LOGINMatahari perlahan bergeser ke ufuk barat, memancarkan cahaya jingga kemerahan yang menghangatkan sudut-sudut desa. Kejadian di pagi hari ketika Nabila datang meminta maaf dengan wajah merona merah dan sikap salah tingkahnya yang sangat menggemaskan terus berputar-putar di dalam benak Madun. Rasa penasaran yang sempat tertunda akibat tendangan maut gadis itu kini berubah menjadi obsesi membara untuk meruntuhkan pertahanan terakhir sang siswi teladan.Madun tahu, gadis pendiam dan alim seperti Nabila tidak bisa didekati dengan cara-cara beringas atau paksaan kasar seperti yang ia lakukan pada Wati atau Sari. Nabila membutuhkan pendekatan yang perlahan, penuh tipu daya halus, namun mematikan, hingga gadis itu sendiri yang menyerahkan diri tanpa ada rasa terpaksa.Sore itu, memanfaatkan waktu pulang sekolah Nabila, Madun sengaja menunggu di dekat persimpangan jalan setapak tempat biasa gadis itu melintas menuju rumahnya. Mengenakan kaus oblong hitam ketat yang mengekspos otot lengan bi
Suasana malam di balik jendela kamar Nabila yang tadinya tegang dan dipenuhi aroma dominasi mendadak pecah dalam hitungan sepersekian detik. Di saat Madun memajukan wajahnya, bersiap menaklukkan benteng pertahanan sang siswi teladan dengan tatapan penuh nafsu buas, Nabila yang dirasuki oleh rasa panik luar biasa mendadak mengerahkan seluruh sisa tenaga di dalam tubuh mungilnya.Bugh!Sebuah tendangan telak menggunakan kaki kecil yang mengenakan sandal tidur melayang cepat, menghantam tepat di dada bidang Madun. Meskipun tenaga seorang gadis pemalu tidak sekuat petarung profesional, hantaman mendadak itu berhasil membuat Madun terperanjat kaget setengah mati. Cengkeramannya terlepas secara spontan dari kusen jendela."Aduh!" desis Madun kaget, refleks melangkah mundur dua langkah ke belakang akibat hantaman tak terduga tersebut.Belum sempat Madun memulihkan keterkejutannya, Nabila langsung membanting jendela kamarnya dengan keras, lalu menguncinya rapat-rapat sambil terengah-enga
Matahari telah sepenuhnya tenggelam di balik cakrawala, menyisakan kegelapan malam yang pekat menyelimuti sudut-sudut desa. Meskipun Madun baru saja menaklukkan Wati dan Sari dengan begitu mudahnya di balik rimbunnya semak-semak dan perkebunan karet, alih-alih merasa puas, jiwa liarnya justru merasa tertantang oleh sebuah pemandangan yang ia saksikan sepulang dari perburuannya sore tadi.Target baru yang kini bercokol kuat di dalam benaknya adalah Nabila, gadis tetangga desa sebelah yang terkenal sebagai siswi teladan paling pendiam, alim, dan sangat pemalu di sekolah. Berbeda dengan Wati atau Sari yang genit dan cepat merespons godaan, Nabila dikenal sebagai sosok tertutup yang selalu menundukkan pandangannya setiap kali berpapasan dengan kaum lelaki. Gadis berwajah manis natural dengan pipi merona alami, rambut hitam ikal sebahu, dan mata jernih yang selalu menyembunyikan sejuta kepolosan itu mendadak menjadi obsesi paling memancing rasa penasaran di dalam dada Madun.Susahnya me
Setelah berhasil menaklukkan Sari di balik rimbunnya rumpun bambu sore tadi, gelora liar yang membakar jiwa muda Madun justru semakin menggila dan tidak terkendali. Nafsu lelakinya kini telah berubah menjadi obsesi buas layaknya seorang pemburu yang menemukan kepuasan tiada tara di dalam pelukan para gadis remaja desa. Otak dan logikannya sepenuhnya dikuasai oleh candu kenikmatan instan.Menjelang magrib, saat bayang-bayang pepohonan mulai memanjang dan suasana desa berangsur sepi karena warga bersiap mendatangi mushola, langkah kaki Madun yang dipenuhi adrenalin membawanya menyusuri jalan setapak di sekitar area perkebunan karet tua pinggir kampung.Tidak butuh waktu lama bagi Madun untuk menemukan target berikutnya. Dari kejauhan, tampak Wati—sahabat karib Sari sekaligus kembang desa berwajah bening, cantik, dan imut—sedang berjalan seorang diri menenteng kantong plastik berisi belanjaan warung milik ibunya. Wati mengenakan kaus oblong putih ketat dipadukan celana training pendek
