เข้าสู่ระบบSelene masih berdiri di depan cermin.
Tubuhnya kaku.
Tangannya mencengkeram ujung gaun tidur yang diberikan pelayan beberapa jam lalu. Suara perempuan itu masih bergema di kepalanya.
Kau akhirnya kembali.
"Aku..."
Selene menelan ludah.
"...tidak pernah ke sini sebelumnya."
Ia menatap pantulannya sendiri. Wajah pucat, mata sedikit sembap dan rambut berantakan. Tidak ada siapa-siapa di belakangnya.
Namun kalimat itu terlalu nyata untuk disebut mimpi.
Selene mendekati cermin. Ia menyentuh permukaannya. Rasanya dingin, sangat dingin.
"Kalau aku benar-benar pernah datang ke sini..."
Ia mengerutkan dahi.
"Kenapa aku tidak ingat?"
Tidak ada jawaban.
Lambang di lehernya tiba-tiba berdenyut.
Deg.
Selene tersentak dan langsung menarik tangannya.
"Astaga..."
Ia menutup leher dengan telapak tangan.
"Apa sebenarnya kamu ini?"
Untuk pertama kalinya, ia berbicara kepada tanda itu seolah tanda tersebut bisa menjawab.
Tentu saja tidak.
Selene mengembuskan napas.
"Oke."
Ia berjalan menjauh dari cermin.
"Besok aku akan cari tahu."
Baru dua langkah dia berjalan menjauhi dari cermin, tiba-tiba...
Tok. Tok. Tok.
Selene berhenti. Ketukan terdengar dari pint dan Jantungnya kembali melonjak.
"Siapa?" tanyanya ragu.
"Lucien."
Selene langsung menghela napas lega.
"Oh."
Ia berjalan ke arah pintu dan membukanya. Lucien tetap berdiri di luar dan berkata, "Yang Mulia memanggilmu."
Selene menatapnya.
"Sekarang?"
"Ya."
"Ini jam berapa?"
Lucien melihat jam besar di ujung koridor.
"Hampir tengah malam."
Selene terdiam.
"Apa dia tidak pernah tidur?"
Lucien menjawab datar.
"Raja tidak membutuhkan tidur sebanyak manusia."
"Oh."
Selene mengambil napas.
"Kalau begitu aku harus bagaimana?"
"Ikut saya."
Selene mengangguk, namun baru berjalan beberapa langkah, ia berhenti.
"Lucien," panggilanya.
"Ya?"
"Kalau nanti aku bertemu vampir lain..."
Selene ragu sesaat.
"Haruskah aku takut?"
Lucien menatapnya.
"Ya."
Jawaban itu terlalu cepat.
Selene berkedip.
"Kau jujur sekali."
"Kau itu manusia dan saya tidak punya alasan untuk berbohong."
Selene mengangguk pelan.
"Bagus."
Ia kembali berjalan.
"Tapi kalau aku tiba-tiba pingsan..."
Lucien menoleh.
"Ya?"
"Tolong jangan biarkan aku jatuh dengan wajah duluan."
Untuk pertama kalinya malam itu, Lucien tersenyum tipis.
"Saya akan berusaha."
---
Ruang kerja Eric berada di lantai paling atas. Lorong menuju ruangan itu jauh lebih sunyi dibanding bagian kastel lainnya. Tidak ada pelayan, tidak ada penjaga. Hanya lampu-lampu kecil yang menyala di sepanjang dinding.
Selene berhenti di depan pintu besar berwarna hitam. Lucien membuka pintu.
"Masuk."
Selene melangkah perlahan. Eric berdiri di dekat jendela. Punggungnya menghadap mereka. Bulan purnama terlihat jelas di belakang tubuhnya.
Selene sempat terpaku. Ada sesuatu yang aneh dari pemandangan itu. Eric terlihat seperti bagian dari malam. Bukan seseorang yang hidup di dalamnya melainkan seseorang yang memang diciptakan oleh kegelapan.
"Lucien."
"Ya, Yang Mulia."
"Keluar."
Lucien membungkuk.
