แชร์

Bab 5

ผู้เขียน: Kanza-Azzahra
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2025-10-21 13:56:16

Hari pertama yang cukup baik bagi Raras, masakannya ternyata disukai majikan barunya.

Bik Jani juga banyak membantunya, wanita itu sangat baik sekali.

Disini Raras bertemu Yuni, ia juga pekerja dirumah konglomerat ini sama seperti Jani dan Raras.

Yuni, seorang janda muda, bercerai dari suaminya karena sang suami selingkuh. Janda muda itu berusia sekitar dua puluh tujuh tahun.

Siang itu setelah majikan mereka pergi bekerja dan sibuk dengan rutinitas aktivitas masing-masing.

Raras duduk bersama Yuni di meja belakang khusus buat para pekerja.

Menikmati segelas coklat dingin dan seblak yang baru saja dibuat Yuni untuk mereka berdua.

"Semoga betah disini ya dek" Yuni menyeruput Coklat sembari menatap Raras.

Senyum Raras terkembang di wajah cantiknya, ia menganggukkan kepalanya.

"Kamu cantik banget loh dek, gak cocok jadi Art tapi cocok jadi nyonya, mungkin bisa jadi nona muda rumah ini" Yuni cekikikan menutup mulut dengan wajah yang berbinar.

Raras hanya tersenyum, Yuni sangat ramah dan baik di hari pertama ia bekerja.

“Pedesssnya nyusss!” seru Yuni sambil nyolok kerupuk ke kuah seblak yang masih ngebul. 

   “Kayak nyeseknya waktu liat mantan update status ‘bahagia bersama dia’.”

Raras tersenyum malu, duduk di seberang Yuni di meja belakang rumah mewah itu. Suara burung dari taman dan gemericik air mancur kecil jadi latar alami siang itu.

“Eh, Ras,” kata Yuni sambil ngelap keringat di jidatnya, “kamu udah tau belum soal anak-anaknya Nyonya besar?”

Raras menggeleng pelan. “B-belum, Mbak…”

“Wah! Harus tau, biar nanti nggak kaget kalau ketemu,” ucap Yuni semangat, matanya berbinar seperti mau buka gosip nasional. 

    “Aku mulai dari yang paling bontot ya, si  non Marisa. Duh, Ras… kalo kamu lihat orangnya, auto minder!”

Raras menatap penasaran. “Kenapa, Mbak?”

“Karena dia tuh kayak bidadari turun dari surga!” sahut Yuni cepat. “Umurnya baru tiga puluh tahun, tapi udah  jadi dokter kandungan terbaik, lho! Tiap hari kerja ngurusin ibu hamil tapi mukanya tetep cling kayak abis facial tiap pagi. Bayangin, aku aja ngelap meja lima menit udah kayak abis ronda seminggu.”

Raras terkikik kecil, menunduk malu.

“Nah, suaminya itu, Pak Ray, pengusaha muda. Gantengnya tuh, aduh Gusti… kayak versi manusia dari kopi susu — manis tapi bikin deg-degan! Mereka berdua tuh bener-bener couple goals, Ras. Nggak pernah ribut, nggak pernah ngomel-ngomel, tiap ke rumah pasti gandengan tangan. Aku yang janda aja ngerasa ikut terberkahi ngeliatnya.”

Raras tersenyum sopan, tapi pipinya mulai merona. “Romantis, ya, Mbak…”

“Romantis banget!” Yuni menepuk dada, matanya melotot kecil. 

   “Kamu bayangin ya, waktu non Marisa ulang tahun, Pak Ray tuh ngasih kejutan! Bukannya mobil, bukannya tas, tapi dibikin taman kecil di halaman belakang rumah mereka, isinya bunga melati kesukaan nona Marisa. Katanya, biar tiap pagi istrinya bisa lihat keindahan yang dia tanam sendiri. Duh, aku aja yang denger langsung pengen nyanyi ‘Cinta Luar Biasa’!”

Raras menunduk sambil tersenyum, suaranya kecil, “So sweet banget ya mbak"

“Sweet banget! Kayak teh manis kebanyakan gula! Mereka yang sweet, aku yang diabetes” Yuni terkekeh. 

“Makanya, kalo mereka ke rumah sini, aura bahagianya tuh kayak parfum, nyebar ke mana-mana. Non Marisa selalu nyapa semua orang, dari sopir sampai tukang kebun. Eh, pernah tuh, dia sama bik Jani bilang gini, ‘Makasih udah bantu Mama, ya.’ Lah, Bik Jani langsung nangis! Katanya, baru kali ini ada orang kaya yang baik banget makanya bik Jani betah disini "

Raras ikut tertawa kecil.

“Nah, mereka punya anak satu, namanya Aisyah. Lima tahun, cantik banget, kayak boneka Barbie deh. Tapi cerewetnya aduhai! Sekali ngomong bisa satu episode penuh. Tapi lucu, lho. Kemarin dia nyamperin aku, bawa stetoskop mainan, terus bilang, ‘Tante Yuni sakit apa? Aku dokternya, lho!’ Aku jawab, ‘Tante sakit hati,’ dia malah bilang, ‘Berarti tante butuh susu coklat!’”

Raras langsung ketawa kecil, hampir menutup mulutnya dengan tangan. “Pintar ya anaknya…”

“Pintar sekaligus bawel,” balas Yuni cepat. “Tapi emang anak dokter beda, Ras. Mainannya aja alat suntik! Aku takut, nanti dia beneran suntik aku pakai tusuk gigi!”

Mereka berdua tertawa bareng. Udara siang yang panas terasa ringan oleh canda itu.

“Pokoknya keluarga non Marisa tuh ideal banget,” lanjut Yuni sambil menyeruput kuah. “Non Marisa lembut tapi tegas, suaminya kalem tapi perhatian, anaknya lucu dan pintar. Tiap kali mereka datang ke rumah ini, semua orang langsung beres-beres. Aku aja kadang ikut ngaca dulu, takut dikira kunti penghuni dapur.”

Raras menatap Yuni sambil tersenyum hangat. “Mereka pasti baik ya, Mbak?”

“Baik banget!” sahut Yuni mantap. 

“Mereka nggak pernah marah sama pembantu. Malah kadang non Marisa suka bawain oleh-oleh buat kita. Waktu lebaran kemarin, aku dikasih set baju gamis! Aku kira baju biasa, eh ternyata bahannya halus banget, Ras. Sampe aku simpen di lemari, belum pernah dipakai. Sayang! Aku aja belum sanggup keliatan mewah di dapur.”

Raras tertawa lagi, pelan tapi tulus.

“Intinya,” kata Yuni sambil menatapnya dengan gaya guru motivator, “kalau nanti non Marisa datang, kamu tenang aja. Senyum, sopan, jangan gugup. Mereka suka orang yang kalem kayak kamu. Tapi jangan diem banget juga, nanti dikira kamu robot! Oh ya, kalau Aisyah ngajak main dokter-dokteran, pura-pura aja sakit perut. Jangan sakit hati, itu urusanku!”

Raras tak kuasa menahan tawa, dan Yuni pun ikut terbahak.

   Yuni melanjutkan makannya kemudian melanjutkan obrolan. 

" Dan anak pertama nyonya besar itu, Tuan Max"

"Udah nikah juga mbak?" Oke Raras mulai penasaran dengan keluarga ini. 

"No besar, jomblo sejak putus dari pacarnya yang seorang designer, Tuan muda itu masih sendiri. Entah karena sibuk kerja atau apa tapi bukan karena karena gak laku ya, karena dia itu lebih tampan dari suami nona Marisa menurutku ya"

Raras hanya mengangguk, Rasa lezat dan gurih Seblak cukup membuat keringatnya membanjiri wajahnya, wajahnya memerah dan itu sangat terlihat dari kulit putihnya. 

"Aku tu berharap banget bisa jadi istrinya tapi mana mau dia sama janda, kalau sama kamu cocok deh kayaknya"

Raras tersenyum kemudian menggeleng. 

"Mbak ini ada-ada saja, orang seperti kita mana bisa bersanding sama mereka, yang ada biasanya mereka mencari yang setara."

"Jangan salah kamu, banyak kok kisah cinta Cinderella terjadi zaman sekarang"

Raras tertawa. 

