เข้าสู่ระบบDua ratus tumbal yang terdiri dari pria, wanita, tua, dewasa, anak-anak, hingga bayi terbaring tidak sadarkan diri di atas papan batu yang memanjang.Api merah seketika menyala di sekeliling ruangan. Sepuluh patung muncul dari bawah, lima berada di sisi kiri dan lima lagi di sisi kanan.Setelah kemunculan sepuluh patung setinggi pria dewasa itu, tanah mendadak berguncang hebat. Beberapa pecahan batu berjatuhan dari atap gua.Sebuah patung berukuran raksasa setinggi Jurig Lolong muncul di tengah-tengah ke sepuluh patung. Patung itu menunjukkan raut kemarahan yang begitu jelas. Terdapat empat tanduk besar di kepalanya, dua sayap kelelawar yang membentang luas hingga menutupi ke sepuluh patung, memiliki empat tangan di mana kedua tangan kanan memegang pedang dan dua tangan kiri memegang perisai berduri, tak lupa dengan ekor besar serupa ekor buaya.Nyi Genit melompat dan mendarat di sebuah lingkaran batu di depan patung batu siluman Tangkurak Hideung. Ia segera berlutut dengan senyuman
“Aku memang mencium aroma Gusti Totok Surya dari dalam tubuhmu,” sahut suara seseorang yang menggema di seluruh tuangan.Batu-batu tajam mulai tertarik ke dalam tanah dan atap kembali, memberi ruang cukup untuk Nyi Genit kembali bergerak.Sekelompok kelelawar mendadak muncul dari dalam tanah, berkumpul dan menyatu hingga akhirnya berubah wujud menjadi serang siluman hitam.“Ikuti aku sekarang. Aku akan menunjukkan tempat di mana kau bisa berjumpa dengan tubuh asliku. Kau harus memberiku tumbal berupa dua ratus manusia.”Nyi Genit dengan cepat menyahut, “Aku sudah menyiapkan tumbal sebanyak itu sesuai dengan keinginanmu. Sekarang, tunjukkan aku tempatnya sebelum orang-orang golongan putih itu berhasil memasuki ruangan ini dan menghentikanku.”“Jangan berani memerintahku!” teriak sosok itu menggelegar hingga mengguncang atap, dinding, dan tanah gua.“Mengertilah keadaanku sekarang. Jika kau terus membuang waktu, orang-orang itu akan menangkapku dan kau tidak akan bisa bangkit lagi selam
Pertarungan Tarusbawa dan Limbur Kancana dengan Nyi Genit terus berlangsung di dekat pintu gerbang utama.Tarusbawa terus berusaha menarik Nyi Genit dengan kendinya, sedangkan Limbur Kancana melayangkan serangan jarak jauh bertubi-tubi pada siluman wanita itu.Nyi Genit berlindung di dekat pintu gerbang. Empat ikat selendangnya mencengkeram pintu gerbang dengan kuat, empat ikat lain menerobos masuk ke dalam tanah, empat ikat lain menempel di langit-langit gua, dan empat selendang lain berusaha menangkis serangan para tiruan Limbur Kancana. Tarikan angin kencang terus menari Nyi Genit ke arah kendi. Meski begitu, siluman wanita itu tidak menyerah begitu saja. Ia bertahan sekuat tenang meski beberapa serangan Limbur Kancana berhasil melukainya.Nyi Genit meringis kesakitan saat sedikit demi sedikit tertarik ke arah kendi. “Terkutuk! Kenapa tarikan kendi itu sangat kuat? Aku bahkan ....”Nyi Genit mulai muntah darah hingga terbatuk berkali-kali. “Aku tidak boleh gagal menjalankan tugas
Lingga dan Maung Jaya segera melesat cepat menuju pintu gerbang tengkorak. Ketika Jurig Lolong menyerbu dari depan, Lingga dan Maung Jaya mengeluarkan satu harimau mereka untuk menarik si Jurig Lolong ke belakang.Bersamaan dengan si Jurig Lolong yang terseret ke laut, Lingga dan Maung Jaya berhasil memasuki gerbang tengkorak.“Terkutuk!” Jatna dan Ratih Ningsih terpental hingga menabrak batu karang. Keduanya segera mengeluarkan jurus untuk menjauh dua harimau milik Maung Jaya.Danuseka dan Darmasena segera menghampiri Jatna dan Ratih Ningsih.“Apa yang harus kita lakukan sekarang?” tanya Danuseka, “Lingga dan siluman harimau itu berhasil memasuki gerbang tengkorak. Nyi Genit pasti berada dalam bahaya.”“Pasukan pendekar golongan putih semakin mendekati Batu Nangkarak. Mereka dalam waktu dekat akan tiba di tempat kita. Kita tidak mungkin bisa menahan mereka, apalagi mereka memiliki kendi pengisap itu,” ujar Darmasena.Jatna mendengkus kesal, menepis kasar tangan Danuseka. “Kalian berd
