LOGINJika di tanya, "Apa cita-cita mu kelak?" Banyak yang akan menjawabnya dengan ingin menjadi polisi, dokter, guru, pengacara, pengusaha sukses dan lain sebagainya. Mungkin jawaban seperti itu selalu terdengar dari anak-anak yang mempunyai cita-cita luar biasa itu. Tapi lain dengan gadis bernama lengkap Tiara Aprilia. Gadis itu selalu mengatakan ingin menjadi pelacur setiap kali ada yang bertanya "Apa cita-cita mu? Atau saat besar nanti kamu ingin jadi apa?" Saat ia menginjak umur 25 tahun dirinya benar-benar terjun ke dunia malam untuk menuntaskan niatnya menjadi seorang pelacur. Tapi ia bukan sembarang pelacur yang menjual dirinya seperti pelacur-pelacur yang ada, melainkan ia ingin menuntaskan sebuah misi tersembunyi dengan bertopeng pelacur. Dan misinya itu lah yang membuat dirinya selalu mengatakan bahwa dirinya adalah seorang pelacur yang berkelas.
View MoreKEJUTAN DI HARI PERNIKAHAN
(VIDEO PANAS, KEJUTAN UNTUK SANG MADU)BAB 1"Lila, semua sudah siap kan?" ucap Bu Widya pada menantunya Lila."Sudah, Bu.""Untuk seserahan dan mas kawinnya juga sudah siap semua sesuai pesananku kan?" tanya Bu Widya lagi pada Lila."Iya, Bu, sudah semuanya, Ibu tenang saja.""Bagus, sekarang cepatlah kau bersiap karena Ibu tak mau kita telat ke acara.""Iya, Bu."Bergegas Lila meninggalkan Ibu mertuanya menuju kamar pribadinya, lantas di dalam kamar Lila mendapati suaminya Mirza sudah siap dengan segala sesuatunya.Yah, Mirza suaminya hari ini akan melangsungkan pernikahan dengan seorang wanita pilihan Ibunya, bernama Riana. Riana dan Mirza adalah saudara sepupu hanya saja sepupu jauh, jadi memang mereka dihalalkan untuk menikah.Bu Widya menginginkan putra bungsunya itu menikahi Riana karena dalam pernikahan Lila yang sudah menginjak 5 tahun belum juga dikaruniai momongan. Selain itu alasan Bu Widya memilihkan Riana sebagai madu Lila karena Bu Widya tidak mau jika kekayaan Mirza jatuh ke tangan orang lain. Dengan menikahi Riana maka kekayaan Mirza hanya akan turun ke wanita yang masih kerabatnya Bu Widya saja. Terlebih lagi Lila hingga saat ini belum juga mengangandung menambah keyakinan untuk Bu Widya memberikan Lila seorang madu.Akan tetapi, ada satu hal yang tidak pernah diketahui oleh Bu Widya, bahwa kekayaan yang dimiliki oleh Mirza yang sesungguhnya adalah milik Lila. Mirza hanya menjalankan saja restoran yang sudah dimiliki Lila jauh sebelum menikah dengan Mirza.Selama ini Bu Widya hanya tau jika Mirza memiliki sebuah restoran besar dan dua buah cabang restoran yang baru saja dibuka.Sebenarnya Lila pun sudah muak dengan suami dan keluarganya, tapi Lila tidak akan melepaskan Mirza begitu saja hidup bahagia bersama Riana. Lila sudah bertekad akan melakukan pembalasan yang lebih pedih pada Mirza dan juga keluarganya.Cukup lama Lila memandangi suaminya itu, dulu dialah yang tengah berbahagia karena bersanding di pelaminan bersama Mirza. Akan tetapi, kini Mirza kembali naik ke pelaminan, tapi bukan bersama dirinya melainkan madunya.Wajah tampan, hidung mancung, kulit kuning langsat serta mata elang milik Mirza, membuat pria itu memang banyak digilai para wanita, bahkan dulu dirinya pun teramat tergila-gila pada Mirza. Akan tetapi,i mata yang membuatnya jatuh cinta itu kini menurut Lila sudah berubah