Bayangan tubuh sintal Wati dan Sari yang melenggang pergi dengan pinggul bergoyang ritmis masih membekas kuat di dalam kepala Madun. Gelombang darah mudanya yang kembali bergejolak hebat membuat suhu tubuhnya terasa meningkat drastis. Sensasi kenikmatan malam sebelumnya berpadu sempurna dengan pemandangan visual para ABG hot yang baru saja melemparkan senyuman nakal kepadanya.Madun berdiri terpaku di ambang pintu ruko, merasakan otot-otot di sekujur tubuhnya menegang kaku. Napasnya memburu cepat, membuat dada bidangnya yang terekspos di balik kaus oblong hitam naik-turun dengan irama yang tak beraturan. Bayangan lekuk tubuh muda, kulit putih bersih, serta tatapan mata menggoda dari kedua siswi SMA tadi terus berputar-putar di dalam kepalanya tanpa henti, memicu reaksi instingtif yang tak mampu lagi dibendung oleh akal sehatnya.Sensasi gejolak di dalam dirinya mencapai titik didih paling ekstrem. Tanpa bisa ditahan lebih lama lagi, hanya karena hantaman imajinasi liar yang dipicu
Matahari perlahan bergeser ke atas galah, menyinari jalanan tanah berbatu di sudut desa dengan terik hangatnya. Pengalaman semalam di balik tumpukan kardus gudang warung kelontong bersama Rasti tampaknya telah membuka sebuah kotak Pandora di dalam diri Madun. Sensasi kenikmatan liar yang merontokkan logika itu tidak hanya membekas di raganya, melainkan sukses merombak total jiwa mudanya yang mendadak kembali bergejolak layaknya remaja puber yang sedang haus petualangan.Madun yang biasanya dikenal sebagai sosok pria berwajah tegas, pendiam, berwibawa, dan disegani seketika mengalami metamorfosis sikap. Jiwa mudanya yang kembali labil dan tersulut candu kini membuatnya bertransformasi menjadi sosok pria matang yang genit, centil, dan sangat hobi melempar godaan maut kepada setiap gadis remaja atau anak baru gede (ABG) berwajah bening, cantik, dan imut yang melintas di depannya.Pagi itu, Madun sengaja berdiri santai di teras ruko kecilnya, mengenakan kaus oblong hitam ketat yang men
"Madun! Ngaca, Dun! Muka pas-pasan, kerja cuma kuli panggul pasar, kok ya masih berani ngarep dapet cewek cantik nan bening? Mimpi ketinggian kamu!" Tawa keras pelayan toko kelontong itu pecah seketika, menggelegar menghina Madun tepat di depan kerumunan orang yang sedang lalu lalang. Beberapa o
Sore menjelang malam Jum'at, Madun mau tak mau kembali ke rumah Siska sesuai jadwal periksa yang ditetapkan Siska.Sebenarnya Madun merasa aneh karena diminta ke rumah bukan ke klinik. Tapi, karena tidak tahan ingin berduaan dengan Bidan Siska yang cantik, Madun menurut saja. "Madun, sebelum kita
"Madun! Di sini!" bisik Siska dari balik gerbang rumahnya yang tinggi setelah Madun mengetuknya.Malam itu, Siska terlihat sangat berbeda. Ia hanya mengenakan daster satin tipis berwarna putih tulang yang hampir transparan jika terkena cahaya lampu teras. Rambutnya yang hitam legam dibiarkan teru
"Madun! Cepat masuk! Jangan celingak-celinguk begitu, nanti dikira maling!" bisik Siska dari balik pintu klinik yang terbuka sedikit. Suaranya serak, matanya yang dilapisi riasan tipis tampak berkilat-kilat di bawah lampu remang koridor. Siska malam itu mengenakan seragam bidan yang sengaja dilep