"Cinderella itu bukan Art kayak saya mbak, dia bangsawan makanya diundang Raja ke istana. Lagian saya gak kenal juga"

Yuni terdiam menatap Raras lama, gadis ini sangat cantik dan ia tau cerita kenapa Raras bisa sampai kesini dari bik Jani. 

Ada rasa iba dalam hati Yuni pada teman barunya ini. 

“Udah, habisin seblaknya,” kata Yuni akhirnya sambil berdiri dan membawa mangkuknya ke wastafel.

 “Hidup tuh harus kayak seblak dek, kadang pedes, kadang panas, tapi tetep enak dijalani!”

Raras memandang Yuni dengan mata berbinar. Ia tidak banyak bicara, tapi dalam hatinya merasa hangat. Di rumah besar yang asing ini, ternyata ada satu sosok yang bisa membuatnya tertawa tanpa takut salah bicara.

Dan itu janda muda cerewet bernama Yuni.

Sepertinya mereka cukup baik pada Raras, semoga saja. 

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • PEMBANTU CANTIK TUAN MAXIME   Bab 13

    Pertemuan hari itu dengan Max adalah pertemuan terakhir bagi Raras karena seperti yang ia dengar pria itu ada perjalanan bisnis keluar negeri katanya satu minggu. Ini adalah weekend, tuan dan nyonya dua hari yang lalu pergi ke sebuah anak cabang perusahaan dk daerah kecil Indonesia. Rumah besar keluarga Yudhanegara terasa hening hari itu. Tak ada suara langkah Tuan Muda Maxime yang biasanya terdengar dari lantai dua, juga tak ada suara lembut Nyonya Nara memanggil Bik Jani dari ruang makan. Yang tersisa hanya dentingan sendok di dapur dan suara samar angin yang menyusup lewat jendela tinggi ruang tengah. Langit di luar terang, tapi suasana di dalam rumah justru terasa teduh, nyaris dingin. Aroma pengharum ruangan tercium wangi bercampur dengan debu halus yang berterbangan di antara cahaya matahari yang menembus tirai. Ruang tamu yang megah dengan sofa berwarna gading tampak rapi dan tak tersentuh, seperti museum kecil yang kehilangan penghuninya. Raras berjalan pelan melewa

  • PEMBANTU CANTIK TUAN MAXIME   Bab 12

    Raras tampak cantik dengan gaun putih tanpa lengan, rambutnya di ikat dengan pita membuat gadis itu tampak menawan dalam visual yang sederhana. Yuni ternganga melihat penampilan Raras, cantik? tentu saja tapi ini serius Raras pakai putih untuk ke pasar? "Kenapa mbak?" "Dek, kami serius pakai putih ke Pasar?" Raras menggaruk tengkuknya, Ia tak membawa banyak baju jadi hanya ini yang tersisa. "i... iya mbak" Yuni menghela nafas pasrah. "Ya udah deh, buruan ntar kita terlambat" Yuni menarik lembut tangan Raras keluar dari rumah menuju mobil yang sudah menunggu di depan rumah majikan mereka. Seorang pria muda berdiri didepan mobil, dengan senyum sok tampan apalagi setelah melihat keberadaan Raras Supir muda itu, tak henti memperhatikan Raras sedikitpun "Sok ganteng lo" celetuk Yuni "Emang ganteng gue" Raras hanya tersenyum melihat interaksi keduanya "Senyum neng Raras cantik banget" Raras tersenyum canggung, pria ini memang suka sekali menggodanya. "B

  • PEMBANTU CANTIK TUAN MAXIME   Bab 11

    Pagi itu kantor pusat Yudhanegara, perusahaan kosmetik ternama warisan keluarga, sudah sibuk sejak jam delapan. Lantai atas ruang Ceo yang ditempati Maxime sebagai pemimpin, tercium dengan lembut aroma parfum premium hasil produksi terbaru mereka. Dinding kaca transparan menampilkan pemandangan kota, sementara meja kerja besar dari marmer putih tertutup oleh tumpukan berkas, proposal, dan sampel produk. Maxime berjalan masuk dengan langkah tenang, jasnya rapi, ekspresi wajahnya kembali datar seperti biasa. Sekilas, tak ada yang tahu bahwa pikirannya sempat melayang pada seseorang di rumah tadi pagi. Begitu duduk, ia langsung membuka map laporan keuangan, matanya menyapu cepat angka-angka dan tanda tangan yang harus ia bubuhkan. “Agenda pagi ini, meeting dengan tim riset jam sembilan, lalu investor Jepang jam sebelas,” lapor Rangga yang berdiri di samping. “Baik. Siapkan semua laporan yang mereka minta.” “Sudah di meja, Tuan.” Tanpa basa-basi, Maxime mulai menandatangani be