"Baik."
Pintu tertutup.
Selene langsung merasa lebih gugup. Kini hanya ada dirinya dan Eric. Pria yang beberapa jam lalu mencekiknya sekaligus pria yang sama yang kemudian menyelamatkan hidupnya dan sekarang pria itu memanggilnya ke ruangan pribadi pada tengah malam.
Selene berdiri beberapa meter darinya. Eric tidak langsung berbicara. Ia mengambil sebuah buku tua dari meja.
"Besok malam ada jamuan."
Selene mengangguk.
"Isolde sudah memberitahuku."
Eric mengangkat mata.
"Dia datang ke kamarmu?"
"Ya."
"Dia mengatakan apa?"
Selene mengingat percakapan mereka.
"Katanya seluruh bangsawan ingin melihat perempuan yang membuat Raja Malam melanggar aturan selama sembilan abad."
Eric terdiam.
Selene mengamati wajahnya.
"Memangnya kamu melanggar aturan apa?"
"Aturan pertama."
"Apa?"
"Manusia dilarang memasuki Noctis."
Selene mengangguk.
"Selain itu?"
"Manusia dilarang mengetahui keberadaan kami."
Selene kembali mengangguk.
"Selain itu?"
Eric menatapnya.
"Kau banyak bertanya."
Selene langsung menunduk.
"Maaf."
Ia diam sebentar lalu bergumam,
"...tapi memang aku penasaran."
Eric tidak menjawab. Ia membuka buku tua di tangannya.
"Besok kau akan bertemu Dewan Bangsawan."
Selene menatapnya.
"Mereka akan membunuhku?"
"Jika mereka mendapat kesempatan."
Selene menelan ludah.
"Hebat."
Eric mengangkat alis tipis.
"Apa?"
Selene menghela napas.
"Aku baru satu hari masuk dunia kalian, tapi rasanya sudah punya banyak musuh."
Eric menutup buku.
"Itu semua karena darahmu."
Selene menyentuh lehernya.
"Blood Moon."
"Ya."
"Aku ingin tahu semuanya."
Eric menatapnya lama.
"Belum waktunya."
"Kenapa?"
"Karena jika kau mengetahui semuanya..."
Eric berhenti.
"...kau mungkin akan membenciku."
Selene terdiam.
Ada sesuatu dalam kalimat itu. Sesuatu yang membuat dadanya terasa aneh.
"Aku bahkan belum tahu siapa kamu sebenarnya."
Eric memalingkan wajah.
"Itu lebih baik."
Selene hendak bertanya lagi, namun Eric tiba-tiba berjalan mendekat. Selene refleks mundur beberapa langkah. Eric berhenti, tatapan mereka bertemu. Selene menyadari sesuatu sekarang Ia merasa takut.
Sangat takut.
Namun kali ini ia tidak melarikan diri.
Eric mengangkat tangannya perlahan. Selene menegang. Jari Eric berhenti beberapa sentimeter dari lehernya.
"Lambang itu."
Selene memegang lehernya.
"Kenapa?"
"Berdenyut."
"Aku juga merasakannya."
Eric menatap tanda itu.
"Kapan terakhir kali ia berdenyut?"
"Baru beberapa waktu yang lalu"
"Setelah apa?"
Selene berpikir.
"Setelah aku melihat..."
Ia berhenti.
"Melihat apa?"
"Cermin."
Ekspresi Eric berubah.
"Apa yang kau lihat?"
Selene menatapnya.
"Seorang wanita."
Ruangan mendadak terasa lebih dingin.
"Wanita seperti apa?"
"Rambutnya panjang."
"Putih?"
Selene menggeleng.
"Hitam."
Eric membeku.
Untuk pertama kalinya, Selene melihat sesuatu yang sangat samar di wajahnya.
Kekhawatiran.
"Eric?"
Eric berbalik.
"Jangan melihat cermin sendirian lagi."
Selene mengerutkan dahi.
"Kenapa?"
"Karena mungkin bukan bayanganmu yang akan melihatmu."
Selene terdiam.
"...Apa maksudnya?"
Eric tidak menjawab.
Ia hanya berjalan menuju pintu.
"Kembali ke kamarmu."
Selene mengikutinya dengan pandangan.
"Eric."
Pria itu berhenti.
"Terima kasih," ucap Selene tiba-tiba.
"Untuk apa?" Tanya Eric tanpa menoleh.
"Karena menyelamatkanku."
Hening.
Kemudian Eric menjawab pelan.
"Jangan berterima kasih."
"Kenapa?"
"Karena aku belum tahu apakah aku menyelamatkanmu..."
Ia menoleh sedikit.
"...atau justru membawamu menuju kematian."
Pintu terbuka dan Eric pergi. Selene masih tetap berdiri di tempat. Dadanya terasa sesak setelah mendengar ucapan Eric barusan.
---
Keesokan malamnya, Kastel Noctis berubah. Lampu kristal memenuhi aula utama. Meja panjang terbentang di tengah ruangan. Puluhan bangsawan vampir duduk di kedua sisi. Gaun-gaun mewah, jas hitam, perhiasan tua, pedang yang tergantung di pinggang. Semua tampak seperti berasal dari zaman berbeda.
Selene berdiri di ujung tangga. Ia mengenakan gaun hitam sederhana yang dipilih Lorcan. Rambutnya dibiarkan terurai. Tidak ada perhiasan berlebihan, namun lambang Blood Moon di lehernya tetap terlihat.
Ia menatap aula di bawah. Begitu para bangsawan melihatnya... Percakapan berhenti. Satu per satu kepala mulai menoleh. Puluhan mata merah tertuju kepadanya.
Selene menelan ludah.
"Oke.Jangan panik. Mereka cuma vampir."
Ia berhenti.
"Ya... justru itu masalahnya."
Selene menarik napas panjang.
Di sampingnya, Lucien berkata,
"Tenang."
"Aku sedang berusaha."
"Jangan menunjukkan ketakutan."
Selene menatapnya.
"Kalau aku tidak takut, itu malah aneh."
Lucien tidak bisa membantah.
Kemudian, Suara langkah kaki terdengar dari ujung aula. Semua bangsawan berdiri. Eric memasuki ruangan. Jubah hitam panjang menyapu lantai. Tatapannya dingin. Seluruh ruangan langsung hening. Eric berjalan menuju kursinya, namun sebelum duduk...Ia menoleh ke arah Selene.
"Ke sini."
Selene menatap tangga kemudian menatap puluhan vampir di bawah. Ia menarik napas lalu melangkah turun. Satu anak tangga ke satu anak tangga berikutnya. Setiap langkah terasa seperti berjalan menuju pengadilan.
Saat Selene sampai di tengah aula, seorang bangsawan pria berdiri.
"Yang Mulia."
Eric menoleh.
"Kami menuntut penjelasan."
"Atas dasar apa manusia itu berada di sini?"
Eric duduk perlahan.
"Dia berada di bawah perlindunganku."
Suasana langsung berubah. Bisikan terdengar di seluruh aula. Pria itu mengepalkan tangan.
"Dan apakah Yang Mulia lupa? Tidak ada manusia yang boleh masuk ke Noctis."
Eric menatapnya.
"Aku yang membuat hukum itu."
"Justru karena itu..."
Pria tersebut membungkuk.
"Rakyat berhak tahu mengapa Yang Mulia memilih melanggarnya."
Eric tidak menjawab.
Selene berdiri diam.
Kemudian sebuah suara perempuan terdengar dari sisi kiri aula.
"Lalu mengapa kita tidak bertanya langsung kepada gadis itu?"
Selene menoleh.
Isolde.
Wanita itu duduk anggun di antara para bangsawan. Gaun merah gelap.Rambut hitam panjang. Tatapan merahnya tenang. Ia tersenyum kepada Selene.
"Selamat datang di jamuan pertama Anda, Nona Selene."
Selene merasakan tenggorokannya kering,namun ia tetap mengangguk.
"Terima kasih."
Isolde menyandarkan tubuhnya.
"Lalu..."
