로그인Pintu kamar terbuka perlahan. Hal pertama yang dilihat Sambara adalah Agnira yang sedang berdiri di balkon kamar.Malam telah turun sempurna. Cahaya bulan menyelinap di sela-sela pepohonan, menerpa lembut sosok wanita yang memeluk kedua lengannya sendiri. Rambut panjangnya bergoyang pelan diterpa angin malam, sementara gaun hamil berwarna krem yang dikenakannya ikut berkibar lembut.Sambara berhenti melangkah. Untuk beberapa saat, ia hanya memandangi punggung istrinya tanpa bersuara."Kenapa di luar?" tanya Sambara pada akhirnya. Pria itu berjalan ke sisi nakas dan mulai melepas jam tangannya, lalu menaruhnya di atas meja.Agnira menoleh sekilas. Senyum tipis menghiasi bibirnya. "Ingin saja, di sini sejuk." Sambara berjalan mendekat. Begitu tiba di belakang Agnira, ia langsung memeluk wanita itu dengan lembut."Udara malam dingin, sayang. Nanti kamu masuk angin," ujar pria itu sambil mendekap sang istri begitu erat."Tidak ko, kan ada kamu yang menghangatkan," gurau Agnira sambil ter
Byurr!Air kolam memercik tinggi ke segala arah ketika tubuh Arsen terhempas masuk ke dalamnya. Pria itu terlihat gelagapan saat air masuk melewati hidungnya. Beberapa kali ia terbatuk sebelum akhirnya muncul ke permukaan, sambil mengacak-acak rambutnya yang sudah basah kuyup."Uhuk! Uhuk! Astaga ...!" keluhnya dengan napas tersengal. "Kau mau membunuhku? Hah!" Ia berenang tergesa menuju bibir kolam, lalu berpegangan di tepian sambil terus batuk-batuk. Air menetes dari wajah dan pakaiannya, membuat penampilannya yang biasanya santai kini tampak berantakan.Di tepi kolam, Sambara berdiri tanpa sedikit pun merubah ekspresi. Kedua tangannya masih tersimpan di saku celana, seolah yang baru saja terjadi bukanlah sesuatu yang perlu dipermasalahkan."Itu hukuman karena bertindak tanpa berpikir," ucap pria itu tenang.Arsen mendongak dengan wajah kesal. "Kan aku sudah minta maaf!""Kepada saya." Tunjuknya pada diri sendiri. Sambara berjalan ke arah kursi yang berada di sana, dan memilih dud
Pada akhirnya, Aurelie harus dilarikan ke rumah sakit. Diare yang tak kunjung berhenti membuat tubuhnya kehilangan banyak cairan. Wajahnya pucat, bibirnya mengering, diare membuat wanita itu kehilangan tenaga. Bahkan sekedar untuk berdiri.Ratih terus menggenggam tangan putrinya selama perjalanan. Ia benar-benar khawatir melihat kondisi Aurelie yang terlihat parah, putrinya tidak pernah mengalami sakit seperti ini."Dokter, tolong anak saya," ucapnya panik saat ranjang pasien membawa Aurelie memasuki ruang IGD.Beberapa perawat segera memasang infus dan melakukan pemeriksaan awal. Sementara Surya berdiri tidak jauh dari sana dengan wajah penuh kekhawatiran. Tak lama kemudian, seorang dokter keluar sambil membuka hasil pemeriksaan."Siapa keluarga pasien?" tanya dokter terlihat tenang."Saya ayahnya," jawab Surya cepat.Dokter mengangguk. "Kondisinya stabil, tetapi pasien mengalami dehidrasi akibat diare akut. Untuk sementara kami akan memberikan cairan infus dan obat-obatan. Malam ini
"Paman yakin itu bakal berhasil?" bisik Nana pelan di telinga Arsen.Saat ini, mereka sedang menaiki tangga menuju lantai dua. Karena Nana yang sudah selesai makan malam dan ingin cepat masuk kamar, begitupun dengan Arsen. Padahal mereka hanya ingin memantau dari lantai dua, bagaimana tersiksanya Aurelie beberapa menit lagi."Yakin! Sebentar lagi si ulat bulu itu pasti bakal lari ke kamar mandi," ujar Arsen seraya tertawa kecil.Nana mengerutkan dahi. Wajah polosnya dipenuhi rasa penasaran."Kalau ternyata nggak berhasil gimana, Paman?" tanyanya lagi dengan suara lirih, khawatir ada orang lain yang mendengar percakapan mereka.Arsen menyeringai jahil. "Berhasil, tenang aja. Perut manusia itu nggak pernah bohong."Tentu saja akan berhasil. Hampir separuh isinya Arsen tumpahkan ke dalam minuman Aurelie. Nana menutup mulutnya, berusaha menahan tawa."Paman nakal sekali." "Belajar dari ahlinya." Arsen menepuk dada merasa bangga dengan apa yang sudah ia perbuat."Kata Ka Agnira, orang
