Inicio / Urban / SANG PENANTANG WURAKE / Kak, Bangun Sebentar, Kak!

Compartir

Kak, Bangun Sebentar, Kak!

Autor: Thato Kent
last update Fecha de publicación: 2026-09-20 12:09:54

Bayi yang masih memerah ini seolah tidak terima aku memarahi kakaknya. Begitu kusebut namanya, seketika itu juga dia palingkan wajah, menjatuhkannya sedikit lebih ke samping.

Wajah itu kemudian dia lindungi menggunakan salah satu lengan kecilnya. Lagaknya, persis seseorang ketika sedang merajuk dan sekonyong-konyong sedang tidak mau diajak bicara!

Karma pula, mimik wajahnya ... ya Tuhan, nian ... jatuh lagi air mata. Zarima bahkan belum ke mana-mana, tapi anak ini sudah tidak ubahnya bocah piat
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • SANG PENANTANG WURAKE   Kumandikan Sendiri Jenazahnya

    Ragu-ragu kusingkap kain sarung yang menutupi tubuh Zarima. Menjiwai wajahnya dengan cermat, sama saja dengan kemarin. Menyentuh urat nadi hingga memastikan detak jantung, juga tak ada tanda-tanda. Mendekatkan telinga ke hidungnya, dengan berat hati ketutupkan saja kembali kaun sarung ke jasadnya. "Hah... Kak, padahal aku sangat berharap akan ada keajaiban." Apa yang terjadi pada Karma dan Norma tadi malam, memang tidak masuk akal. Tapi berharap Zarima hidup kembali, apa boleh buat, itu jauh lebih tidak masuk akal lagi. Mumpung anak-anak ini belum terjaga, mulailah pula aku merebus air untuk menyeduh susu sekaligus campuran air mandi mereka. "Mandi? Jangan-jangan ini yang dia maksud kemarin lalu? Aku baru ingat, kemarin lalu, Zarima bilang, aku pasti punya kesempatan untuk memandikan dia. Dia bahkan seperti menegaskan, aku sendiri yang akan memandikannya. "Ya Allah, Kak.. kenapa harus main teka-teki seperti ini sih? Coba kamu terus terang saja, mungkin dari kemarin aku m

  • SANG PENANTANG WURAKE   Jangan-jangan Dia Masih Hidup?

    Aku tahu kami ini hanyalah cebisan malang, yang terpental dari sekat-sekat keniscayaan, remuk kami diulek-ulek ketidakadilan.Bukan sekali dua tersayat, berdarah-darah ditusuk runcingnya belati fitnah. Akan tetapi, baru kali ini aku merasa betapa dunia telah pun menghunjam dengan-dengan amat dalam!Sakit.. sakit sekali. Padahal, kami ini tidak bersalah, hanya korban, tapi mereka tega bahkan pada jenazah Zarima?Kejam..ini sangat kejam! Apa yang dipertontonkan dunia hari ini, benar-benar sudah sangat keterlaluan!"Tapi ini salahku juga, Kak. Seharusnya aku abaikan saja omongan orang tua itu.""Hanya saja, dia tadi imam mesjidnya,Kak. Fardu kifayah itu tanggung jawabnya. Itulah kenapa aku pikir, dia pasti datang urus kamu.""Maafkan aku, Kak, tolong maafkan aku. Aku mengaku salah, kamu boleh hukum aku sekarang, Kak..""Aku ... tidak tidak, tidak seperti itu, aku tidak bermaksud menambah beban perjalananmu, Kak. Baik, aku tidak akan menangis lagi."Ada yang mengatakan, dilarang meratapi

  • SANG PENANTANG WURAKE   Jenazah yang Diabaikan

    "Kenapa belum bangun juga, Kak? Tidak bisa ya kamu bangun liat mereka dulu biar hanya sebentar?""Kalian juga Karma. Sudah-sudahlah nangisnya Dek! Kalaupun butuh sesuatu, seharusnya bilang biar aku ...."Tunggu! Apakah aku sudah melewatkan sesuatu? Sepertinya iya! "Mudah-mudahan.."Sesegera itu juga aku bergeser ke bagian dapur, memastikan apakah masih ada susu sachet tadi malam."Syukurlah!" gumamku lagi, susunya masih ada beberapa bungkus.Tanpa membuang-buang waktu, mulailah pula aku siapkan susunya. Air di tungku yang tadinya untuk campuran air mandi Zarima, aku timba saja sedikit.Selesai menyeduh, susu dalam cangkir kucampur dengan air dingin secukupnya, mengaduknya sekali lagi, lalu kembali menghampiri mereka."Tuhan, tolong hentikan tangis adik-adikku ini.""Bismillah.""....""Alhamdulillah.. alhamdulilah. Terima kasih Tuhan, terima kasih, Kak Rima benar, Kau memang Maha Romantis!"Betapa aku sudah tidak ubahnya seseorang yang baru saja keluar dari labirin yang maha rumit.

