แชร์

BAB 6 Jamuan Para Bangsawan

ผู้เขียน: Ara Azzahra
last update วันที่เผยแพร่: 2026-09-07 12:23:40

Selene tidak pernah membayangkan bahwa sebuah kastel bisa terasa lebih menakutkan daripada hutan yang dipenuhi vampir, namun ternyata bisa. Bahkan jauh lebih menakutkan. Langkah kakinya terdengar pelan di sepanjang koridor panjang Kastel Noctis.

Tok.

Tok.

Tok.

Lantai marmer hitam memantulkan bayangan mereka. Dinding-dinding tinggi dihiasi lukisan para bangsawan yang tidak Selene kenal. Sebagian besar wajah dalam lukisan itu tampak terlalu sempurna untuk disebut manusia.

Mata mereka...semuanya berwarna merah.

Selene berusaha tidak menatap terlalu lama, tapi semakin ia mencoba mengabaikan lukisan-lukisan itu, semakin ia merasa seolah-olah mata mereka mengikuti langkahnya. Ia mempercepat langkahnya sedikit. Eric berjalan beberapa meter di depannya. Ia tidak banyak bicara sejak mereka memasuki kastel. Lucien berada di belakang Selene. Sementara Lorcan, kepala pelayan yang tadi menyambut mereka, berjalan di sisi lain dengan sikap tenang.

"Kamarku masih jauh?"

Selene akhirnya bertanya.

Lorcan tersenyum tipis.

"Tidak lama lagi, Nona."

Selene mengangguk.

"Syukurlah."

Ia menoleh ke kanan. Ada satu lukisan wanita cantik bergaun putih. Selene kembali melihat ke depan. Lima langkah kemudian, ia menoleh lagi. Wanita dalam lukisan itu sepertinya tersenyum.

Selene berhenti.

"...Tadi dia senyum, ya?"

Lucien ikut berhenti.

"Apa?"

Selene menunjuk lukisan itu.

"Itu."

Lucien memandangnya lalu menggeleng.

"Tidak."

Selene menatap lukisan tersebut. Wanita itu kini terlihat sama seperti sebelumnya. Dingin, anggun dan tanpa ekspresi.

"Oh."

Selene mengusap lengannya sendiri.

"Mungkin aku cuma terlalu capek."

Eric yang sejak tadi berjalan di depan akhirnya berhenti.

Ia menoleh.

"Kau takut?"

Selene langsung menggeleng.

"Tidak."

Eric menatapnya. Tatapan itu membuat Selene sadar bahwa jawabannya terdengar terlalu cepat.

Ia menghela napas.

"Hmmm...Sedikit."

Eric kembali berjalan. Ia tidak mengejek atau berkata apapun. Hanya beberapa detik kemudian, langkahnya melambat. Cukup agar Selene bisa berjalan sejajar dengannya. Hal kecil itu tidak luput dari perhatian Lucien, namun ia memilih diam.

---

Kamar Selene berada di sayap timur kastel. Ketika pintu dibuka, Selene langsung berhenti. Matanya membesar. Ruangan itu sangat luas.

Ada tempat tidur besar dengan tirai merah tua, perapian batu, lemari pakaian, meja belajar, sofa, dan jendela tinggi yang menghadap taman kastel. Bahkan ada kamar mandi pribadi. Selene berjalan perlahan masuk.

"Ini..."

Ia menoleh kepada Lorcan.

"Kamarku?"

"Benar, Nona."

Selene memandang tempat tidur kemudian beralih ke meja, jendela Kemudian kembali kepada Lorcan.

"Ini kamar tamu?"

"Ya."

Selene menelan ludah.

"Kalau ini kamar tamu..."

Ia menatap langit-langit.

"...kamar utama sebesar apa?"

Lorcan tersenyum kecil.

"Jauh lebih besar."

Selene mengangguk pelan.

"Oke."

Ia berjalan menuju tempat tidur. Tangannya menyentuh permukaan kasur yang lembut. Untuk pertama kalinya sejak malam itu dimulai, tubuhnya benar-benar menyadari betapa lelahnya ia. Ia hampir menjatuhkan diri ke kasur, namun sebuah suara menghentikannya.

"Jangan tidur dulu."

Selene menoleh.

Eric berdiri di dekat pintu.

"Kenapa?"

"Kau belum diperiksa."

"Untuk apa?"

Eric tidak langsung menjawab. Tatapannya jatuh ke leher Selene. Ke arah tanda berbentuk bulan sabit yang masih samar terlihat di sana.