Sambara terdiam beberapa saat, lalu menggeleng pelan."Tidak," ujarnya tenang. "Saya sudah memiliki koki terbaik. Salah satu dari mereka memang bertugas menyiapkan makanan khusus untuk Agnira."Suasana meja makan mendadak hening. Ratih yang semula tersenyum tipis perlahan mengatupkan bibirnya. Tawaran yang ia sampaikan ditolak begitu saja tanpa sedikit pun pertimbangan."Selain itu," lanjut Sambara sambil meletakkan sendoknya, "Agnira sedang hamil. Semua makanan yang dikonsumsi harus sesuai dengan anjuran dokter dan ahli gizi. Saya tidak ingin mengambil risiko."Ratih berusaha mempertahankan senyumnya. "Tante hanya ingin membantu. Tante juga merasa bosan tidak melakukan apapun di rumah ini, setidaknya ada kegiatan untuk melemaskan otot-otot yang kaku." "Saya menghargai niat baik, Tante" balas Sambara datar. "Tapi bantuan itu tidak diperlukan."Kalimat singkat tersebut menjadi penutup yang sulit dibantah. Agnira yang sejak tadi hanya memperhatikan percakapan mereka, diam-diam menunduk
Malam merambat perlahan. Langit telah menggelap sempurna, sementara cahaya lampu-lampu taman menerangi halaman luas kediaman Lakeswara. Angin malam berembus lembut, menggoyangkan dedaunan dan bunga-bunga yang berjajar rapi di sepanjang jalan menuju rumah utama.Di ruang makan, meja panjang dari kayu jati telah tertata rapi. Berbagai hidangan hangat tersaji, mulai dari sup, ikan bakar, tumisan sayur, hingga beberapa menu khusus yang disiapkan untuk Agnira sesuai anjuran dokter.Para pelayan berdiri berjajar di sisi ruangan dengan kepala sedikit tertunduk, menunggu seluruh penghuni rumah berkumpul.Tak lama kemudian, Sambara memasuki ruang makan lebih dulu. Jas kerjanya telah berganti dengan kemeja hitam berlengan panjang yang digulung hingga siku. Tatapannya langsung mencari sosok sang istri.Beberapa detik kemudian, Agnira datang dari arah kamar tidur utama. Wanita itu mengenakan gaun rumah berwarna krem dengan rambut panjang yang dibiarkan tergerai. Meski wajahnya masih menyimpan sis
Agnira terdiam, memproses segalanya dengan cepat. Ia kembali melirik Sambara, lalu berdiri perlahan dari duduknya."Hanya tiga puluh hari, 'kan?" tanya Agnira, singkat.Sambara yang sudah kembali duduk santai hanya mengangguk. "Iya.""Baiklah. Jika itu maumu, akan aku lakukan," putus Agnira tanpa
"Batas waktu kita berakhir lusa. Saya sudah menyiapkan dokumen perceraian,"Agnira menatapnya sekali di tengah memotong daging saat pria itu meraih gelas air. Tarikan napas berat terdengar, membuat suasana ruang makan yang sunyi terasa semakin menekan. "Taruh saja di atas meja kerja. Nanti saya b
"Buka matamu, Agnira. Tatap saya," perintah Sambara rendah.Agnira membuka mata perlahan dan satu-satunya objek yang ia lihat adalah suaminya. Orang yang selama tiga tahun ini membersamai dirinya dalam hening, orang yang bahkan selalu tampak acuh dan tidak perduli akan hadirnya.Tangan Agnira menge
Keesokan paginya. Ruang makan yang selalu di isi keheningan mendadak terasa lebih berat dari sebelumnya. Agnira terus menerus melirik kecil pada Sambara yang berjarak cukup jauh dengannya, sudah biasa dan memang itu aturan awalnya.Wangi aroma masakan menguar. Namun di antara mereka belum ada yang







