เข้าสู่ระบบ🙂🙂 Lea, bangun!
Dan karena Lea yang memakai kalung itu, tempat duduk Rana terletak sedikit lebih rendah dari mereka berdua.Terlihat tangan Rana mengepal erat begitu dia duduk. Tentu dia tidak menyangka akan mendapat serangan telak, begitu melangkah masuk ke istana.Acara hiburannya dimulai, makanan dan penari masuk.Lea memakai kesempatan itu untuk berpikir, sama sekali tidak menatap tubuh meliuk indah di depannya."Kenapa dia memberiku kalung ini?" Lea berguman, tapi rupanya agak keras.“Alasannya sudah jelas, Putri." Heba menyahut dari belakang kepalanya, karena mendengar gumaman itu."Pangeran memberikan Mustara kepada Anda karena Pangeran lebih menyayangi Anda, dan ingin Anda mengatur kehidupan di dalam Serail,” bisik Heba.“Mengatur kehidupan siapa?” keluh Lea.Mengatur kehidupannya sendiri saja masih sering terlewatkan, Lea tak pernah bermimpi mengatur kehidupan orang lain.Dan soal lebih menyayangi itu, Lea mencoba mengabaikan, karena setiap memikirkan itu, Lea merasa jika di sekitarnya telah
Keesokan harinya, di halaman istana mulai digelar aneka persiapan untuk menyambut Rana.Biasanya status istri Pangeran tidak harus mendapat sambutan seperti itu, tapi karena Rana adalah adik dari Ratu sayang saat ini masih berkuasa, tentu penyambutannya berbeda kelas, daripada istri yang berasal dari bangsawan rendah seperti Nae.Dan perbedaan status itu saja sudah membuat banyak pergolakan di dalam istana. Semenjak kabar jika Rana akan mengisi Serail, bisik-bisik dan juga gosip dengan cepat menyebar di Istana Yamu.Mempertanyakan bagaimana nasib Lea yang selama ini menjadi penguasa tunggal di dalam Serail, dan tentu menjadi ‘kesayangan’ Pangeran Ketiga.Tapi pertanyaan itu tidak mengambang terlalu lama, siang ini begitu Lea keluar dari Serail untuk menyambut Rana, semua mata tak bisa melepaskan pandangan dari Lea.Leher Lea yang berhias kalung rantai emas tipis dengan bandul batu berwarna pink cantik itu menjadi pusat perhatian semua orang. Seperti Heba, semua tahu apa maksud dari kal
“Putri, apa hamba mengganti air mandi? Air ini berisi aroma kesukaan Pangeran.” Heba memanggil dari dari balik tirai.“Tidak.. Tidak perlu.” Lea menggeleng cepat-cepat.Bukan karena ingin mengendus aroma Ra atau bagaimana, tapi mengganti air mandi berarti membuang seluruh air di dalam kolam itu, lalu mengganti dengan yang baru. Akan sangat lama dan merepotkan.Lea tak tahu jika selama ini ternyata prosedurnya begitu.“Aku mandi di situ saja,” kata Lea, menatap kolam berair tenang itu. Pikiran Lea masih belum jernih, sampai tak melihat Heba mengundurkan diri, karena Ra kembali masuk.Ada kantong kulit kecil di tangannya.“Kau juga menyukai aroma jeruk?” tanya Ra.“Ahh!” Lea berjengit sambil memekik, saat melihat Ra sudah kembali berada di belakangnya.“Tidak perlu panik. Aku tidak telanjang.” Ra mengatakannya dengan sangat tenang, sementara bibirnya menahan senyum.Kepolosan Lea saat melihat laki-laki sungguh terlihat lucu dan menggemaskan di matanya. Ra ingin menggodanya lebih jauh,
“Sudahlah, Heba." Lea menepuk bahu Heba lagi."Tak perlu tegang dan berlebihan. Tak ada gunanya khawatir, dia akan tetap datang, dan orang akan tetap membandingkan aku dengannya secantik apapun penampilanku nanti. Tapi aku tak peduli dengan kata orang, dia boleh menjadi wanita yang paling cantik di dalam Serail ini,” kata Lea, agar Heba berhenti mengomel.Heba mengangguk mengerti, dan berhenti menggumamkan kata tidak suka. Meski tentu tidak rela. Bibirnya masih maju.“Putri, sekarang saatnya anda untuk mandi,” kata Heba.“Heba, aku tak ingin mandi untuknya! Aku sudah mengatakan tadi. Tak perlu berhias,” tukas Lea.“Saya meminta anda mandi bukan untuk berhias Tapi sekarang sudah sore, Putri. Ini saatnya anda mandi.” Heba setengah menegur, dengan wajah lelah.“Oh...benarkah?” Lea memandang langit.Karena terlalu banyak melamun, Lea tidak menyadari jika matahari telah turun. Bahkan hari sudah mulai gelap. Biasanya dia mandi sebelum senja.“Baiklah kalau begitu." Lea menyimpan cangkul keci
Ra mendesah panjang. Dia hanya ingin tahu apa kakaknya ‘tersayang’ itu berhasil membujuk Lea. Tapi tak mungkin juga bertanya langsung tanpa terdengar aneh, karena hal itu bukan urusannya.Tapi mendengar jawaban Lea yang biasa, Ra menduga Luz tidak berhasil. Ra ingin merasa lega, tapi ternyata tidak. Dia tak ingin Luz berhasil, tapi jika berhasil, setidaknya Lea tidak akan pergi.Serendah itulah harapan Ra.“Pangeran!” Heba tiba-tiba masuk. “Tuan Zaim ingin menemui anda. Beliau di luar.”“Ada apa lagi?!” Tidak sengaja Ra membentak, kesal karena seharusnya semua urusan sudah selesai hari ini, dan tidak ingin ada gangguan.“Suruh saja Zaim masuk, jangan memarahi Heba!” tegur Lea.“Aku tidak…. Heba, suruh dia masuk.” Ra tidak jadi mendebat Lea, karena seharusnya dia membujuk agar Lea mengatakan apa yang dilakukannya dengan Luz tadi sore.“Pangeran. Maaf mengganggu, tapi ada berita dari istana. Ada kiriman hadiah yang akan datang untuk Anda lusa.” Zaim masuk dan melapor dengan ucapan yang
Luz menghapus air mata Lea, sambil tersenyum getir. “Jangan membuat hatiku patah dua kali, Lea.”Luz tahu Lea tidak akan memilihnya sejak awal, namun melihatnya menangis untuk Ra adalah luka baru.“Maaf, maafkan aku. Aku seharusnya tidak menangis.” Lea menunduk sambil menghapus air matanya. Sulit sekali menahan air mata itu, saat Lea mengucapkan tekadnya dengan keras.Luz sekali lagi mengelus pipi Lea.“Aku tidak tahu apa yang akan terjadi padamu, Lea. Ini membuatku gelisah. Karena berarti aku tak bisa menjagamu seperti Ra.” Luz kembali mendesah. “Bukan saja aku tak melihatmu bersama Ra, aku tak pernah melihatmu dimanapun, kecuali pada hari kita di Nubt. Pada hari aku menemukanmu, dan bendungan itu. Hari itu aku tahu kau penting, tapi hanya itu. Aku mencoba untuk mencarimu pada semua firasat yang aku lihat, tapi kau tidak ada.”“Ada yang menghalangimu?” Lea teringat ucapan Thoth.“Sepertinya begitu, tapi apa alasan Seth menghalangimu? Akan wajar jika dia menghalangi Ra, karena ingin s







