ANMELDENGaharu memeluk Aleska erat setelah permainan mereka selesai. Gaharu juga baru selesai mengobati beberapa luka yang di sebabkan olehnya. "Sepertinya aku harus segera mulai berobat, jika hanya minum obat dan tanpa konsultasi, aku takut jika akan kembali mencelakai Aleska." Gaharu bangun dari tempat tidur mencari ponselnya. Dia mencari nama Gerald di sana. Gaharu mengatakan semua keinginannya pada Gerald untuk benar benar sembuh tanpa harus mengkonsumsi obat obatan lagi. ("Kebetulan kau telfon aku, baru saja Ayah mertuamu menelfon ku menanyakan perihal penyakitmu ini. Ternyata istrimu sudah lebih dulu bergerak. Apa kau bertindak sesuatu kepadanya?" ) Gaharu sempat tertegun mendengar perkataan Gerald, lalu dia melirik Aleska yang sedang tertidur pulas saat ini. Gaharu menceritakan semuanya pada Gerald tentang apa yang terjadi padanya setelah kejadian di pusat perbelanjaan itu. Hanya terdengar helaan napas dari seberang. ("Baiklah, kapan kau mau ku jadwalkan untuk kembali ko
Gaharu membuka matanya terlebih dahulu ketika alarm di ponselnya berbunyi. "Eungh.... ini jam berapa?" gumam Gaharu. Ketika Gaharu ingin bergerak, dia menoleh merasakan tangannya berat. Tenyata di sana ada kepala Aleska yang menjadikan lengannya sebagai bantal. Awalnya Gaharu tersenyum tipis melihat istrinya tidur pulas di sisinya meskipun dengan posisi membelakanginya. Tapi detik berikutnya matanya membola ketika melihat memar di pundak Aleska. "Luka apa ini?" Tangan Gaharu mengusap lembut pundak Aleska. Dia mencoba mengingat apa yang terjadi. Lalu pikirannya tertuju pada saat kemarin dia dan Aleska berbelanja dan ada yang mengganggunya. Setelahnya dia memejamkan matanya ketika ingat saat dia bermain kasar pada istrinya. "Aku menyakitinya.....pasti tubuhnya sangat kesakitan." batin Gaharu. Cup..... Gaharu mencium luka lebam di sekujur tubuh Aleska yang membuat tidur Aleska terganggu. "Om....." Gaharu menghentikan ciumannya pada Aleska. Dia mengusap lembut
Ayu dan Indira di seret paksa keluar dari pusat perbelanjaan itu. Gerald membantu Gaharu yang mulai membaik. Wajahnya tidak lagi pucat seperti tadi. "Sudah lebih baik?" tanya Aleska. Dia masih khawatir dengan keadaan Gaharu. Namun, saat Aleska melihat wajah Gaharu yang sudah membaik dia bisa bernapas lega. Sementara Gerald masih mengurusi sisa masalahnya yang di timbulkan oleh Ayu dan Indira. "Sayang, maaf ya. Aku nyusahin lagi ...." Gaharu menatap sendu ke arah Aleska. Dia tidak tahu jika alerginya bahkan akan membuat masalah di tempat umum. Aleska mengusap pipi Gaharu lembut, dia tak ada pikiran jika Gaharu akan menyusahkannya. "Tidak, Om Aru tak menyusahkan hanya saja aku penasaran apa mungkin alergi ini bisa sembuh? Apa Om Aru pernah konsultasi dengan dokter? Mungkin ini ada hubungan dengan masa lalu Om Aru sampai memicu hal seperti ini." Gaharu terdiam, dia tidak pernah berpikir sampai ke sana tapi apa yang di katakan Aleska ada benarnya. "Sepertinya mema
Gaharu dan Aleska saling pandang mendengar perkataan Ayu barusan. "Wah, wanita gila!" batin Aleska. Gaharu menarik tangan Aleska dan ingin membawanya pergi dari sana. Namun, tiba tiba Indira menarik tangan Gaharu. "Tunggu, kau tak boleh pergi!" Mata Gaharu membelalak, wajahnya sudah merah selain marah Gaharu merasa tubuhnya tak nyaman. Aleska menjadi panik terlebih ketika melihat ruam di tangan Gaharu. Sementara Indira mundur ke belakang melihat reaksi Gaharu. "Om.... astaga....." Aleska panik, dia mencari obat milik Gaharu yang selalu Aleska simpan di dalam tas nya. Beberapa orang yang ada di sana mendekat, membantu Aleska memberikan minuman. "Nona, suaminya kenapa? Perlu di panggilkan ambulans?" Aleska membantu Gaharu untuk minum obatnya dengan baik. Lalu dia membantu Gaharu untuk bersandar pada dinding yang ada di dekatnya. "Tidak perlu, tapi tolong bantu amankan dua wanita sialan itu!" Semua orang memang sejak tadi memperhatikan Ayu dan Indira yan
