เข้าสู่ระบบPertanyaan itu membuat Javendra mengangkat sebelah alis. “Kenapa tiba-tiba membicarakan hal itu?” “Tidak apa-apa. Aku hanya penasaran. Kak Kenzo terlalu sibuk dengan pekerjaan dan urusan keluarga. Aku ingin dia juga punya seseorang yang bisa membuatnya bahagia.” Javendra terdiam sebentar sebelum mengangguk. “Kalau memang dia punya pasangan, menurutku itu bagus.” “Benar, kan?” Sasa terlihat senang. “Aku pasti mendukungnya. Aku ingin Kak Kenzo punya kehidupan pribadi yang menyenangkan, bukan hanya sibuk mengurus pekerjaan dan mengkhawatirkan orang lain.” “Kalau begitu, semoga saja ada perempuan yang cukup sabar untuk menghadapi sifatnya.” Sasa langsung tertawa. “Memangnya Kak Kenzo sesulit itu?” “Kamu sendiri tahu bagaimana sifat kakakmu.” Sasa mengangguk sambil menahan senyum. “Memang terkadang dia keras kepala. Tapi Kak Kenzo juga sebenarnya perhatian.” “Aku tidak menyangkal itu. Hanya saja, kalau dia punya pasangan, mungkin perhatiannya bisa terbagi.” Sasa menoleh
"Iya. Menurut Mas, apa itu mungkin?" Sasa memiringkan kepala, benar-benar menunggu jawaban suaminya. Javendra mencibir kecil. "Orang sekaku dan seseram Kenzo begitu, bagaimana bisa punya kekasih? Yang ada, wanita mana pun mungkin langsung ingin kabur setelah lima menit berhadapan dengannya." Sasa spontan tertawa mendengar jawaban itu. Ia bisa membayangkan betapa seriusnya wajah Kenzo saat menghadapi orang lain, terutama ketika sedang membicarakan pekerjaan. Namun, ia juga merasa tidak adil jika kakak iparnya itu terus-menerus dianggap tidak mungkin memiliki hubungan asmara hanya karena sifatnya yang dingin. "Mas, Kak Kenzo memang dingin, tetapi bukan berarti dia tidak bisa jatuh cinta," sanggah Sasa sambil tersenyum. "Siapa tahu sebenarnya ada seseorang yang bisa membuatnya berubah." "Kalau memang ada, aku ingin tahu siapa wanita yang cukup berani menghadapi sifatnya setiap hari," balas Javendra tanpa kehilangan nada sinisnya. "Itu saja sudah pantas mendapat penghargaan."
Javendra segera mengarahkan perhatian pada ponselnya. "Halo, Kenzo." Suara Kenzo terdengar dari seberang. Mereka berbicara mengenai persiapan kedatangan Sasa dan Javendra ke mansion Aldebaran, termasuk kesiapan tim medis yang akan membantu memastikan kondisi ayah Sasa tetap terpantau selama berada di sana. Javendra mendengarkan dengan saksama, sesekali mengajukan pertanyaan untuk memastikan tidak ada persiapan yang terlewat. Setelah mendapat penjelasan yang dibutuhkan, ia mengangguk meskipun Kenzo tidak dapat melihatnya. "Baik. Kalau begitu, kami akan bersiap berangkat sesuai rencana." Panggilan berakhir beberapa saat kemudian. Javendra meletakkan ponselnya di atas meja, lalu menoleh kepada Sasa dan Amara. "Semuanya sudah beres," katanya. "Kenzo sudah menginstruksikan tim medis di mansion Aldebaran untuk mempersiapkan kedatangan kita. Kita tinggal bersiap-siap berangkat." Wajah Sasa langsung kembali cerah. Ia meremas jemari Amara dengan antusiasme yang sulit disembunyikan.
