Teilen

Rekan Kerja Suamiku
Rekan Kerja Suamiku
Emma

Bab 1

Emma
Namaku Tesa, seorang istri dengan gairah yang cukup tinggi. Sayangnya, sejak suamiku melewati usia 35 tahun, staminanya semakin hari semakin menurun.

Dulu, setidaknya dia masih bisa bertahan dua atau tiga menit. Sekarang bahkan belum lewat setengah menit, dia sudah terengah-engah dan langsung berbalik memunggungiku untuk tidur.

Padahal, aku baru saja mulai merasa panas dan rasa geli yang hampa itu benar-benar menyiksaku setengah mati.

Akhirnya, aku hanya bisa diam-diam mengeluarkan mainan kecilku. Setelah rasa sesak itu mereda, aku menoleh menatap suamiku yang sudah terlelap. Rasanya kesal sekali.

Aku turun dari ranjang menuju ruang tamu untuk minum. Saat melewati kamar rekan kerja suamiku, tiba-tiba aku mendengar suara rintihan tertahan dari dalam.

Seketika, suara itu memancing kembali gairah yang belum sepenuhnya padam di dalam tubuhku.

Aku mendadak berhenti, baru saja berniat menempelkan telinga ke pintu untuk menguping.

Ternyata, pintunya tak tertutup rapat. Sambil mengelus dada, aku perlahan mendorong celah pintu itu dan mengintip ke dalam.

Di atas ranjang, seorang pria yang napasnya memburu sedang sibuk menggarap wanita di bawahnya.

Lengan yang kekar, pinggang yang kokoh bertenaga, serta otot bokong yang kencang, semuanya membuat mataku panas dan hatiku bergejolak.

Tak kusangka, rekan kerja suamiku yang biasanya pendiam ini, ternyata begitu kuat di ranjang.

Suara napas yang berantakan dan menggoda itu membuatku semakin tak karuan.

Meski tadi sudah ditenangkan oleh mainan kecilku, tenaga mainan itu mana bisa dibandingkan dengan kekuatan pria yang kekar dan bertenaga ini?!

Apalagi pria seperti dia….

Aku menelan ludah dengan susah payah. Tanpa sadar, tanganku mulai menyibakkan rok dan menyelinap ke pangkal paha….

Seiring dengan hantaman keras berikutnya, wanita di atas ranjang itu merintih tertahan… aku pun ikut menghembuskan napas berat yang panas.

Setelah rasa lemas akibat puncak kenikmatan itu berlalu, aku kembali menatap pasangan di dalam kamar. Tiba-tiba, mataku bertatapan dengan sepasang mata hitam itu.

Jantungku rasanya mau copot. Begitu sadar, aku langsung terburu-buru lari bersembunyi ke kamar mandi.

Begitu pintu kamar mandi kututup, terdengar suara pintu kamar terbuka di luar. Aku menepuk dadaku yang berdegup kencang seperti genderang, sambil memasang telinga mendengar gerakan di luar.

Setelah cukup lama tidak ada suara, dengan tangan gemetar, aku membuka sedikit celah pintu untuk mengintip.

Begitu melihatnya, nyawaku rasanya melayang lagi. Aku ternganga menatap pria yang berdiri di hadapanku.

Pria itu bertelanjang dada. Di dadanya yang bidang terdapat beberapa bekas cakaran panjang dan dadanya tampak basah berkeringat.

Pemandangan itu membuat tenggorokanku kering. Aku menelan ludah, wajahku memerah, lalu mencoba tersenyum canggung padanya dan berkata,

“Robert… kamu… mau pakai kamar mandi, ya? Aku… aku sudah selesai….” Usai bicara, wajahku terasa semakin panas.

Tadi aku tak sengaja melirik ke arah celana dalamnya. Bagian yang menonjol di balik celana merahnya itu membuat hatiku berdesir dan kakiku lemas….

Pria itu tidak bicara. Dia hanya menatapku tajam dengan mata hitamnya.

Aku merasa sangat gelisah ditatap seperti itu. Sambil menahan jantung yang rasanya mau melompat keluar, aku memberanikan diri mendorongnya.

Namun, kekuatanku sebagai wanita mana bisa menandingi pria yang setiap hari melakukan pekerjaan fisik di proyek bangunan?

Melihat dia tak bergeming, aku mulai panik. Aku melotot kesal ke arahnya, menyuruhnya awas.

Melihat aku marah, tiba-tiba pria itu tersenyum. Dia menunduk dan berbisik tepat di telingaku, “Kak Tesa… tadi kamu lagi apain?”