"Tanda itu."

Selene refleks menutup lehernya dengan tangan.

"Ini?"

Eric mengangguk.

"Lucien akan memanggil tabib."

Selene langsung mengerutkan dahi.

"Tabib vampir?"

"Ya."

"Dia nggak akan..."

Selene berhenti.

"Apa?"

"Meminum darahku kan?"

Lucien yang berdiri di belakang hampir tersenyum. Lorcan bahkan menundukkan kepala untuk menyembunyikan ekspresinya.

Eric hanya menatap Selene datar.

"Dia tabib."

"Tapi tetap saja dia dari bangsa kalian. Apa tabib vampir tidak minum darah manusia?"

"Tidak," jawab Eric singkat.

"O, oh baiklah."

Selene mengangguk kemudian mengusap wajahnya.

"Maaf. Malam ini aku masih belum terbiasa dengan fakta bahwa vampir ternyata punya rumah sakit."

Eric memandangnya beberapa detik kemudian berbalik.

"Beristirahatlah."

Pintu tertutup.

Selene menatap pintu itu lalu berbisik.

"Dia kalau bicara memang irit banget, ya."

Lucien yang masih berada di dalam kamar mendengarnya.

"Yang Mulia memang seperti itu."

Selene menoleh.

"Kamu sudah berapa lama mengenalnya?"

Lucien terdiam sejenak.

"Lebih dari tiga abad."

Selene membelalak.

"Tiga..."

Ia menghitung dalam hati.

"...ratus tahun?"

Lucien mengangguk.

Selene menatapnya dari ujung kepala sampai kaki.

"Berarti umurmu..."

Lucien tersenyum tipis.

"Itu pertanyaan yang tidak sopan."

Selene langsung mengangguk.

"Benar."

Ia berbalik.

"Tidak jadi."

Lucien mengangkat alis.

"Bagus."

Selene duduk di tepi tempat tidur lalu bertanya pelan.

"Pak Lucien."

"Ya?"

"Eric  itu benar-benar raja kalian?"

"Ya."

"Dan semua vampir tadi takut kepadanya?"

"Sebagian besar."

"Sebagian besar?"

Lucien terdiam.

Selene langsung menatapnya.

"Apa ada juga yang tidak takut?"

Tatapan Lucien berubah sedikit lebih serius.

"Selene."

"Ya?"

"Jangan terlalu banyak bertanya tentang politik kerajaan."

"Kenapa?"

"Karena semakin banyak yang kau ketahui, semakin banyak pihak yang akan menganggapmu ancaman."

Selene terdiam lalu ia menundukkan kepala.

"Aku tidak bermaksud begitu. Aku bahkan tidak tahu kenapa mereka tiba-tiba mengejarku."

Lucien tidak menjawab.

Selene mengusap lambang di lehernya.

"Aku hanya ingin pulang dan tidak ingin terlibat dengan dunia seperti ini. "

Kalimat itu sederhana.

Namun terdengar begitu lelah.

Lucien menatapnya beberapa saat.

"Aku mengerti."

Selene mengangkat kepala.

"Benarkah?"

Lucien mengangguk.

"Karena itu jangan kehilangan harapan."

---

Dua jam kemudian, Selene masih belum tidur. Ia berdiri di depan jendela. Taman kastel terlihat indah di bawah cahaya bulan, tapi sesuatu terasa aneh. Tidak ada satu pun burung ataupun suara jangkrik. Bahkan angin pun terasa terlalu tenang.

Selene menyentuh kaca jendela. Rasanya dingin, sangat dingin.

Tiba-tiba...

Tok.

Selene tersentak.

Ia menoleh.

Tidak ada siapa-siapa.

Tok.

Kali ini terdengar lebih jelas dari arah jendela. Selene mendekat perlahan. Tangannya gemetar.

Ia membuka tirai.

Tidak ada apa-apa.

Hanya taman.

Selene mengembuskan napas lega.

"Mungkin itu ranting."

Ia baru saja hendak berbalik...Ketika suara perempuan terdengar dari belakang.

"Selene."

Selene membeku.

Tubuhnya perlahan berbalik. Seorang wanita berdiri di dekat pintu. Rambut hitam panjang memakai gaun merah gelap. Wajahnya cantik.

Sangat cantik.

Wanita itu memiliki mata yang berwarna merah. Selene mundur satu langkah.

"Kamu siapa?"

Wanita itu tersenyum.

"Isolde Veyra."

Selene mengingat sosok yang dilihatnya dari balkon sebelumnya. Jantungnya kembali berdetak lebih cepat.

