แชร์

Bab 13

ผู้เขียน: Asai
Renata mengambil surat pengakuan itu dengan tangan gemetar. Baru melihatnya sekilas, sisa warna di wajahnya langsung lenyap.

“Nggak, bukan begitu! Pangeran, dengarkan penjelasanku! Ini fitnah! Para bandit itu asal menuduhku. Ada yang mau mencelakaiku. Itu pasti Sekar! Dia pasti masih membenciku dan sengaja menyuruh orang untuk menjebakku!” Renata tersungkur ke lantai sambil menangis tersedu-sedu, lalu berusaha meraih ujung jubah Noah.

Namun, Noah langsung menendangnya. Tendangannya begitu keras
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Nyanyian Seruling Mengalun di Siang Hari   Bab 21

    Noah mendadak berusaha bangkit untuk duduk, tetapi gerakannya menarik tulang yang patah. Rasa sakit yang hebat membuatnya mengerang tertahan sebelum tubuhnya kembali terhempas ke atas ranjang. Keringat dingin pun seketika membasahi dahinya.“Pangeran! Luka Anda parah, Anda tak boleh bergerak!” Pengawal rahasia itu buru-buru maju hendak menahannya.“Pergi!” Mata Noah memerah. Entah dari mana datangnya kekuatan, dia bahkan berhasil menepis pengawal rahasia itu dengan sekali kibasan tangan. Noah berusaha menyeret tubuhnya dari ranjang sambil menarik kaki yang patah. Namun, tubuhnya justru terjatuh dan terguling ke lantai dalam keadaan mengenaskan. Lukanya kembali terbuka, darah pun dengan cepat merembes membasahi perban.Noah berusaha menopang tubuhnya dengan kedua siku, lalu merangkak perlahan menuju pintu. Rasa sakit seolah sudah tidak lagi dipedulikannya.Noah harus pergi mencarinya. Dia harus menemukan Sekar! Sekar tidak boleh pergi. Dia tidak boleh meninggalkannya begitu saja!Pengaw

  • Nyanyian Seruling Mengalun di Siang Hari   Bab 20

    “Noah!”Sekar terhuyung akibat dorongan kuat itu, lalu jatuh di atas batu yang aman. Lutut dan sikunya lecet, terasa perih menyengat.Di bawah tebing, kabut tebal menyelimuti jurang hingga dasarnya tak terlihat.Sekar sempat mengira Noah sudah hancur berkeping-keping di dasar jurang. Namun, tak lama kemudian, terdengar bunyi dahan patah dari bawah sana, disusul erangan tertahan.Dia menajamkan pandangan. Noah ternyata tidak langsung jatuh ke dasar jurang. Tubuhnya tersangkut pada sebatang pohon kering yang menjulur dari sisi tebing.Namun, pohon itu jelas tidak sanggup menahan benturan dan berat tubuh Noah. Batangnya berderak seperti tak sanggup membawa beban, sementara akarnya mulai terlepas dari tebing. Tubuh Noah tergantung di udara. Punggung dan lengannya terluka akibat terbentur bebatuan tajam, darah mengalir dari luka-luka itu.Dia masih hidup. Namun, keadaannya sangat genting. Sewaktu-waktu, dia bisa jatuh ke dasar jurang.Satria juga bergegas ke tepi tebing. Melihat keadaan itu

  • Nyanyian Seruling Mengalun di Siang Hari   BAB 19

    Satria tetap tenang, sikapnya tidak rendah hati maupun sombong.“Nama saya Satria, hanya seorang tabib pengembara. Yang saya tahu, Nona Sekar yang sedang memulihkan diri di sini adalah seorang wanita yang lajang. Jika Anda masih terus mengganggunya dan mengusik ketenangan pasien, jangan salahkan saya jika saya bersikap kasar.”Ujung jarinya berkilat dingin, beberapa jarum perak masih terselip di antara jemarinya.“Kak Satria.”Sekar tiba-tiba mengulurkan tangan dan menarik lembut ujung lengan baju Satria.Itu adalah sebuah sikap yang menunjukkan kepercayaan dan ketergantungan sepenuhnya.Bahkan dia tidak lagi menoleh kepada Noah, seolah pria itu hanyalah polusi yang tidak perlu diperhatikan.“Kita masuk saja.” Suaranya lembut, tetapi terdengar jelas di telinga Noah, “Tak perlu memedulikan orang yang nggak penting.”Orang yang tidak penting.Empat kata sederhana itu terasa ringan, tetapi bagi Noah, kata-kata tersebut seperti belati beracun yang menghujam tepat ke jantungnya, lalu diputa

