Share

Bab 28

Author: Jiriana
last update publish date: 2026-06-04 19:55:56

"Ada apa?"

"Aku membawa makan malam untukmu."

Raka melirik nampan yang berada di tangan Kiran sekilas, kemudian berkata dengan dingin, "Aku tidak lapar, bawa kembali makanan itu."

"Tapi kamu belum—"

"Pergi," potong Raka tegas. "Jangan mengangguku."

Braaak!

Pintu tertutup sebelum Kiran sempat berbicara. Dengan wajah lesu, Kiran berbalik pergi dan membawa kembali makan yang dia bawa.

Pukul 9 malam, ibu Raka mengirimkan pesan di saat Kiran baru saja selesai minum obat di kamarnya. Bunyi pes
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Revenge (Derita Tersembunyi)   Bab 32

    "Aku masih ada pekerjaan," jawab Raka. "Dokter bilang, kamu sudah bisa pulang besok, kan?""Iya, tapi orang tuaku akan pergi ke luar kota. Bolehkah aku menginap sementara di rumahmu?"Tiba-tiba saja pagi tadi orang tuanya bilang harus pergi keluar kota karena ada urusan mendesak. Mereka bilang akan kembali dalam beberapa hari."Tidak bisa. Aku akan meminta perawat yang biasanya untuk menjagamu di rumah.""Kak, kamu sudah berjanji pada ayahku akan merawatku sampai sembuh. Apa kamu mau mengingkari janjimu?"Salah satu alasan orang tua Stevi berani meninggalkan Stevi ke luar kota besok, karena Raka sudah berjanji akan menjaga putri mereka sampai sembuh. Selain itu, kondisi Stevi sudah mulai pulih, hanya kakinya saja yang belum bisa digunakan untuk berjalan."Stevi, kita tidak memiliki ikatan. Tidak baik kalau kamu tinggal di rumahku."Apalagi, saat ini dia sudah menikah. Tidak pantas rasanya kalau dia membiarkan wanita lain tinggal di rumahnya."Aku akan mengajak Vania untuk menemaniku j

  • Revenge (Derita Tersembunyi)   Bab 31

    Raka berjalan mondar-mandir di ruangan kantornya dengan gelisah setelah mengecek ponselnya. Sudah dua jam lamanya Kiran berada di rumah orang tuanya, tapi dia belum mendapat kabar apa-apa dari sang ibu.Setengah jam lalu, ibunya hanya mengatakan kalau Kiran sedang berada di ruangan kerja bersama ayahnya. Sang ibu tidak diizinkan untuk masuk ke dalam, jadi ibunya juga tidak tahu apa yang terjadi di dalam sana.Ya. Raka akhirnya setuju ibunya membawa Kiran setelah berdebat panas selama beberapa menit. Ibunya berjanji akan menemani Kiran selama berbicara dengan sang suami, tapi nyatanya dia tidak diizinkan untuk masuk ke dalam.Karena merasa tidak tenang, Raka kembali meraih ponselnya di meja, kemudian menghubungi ibunya. Tiga kali dia melalukan panggilan, tapi tidak juga dijawab oleh sang ibu.Saat dia akan meletakkan ponselnya di meja, ada bunyi panggilan masuk dari ibunya. Buru-buru Raka mengangkat panggilan itu dan bertanya, apakah Kiran sudah keluar dari ruangan sang ayah."Kiran be

  • Revenge (Derita Tersembunyi)   Bab 30

    Setelah ibunya pergi, Raka pergi menutup pintu dan berjalan menuju kamar mandi. Saat melihat Kiran duduk termenung di tepi ranjang, Raka menghentikan langkahnya. "Kenapa belum pergi?" tanyanya. "Masih mau melanjutkan yang tadi?" Kiran menggeleng dan segera keluar dari sana, tapi karena dia melangkah terburu-buru, kakinya tersandung dan hampir membuatnya terjatuh. Beruntung dia segera berpegangan pada tembok. "Dasar ceroboh." Setelah mengatakan itu, Raka berlalu ke kamar mandi dan menutup pintunya. Sementara Kiran bergerak menuruni tangga dengan hati-hati. Di lantai bawah, ibu Raka sedang menikmati secangkir teh hangat sambil memainkan ponselnya. Melihat Kiran sudah menapaki lantai setelah turun dari dari tangga, Hannah memintanya untuk mendekat. "Kamu sudah menyiapkan pakaian untuk Raka?" Kiran terdiam sesaat ketika mendapatkan pertanyaan itu. "Belum," jawabnya jujur. Hannah menggeleng lemah, kemudian menatap Kiran dengan tidak ramah. "Kamu itu istrinya, hal seperti ini m

  • Revenge (Derita Tersembunyi)   Bab 29

    "Papa akan memberitahumu nanti. Untuk sekarang, kamu bertahan saja dulu di sana sementara." "Tapi, Pa ..." "Sudah malam. Sebaiknya kamu istirahat. Kita bicara lagi besok." "Baiklah." Setelah panggilan itu berakhir, Kiran meletakkan ponselnya di ranjang kosong, kemudian menatap langit-langit sambil merenung. >>>>>>>>>> "Bi, Raka udah bangun?" tanya Kiran saat melihat Bi Rum sedang berada di dapur usai dirinya keluar dari kamar pagi ini. "Belum. Sepertinya masih tidur." Kiran melirik jam di ponselnya sejenak, kemudian lalu termenung selama beberapa detik. Sudah pukul 7 pagi, seharusnya Raka sudah berada di meja makan pukul segini. Karena merasa penasaran, Kiran memutuskan untuk menyusul Raka ke kamarnya. Namun, setelah mengetuk beberapa kali, pintu kamar itu tidak juga dibuka oleh pemiliknya. Kiran akhirnya turun ke bawah lagi. Namun, sa

  • Revenge (Derita Tersembunyi)   Bab 28

    "Ada apa?" "Aku membawa makan malam untukmu." Raka melirik nampan yang berada di tangan Kiran sekilas, kemudian berkata dengan dingin, "Aku tidak lapar, bawa kembali makanan itu." "Tapi kamu belum—" "Pergi," potong Raka tegas. "Jangan mengangguku." Braaak! Pintu tertutup sebelum Kiran sempat berbicara. Dengan wajah lesu, Kiran berbalik pergi dan membawa kembali makan yang dia bawa. Pukul 9 malam, ibu Raka mengirimkan pesan di saat Kiran baru saja selesai minum obat di kamarnya. Bunyi pesannya adalah ibu Raka menanyakan keadaan putranya, tapi karena Kiran tidak memiliki kesempatan untuk memeriksa sendiri keadaan Raka, jadi Kiran hanya bisa menjawab dengan jujur. [Pergi lagi ke kamarnya, antarkan makanan, kemudian periksa tubuhnya apakah dia terluka atau tidak." Itu adalah pesan yang baru saja dikirim ibu Raka setelah Kiran memberitahukan kalau Raka menolak kedatangannya tadi. [Kamu harus memeriksanya sendiri dan pastikan dia makan malam.] Terpaksa Kiran pergi ke dapur lagi d

  • Revenge (Derita Tersembunyi)   Bab 27

    "Pa, cukup!" Terdengar teriakan Hannah menggema dari ruangan kerja sang suami setelah terjadi kegaduhan beberapa detik sebelumnya. "Ini akibatnya kalau Mama selalu membelanya, jadi dia pernah merasa bersalah dan selalu berbuat sesukanya." Mendengar keributan itu, dada Kiran semakin berdebar. Tidak bisa dipungkiri kalau dia juga merasa bersalah dan takut disaat bersamaan. Bagaimana tidak, ayah Raka pasti marah karena sang anak menikahi dirinya. "Braaak!" Terdengar suara pintu dibuka dengan keras, disusul dengan seruan dari ayah Raka, "Raka, kau mau ke mana? Papa belum selesai bicara!" "Pa, sudah. Biarkan dia pergi." Kiran yang sejak tadi sedang duduk sambil menunduk, tampak terkejut saat tangannya tiba-tiba diraih oleh seseorang. Ketika dia menoleh, ternyata Raka sudah berdiri di belakang kursinya. "Ayo, pulang." Kiran yang ditarik Raka, hanya bisa mengikuti langkah pria itu dengan wajah bingung. Setelah keduanya masuk ke dalam mobil, Raka langsung meninggalkan rumah orang tua

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status