menjadi mata kebencian dari seorang musuh. Musuh yang siap kapan saja untuk membunuhnya, membunuh hingga nyawa akan terlepas dari badan si pemiliknya."Mas, sudah siap? Sudah ditunggu sama Ibu di bawah," sapa Lila pada Mirza yang masih berkaca di depan cermin."Iya ini aku udah selesai, kamu cepatlah bersiap Mas tunggu di bawah ya.""Iya, Mas."Setelahnya Mirza pun keluar dari kamarnya, sementara Lila bergegas mengganti pakaiannya. Ia merias sedikit wajahnya agar tak terlihat pucat, Lila sungguh sangat bersemangat untuk mengantarkan suaminya menuju pelaminan keduanya.Sungguh aneh memang, jika kebanyakan para istri akan berderai air mata saat mengantarkan suaminya menikah lagi. Akan tetapi, tidak dengan Lila, hatinya seakan sudah mati rasa, air matanya pun serasa habis, yang ada kini hanya rasa benci dan dendam."Du du du du du, senangnya hati ku sebentar lagi akan melihat pertunjukkan yang spektakuler," gumam Lila sembari menyeringai.*****"Saya terima nikah dan kawinnya Riana putri binti Abdul Mahmud dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan perhiasan emas seberat 20 gram dibayar tunai.""Bagaimana saksi? Sah?" ucap penghulu saat Mirza dengan lancar mengucapkan kalimat ijab kabul di depan banyak pasang mata."Sah.""Sah.""Sah.""Alhamdulillah, sekarang kalian sudah sah menjadi suami dan istri."Setelah acara ijab kabul selesai, Lila pun maju menuju panggung pelaminan, ia juga meminta sebuah mikrofon dari pembawa acara."Selamat siang, mohon perhatian semuanya." Ucapan Lila sukses membuat banyak pasang mata melihat ke arahnya."Saya Nurlaila indah, atau biasa dipanggil Lila, sebagai istri pertama saya mengucapkan selamat kepada suami saya dan istri barunya. Dan tentunya untuk menyambut hari yang bahagia ini, saya akan mempersembahkan sesuatu untuk kedua mempelai."Terdengar bisik-bisik dari para tamu undangan, ada yang sebagian kagum pada Lila karena dengan lapang dada mau menerima pernikahan kedua suaminya, bahkan Lila akan memberikan sesuatu sebagai kejutan untuk suami dan madunya.ProkProkProkLila bertepuk tangan sebagai tanda perintah untuk mengeluarkan kejutan itu. Mendengar aba-aba yang diberikan Lila pada orang suruhannya."Para tamu undangan yang terhormat, silahkan kalian lihat ke layar yang ada di sebelah sana."Sesuai dengan perintah Lila, semua mata tertuju ke arah layar besar yang ada di samping sebelah panggung pelaminan.Di layar itu menayangkan sebuah video, video tentang semua rahasia Riana, sontak semua orang tak terkecuali Mirza dan juga keluarganya beralih pandangan menatap Riana, sementara Riana sedari awal video diputar sudah pucat pasi."Riana!"“Apa yang kamu lakukan? bukankah aku sudah mengatakan untuk keluar dari sini? mengapa malah berbalik lagi?”Ara memejamkan matanya sebentar dan kemudian menatap Tian, “Aku mengizinkanmu mengambil keperawanan ku Tian, sebagai gantinya tolong nikahi aku dan lindungi aku.” Ucap Ara.Mendengar itu, Tian langsung bangun dan duduk disamping Ara. Kening nya berkerut saat melihat ekspresi wajah Ara yang seperti ketakutan itu.Baru beberapa menit yang lalu wanita itu pergi meninggalkan kamar ini dengan sangat arogan sekali. Tapi kenapa kini ia berbalik dengan ekspresi yang Sangat kacau seperti ini."Apa yang terjadi Ra?" Tanya Tian.Ara diam, ia masih mengatur pernapasannya yang tidak beraturan itu.Berlarian dengan kecepatan seperti tadi itu benar-benar tak pernah ia lakukan semenjak lulus dari sekolah SMA yang mewajibkan semua siswa untuk ola