  • SANG PENANTANG WURAKE   Kak, Bangun Sebentar, Kak!

    Bayi yang masih memerah ini seolah tidak terima aku memarahi kakaknya. Begitu kusebut namanya, seketika itu juga dia palingkan wajah, menjatuhkannya sedikit lebih ke samping.Wajah itu kemudian dia lindungi menggunakan salah satu lengan kecilnya. Lagaknya, persis seseorang ketika sedang merajuk dan sekonyong-konyong sedang tidak mau diajak bicara!Karma pula, mimik wajahnya ... ya Tuhan, nian ... jatuh lagi air mata. Zarima bahkan belum ke mana-mana, tapi anak ini sudah tidak ubahnya bocah piatu yang tersisih dari lorong antrian panjang pembagian sedekah di hari lebaran.Air mata Karma memang masih terus menitik, luruh satu-satu merupa manik putus-putus di pipinya yang kemerah-merahan. Bibir mungilnya pun demikian, masih saja bergetar-getar sebagaimana tadi. Akan tetapi, tidak ada sedikitpun suara yang keluar dari sana. Sedangkan sorot matanya, betapa mengiba! Sungguh, siapa yang tega melihat itu!"Jangan takut Dek, jangan takut, masih ada aku yang akan menjadi pelindung kalian! Per

  • SANG PENANTANG WURAKE   Tidur Panjang

    Pagi-pagi sekali aku sudah terjaga. Tidak ingin Zarima melakukan sendiri pekerjaannya seperti kemarin pagi, begitu selesai mencuci muka dan minum segelas air putih, aku langsung menghimpun pakaian kotor mereka lalu turun membawanya ke kamar mandi. Di kamar mandi pun cepat aku pisahkan pakaian mereka, membersihkan kotoran bayinya, sebelum kemudian merendamnya secara terpisah. Setelah itu, aku kembali ke gubuk untuk merebus air, Untuk airnya, tidak akan kutinggalkan sampai benar-benar mendidih. Zarima bilang, airnya akan bau asap kalau tidak mendidih secara sempurna.Selagi menunggu airnya mendidih, aku siapkan air dingin pada sebuah baskom. "Tumben tidak ada yang menangis?" Bayi Zarima dua-duanya sudah terjaga. Tangan mereka tampak bergerak-gerak, tapi tidak ada yang memperdengarkan suara tangisnya. Bahkan Karma yang biasanya paling mudah menangis itupun, pagi ini hanya diam saja.Sedangkan Zarima sendiri, dia tampak masih selelap itu. Mungkin kelelahan hingga kepagian begitu.Tak

  • SANG PENANTANG WURAKE   Wangi Bunga Melati

    Tergesa kutinggalkan titik berlangsungnya ritual, mengambil jalan pintas dalam semak-semak, cepat menuju hutan di ujung desa. Kakiku mungkin sudah tertusuk duri. Tapi siapa yang peduli itu? Telur dan nasi ritual barusan pun sudah tidak kuhiraukan.Jantungku pula, masih saja seperti tidak berada pada tempat semetinya. Padahal, aku sudah coba menanamkan keyakinan bahwa barusan itu hanyalah halusinasi semata.Tiba di jalan raya tak jauh dari rumah Yulianti, aku gandakan kecepatan, berlari kencang menuju jalan setapak yang menuju ladang kami."Astaghfirullah, siapa lagi itu?"Akan mendesis kaget setelah lebih dulu mengehentikan lari secara tiba-tiba. Pada jalan setapak kira-kira lima belas meter dari jalan raya tempat di mana aku berpijak kini, tampak bayangan seseorang. Dia seperti berdiri mengadang di sana."Siapa ya?" Aku menyipitkan mata, memandangnya hingga beberapa lama, lalu beralih ke sekeliling.Jalan raya ujung desa sana, lengang. Tak ada satu bayangan manusia pun yang terliha

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status