"Kau yang tadi..."

"Di balkon?"

Isolde menyelesaikan kalimatnya.

Selene mengangguk pelan.

"Ya."

Isolde masuk ke kamar tanpa meminta izin.

Selene secara refleks mundur.

"Apa yang kau mau?"

Isolde tersenyum.

"Aku hanya ingin melihatmu."

"Kenapa?"

"Karena selama berabad-abad, tidak ada manusia yang pernah dibawa masuk ke kastel ini."

Selene terdiam.

Isolde berjalan perlahan mendekat.

"Terlebih lagi..."

Tatapannya jatuh ke leher Selene.

"...manusia yang membawa tanda Blood Moon."

Selene refleks menutup lehernya.

"Semua orang tahu soal itu?"

"Tidak."

Isolde berhenti beberapa langkah di depannya.

"Hanya orang-orang tertentu."

"Termasuk kau?"

"Termasuk aku."

Selene menatapnya hati-hati.

"Apa Blood Moon itu?"

Isolde tidak menjawab.

Ia justru tersenyum tipis.

"Kau belum tahu?"

Selene menggeleng.

"Kalau tahu, aku tidak akan bertanya."

Isolde tertawa pelan. Untuk sesaat, wanita itu tampak sangat ramah.

Namun kemudian...

"Bagus."

Selene mengerutkan dahi.

"Bagus?"

"Karena terkadang ketidaktahuan adalah satu-satunya alasan seseorang bisa bertahan hidup."

Selene merasakan bulu kuduknya berdiri.

"Apa maksudmu?"

Isolde berbalik.

Sebelum keluar, ia berhenti di ambang pintu.

"Besok malam akan ada jamuan."

"Jamuan?"

"Seluruh bangsawan kerajaan akan hadir dan pastikan kau datang dengan menutupi ekspresi ketakutanmu itu."

Selene menatapnya.

"Kenapa aku harus datang?"

Isolde menoleh.

Senyumnya masih sama. Anggun, tenang dan angkuh.

"Karena mereka semua ingin melihat perempuan yang membuat Raja Malam melanggar aturan selama sembilan abad."

Selene membeku.

"Melanggar aturan?"

Isolde hanya tersenyum.

"Selamat malam, Selene."

Pintu tertutup.

Selene berdiri sendirian. Jantungnya berdetak keras.

Apa yang sebenarnya Eric lakukan?

Dan mengapa semua orang seolah menganggap kehadirannya di kastel sebagai sesuatu yang jauh lebih besar daripada yang ia pahami?

---

Di sisi lain kastel...Eric berdiri di depan jendela ruang kerjanya. Lucien masuk tanpa mengetuk.

"Yang Mulia."

Eric tidak menoleh.

"Bagaimana kondisinya?"

"Selene sudah berada di kamarnya."

"Tabib di mana?"

"Sedang menuju ke sana."

Eric mengangguk.

Lucien terdiam beberapa saat kemudian berkata, "Tadi Isolde datang menemuinya."

Eric langsung menoleh.

"Apa? kapan?"

"Beberapa menit lalu."

Ekspresi Eric berubah.

"Kenapa kau membiarkannya?"

Lucien menatapnya.

"Dia tidak menyentuh Selene."

Eric diam, namun sorot matanya berubah semakin gelap.

Lucien melanjutkan.

"Yang Mulia..."

"Apa?"

"Anda tahu siapa Isolde."

Eric berjalan menuju meja.

"Tentu."

"Dan Anda tahu apa yang dia inginkan."

Eric tidak menjawab.

Lucien menarik napas.

"Kalau begitu, mengapa Anda membiarkannya tinggal di kastel?"

Eric berhenti.

Beberapa detik berlalu.

"Karena aku ingin tahu..."

Ia menatap keluar jendela.

"...siapa yang pertama kali bergerak."

Lucien memahami maksudnya.

Dewan Bangsawan. Mereka telah menunggu. Selama bertahun-tahun menunggu kelemahan Raja mereka dan kemunculan Blood Moon...memberikan mereka alasan untuk mulai bergerak.

"Kalau mereka tahu tentang Selene..."

"Mereka sudah tahu."

Lucien mengerutkan dahi.

"Secepat itu?"

Eric menatap bulan purnama di langit.

"Berita tentang Blood Moon tidak pernah berjalan lambat."

Seketika, lonceng kastel berbunyi.

GONG!

Lucien langsung menoleh ke arah jendela.

"Itu..."

