MasukAzura tidak menyangka jika dia harus menikahi pria cacat demi bertanggung jawab, karena dirinya sendiri yang telah membuat pria itu cacat. "Tidak peduli bagaimana kita bertemu, tidak peduli kamu lumpuh atau pincang, aku tidak akan meninggalkanmu." --
Lihat lebih banyakVENUS
“You’ll be fine, Mom. I promise.” I smiled, even if it felt like lying through my teeth. “My job pays well, I’ve got savings, we’ll handle the chemo soon.” I had to be strong. For both of us. She gave a weak sigh, eyes glistening. “You shouldn’t be wasting your life on me, Venus. You’re only twenty-two. You should be out there living, dancing, falling in love…” “Stop.” I tucked a stray curl behind her ear and kissed her forehead. “You don’t worry about anything. I’ve got us.” Her voice dropped. “How’s your dad?” My jaw clenched. Of course, she couldn’t meet my eyes. The man hadn’t visited once since her diagnosis. “I haven’t seen him since Sunday,” I said flatly. “And I hope I don’t. It’s been peaceful.” She opened her mouth—probably to defend him again—but I stood. “I have to get to work, Mom. I’ll see you later.” “Thank you for coming every day, sweetheart. I don’t deserve you.” “You do,” I said, hugging her. “I’m your daughter. That’s all that matters.” ------ I hailed a cab, dropped into the backseat, and clutched my bag like my life depended on it. Inside was the file. The file. The one Aaron Sinclair had tossed onto my desk last night like a time bomb. You’d check twice too if you worked for a man like him—dangerous in Dior, heartless in Hugo. He’s the kind of man who walks into a room and makes gravity shift. Broad shoulders. Razor jaw. Hazel eyes that could slice through you if his words hadn’t already done it. To every other woman, he’s a fantasy. To me? A nightmare in tailored suits. Two months working under him, and I swear he gets off on making my life miserable. Impossible deadlines, inhuman workload, cold stares that could freeze hell itself. And yet he hasn’t fired me. Because no matter how much he wants to break me, I always deliver. Why not quit, you ask? Because I can’t. I was a waitress before this, barely surviving. This job is the reason my mother has a bed in a hospital and not a floor in a rundown clinic. I have a degree, yes. But the world doesn’t pay in potential, it pays in cold, hard results. The cab pulled up in front of the towering steel-and-glass building I now called hell. I paid, got out, and took a deep breath. Showtime. ------ The second I stepped into my office—just a thin wall away from Mr. Sinclair’s—the intercom rang. “My office. Now.” No greeting. Just that voice. Sharp. Clipped. Cold. “God, give me strength,” I muttered and walked to his door. Knock. “Come in.” I entered and stood straighter than usual. “Good morning, Mr. Sinclair. You called for me?” He didn’t look up right away. When he did, those hazel eyes locked on mine like a sniper's target. “Sit,” he said, irritation laced in every syllable. I sat. The silence stretched. Long enough to make me fidget. Then— “Marry me.” I blinked. My brain stalled. “What?” “Don’t make me repeat myself,” he said smoothly, like he hadn’t just shattered reality. And just like that, my nightmare said he wanted to make it legal.Waktu terus berjalan, dan hari-hari di rumah keluarga Brahmana tetap dipenuhi dengan cinta dan dukungan. Amara terus menunjukkan kemajuan, dan meskipun tantangannya belum sepenuhnya berakhir, setiap hari memberikan harapan baru bagi keluarga ini. Rayyan, yang selalu setia di samping adiknya, menjadi kakak yang tak hanya penuh kasih, tapi juga semakin dewasa dalam memahami apa artinya keluarga. Pagi itu, Azura bangun dengan perasaan damai. Hari ini adalah hari istimewa bagi keluarga mereka—ulang tahun ke-4 Amara. Di dapur, Amar sudah sibuk menyiapkan sarapan spesial untuk anak-anak, sementara Rayyan dengan penuh semangat membantu menghias ruang tamu dengan balon dan pita warna-warni. “Amara pasti akan suka ini,” ujar Rayyan penuh kegembiraan sambil menempelkan balon-balon ke dinding. “Dia suka warna-warna cerah, kan, Paman?” Amar tersenyum sambil mengangguk. “Betul, Rayyan. Kamu benar-benar tahu apa yang adikmu suka. Terima kasih sudah membantu Paman.” Rayyan tersenyum lebar, me