Matanya turun ke leher Selene.
"Bisakah kau memberi tahu kami...siapa sebenarnya dirimu?"
Selene terdiam dan di saat yang sama...lambang Blood Moon di lehernya kembali menyala merah terang.
Seluruh bangsawan berdiri.
Seseorang berbisik ketakutan.
"Blood Moon..."
Eric langsung bangkit. Tatapannya berubah tajam. Karena dari seluruh penjuru aula...terdengar suara bisikan yang sama.
"Dia telah kembali."
Selene membeku.
Bukan hanya karena semua orang mengenali tanda itu tetapi karena...di balik jendela besar aula... Bulan purnama perlahan berubah warna menjadi warna merah darah dan malam itu Eric terlihat benar-benar takut.
Selene tidak mampu bergerak. Jantungnya berdetak begitu keras sampai telinganya berdenging.“A-apa...?”Suaranya hampir tidak terdengar. Ia menatap makhluk di hadapannya, lalu perlahan mengangkat wajah. Puluhan pasang mata menatapnya. Para vampire, bangsawan, penjaga, semuanya.Dan untuk pertama kalinya sejak memasuki Kastel Noctis, Selene berharap dirinya bisa bangun dari mimpi buruk.Sayangnya...Ini nyata.“Lucien.”Suara Eric terdengar rendah. Lucien langsung maju.“Yang Mulia.”“Bawa Selene ke belakangku.”Lucien mengangguk, namun sebelum ia sempat bergerak, suara lain terdengar dari sisi aula.“Jangan coba-coba.”Semua kepala menoleh.Kael berdiri di antara para werewolf. Ia berbeda dari yang lain. Tidak ada perubahan bentuk mengerikan pada tubuhnya. Ia masih tampak seperti seorang pria tampan, tinggi, dengan rambut hitam yang sedikit berantakan. Tatapan matanya berwarna emas terang, seperti binatang yang sedang mengamati mangsanya tetapi yang membuat Selene semakin takut bukan p
Tidak ada seorang pun yang bergerak. Bahkan suara napas pun seolah menghilang dari aula. Selene berdiri di tengah ruangan dengan wajah pucat, menatap bulan di balik jendela besar. Bulan yang beberapa menit lalu berwarna putih keperakan kini berubah merah. Bukan merah samar.Merah pekat seperti darah.Cahaya merah itu menembus kaca dan jatuh tepat ke tubuh Selene. Lambang di lehernya menyala semakin terang.Deg.Selene tersentak.Rasa panas menjalar dari leher ke seluruh tubuhnya."Akh..."Tangannya mencengkeram sisi gaunnya.Eric langsung berdiri."Selene."Itu pertama kalinya suaranya terdengar berbeda. Bukan dengan nada dingin. Bukan juga ketenangan. Ada urgensi di sana.Selene mengangkat wajah."Aku..."Napasnya tersengal."Kenapa tubuhku panas?"Eric bergerak turun dari tempatnya, namun sebelum ia sempat mendekat, seorang bangsawan berdiri."Jangan sentuh dia!"Eric berhenti.Pria itu menunjuk Selene dengan wajah penuh ketakutan."Blood Moon telah bangkit!"Bisikan kembali terdeng
Selene masih berdiri di depan cermin.Tubuhnya kaku.Tangannya mencengkeram ujung gaun tidur yang diberikan pelayan beberapa jam lalu. Suara perempuan itu masih bergema di kepalanya.Kau akhirnya kembali."Aku..."Selene menelan ludah."...tidak pernah ke sini sebelumnya."Ia menatap pantulannya sendiri. Wajah pucat, mata sedikit sembap dan rambut berantakan. Tidak ada siapa-siapa di belakangnya.Namun kalimat itu terlalu nyata untuk disebut mimpi.Selene mendekati cermin. Ia menyentuh permukaannya. Rasanya dingin, sangat dingin."Kalau aku benar-benar pernah datang ke sini..."Ia mengerutkan dahi."Kenapa aku tidak ingat?"Tidak ada jawaban.Lambang di lehernya tiba-tiba berdenyut.Deg.Selene tersentak dan langsung menarik tangannya."Astaga..."Ia menutup leher dengan telapak tangan."Apa sebenarnya kamu ini?"Untuk pertama kalinya, ia berbicara kepada tanda itu seolah tanda tersebut bisa menjawab.Tentu saja tidak.Selene mengembuskan napas."Oke."Ia berjalan menjauh dari cermin.