Suaranya rendah dan serak khas orang yang baru selesai melakukan itu.

Suara itu bagaikan bulu ayam yang menggelitik, membuat seluruh tubuhku terasa mati rasa, geli, sekaligus panas….

Tanpa sadar, aku merapatkan kedua kakiku….

Dengan wajah memerah, aku menjawab pelan, “Aku… aku buang air….”

Pria itu terkekeh pelan, “Kak Tesa tahu nggak? Tadi siapa yang mengintip di depan pintu kamarku?”

Aku menggelengkan kepala, menjawab tidak tahu.

Tiba-tiba, pria itu mencengkeram daguku dengan kuat, memaksaku untuk mendongak menatapnya.

Setelah tatapan kami bertemu, dia memberikan senyuman yang penuh makna tersembunyi.

Dia menggesekkan jempol dan jari tengahnya. Saat kedua jari itu merenggang, terlihat sehelai benang yang lengket di antaranya.

“Kak Tesa… tahu nggak ini cairan apa yang ada di tanganku?”

Otakku terasa seperti dilempari bom, meledak dan membuat semuanya hancur berantakan.
Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen

Aktuellstes Kapitel

  • Rekan Kerja Suamiku   Bab 8

    Melihat tingkahnya yang pasrah mau diapakan saja itu, rasa sesak di hatiku pun menguap sebagian besar, “Cih… dasar si mulut manis!”Melihatku tersenyum, Robert pun ikut menyengir, “Hehe, karena Kak Tesa sudah nggak marah lagi sekarang, ayo kita lakukan hal yang lain….”“Waktu kerja tadi, isi otakku dipenuhi olehmu, sampai aku beberapa kali melakukan kesalahan….”Aku mencibir dan mendengus, “Kamu saja yang nggak konsentrasi, malah menyalahkanku. Aku nggak mau dijadikan kambing hitam… uh… jangan… jangan digigit….”Setelah bermain satu ronde, aku khawatir Robert tiba-tiba pulang dan menolak untuk lanjut.Namun, Robert terus membujuk dan merayuku. Aku pun sempat goyah dan akhirnya dengan linglung kembali ke kamarnya untuk melakukannya berkali-kali lagi.Setelah selesai, aku ingin pergi, tapi dia terus menahanku, sambil meyakinkan kalau Robert pasti tidak akan pulang.Dan benar saja, Robert baru pulang keesokan harinya waktu siang dan saat bertemu denganku, dia tak lagi mengungkit soal keja

  • Rekan Kerja Suamiku   Bab 7

    Tepat di saat itu, Robert bergegas keluar dari kamarnya dan langsung menarikku ke belakang tubuhnya.Sambil tersenyum lebar, Robert berkata pada Bobi, “Kak Bobi, tadi masih baik-baik saja, kok tiba-tiba jadi ribut begini?”“Robert, awas kamu! Ini urusan rumah tangga kami, jangan ikut campur. Wanita ini memang kurang dihajar.”“Baru setengah bulan aku nggak menghajarnya, dia sudah lupa diri. Hari ini, aku benar-benar harus membuatnya berlutut minta ampun….”Robert mengulurkan tangan untuk merebut sapu dari tangan Bobi, sambil berkata, “Kak Bobi, sudahlah, lupakan saja. Sudah siang, kita harus segera berangkat kerja.”Usai bicara, dia menoleh memberiku isyarat untuk segera masuk ke kamar. Kemudian, dia berbalik lagi merangkul lengan Bobi, memintanya untuk memberinya muka kali ini dan berjanji kapan-kapan akan mengajaknya minum-minum di luar.Setelah dibujuk, akhirnya Bobi berhasil dibawa pergi oleh Robert. Aku pun kembali ke kamar dan merebahkan diri di ranjang.Seketika, air mataku memb

  • Rekan Kerja Suamiku   Bab 6

    Aku menolak dan menyuruh dia sendiri yang pergi. Bagaimana kalau orangnya belum bangun dan aku mengetuk pintu, bisa-bisa dia kesal dan malah memarahiku, malah jadi kacau.Suamiku bilang Robert bukan orang seperti itu. Dia pun mendesakku untuk segera pergi, katanya siang nanti mereka harus berangkat kerja ke proyek.Jika sampai terlambat, mandor bakal memotong gaji mereka lagi. Apalagi Robert kemarin sudah berbaik hati mentraktirnya minum, jadi sudah sewajarnya untuk mengingatkannya.Melihat suamiku mulai kesal, aku pun cepat-cepat menyeruput buburku, lalu bangkit berdiri untuk mengetuk pintu kamar Robert.Meskipun aku tahu pintunya tak dikunci, karena suamiku memperhatikan dari jarak dekat, aku terpaksa pura-pura tidak tahu.“Tuk tuk tuk.” Setelah mengetuk beberapa kali, terdengar suara pria dari dalam yang masih sangat mengantuk.“Siapa?”Aku menarik napas dalam-dalam, lalu memanggil dengan nada datar, “Robert, Kak Bobi menyuruhmu bangun untuk sarapan. Katanya sebentar lagi kalian ha

