LOGINDi hari yang sama, suasana berbeda terjadi di markas utama kelompok Broto.
Di dalam ruangan besar yang dulu menjadi kantor direktur sebuah gedung industri, Putri berdiri menghadap Broto dengan wajah serius. Di tangannya masih ada salah satu bungkus narkotika yang dia bawa dari pabrik tadi. Sementara Broto duduk santai di kursinya sambil memegang gelas minuman. “Apa ini?” Putri melempar bungkusan itu ke meja. Broto melirik sekilas lalu menghela napas kecil. “Jadi lu udah lihat.” Putri langsung menatap tajam. “Ini bener? Kelompok kita produksi narkotika?” Broto menyandarkan tubuhnya santai. “Itu diperlukan.” Jawabannya datar dan Putri langsung mengerutkan alis. “Diperlukan?” Nada suaranya mulai naik. “Lu sadar ga itu ngancurin orang?” Namun Broto hanya mengangkat bahu. “Itu urusan gue.” Tatapannya berubah dingin. “Yang penting kelompok ini berkembang.” Putri langsung terdiam dan untuk pertama kalinya dia benar-benar mulai melihat sisi lain Broto. Bukan pemimpin yang ingin menyatukan survivor. Bukan orang yang ingin menghentikan outbreak. Melainkan seseorang yang mau melakukan apa saja demi kekuasaan dan stabilitas kelompoknya. Tatapan Putri perlahan turun. Pikirannya mulai kacau karena sekarang dia sadar sesuatu yang jauh lebih berat. Sebagian besar orang di kelompok ini masuk karena dirinya. Sekitar seperlima anggota kelompok Broto bergabung karena percaya pada Putri. Karena mereka percaya Putri adalah simbol keamanan dan harapan. Dan sekarang dia mulai bingung harus bagaimana kalau semua yang dia percayai ternyata salah. Putri langsung berbalik dan berjalan keluar tanpa mengatakan apa-apa lagi. Namun sebelum pintu tertutup, suara Broto terdengar dari belakang. “Tugas lu cuma satu, Put.” Putri berhenti sebentar. “Ngikut aturan dan jalanin perintah gue.” Putri menggenggam tangannya kuat-kuat sebelum akhirnya keluar dan menutup pintu keras. BRAK. Lorong markas terasa sunyi saat dia berjalan sendirian. Langkahnya cepat, tetapi pikirannya justru semakin kacau. “Ngikut aturan…” Dia tertawa kecil tanpa humor. “Tai.” Putri terus berjalan sambil menunduk. “Kalau gue pergi…” Tatapannya kosong menatap lantai. “…orang-orang yang masuk ke sini karena gue gimana?” Dia menggigit bibirnya sendiri pelan karena dia tahu kenyataannya. Banyak orang percaya kelompok Broto aman karena ada dirinya. Karena ada awakener api yang selalu berdiri di garis depan melindungi mereka. “Kalau gue cabut… Broto bakal makin gila.” Namun bayangan ruang produksi narkotika tadi kembali muncul di kepalanya. Tumpukan bubuk putih. Orang-orang dirantai. Combat drugs. Dan suara Joni. “Lu capek-capek nyelametin orang… padahal bos lu jualan beginian.” Putri menutup matanya kesal. “Anjing… kenapa malah jadi begini.” Setelah Putri pergi, suasana ruangan langsung berubah dingin. Broto membanting gelas di tangannya ke meja dengan keras. BRAK! “Tai…” Wajahnya jelas penuh amarah. Dia menatap pintu yang baru saja ditutup Putri sambil menggertakkan gigi. “Kenapa dia bisa tau…” Beberapa anak buah di ruangan itu langsung diam menunduk lalu Broto menoleh tajam ke salah satu pria di dekatnya. “Raka.” Pria itu langsung berdiri tegak. “Iya bang.” “Selidiki pabrik itu.” Tatapan Broto penuh tekanan. “Gue mau tau siapa yang bikin masalah sama gue. Siapa yang nyerang tempat itu dan siapa yang berani nyentuh produksi gue.” Raka langsung mengangguk cepat. “Siap bang.” Namun sebelum dia sempat pergi pintu ruangan tiba-tiba terbuka lagi. Seorang pria kurus dengan