Selene tidak pernah membayangkan bahwa sebuah kastel bisa terasa lebih menakutkan daripada hutan yang dipenuhi vampir, namun ternyata bisa. Bahkan jauh lebih menakutkan. Langkah kakinya terdengar pelan di sepanjang koridor panjang Kastel Noctis.Tok.Tok.Tok.Lantai marmer hitam memantulkan bayangan mereka. Dinding-dinding tinggi dihiasi lukisan para bangsawan yang tidak Selene kenal. Sebagian besar wajah dalam lukisan itu tampak terlalu sempurna untuk disebut manusia.Mata mereka...semuanya berwarna merah.Selene berusaha tidak menatap terlalu lama, tapi semakin ia mencoba mengabaikan lukisan-lukisan itu, semakin ia merasa seolah-olah mata mereka mengikuti langkahnya. Ia mempercepat langkahnya sedikit. Eric berjalan beberapa meter di depannya. Ia tidak banyak bicara sejak mereka memasuki kastel. Lucien berada di belakang Selene. Sementara Lorcan, kepala pelayan yang tadi menyambut mereka, berjalan di sisi lain dengan sikap tenang."Kamarku masih jauh?"Selene akhirnya bertanya.Lorc
Kabut perlahan menghilang. Tidak ada lagi suara benturan pedang, tidak ada lagi teriakan. Hutan yang beberapa saat lalu dipenuhi pertempuran kini kembali sunyi, menyisakan batang-batang pohon yang tumbang dan tanah yang dipenuhi bekas tebasan.Selene masih berdiri mematung. Ujung jarinya menyentuh lambang bulan sabit di lehernya. Kulit itu terasa hangat, sangat nyata."Apa... ini benar-benar ada?"Tak ada yang menjawab.Para vampir yang tadi mengepung mereka telah menghilang satu per satu setelah mendapat isyarat dari wanita bergaun hitam. Sebelum pergi, wanita itu sempat menatap Selene cukup lama. Tatapan yang membuat bulu kuduknya meremang."Aku akan datang menjemputmu lagi."Kalimat itu masih terngiang di telinganya. Selene menarik napas panjang."Aduh, kakiku..."Ia mencoba melangkah, namun lututnya mendadak kehilangan tenaga. Tubuhnya limbung.Bruk.Ia terduduk di tanah yang basah bukan karena terluka. Melainkan karena tubuhnya akhirnya menyerah setelah menahan ketakutan sejak ta
Puluhan pasang mata merah menyala di balik kabut. Selene tidak lagi mampu menghitung jumlahnya. Mungkin ada lima puluh pasang mata atau lebih. Ia tidak bisa menghitungnya lagi karena semakin lama semakin banyak mereka berdatangan. Mereka berdiri diam di antara pepohonan, seolah sedang menunggu sebuah perintah. Hujan yang semula hanya berupa rintik kini benar-benar berhenti. Hutan berubah sunyi, begitu sunyi hingga Selene bisa mendengar detak jantungnya sendiri."Yang Mulia..."Pria berambut perak menundukkan kepala sedikit."Mereka semua mulai berdatangan."Eric tidak menoleh. Tatapannya tetap lurus ke depan."Berapa banyak?""Lebih dari lima puluh."Selene spontan menoleh."Lima puluh?"Suaranya hampir tidak terdengar."Yang lima puluh itu... semuanya seperti kalian?"Pria berambut perak mengangguk pelan. Selene merasakan lututnya semakin lemas."Aku bahkan tidak sanggup menghadapi satu...Bagaimana mungkin ada lima puluh?"Ia memejamkan mata sejenak, berusaha mengatur napas seperti y