  • Rekan Kerja Suamiku   Bab 5

    Aku berniat menyuruhnya berhenti, tapi di saat diriku ragu sejenak, tangan Robert sudah menyelinap masuk ke balik bajuku.Tangannya yang kapalan mulai menjalar ke mana-mana, mengelus dan membakar api gairah. Tekstur kasar tangannya di atas kulitku yang halus memberikan sensasi gesekan yang aneh.Gesekan itu membuat tubuhku terasa mati rasa, geli, sekaligus gelisah, seolah ada banyak semut yang sedang mengerubutiku….Aku masih ingin mencoba memberontak, tapi Robert sudah tak tahan lagi. Dia tiba-tiba mengangkat pinggangku, menggendongku dan langsung menerjang masuk ke kamarnya.Setelah pandanganku terasa berputar, aku sudah ditindih kuat olehnya di bawah tubuhnya. Dia membenamkan kepalanya di leherku dan menghirup aromaku dalam-dalam.“Hm… Kak Tesa wangi sekali, sampai membuatku mabuk kepayang, hehe….”Aku mendorong dadanya yang bidang dan kekar. Kulit dadanya yang terasa panas membuat hatiku bergetar dan tanpa sadar aku juga menelan ludah.“Robert… kamu… aku, jangan… kita nggak boleh b

  • Rekan Kerja Suamiku   Bab 4

    Robert yang ada di belakangku tersentak dan napasnya jadi tertahan. Memanfaatkan momen saat dia lengah, aku buru-buru menyelinap keluar dari himpitan tubuhnya dan dinding.Setelah merapikan pakaian, aku bergegas lari keluar dapur, tapi sialnya malah menabrak suamiku yang hendak masuk.“Aduh! Dasar nggak punya mata! Sakit tahu!” Mendengar omelan suamiku, rasa tegang di dalam hatiku pun agak mereda.Aku buru-buru mengucapkan kata-kata menenangkannya sambil menuntunnya kembali ke kamar, beralasan ingin memeriksa apakah ada bagian tubuhnya yang sakit.Suamiku bilang dia baik-baik saja, lalu menyuruhku cepat masak dan jangan membuang-buang waktu dengan hal tak jelas.Aku mengiyakan sambil tersenyum canggung, menyuruhnya berbaring dulu di kamar dan menungguku sepuluh menit. Aku berjanji akan memanggilnya begitu masakan siap.Setelah susah payah membujuknya kembali ke kamar, aku berbalik ke dapur. Ternyata Robert sedang bersandar di dinding.Melihatku, dia mendengus dengan wajah penuh dendam

  • Rekan Kerja Suamiku   Bab 3

    Aku benar-benar ingin menyuruhnya berhenti, tapi tak berani mengatakannya. Aku takut begitu bersuara, yang keluar bukannya kata-kata, melainkan…. Di tengah kegundahanku, suara Robert kembali terdengar di telingaku, “Aku sudah dengar semuanya….”Kelopak mataku tersentak, aku buru-buru bertanya apa yang dia dengar? Pria di belakangku itu mendekat ke telingaku dan berbisik sambil terkekeh, “Kak Bobi payah, ‘kan?”Jantungku bergetar. Kok… kok dia bisa tahu? Ini benar-benar memalukan dan membuatku canggung setengah mati!Dengan kesal, aku mendengus, “Kamu… mana boleh menguping urusan ranjang keluarga orang lain?!”Robert tertawa nakal dan berkata, “Kak Tesa, bukannya kamu juga bersembunyi di balik celah pintu mengintip aku dan pacarku melakukannya?”“Hobi kita berdua sama, benar-benar pasangan yang serasi!”Mendengar ucapan Robert, seketika aku merasa sangat malu sampai ingin rasanya menghilang saja dari muka bumi, “Sembarangan… siapa… siapa yang serasi denganmu!”“Tentu saja kamu, Kak Tes

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status