  • PEMBANTU CANTIK TUAN MAXIME   Bab 10

    Raras membeku. Tangannya masih menggenggam ujung dasi yang belum sempat ia rapikan. Ucapannya barusan… apa dia nggak salah dengar? “Kamu... cantik.” Suara berat itu kembali terngiang di telinganya, membuat jantungnya serasa berhenti berdetak sesaat sebelum berdebar dua kali lipat lebih cepat. “Tu—Tuan bercanda, ya?” Raras mencoba tertawa kecil, kikuk. Ia menunduk, pura-pura sibuk meluruskan dasi yang dari tadi malah belum benar. Tapi tangannya gemetar hebat. Maxime tidak menjawab. Pria itu justru terus memandangi wajah Raras dari jarak yang terlalu dekat. Hanya sejengkal, hingga Raras bisa merasakan hembusan napas hangatnya di pipi. “Tidak semua orang berani menatapku seperti itu,” ujar Maxime pelan, nada suaranya datar tapi menekan, membuat udara di antara mereka seolah menegang. Raras menelan ludah. “Sa-saya tidak bermaksud menatap, Tuan... saya cuma—” “Sudah,” potong Maxime singkat. Ia mengambil jas dari kursi, memakainya tanpa mengalihkan pandangan dari Raras. “Pergi

  • PEMBANTU CANTIK TUAN MAXIME   Bab 9

    Pagi yang berbeda Di alami Raras di kediaman mewah tempat ia bekerja. Para pekerja bangun pagi sekali dan mengerjakan tugas mereka masing-masing. Raras sudah mandi ketika adzan subuh berkumandang kemudian melanjutkan untuk membantu para mbak dan bik jani yang sedang sibuk di dapur. "Raras, mending kamu bersihkan kamar Tuan muda, Siapkan air hangat, baju kerjanya dan bangunkan dia" Ujar Ratna Raras diam mendengarkan, Ia meringis dan sebenarnya enggan untuk bertemu pria itu karena masih malu dengan kejadian kemarin. Ingin rasanya dia menolak dan bertukar tugas dengan Yuni atau yang lain tapi Raras tak se pemberani itu untuk berani mengungkapkan isi pikirannya apalagi ia orang baru disini. "Eh malah bengong, sana pergi" Ratna menyenggol lengan Raras yang terlihat diam dan melamun. Raras tersentak kaget kemudian mengangguk pasrah. Ya ampun! kakinya berat banget rasanya. Ini kenapa kakinya seperti terbenam dalam lumpur hisap atau ada magnet yang membuat ia sulit berg

  • PEMBANTU CANTIK TUAN MAXIME   Bab 8

    Pagi di kampung itu terasa sendu meski mentari sudah menanjak tinggi. Embun masih menempel di ujung rumput, ayam berkokok dari kejauhan, dan suara gamelan bambu dari rumah tetangga terdengar samar di antara hembusan angin lembap. Di rumah sederhana milik keluarga Raras, udara pagi dipenuhi aroma kopi hitam dan suara isak tertahan. Ibu Raras duduk di kursi dalam rumahnya, masih dengan mata sembab dan wajah letih. Di pangkuannya tergenggam selendang biru milik Raras, selendang kesayangannya sejak kecil. Sudah dua hari Raras pergi, tapi rasanya seperti berbulan-bulan bagi sang ibu. Walau semalam anaknya sempat menelpon, kerinduan itu tak berkurang sedikit pun. “Katanya baik-baik saja, tapi Ibu masih kepikiran, kakak kamu…” ucapnya pelan, suaranya serak dan bergetar. “Kota itu besar, Nak. Ibu takut Raras bingung di sana.” Sang putra bungsu yang masih berseragam SMA, menatap ibunya dengan lembut. Ia baru saja meletakkan sepiring tempe goreng di meja. “Sudahlah, Bu. Mbak Raras sama B

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status