rambut berantakan masuk sambil memakai jas lab penuh noda. Matanya terlihat liar dan tidak fokus. Di tangannya bahkan masih ada bekas cairan merah seperti darah atau bahan kimia. “BROTOOO!” Nada suaranya terdengar seperti orang kesal sekaligus panik. “Produksi gue gimana sekarang?!” Dia berjalan cepat mendekati meja. “Lu tau ga berapa lama gue bikin formula stabil itu?!” Broto langsung memijat pelipisnya kesal. “Tenang dulu Rey.” Namun pria bernama Rey itu justru makin emosional. “Tenang apanya?! Combat drugs batch terbaru masih di sana!” Dia tertawa kecil sendiri dengan ekspresi aneh. “Belum lagi eksperimen baru gue…” Tatapannya tiba-tiba berbinar gila. “Yang bisa bikin awakener jauh lebih kuat itu…” Anak buah lain di ruangan bahkan terlihat sedikit tidak nyaman melihat tingkah Rey namun Broto tetap menjawab tenang. “Gue bakal siapin tempat produksi baru. Semua kebutuhan lu tetep jalan.” Rey langsung diam beberapa detik namun Broto melanjutkan dengan wajah dingin. “Tapi sebelum itu…” Tatapannya menyipit tajam. “…gue mau tau dulu siapa yang berani bikin masalah sama kelompok gue.” Di sisi lain kota, konvoi kelompok Joni akhirnya sampai di area pabrik daur ulang yang sudah lama terbengkalai. Begitu kendaraan mereka memasuki kawasan industri itu semua orang langsung sadar ada yang tidak beres. Terlalu ramai tetapi bukan karena manusia Mmlainkan zombie. Jumlahnya sangat banyak. Puluhan—tidak. Ratusan zombie berkeliaran di sekitar area pabrik dan gunungan sampah besar yang mengelilinginya. Beberapa bahkan masih terus bergerak di antara tumpukan besi tua dan limbah plastik seperti semut yang memenuhi sarang. Joni yang turun dari mobil langsung menyipitkan mata. “Anjing…” Pak Bram di sampingnya ikut mengamati area itu dengan serius. “Banyak banget.” Dan memang masuk akal. Area seperti ini hampir tidak pernah disentuh survivor. Tidak ada makanan. Tidak ada obat. Tidak ada loot berguna bagi kebanyakan kelompok. Akibatnya jumlah zombie di sini terus menumpuk selama berbulan-bulan tanpa pernah dibersihkan. Beberapa anggota kelompok Joni mulai terlihat tegang melihat lautan zombie itu bergerak perlahan di kejauhan. Deri bahkan sampai bersiul kecil. “Ini mah bukan loot… ini raid boss.” Namun justru mata Joni perlahan mulai berbinar melihat semua tumpukan sampah dan limbah di area pabrik itu. Karena bagi orang lain itu gunungan sampah tapi bagi dirinya itu harta karun terbesar yang pernah dia lihat. Begitu suara mesin kendaraan dan langkah kelompok Joni memasuki area pabrik daur ulang lautan zombie itu langsung bereaksi. Satu zombie menoleh lalu yang lain ikut bergerak dan dalam hitungan detik seluruh area mulai kacau. RAAAAGHHH!! Puluhan zombie langsung berlari menerjang dari berbagai arah di antara gunungan sampah dan kendaraan rongsok. “Kontak!” Pak Bram langsung mengangkat senjatanya. “FORMASI!” DOR! DOR! DOR! Rentetan tembakan langsung pecah. Zombie paling depan roboh satu per satu dengan kepala pecah, namun jumlah mereka terlalu banyak. Mereka terus datang. Dari kanan. Dari sela gunungan sampah. Bahkan dari atas tumpukan limbah. “Jangan diem! Dorong maju!” Joni ikut menembaki zombie sambil bergerak ke depan bersama tim inti. Beberapa kendaraan mereka mulai bergerak perlahan sambil membantu menghancurkan kerumunan zombie dengan body mobil. DUK! DUK! Tubuh zombie terpental dan hancur di bawah roda kendaraan. Namun semakin dalam mereka masuk jumlah zombie justru semakin gila. “Anjing banyak banget!” Salah satu anggota