Share

102. Kepergok

Author: Nawasena
last update publish date: 2026-04-16 13:44:44

“Ini pasti menyakitkan,” bisiknya. Perlahan dia mengangkat wajahnya, lalu menatap Ivanka lebih dalam. “Pergi?” tanya Byakta dingin, kemudian tersenyum. “Kamu pikir ini tempat yang bisa kamu tinggalkan begitu saja?”

Ivanka tidak menjawab. Tapi sorot matanya tidak berubah. Dan itu cukup untuk mengatakan kalau dia tidak ragu sedikitpun.

“Aku bahkan sudah memintamu pergi, dulu,” katanya. “Dan kamu kembali dengan sendirinya. Tanpa ku minta, tanpa ku tahan.”

Dia memiringkan wajahnya, lalu me
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Obsesi Sang Penguasa   109. Aksi kejar mengejar

    Ivanka menunduk dalam. Suaranya nyaris hilang saat kata itu keluar. “Maaf,” katanya. Byakta terdiam. Dia tidak langsung menjawab, atau sekedar menanggapi dengan lirikan. Sebenarnya dia tidak marah karena Ivanka berbohong, dia hanya marah karena wanita itu selalu saja membahayakan nyawanya. Padahal Byakta selalu mengorbankan nyawa untuk menyelamatkannya. Mobil masih melaju cepat, membelah malam yang semakin sunyi. “Untuk apa?” tanya Byakta akhirnya, suaranya lebih rendah dari sebelumnya. Tidak lagi setajam tadi. “Maaf tidak akan mengubah apapun, Ivanka.” Ivanka menutup matanya sejenak. Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan. “Untuk semuanya,” jawabnya lirih. “Untuk semua yang terjadi, untuk semua yang aku lakukan tanpa bilang ke kamu, dan untuk semua yang mungkin akan terjadi setelah ini. Aku tahu… aku teledor—” “Lebih ke bodoh,” potong Byakta dingin. Pria itu menoleh pada Ivanka yang sudah menunduk. Ada banyak hal yang ingin dia katakan. Banyak emosi yang masih bergejolak di dad

  • Obsesi Sang Penguasa   108. Aku Tidak Menyalahkanmu

    Pintu mobil tertutup keras. Mesin langsung meraung, melesat meninggalkan gedung tua itu dengan kecepatan tinggi. Suara tembakan masih terdengar samar di belakang, perlahan menghilang ditelan jarak. Di dalam mobil, suasana justru jauh lebih sunyi. Namun sunyi itu cukup menyesakkan. Byakta bersandar di kursinya. Satu tangannya mencengkram pelipis, napasnya berat dan tidak teratur. Rasa nyeri di kepalanya datang lagi. Kali ini jauh lebih kuat dari sebelumnya. Ivanka menoleh cepat. Dia memegangi pundak pria itu dengan tangan gemetar. “Byakta…” Tidak ada jawaban. Pria itu hanya memejamkan matanya, rahangnya mengeras menahan sakit yang tidak kunjung hilang. “Cepat!” seru Rival dari kursi depan. “Kita harus keluar dari area ini sekarang!” Sopir langsung menambah kecepatan. Mobil berbelok tajam, hampir kehilangan kendali sebelum kembali stabil. Ivanka mendekat. Tangannya terangkat, ragu sejenak, sebelum akhirnya menyentuh pipi Byakta. “Kamu kenapa?” bisiknya pelan. “Apa sakit lagi?

  • Obsesi Sang Penguasa   107. Menghancurkan Rencananya

    Suara tembakan masih menggema di seluruh ruangan. Serpihan kaca jatuh, bau mesiu memenuhi udara, dan langkah kaki berlarian di berbagai arah. Namun di tengah kekacauan itu, “Byakta berhenti!” Tangan yang tadi siap menarik pelatuk, kini tertahan di udara. Tubuhnya menegang saat merasakan tangan Ivanka melingkar di pinggangnya. Dan ini terlalu dekat untuk diabaikan. “Ivanka… lepaskan,” gumamnya rendah. “Menjauh dariku. Aku harus melenyapkan mereka semua.” Tapi Ivanka justru mengeratkan pelukannya. Wajahnya bersandar di punggung Byakta, napasnya tidak stabil. Dia juga bisa merasakan hawa panas di tubuh Byakta karena terlalu emosi. “Aku mohon,” bisiknya lagi. “Kalau kamu terus seperti ini, kamu tidak akan bisa keluar dari sini.” Byakta mengatupkan rahangnya. Tatapannya masih tajam ke depan, tapi fokusnya mulai goyah. Di sisi lain ruangan, Davian menyeringai meski bahunya berdarah. “Menarik,” gumamnya pelan. “Jadi ini titik lemahnya.” Pria utama itu mengangkat tangannya sedikit. “