Ara menatap kesekeliingnya saat memasuki sebuah kamar hotel yang telah di pesan oleh Tian.“Kenapa?” tanya Tian saat menyadari bahwa Ara tampak tidak suka.“Apa?” Tanya Ara yang seolah tidak mengerti kemana perginya pertanyaan Tian barusan itu.“Kau tidak menyukai kamarnya?” tanya Tian.Ara menoleh kearah Tian yang ada disampingnya itu, “Kenapa? apa pedulimu hm?” tanya Ara sinis.Tian terkekeh saat mendnegar jawaban dari Ara itu, Wanita ini selalu saja bertingkah di luar ekspetasinya dan itu adalah hal yang paling ia sukai.“Jadi, kapan kita aka
"Ini adalah salah satu resiko menjadi wanita malam Ra. Hanya ada dua pilihan saat kau memutuskan masuk ke dunia malam. Yang pertama kau harus menghayati peran mu dengan menjadi pelacur sungguhan yang hina atau keluar dari dunia malam tanpa mendapatkan apapun yang kau cari!" Ucap Tian lagi.Dan ekspresi Ara saat ini Benar-benar tidak bisa terbaca. Entah apa yang saat ini ia pikirkan setelah mendengar pernyataan dari Tian barusan itu.Dengan sangat santai sambil mengembangkan sebuah senyum Tiara menjawab, "Hidupku bukanlah sebuah pilihan! Bagaimana kedepannya, cukup aku yang tahu tentang hidupku." Ucap Ara setelah cukup lama terdiam.Tian menganggukkan kepalanya atas ucapan yang di ucapkan oleh Ara barusan itu. Kedua tangannya ia lipat di dada serta saat ini ia ber
Ara terdiam saat memasuki sebuah cafe tapi tak ada satupun orang yang datang. Cafe ini benar-benar sangat sepi Sekali, Ara terus saja bertanya-tanya di dalam hati. Apa yang sedang direncanakan oleh Tian saat ini? "Selamat datang nona." Ucap salah satu pelayan cafe tersebut sambil menundukkan kepalanya saat Ara berhenti di hadapannya. "Terimakasih." Jawab Ara sambil mengembang kan sebuah senyum. Lebih tepatnya senyum yang dipaksakan. "Atas nama nona Tiara Aprilia kan?" Tanya pelayan tersebut memastikan tamu nya itu. Ara mengangguk kan kepalanya kepada si pelayan tersebut. "Mari nona, ikut saya. Akan saya tunjukkan tempat nya
"Lagi dapet orderan?" Tanya orang itu dengan nada mengejeknya.Bila menaikkan alisnya sebagai jawaban dari ucapan Tian. Entah kenapa laki-laki ini sungguh sangat mengganggu nya dalam hal apapun itu yang ia s
ara memejamkan matanya, merasakan angin yang bertiup. "tuhan aku rindu, kirimkan dia sebentar saja dalam wujud nyata maupun tidak yang penting bisa untuk aku memeluknya."menyadari bahwa ara sedang larut dalam memori nya itu, ardan berhenti mengayun. ia tabu bahwa adik bungsuny
Hari sudah menunjukkan pukul sembilan pagi namun sosok Tian tak kunjung bergerak dari rumahnya. entah apa yang membuat Tian begitu betah berada di rumah nya ini."Kamu tidak bekerja?" Tanya Ara saat melihat tak juga ada tanda-tanda Tian akan pergi."Tidak."
Setelah perbincangan panjang Antara dirinya dan juga Aksa, akhirnya Ara bisa beristirahat dengan tenang sekarang. Namun ketenangan sejenis apa yang ia dapat juga ia tidak tahu.Ini semua seakan membuat ia susah untuk mengartikan segalanya yang telah terjadi.






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ratings
reviewsMore