  • Nyanyian Seruling Mengalun di Siang Hari   BAB 18

    “Tidak! Aku tidak pernah menyetujuinya! Itu tidak sah!” Noah buru-buru memotong ucapannya. Suaranya meninggi karena emosi dengan kepanikan yang tak lagi mampu disembunyikannya. “Sekar, aku tahu aku salah! Sekarang aku sudah tahu semuanya! Aku tahu semua yang dilakukan Renata, kejadian di penjara bawah tanah, apa yang terjadi di tebing itu .... Aku bodoh! Aku buta! Aku yang telah berbuat salah kepadamu! Maafkan aku, ya? Kita mulai lagi dari awal. Mulai sekarang aku hanya akan memperlakukanmu dengan baik, hanya mempercayaimu, hanya mencintaimu seorang ....”Ucapannya begitu kacau dan tidak beraturan. Dia menumpahkan seluruh penyesalan, penderitaan, dan kerinduan yang telah menghantuinya selama berhari-hari tanpa sedikit pun menyembunyikannya. Seolah berusaha meraih harapan terakhir yang masih bisa menyelamatkannya.Sekar sedikit mengernyit.Namun bukan karena hatinya tergerak.Melainkan karena merasa terganggu.Ketika melihat tangan pria itu terulur dan hendak meraih lengannya, tubuh Sek

  • Nyanyian Seruling Mengalun di Siang Hari   BAB 17

    Usianya kira-kira 25 atau 26 tahun. Tubuhnya tegap, tetapi pembawaannya lembut dengan raut wajahnya yang tampak bersih dan teduh, seperti mata air jernih di pegunungan dan angin sejuk di tengah hutan.Di tangannya terdapat sebuah mangkuk keramik kasar yang dari dalamnya mengepul uap hangat.Dia adalah Satria Gunendra.Dia berjalan ke sisi kursi rotan, lalu langsung berjongkok di sana secara alami. Dia meletakkan mangkuk obat di atas meja kecil di sampingnya. Gerakannya sangat lembut untuk menopang kaki Sekar yang terluka dan perlahan membuka kain bersih yang membalutnya.Jantung Noah seketika mencelos, napasnya mendadak memburu.Telapak kaki itu masih memperlihatkan daging baru berwarna merah muda yang tampak mengerikan, serta bekas luka berwarna gelap. Namun, jelas sekali kondisinya sudah jauh lebih baik karena dirawat dengan cermat. Itu sama sekali tidak seperti gambaran yang diceritakan para pelancong di kedai teh sebagai kaki yang “membusuk hingga tidak ada bagian yang masih utuh”.

  • Nyanyian Seruling Mengalun di Siang Hari   Bab 16

    Plak!Suara tamparan yang nyaring tiba-tiba terdengar di kedai teh.Beberapa pelancong yang sedang mengobrol terkejut dan menoleh. Pria yang sejak tadi hanya diam mendengarkan percakapan mereka, meski tampak letih dan lusuh tetap tak mampu menyembunyikan wibawa bangsawannya, ternyata baru saja menampar dirinya sendiri dengan keras. Begitu kuat tamparan itu hingga darah langsung merembes dari sudut bibirnya.Namun, Noah seakan tak merasakannya. Tatapannya hanya terpaku pada api tungku yang berkelap-kelip, dipenuhi rasa sakit dan penyesalan yang begitu besar hingga nyaris menghancurkannya.Malam itu, di tengah daerah terpencil, angin dingin menusuk hingga ke tulang.Noah duduk seorang diri di samping api unggun. Cahaya api menerangi matanya yang dipenuhi urat merah serta janggut yang tumbuh berantakan di dagunya.Dia mengeluarkan sebuah bungkusan kain kecil dari balik pakaiannya. Tersimpan sisa abu dari kotak besi itu bersama serpihan kantong wewangian yang hangus terbakar di dalamnya.U

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status