  • Obsesi Sang Penguasa   106. Kemarahan Byakta

    Langkah Byakta tidak terhenti. Bahkan ketika bayangan masa lalu berusaha menariknya mundur, dia justru melangkah lebih dalam. Setiap sudut bangunan itu terasa terlalu familiar—lorong sempit, dinding lembab, bau logam yang samar. Semua masih sama. Dan itu membuat dadanya terasa semakin sesak. “Sebar,” perintahnya singkat. “Jangan sampai ada akses untuk keluar.” Orang-orangnya langsung bergerak menyusuri lorong dari dua arah. Suara langkah kaki mereka menggema, berpadu dengan ketegangan yang semakin menebal. Rival tetap di belakang Byakta. Tatapannya waspada, tangannya tidak jauh dari senjata. “Bos… hati-hati. Mereka tidak akan diam saja,” gumamnya. “Mereka pasti sudah lebih dulu tahu kedatangan kita.” Byakta tidak menjawab. Pistol di tangannya sudah siap. Tatapannya lurus ke depan, dingin dan fokus. Sementara itu, di dalam ruangan utama, suasana sudah berubah total. Beberapa orang bersiap di posisi masing-masing. Senjata mulai dikeluarkan. Tidak ada lagi kesan santai seperti se

  • Obsesi Sang Penguasa   105. Tempat terkutuk

    Rival tidak membuang waktu lagi. Tangannya langsung bergerak cepat, menghubungi beberapa orang kepercayaan. Suaranya berubah tegas, jauh dari biasanya yang tenang. “Semua unit, siaga. Kirim tim ke titik koordinat yang saya kirim sekarang. Jangan bergerak sebelum ada perintah lanjutan.” Panggilan terputus. Mobil kembali melaju, kali ini dengan kecepatan yang jauh lebih tinggi. Jalanan malam terbelah oleh cahaya lampu depan yang tajam. Tidak ada yang berbicara. Namun suasana di dalam mobil terasa seperti bom waktu. Byakta masih menatap layar. Titik lokasi itu tidak bergerak. Tetap di sana. Di tempat yang seharusnya tidak pernah lagi dia datangi. Rahangnya mengeras. “Berapa lama?” tanyanya tanpa mengalihkan pandangan. “Sepuluh menit, kalau jalanan lancar,” jawab Rival cepat. “Lima menit.” Rival melirik sekilas, lalu mengangguk. “Baik.” Tanpa bertanya lagi, dia langsung mempercepat laju mobilnya. Sementara itu, di dalam ruangan gelap itu, seorang pria mendekat dengan sebuah alat

  • Obsesi Sang Penguasa   104. Masuk Ke Sarang Musuh

    Mobil hitam yang ditumpangi Ivanka berhenti di depan sebuah gedung tua di pinggiran kota. Lampu-lampunya redup. Tidak terlalu mencolok. Tapi jelas bukan tempat biasa. Ivanka turun perlahan. Dan Davian sudah menunggunya di sana. “Cepat juga,” ujarnya santai. Ivanka tidak membalas. Dia hanya menatap sekitar. Untung menghafal setiap inci dari tempat itu. Dia tahu kalau sesuatu yang buruk pasti akan terjadi kapanpun, dan dia sudah punya solusi kalau itu semua terjadi. “Gugup?” tanya Davian, sambil memindai wajah Ivanka yang begitu tenang. “Tidak.” Pria itu mengangguk, lalu menyentuh dagu Ivanka tanpa ragu. “Kamu begitu cantik malam ini.” Ivanka meliriknya tajam. “Aku tidak datang untuk diuji.” Davian terkekeh hambar. Penampilannya yang santai, hanya mengenakan sweater dan jeans, memang sangat berbeda dengan Byakta yang selalu tampil formal. Jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, Ivanka lebih menyukai penampilan Davian yang seperti ini. “Ikut saja. Dan jangan banyak bicara.”

  • Obsesi Sang Penguasa   89. Masuk Ke Lubang musuh

    “Bagus,” sahut Davian. “Aku juga tidak suka basa-basi.” Hening kembali menyapa keduanya. Tatapan mereka saling bertaut. Tidak ada yang mau mengalah. “Apa tujuanmu?” tanya Ivanka akhirnya. “Kenapa kamu mendekatiku?” Davian tidak langsu

  • Obsesi Sang Penguasa   87. Terus Dalam Pengawasan

    Sementara itu, di sisi lain kota, mesin mobil meraung pelan saat berhenti di sebuah gudang tua yang nyaris tidak terjamah. Catnya sudah mengelupas, dan sebagian atapnya terlihat rapuh. Davian keluar tanpa terburu-buru. Tangannya masih dimasukkan ke dalam saku jaket. Wajahnya tenang. Terlalu tenang

  • Obsesi Sang Penguasa   86. Mama Ingin Aku Mati?

    Langit malam menggantung rendah di atas kota. Awan gelap menutup sebagian cahaya bulan, menciptakan bayangan panjang yang jatuh di setiap sudut jalan. Dunia terasa tenang di permukaan, namun dibalik itu, sesuatu sedang bergerak perlahan—dan berbahaya. Di dalam kamar Byakta, Ivanka masih belum b

  • Obsesi Sang Penguasa   84. Titik Benturan

    Ivanka masih duduk di sisi ranjang. Jemarinya tidak pernah lepas dari tangan Byakta, seolah itu satu-satunya hal yang menahannya tetap berdiri di tengah semua kekacauan ini. Ruangan itu sunyi. Hanya suara mesin monitor yang berdetak pelan, mengisi celah-celah kecemasan yang terus merayap di dalam

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status