Aleska Mash memperhatikan Gaharu yang baru saja keluar dari sebuah swalayan dengan menenteng keresek belanjaan. "Beli apa? Kenapa banyak sekali?" tanya Aleska penasaran. Gaharu mengeluarkan sebungkus es cream dan memberikannya pada Aleska. Terlihat sekali matanya berbinar cerah ketika menerima es cream itu. "Terima kasih, om....." Gaharu mengusap puncak kepala Aleska. Dia membiarkan Aleska makan es cream nya dengan tenang. Tak lama, Gaharu mendapat pesan singkat dari Gerald jika masalah Yasa sudah selesai. Perihal gaji karyawan Aleska juga sudah selesai. Devina dan Yasa di usir dari tempat tinggal mereka karena videonya viral. "Sayang, mau langsung pulang atau kau mau kemana lagi?" "Mau belanja kebutuhan rumah saja, kan kita habis ini pulang ke apartemen yang baru. Di sana juga belum ada makanan apa apa." Gaharu mengangguk, dia melajukan mobilnya ke pusat perbelanjaan yang lengkap sesuai keinginan Aleska. Gaharu sesekali melirik ke arah Aleska yang sibuk denga
Masalah tentang Devina yang memfitnah Aleska berakhir Devina yang di permalukan habis habisan oleh semua orang di sana. Tak lama dari itu, Yasa tiba di sana. Belum sempat Yasa menolong Devina sebuah pukulan dan tamparan mendarat di pipi Yasa dari istri pertamanya. Plak.... "Laki laki sialan, sudah di angkat derajatnya sama keluargaku tapi kau malah bertingkah. Kau pikir kau sudah hebat sampai kau berselingkuh dengan wanita menjijikan itu. Tunggu surat cerai dari ku, dan setelah ini semua fasilitas yang kau pakai juga akan di cabut. Kau juga akan di pecat dari perusahaan. Kau tak lupa bukan jika aku founder nya dan kau cuma seorang CEO?" Tubuh Yasa mematung di tempatnya, dia melihat istri pertamanya dengan wajah yang linglung. Selain itu, Devina menatap tak percaya jika semua harta yang dinikmati olehnya adalah milik istri pertama Yasa. "Waduw, langsung jatuh miskin dong habis ini!" celetuk Aleska. Keira cekikikan di sebelahnya, begitu juga dengan Gerald dan Gaharu yang baru
Aleska hari ini pergi ke toko kue miliknya. Dia sejak semalam tak bisa tidur karena memikirkan pernikahannya yang mendadak dengan Gaharu. Huft..... Semua karyawannya menatap aneh pada Aleska. "Nona seperti orang putus cinta, kenapa lemas sekali hari ini?" Aleska mengerjapkan matanya saat
Langkah Gaharu membawanya ke taman belakang dimana Aleska baru saja kabur. Duk.... "Aw ...." Sret .... Gaharu menarik pinggang Aleska agar Aleska tak sampai terjatuh karena baru saja menabrak dada bidangnya. Mata Aleska mengerjap ketika mendapati dia dalam pelukan Gaharu. Dia lalu me
Asila mengamuk ketika mendengar semua jawaban dari Aleska. Dia lalu menghubungi Luke kembali tapi sampai malam tiba Luke pun masih tak bisa di hubungi. Sedangkan di sisi lain, Luke sudah mengerang frustasi karena pekerjaan nya terlalu banyak dan masih saja salah. "Kenapa tak selesai juga, aku
Asila berusaha menelfon Aleska tapi tak kunjung mendapatkan jawaban. Di salon itu, dia sudah menjadi bahan tontonan banyak orang. "Bagaimana nona? Bisakah segera dibayarkan? Antriannya sudah panjang." Kasir itu kembali bertanya pada Asila dengan wajah yang ramah. Tanpa Asila tahu jika semua k