"Jamuan dewan."

Eric berjalan mengambil mantel hitamnya.

"Mulai malam ini. Selene bukan lagi tamu."

Lucien menatapnya.

"Lalu apa?"

Eric berhenti di depan pintu.

Tatapannya dingin.

"Dia adalah pusat permainan."

Dan di lantai atas Kastel Noctis, Selene berdiri di depan cermin. Ia menatap pantulan dirinya sendiri. Lambang merah keperakan di lehernya kembali berdenyut beberapa kali.

Kemudian...Untuk sesaat, pantulan di cermin bukan lagi wajahnya. Melainkan seorang wanita berpakaian putih yang berdiri di belakangnya.

Selene membeku.

Ia berbalik cepat.

Tidak ada siapa-siapa.

Ketika kembali melihat cermin, wanita itu sudah menghilang. Tiba-tiba sebuah suara perempuan berbisik dari dalam kepalanya.

"Kau akhirnya kembali."

Selene menutup mulutnya. Air mata langsung menggenang. Ia tidak tahu siapa perempuan itu. Tidak tahu apa maksudnya an yang paling menakutkan...Ia tidak tahu mengapa suara itu terdengar begitu familiar.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Pengantin Raja Malam   Bab 9 Alpha dan Luna

    Selene tidak mampu bergerak. Jantungnya berdetak begitu keras sampai telinganya berdenging.“A-apa...?”Suaranya hampir tidak terdengar. Ia menatap makhluk di hadapannya, lalu perlahan mengangkat wajah. Puluhan pasang mata menatapnya. Para vampire, bangsawan, penjaga, semuanya.Dan untuk pertama kalinya sejak memasuki Kastel Noctis, Selene berharap dirinya bisa bangun dari mimpi buruk.Sayangnya...Ini nyata.“Lucien.”Suara Eric terdengar rendah. Lucien langsung maju.“Yang Mulia.”“Bawa Selene ke belakangku.”Lucien mengangguk, namun sebelum ia sempat bergerak, suara lain terdengar dari sisi aula.“Jangan coba-coba.”Semua kepala menoleh.Kael berdiri di antara para werewolf. Ia berbeda dari yang lain. Tidak ada perubahan bentuk mengerikan pada tubuhnya. Ia masih tampak seperti seorang pria tampan, tinggi, dengan rambut hitam yang sedikit berantakan. Tatapan matanya berwarna emas terang, seperti binatang yang sedang mengamati mangsanya tetapi yang membuat Selene semakin takut bukan p

  • Pengantin Raja Malam   BAB 8 Bulan Darah

    Tidak ada seorang pun yang bergerak. Bahkan suara napas pun seolah menghilang dari aula. Selene berdiri di tengah ruangan dengan wajah pucat, menatap bulan di balik jendela besar. Bulan yang beberapa menit lalu berwarna putih keperakan kini berubah merah. Bukan merah samar.Merah pekat seperti darah.Cahaya merah itu menembus kaca dan jatuh tepat ke tubuh Selene. Lambang di lehernya menyala semakin terang.Deg.Selene tersentak.Rasa panas menjalar dari leher ke seluruh tubuhnya."Akh..."Tangannya mencengkeram sisi gaunnya.Eric langsung berdiri."Selene."Itu pertama kalinya suaranya terdengar berbeda. Bukan dengan nada dingin. Bukan juga ketenangan. Ada urgensi di sana.Selene mengangkat wajah."Aku..."Napasnya tersengal."Kenapa tubuhku panas?"Eric bergerak turun dari tempatnya, namun sebelum ia sempat mendekat, seorang bangsawan berdiri."Jangan sentuh dia!"Eric berhenti.Pria itu menunjuk Selene dengan wajah penuh ketakutan."Blood Moon telah bangkit!"Bisikan kembali terdeng

  • Pengantin Raja Malam   BAB 7 Dia Kembali

    Selene masih berdiri di depan cermin.Tubuhnya kaku.Tangannya mencengkeram ujung gaun tidur yang diberikan pelayan beberapa jam lalu. Suara perempuan itu masih bergema di kepalanya.Kau akhirnya kembali."Aku..."Selene menelan ludah."...tidak pernah ke sini sebelumnya."Ia menatap pantulannya sendiri. Wajah pucat, mata sedikit sembap dan rambut berantakan. Tidak ada siapa-siapa di belakangnya.Namun kalimat itu terlalu nyata untuk disebut mimpi.Selene mendekati cermin. Ia menyentuh permukaannya. Rasanya dingin, sangat dingin."Kalau aku benar-benar pernah datang ke sini..."Ia mengerutkan dahi."Kenapa aku tidak ingat?"Tidak ada jawaban.Lambang di lehernya tiba-tiba berdenyut.Deg.Selene tersentak dan langsung menarik tangannya."Astaga..."Ia menutup leher dengan telapak tangan."Apa sebenarnya kamu ini?"Untuk pertama kalinya, ia berbicara kepada tanda itu seolah tanda tersebut bisa menjawab.Tentu saja tidak.Selene mengembuskan napas."Oke."Ia berjalan menjauh dari cermin.