sampai berteriak panik sambil mengganti magazine. Deri yang berdiri di atas salah satu kendaraan mulai menembaki kerumunan dengan senapan modifikasinya. “Sebelah kiri!” DOR DOR DOR! Tiga zombie langsung jatuh bertumpuk namun detik berikutnya lebih banyak lagi muncul dari balik gunungan sampah. Pak Bram langsung menyadari sesuatu. “Mereka ketarik suara!” Tatapannya menyapu area luas itu dan memang benar. Semakin banyak suara tembakan semakin banyak zombie berdatangan dari seluruh area pabrik. Situasi mulai berubah menjadi perang bertahan hidup. Beberapa anggota kelompok Joni mulai mundur perlahan sambil terus menembak namun Joni justru melihat lebih jauh ke dalam area pabrik. Matanya perlahan membesar karena di tengah lautan zombie dan gunungan limbah itu dia bisa melihat sesuatu yang jauh lebih besar daripada loot biasa. Seluruh area itu adalah tambang material tanpa batas untuk traitnya.Beberapa hari berikutnya, perang antara kelompok Joni dan Broto mulai berubah menjadi perang bayangan bukan lagi serangan frontal.Melainkan perburuan, dan dimulai dengan salah satu kelompok kecil yang diam-diam sudah diajak kerja sama oleh Pak Kusno.Mereka pura-pura tetap menjadi survivor biasa di area sekitar wilayah Broto.Dan pagi itu radio komunikasi kelompok Joni berbunyi.“Base. Kelompok Broto keluar.”Suara samar terdengar dari HT kecil.“Empat mobil. Arah selatan.”Di ruangan komunikasi, anggota langsung mencatat lalu menyampaikan informasi itu ke Joni.Beberapa menit kemudian konvoi kecil kelompok Joni langsung bergerak keluar.Joni di mobil depan bersama Pak Bram sambil melihat peta kasar area.“Mereka biasanya loot apa di selatan?”Pak Bram menjawab sambil terus memperhatikan jalan.“Gudang makanan sama bengkel lama.”Joni mengangguk kecil.“Berarti jalur baliknya kemungkinan lewat sini.”Dia menunjuk jalan industri sempit di peta. Dan benar saja beberapa jam kemudian rom
Tidak lama setelah Sindy kabur keluar ruangan, pintu kembali terbuka. Deri masuk sambil mengernyit.“Bang…”Dia menunjuk ke arah luar.“Si Sindy kenapa merah banget mukanya?”Joni yang masih agak bengong langsung refleks duduk lebih tegak.“…hah?”Deri makin curiga.“Lu marahin dia?”“Engga.”Jawaban Joni terlalu cepat namun Deri langsung menyipitkan mata.“…curiga gue.”Namun sebelum Deri sempat lanjut, Joni buru-buru mengalihkan topik.“Udah upgrade?”Wajah Deri langsung berubah semangat.“Udah.”Dia langsung membuka panel traitnya.“Schematic sekarang berubah jadi Machinist.”Joni langsung nyengir.“Wah. Sekarang lu masokis?”Deri langsung melotot.“BUKAN MASOKIS! Machinist!”Joni langsung ketawa ngakak.“Mirip anjir namanya.”Deri cuma geleng-geleng kesel dab Joni lalu kembali serius.“Yaudah. Fungsinya apa sekarang? Udah dites?”Deri langsung mengangguk semangat.“Sedikit.”Dia duduk lalu mulai menjelaskan sambil gerak-gerakin tangan excited.“Sekarang gue bisa bikin blueprint le
Beberapa hari setelah serangan kelompok Broto, ruangan rapat kelompok Joni kembali dipenuhi anggota inti mereka.Namun kali ini suasananya berbeda, kali ini lebih serius, lebih berat karena sekarang semua orang sadar, mereka sudah resmi masuk perang besar antar kelompok.Joni duduk di ujung meja sambil melihat satu per satu orang di ruangan itu.“Mulai laporan.”Tatapannya berpindah ke Sindy terlebih dulu.“Sindy.”Sindy langsung membuka beberapa catatan di depannya.“Soal combat drugs…”Tatapannya naik ke Joni.“Setelah abang kasih sampelnya buat aku teliti lebih lanjut…”Dia menarik napas kecil.“…aku bisa ngilangin efek sampingnya.”Ruangan langsung diam dan Deri langsung menoleh cepat.“…hah?”Namun Sindy melanjutkan dengan serius.“Efek gagal organ, kerusakan saraf, sama stimulasi berlebihan itu muncul karena beberapa komponen kimianya ga stabil.”“Kalau dipisah dan diseimbangin ulang… harusnya bisa jauh lebih aman.”Mata Joni langsung menyipit tertarik dan Sindy lalu menambahkan
