kanya.Her chesnut hair messily fanned around the pillow. Her delicate and long eyelashes are lazily laid on her cheek. Even in her deep slumber, she's effortlessly beautiful.Pinilit ko ang sarili ko na umalis sa tabi niya. I still need to go to our house. Baka kasi dumating na si Mama at makapang-abot pa kami.For sure, maraming tanong na naman ang sunod-sunod na lalabas sa bibig nito.May plano naman akong sabihin sa kanya ang tungkol kay Maria pero hindi ngayon.I still
PassionTumango ako. Hindi ko pabubulaanan ang sinabi niya.I know that it's insane. But if madness is the only thing that can protect her then let me be a mad man."S'an mo nakuha ang ganito kalaking pera? 'Oh my God." Napahawak siya sa noo niya at mariin na napapikit."Kailangan mo pa bang malaman kung saan 'yan nanggaling? Can't you trust me and accept it please...?" Kulang na lang ay magmakaawa ako sa kanya para hindi na palakihin pa 'to.Marahas siyang bumaling sakin at matalim akong tinignan."Of course! Kailangan kong malaman kung saan mo 'to napulot! Ang laking pera nito at kung normal lang na sitwasyon ay walang matinong tao na basta na lang magbibigay ng ganito ka laking halaga." She indignantly said.Tumungo ako. I know but still... I've made up my mind."I... I trust you, okay?" Aniya sa mahinahong boses saka umiling, "Pero hindi ko 'yan matatanggap." Aniya habang nakatingin sa bagpack na nasa sahig.
Date Habang nagbibihis pa si Maria sa kwarto niya ay pinili kung umalis saglit patungong bahay para palitan ang suot na uniporme ng damit na panglakad. I chose to wore a forest green checkered polo underneath with black v-neck t-shirt. Hindi na ako nagabala pang magbutones. Nagsuot lang din ako ng black pants and sneakers. I also emptied the my usual black bag for the money later. At nang makabalik sa bahay ni Maria ay hindi pa rin s'ya tapos. I guess I was really fast. At habang naghihintay sa kanya ay inabala ko muna ang sarili ko na tupiin ang mangas ng polo. I heard the door knob being twisted and clicked then with the exact moment as I raised my gazed, I was greeting by her exquisite and captivating beauty. Maang na napatitig ako sa kanya habang tila naestatwa sa kinatatayuan at gusto lang gawin ay titigan siya. She wore a pristine white turtleneck dress and she paired it with a flat
Bad RumorMariin ang titig ko sa kanya habang nakatulala lang siya sakin. Her face was painted with pure disbelief.Akala ko ay may ipapahayag na naman siyang tugon niya o kaya ay palalabasin na naman niya ako.I
Mark my wordsMy most anticipated day comes so slowly.Kung kailan gusto ko bumilis ang oras saka naman babagal. At kapag gusto kong bumagal saka naman bibilis. Like, what the hell?Sumpa ba 'yon para makita ang kahalagahan ng bawat patak ng segundo?
Off limit conversationMaingay ang covered court dahil sa panghapong laro ng Basketball na ginaganap."Hayop talaga 'yang si Jasper. Pwe! Ang dumi maglaro." Reklamo ni Jimbo sa tabi ko habang abala kaming apat sa panunuod."Uy, uy! Foul na 'yon 'a?" Reklamo na n
MoanMedyo mabigat ang katawan ko pagkagising kalaunan. Mahina akong napamura.Na'san na 'yong pinagmamalaki kong hindi ako madaling magkasakit?Napailing na lang ako sa sarili ko at pinilit ang sarili na tumayo sa kama. Tahimik ang buong bahay bukod sa ingay na












Maligayang pagdating sa aming mundo ng katha - Goodnovel. Kung gusto mo ang nobelang ito o ikaw ay isang idealista,nais tuklasin ang isang perpektong mundo, at gusto mo ring maging isang manunulat ng nobela online upang kumita, maaari kang sumali sa aming pamilya upang magbasa o lumikha ng iba't ibang uri ng mga libro, tulad ng romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel at iba pa. Kung ikaw ay isang mambabasa, ang mga magandang nobela ay maaaring mapili dito. Kung ikaw ay isang may-akda, maaari kang makakuha ng higit na inspirasyon mula sa iba para makalikha ng mas makikinang na mga gawa, at higit pa, ang iyong mga gawa sa aming platform ay mas maraming pansin at makakakuha ng higit na paghanga mula sa mga mambabasa.