Pasukan siluman harimau seketika menerjang maju ke arah pasukan siluman hitam dan pendekar golongan hitam. Wirayuda sebagai pemimpin pasukan segera memberi tanda untuk menyerang. Suara teriakan para pendekar seketika menggema, disusul derap langkah kaki, dan debu yang terbang ke berbagai arah.Para pendekar muda melemparkan bibit hijau ke arah laut, dan seketika saja bibit-bibit itu berubah menjadi sulur tanaman yang bergerak cepat membentuk jembatan yang menghubungkan pantai dengan Batu Nangkarak.Jatna dan Ratih Ningsih melancarkan serangan dari arah Batu Nangkarak, disusul oleh Danuseka, Darmasena, dan pendekar-pendekar golongan hitam lainnya.Wira memilih untuk tetap berada di barisan paling belakang, beberapa kali menoleh pada pintu gerbang tengkorak yang masih dijaga ketat oleh Jurig Lolong yang tersisa.“Kita berangkat sekarang,” ujar Lingga pada Maung Jaya.Lingga dan Maung Jaya mengentak tubuh bersamaan, melesat cepat di atas pasukan yang terus berlari di jembatan tanaman. Sa
“Kau akhirnya bangun,” ujar Maung Jaya.Lingga bergegas turun dari batu, mengamati semua bangsa siluman harimau yang berada di sekelilingnya. Tatapannya tiba-tiba tertuju pada sebuah kolam berair jernih di dekatnya.“Kolam itu seperti Talaga Asri,” gumam Lingga.“Kami membawamu ke Cai Kahuripan. Kolam itu memiliki kekuatan untuk menyembuhkan luka dengan cepat. Seperti yang kau gumamkan sebelumnya, kolam ini memiliki kemampuan yang nyaris sama dengan Talaga Asri.”“Kau tahu soal Talaga Asri?” Lingga seketika menatap Maung Jaya, menggelengkan kepala berkali-kali. Ia segera memeriksa keadaan dirinya dan menyadari kalau semua lukanya sudah sembuh. Rasa lelahnya juga menghilang.“Kenapa kalian membawaku ke tempat ini untuk menyembuhkanku? Kalian seharusnya menyerangku di saat aku sudah tidak sadar. Aku sudah mengambil mustika itu dari bangsa kalian.”Maung Jaya tersenyum. “Mustika itu sejak awal adalah milikmu. Kami, bangsa siluman harimau, hanya diperintahkan untuk menjaganya.”“Apa maksu
Ki Petot memulai serangan dengan melempar tongkat. Benda itu memutar seperti gangsing ke arah lawan. Kartasura menghindar dengan cara melakukan salto sebanyak tiga kali ke belakang.“Kau mengarahkan tongkatmu ke mana, Aji Panday?” Kartasura tersenyum mengejak bersamaan dengan t
“Lingga!” sentak Ki Petot dengan suara tertahan. Matanya seakan ingin melompat dari tempatnya. Lingga dengan cepat berdiri, menepuk-nepuk baju dan celana. “Punteun, Ki,” ucapnya takut. Pandangan para murid segera tertuju pada Lingga dan Ki Petot. Sepertinya bocah pelayan
Malam kian menggurita di pedalaman hutan Ledok Beurit. Bulan purnama tampak menggantung di cakrawala, memantulkan cahaya keemasan. Langit terlihat cerah dari jajahan awan. Di salah satu pohon yang tak jauh dari padepokan, Lingga tengah duduk di dahan paling tinggi. Dari tempatnya saat ini
Padepokan Maung Bodas Langit sudah bersolek lembayung ketika seorang anak laki-laki baru tiba di depan sebuah padepokan. Tampak halaman bangunan itu dipenuhi murid-murid persilatan yang tengah berlatih secara berpasang-pasangan. Ketika mentari sudah sepenuhnya terlelap di