  • Pengantin Raja Malam   BAB 6 Jamuan Para Bangsawan

    Selene tidak pernah membayangkan bahwa sebuah kastel bisa terasa lebih menakutkan daripada hutan yang dipenuhi vampir, namun ternyata bisa. Bahkan jauh lebih menakutkan. Langkah kakinya terdengar pelan di sepanjang koridor panjang Kastel Noctis.Tok.Tok.Tok.Lantai marmer hitam memantulkan bayangan mereka. Dinding-dinding tinggi dihiasi lukisan para bangsawan yang tidak Selene kenal. Sebagian besar wajah dalam lukisan itu tampak terlalu sempurna untuk disebut manusia.Mata mereka...semuanya berwarna merah.Selene berusaha tidak menatap terlalu lama, tapi semakin ia mencoba mengabaikan lukisan-lukisan itu, semakin ia merasa seolah-olah mata mereka mengikuti langkahnya. Ia mempercepat langkahnya sedikit. Eric berjalan beberapa meter di depannya. Ia tidak banyak bicara sejak mereka memasuki kastel. Lucien berada di belakang Selene. Sementara Lorcan, kepala pelayan yang tadi menyambut mereka, berjalan di sisi lain dengan sikap tenang."Kamarku masih jauh?"Selene akhirnya bertanya.Lorc

  • Pengantin Raja Malam   BAB 5 Kastel Sang Raja Malam

    Kabut perlahan menghilang. Tidak ada lagi suara benturan pedang, tidak ada lagi teriakan. Hutan yang beberapa saat lalu dipenuhi pertempuran kini kembali sunyi, menyisakan batang-batang pohon yang tumbang dan tanah yang dipenuhi bekas tebasan.Selene masih berdiri mematung. Ujung jarinya menyentuh lambang bulan sabit di lehernya. Kulit itu terasa hangat, sangat nyata."Apa... ini benar-benar ada?"Tak ada yang menjawab.Para vampir yang tadi mengepung mereka telah menghilang satu per satu setelah mendapat isyarat dari wanita bergaun hitam. Sebelum pergi, wanita itu sempat menatap Selene cukup lama. Tatapan yang membuat bulu kuduknya meremang."Aku akan datang menjemputmu lagi."Kalimat itu masih terngiang di telinganya. Selene menarik napas panjang."Aduh, kakiku..."Ia mencoba melangkah, namun lututnya mendadak kehilangan tenaga. Tubuhnya limbung.Bruk.Ia terduduk di tanah yang basah bukan karena terluka. Melainkan karena tubuhnya akhirnya menyerah setelah menahan ketakutan sejak ta

  • Pengantin Raja Malam   BAB 4 Kemunculan Blood Moon

    Puluhan pasang mata merah menyala di balik kabut. Selene tidak lagi mampu menghitung jumlahnya. Mungkin ada lima puluh pasang mata atau lebih. Ia tidak bisa menghitungnya lagi karena semakin lama semakin banyak mereka berdatangan. Mereka berdiri diam di antara pepohonan, seolah sedang menunggu sebuah perintah. Hujan yang semula hanya berupa rintik kini benar-benar berhenti. Hutan berubah sunyi, begitu sunyi hingga Selene bisa mendengar detak jantungnya sendiri."Yang Mulia..."Pria berambut perak menundukkan kepala sedikit."Mereka semua mulai berdatangan."Eric tidak menoleh. Tatapannya tetap lurus ke depan."Berapa banyak?""Lebih dari lima puluh."Selene spontan menoleh."Lima puluh?"Suaranya hampir tidak terdengar."Yang lima puluh itu... semuanya seperti kalian?"Pria berambut perak mengangguk pelan. Selene merasakan lututnya semakin lemas."Aku bahkan tidak sanggup menghadapi satu...Bagaimana mungkin ada lima puluh?"Ia memejamkan mata sejenak, berusaha mengatur napas seperti y

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status