Sindy menatap layar biru transparan itu dengan napas masih tidak stabil.Tulisan di depannya perlahan berhenti berubah.═══════════Trait: Pharmatrix═══════════“…Pharmatrix?”Suaranya pelan penuh bingung namun sebelum dia sempat memahami lebih jauh, Pak Bram langsung memeluknya erat.“SINDY!”Pria itu sampai menangis lega sambil memegang kepala anaknya.“Lu hidup… Syukur…”Joni yang berdiri di dekat sana juga akhirnya menghembuskan napas panjang lega setelah tegang sejak tadi.Sementara Sindy sendiri masih terlihat blank. Matanya berkedip beberapa kali sebelum akhirnya sadar sesuatu.“…kok aku hidup?”Pak Bram langsung menoleh ke Joni dan Joni akhirnya menjelaskan singkat.“Kristal. Kita pake kristal zombie ke luka lu.”Sindy langsung membeku mendengar itu karena dia tahu artinya lalu Joni menyipitkan mata sedikit.“Lu sekarang awakener?”Sindy perlahan menoleh lagi ke layar biru yang masih mengambang di pandangannya. Beberapa detik kemudian dia mengangguk pelan.“…iya.”Joni langsu
Tubuh Sindy semakin kejang hebat di atas kasur.KRAK… KREEET…Tali pengikat mulai berderit keras karena tubuhnya terus bergerak tidak normal.Kasur darurat itu bahkan ikut bergeser sedikit di lantai akibat hentakan tubuh Sindy yang semakin brutal.“ARGH—!”Suara napas dan erangan aneh keluar dari tenggorokannya.Mila langsung mundur beberapa langkah dengan wajah pucat.“Bang… Ini ga normal…”Pak Bram yang melihat itu justru semakin hancur. Air matanya tidak berhenti jatuh sambil terus memegang kepalanya sendiri.“Sindy…”Namun Joni tetap berdiri di dekat tempat tidur dengan wajah tegang. Tatapannya tidak lepas dari tubuh Sindy.Lalu urat hitam mulai muncul perlahan dari sekitar luka di perutnya.Menyebar sedikit demi sedikit. Mata beberapa anggota langsung membesar ketakutan. Karena mereka semua tahu seperti apa awal perubahan zombie.Deri refleks langsung mengangkat senjatanya sedikit dan Joni langsung sadar situasinya makin berbahaya.“Senjata.”Suara Joni terdengar berat.“Kasih gu
Joni keluar dari gudang sambil terus menyeret tubuh Dani yang tidak sadarkan diri di lantai beton.Suara gesekan tubuh dan oli terdengar kasar di tengah suasana base yang masih penuh asap dan sisa pertempuran.Begitu melihat Deri dan Pak Bram di depan, Joni langsung bertanya santai.“Udah selesai?”Deri yang masih melongo melihat kondisi Dani langsung menjawab cepat.“Mereka kabur.”Pak Bram ikut mengangguk.“Udah mundur semua.”Lalu dia melihat ke arah luar base yang rusak cukup parah.“Tapi…”Tatapannya kembali ke Joni.“…mereka sebenernya dari mana sih?”Joni berhenti sebentar.Tatapannya menyapu area gerbang yang hancur dan tembok pertahanan yang dulu mereka perkuat mati-matian.Kini sebagian sudah runtuh penuh bekas ledakan dan api. Alisnya mengernyit melihat kerusakan itu.“…kelompok Broto.”Nada suaranya berubah dingin.“Mereka balas dendam soal pabrik energi itu.”Deri langsung menghela napas kasar.“Anjing…”Lalu matanya turun lagi ke arah Dani yang diseret Joni.“…terus ini





![Thai Qu Cing Si Anak Kotoran 2 [Penyembuh yang Terkutuk]](https://www.goodnovel.com/pcdist/src/assets/images/book/43949cad-default_cover.png)