Setelah mengutarakan keinginannya, Sasa menatap Javendra dengan sorot mata penuh harap. Sejak mengetahui kondisi ayahnya dan berbagai hal yang terjadi di keluarga Aldebaran, kerinduan itu terus memenuhi pikirannya. Ia ingin melihat Tuan Aldebaran secara langsung, memeluknya, dan memastikan sendiri bagaimana keadaan pria yang begitu disayanginya itu. Meskipun sempat mendengar kabar mengenai kondisi sang ayah, mendengar penjelasan dari orang lain tidak pernah benar-benar menggantikan keinginannya untuk berada di sisi pria tersebut. Sasa kemudian meraih tangan Javendra yang berada di dekatnya. "Apakah Mas Javen mengizinkanku pergi menemui Ayah?" Javendra tidak menunjukkan keberatan. Ia memahami betapa besar kerinduan Sasa terhadap ayahnya, terlebih setelah berbagai kejadian yang membuat mereka harus menjalani hari-hari penuh kecemasan. Pria itu tersenyum tenang, merangkul bahu istrinya, lalu mengusap puncak kepalanya dengan penuh pengertian. "Tentu saja aku mengizinkanmu,
"Selamat pagi, Ibu," jawab Sasa dan Javendra hampir bersamaan. Amara melangkah mendekat. Perhatiannya segera tertuju pada Sasa, yang wajahnya tampak lebih segar dibandingkan hari-hari sebelumnya. Ia mengulurkan tangan untuk mengelus pipi menantunya dengan lembut. "Bagaimana keadaanmu pagi ini, Nak? Ada yang terasa tidak nyaman?" Sasa menggeleng sambil tersenyum. "Aku merasa sehat, Ibu. Tidurku juga nyenyak." "Syukurlah." Amara tampak lega. "Kalau begitu, mari kita sarapan. Kamu harus tetap menjaga asupan makananmu." Amara kemudian membimbing Sasa menuju kursinya. Ia sendiri yang menarikkan kursi berbusa empuk untuk menantunya, lalu merapikan bantal sandaran di belakang punggung Sasa sebelum membiarkannya duduk. "Terima kasih banyak, Ibu," ucap Sasa tulus. Amara membalas dengan senyum penuh kasih sayang. Setelah memastikan posisi duduk Sasa nyaman, ia mengambil mangkuk porselen putih yang masih mengepulkan uap tipis. Ia menuangkan sup sarang burung walet yang dikombinasikan d
Udara kamar terasa sejuk, sementara suasana yang tenang memberikan kenyamanan setelah malam panjang yang mereka lalui bersama. Di atas ranjang berukuran besar, Javendra sudah lebih dahulu terbangun. Pria tegap itu duduk bersandar pada tumpukan bantal empuk, membiarkan sebelah lengannya menjadi alas kepala Sasa yang masih tertidur lelap di dadanya. Sesekali, Javendra menunduk untuk memperhatikan wajah istrinya. Ada senyum tipis yang terus bertahan di bibirnya, sesuatu yang belakangan ini jarang terlihat begitu lepas. Ketegangan yang biasanya membuat rahang dan dahinya tampak kaku kini tidak lagi kentara. Ia terlihat lebih segar, tenang, dan bersemangat menjalani pagi. Malam sebelumnya telah memberikan kelegaan bagi keduanya. Setelah berbulan-bulan berusaha menahan keinginan demi menjaga kehamilan Sasa, mereka akhirnya menemukan cara untuk tetap dekat dan saling memenuhi kebutuhan emosional tanpa mengabaikan kondisi sang istri. Perhatian dan ketulusan Sasa membuat Javendra merasa
Sasa menarik napas perlahan, mencoba mengumpulkan keberanian. "Tuan Javen, saya—" Tapi begitu Javendra mengangkat pandangannya dan menatapnya lekat, kata-kata Sasa langsung hilang. Ia ragu sejenak, lalu menggeleng pelan. "Tidak jadi, Tuan," katanya cepat, suaranya hampir hilang. Javendra mel
Sasa bingung sejenak saat Javendra menanyakan soal pijat. Ia tidak langsung menjawab, matanya sedikit melebar karena terkejut. "Eh … bisa, Tuan," jawabnya akhirnya. "Waktu masih tinggal sama ibu dulu, saya pernah diajarin pijat. Ibu saya tukang pijat di kampung, suka urut orang capek dan urut bayi
Javendra langsung menutup pintu dengan cepat begitu melihat keadaan Sasa. Sasa buru-buru memakai seragam baru dengan tangan gemetar. Ia benar-benar merasa bodoh sekali. Kenapa aku kelamaan ganti baju? Kenapa pula aku setuju ganti di sini? Tak sampai semenit kemudian, terdengar ketukan di pintu.
Javendra berdeham keras. Tangan kanannya cepat ditarik dari dada Sasa. "Kamu masih mau sampai kapan menduduki saya?" tanyanya dengan suara rendah dan datar. Sasa langsung tersentak. Wajahnya memerah hebat sampai ke leher. Ia buru-buru bangkit dari pangkuan Javendra, hampir tersandung lagi kar