Azura mengangguk setuju. “Dan Rayyan juga. Dia selalu sabar, penuh cinta kepada adiknya. Aku tahu ini tidak mudah baginya, tapi dia benar-benar menunjukkan bahwa dia adalah kakak yang luar biasa.”Amar menatap Rayyan dengan penuh kasih sayang. “Kita memang beruntung punya anak-anak seperti mereka. Mereka mengajarkan kita banyak hal tentang kesabaran, ketekunan, dan cinta.”Azura tersenyum hangat. “Ya, mereka adalah alasan kita bisa melalui semua ini. Melihat mereka bahagia adalah hadiah terbesar untuk kita.”---Setelah sarapan, Amar dan Azura membawa anak-anak mereka ke taman bermain yang tak jauh dari rumah. Ini adalah akhir pekan yang cerah, dan mereka memutuskan untuk menghabiskan waktu bersama di luar rumah, menikmati udara segar sambil membiarkan Amara melatih kakinya di tanah yang lebih lembut.Di taman, Rayyan berlari-lari dengan ceria, sementara Amara memegang tangan Azura, mencoba berjalan di atas rerumputan yang lembut. Setiap langkah kecil yang diambil Amara disertai denga
Azura meraih tangan Amar, merasakan kebersamaan dan dukungan yang telah menjadi fondasi keluarga mereka selama ini. “Kita sudah menempuh perjalanan yang panjang, tapi aku tahu bahwa ini semua belum selesai. Amara masih memiliki jalan panjang di depannya.” Amar mengangguk setuju. “Betul, tapi aku tidak ragu lagi. Dengan dukungan kita, dia akan menghadapi setiap tantangan dengan kekuatan yang sama seperti yang selalu dia tunjukkan.”Di tengah rutinitas terapi dan perawatan Amara, keluarga Brahmana juga mulai merencanakan langkah-langkah ke depan. Mereka tahu bahwa meskipun Amara menunjukkan kemajuan yang signifikan, masih banyak yang harus dilakukan untuk mendukung perkembangan fisik dan mentalnya.Suatu siang, Amar dan Azura kembali menemui Dokter Setyo untuk berkonsultasi mengenai perkembangan terbaru Amara dan apa yang perlu mereka lakukan ke depannya. Saat mereka duduk di ruangan dokter, Azura merasa lebih tenang dibandingkan pertemuan-pertemuan sebelumnya. Ada keyakinan dalam diri
“Kamu bisa melakukannya, sayang,” bisik Azura lembut, matanya berkaca-kaca. “Coba langkah kecil... hanya satu langkah kecil.”Dengan dorongan cinta yang luar biasa dari keluarganya, Amara tampak berusaha keras. Tangannya masih berpegang pada sofa, tapi dia mengangkat kakinya perlahan, mencoba melangkah ke depan. Meski kakinya gemetar, dengan bantuan sofa dan keberanian yang tiba-tiba, dia melangkah.Amar dan Azura saling berpandangan, mata mereka dipenuhi oleh air mata bahagia. Amara, putri kecil mereka, yang selama ini menghadapi banyak tantangan, akhirnya berhasil melakukan sesuatu yang mereka tunggu-tunggu selama ini—langkah pertamanya.Setelah satu langkah, Amara terhuyung-huyung, dan Azura segera mengulurkan tangan untuk menahannya. Amara jatuh pelan ke pelukan ibunya, dan meskipun dia belum sepenuhnya bisa berjalan, satu langkah kecil itu sudah terasa seperti kemenangan besar.“Kita berhasil, sayang. Amara berhasil!” bisik Azura, sambil mencium kening putrinya.Rayyan melompat-l
Rayyan tersenyum kecil, tampak puas dengan jawaban Pamannya. “Aku akan ajarin Amara banyak kata kalau dia sudah bisa bicara,” ujarnya penuh semangat. “Aku mau dia bisa cerita banyak hal ke aku.”Amar tertawa kecil, merasa hangat melihat betapa besar cinta Rayyan untuk adiknya. “Kamu memang kakak yang
Azura memandang Amar dengan penuh rasa syukur, meski ide itu menyesakkan hatinya. “Aku tahu kamu ingin melakukan yang terbaik, Amar. Tapi kamu sudah bekerja keras setiap hari. Jika kamu mengambil pekerjaan tambahan, kapan kamu punya waktu untuk istirahat? Untuk kami, untuk aku dan untuk Amara?”Amar
Setiap minggu, Amar dan Azura membawa Amara ke pusat terapi untuk melanjutkan sesi dengan Ibu Lia. Setiap kali mereka datang, Ibu Lia selalu menyambut mereka dengan senyuman hangat dan semangat positif.“Amara semakin kuat,” kata Ibu Lia saat mereka memasuki ruangan terapi. “Saya bisa melihat kemajua
Rayyan berhenti bermain dan menatap bibinya. “Aku... aku masih bingung, Bu. Kenapa kalian mengadopsi Amara? Kenapa dia tidak punya ibu kandung sendiri?”Azura menarik napas dalam-dalam. Pertanyaan Rayyan tidak mudah untuk dijawab, namun dia tahu bahwa kejujuran adalah jalan terbaik. “Amara memang pun






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan