Masuk"Kamu bayar sendiri biaya persalinanmu. Itu karena salahmu tidak melahirkan anak laki-laki sesuai keinginanku!” bentak Mas Gunawan. Hanum--25 tahun adalah seorang istri yang menjadi korban keegoisan suami yang menginginkan anak laki-laki dari pernikahannya. Saat keinginannya tidak terpenuhi, Gunawan-- 28 tahun bersikap dingin dan tidak peduli kepada Hanum dan ketiga anaknya. Hanum harus berjuang sendiri melawan syndrom baby blues yang menyerangnya. Akankah Hanum berhasil melawan syndrom yang berbahaya bagi wanita pasca melahirkan itu tanpa dukungan dari suaminya?
Lihat lebih banyak"Ibu, ibu dimana? Riri takut..." rengek gadis kecil yang duduk bersandar di bawah pohon sambil memeluk kedua lututnya dengan ketakutan.
Hari sudah kembali berganti malam, entah berapa lama ia sudah duduk di bawah pohon ini sambil menyusuri sungai. Berharap bisa kembali ke desa.
Gadis kecil itu mulai menitikan air matanya dengan ketakutan, suara burung hantu di hutan mulai bermunculan dan lolongan serigala menambah keseraman di telinganya.
Ia semakin mengeratkan pelukan di kakinya dan bergumam pelan karena kelaparan. "Ibu..."
"Lho, ada orang disini?"
Gadis kecil itu mengangkat kepalanya dengan takut. Hantu?
"Kenapa kamu bisa di dalam hutan?"
Gadis kecil itu bersikap defensif ketika orang itu berusaha mendekatinya.
"Ah, susah juga ya. Saya kira anak kecil itu ramah dengan orang lain."
GUK
Anak kecil itu terkejut ketika seekor anjing berwarna cokelat mengendus dirinya. A... anjing?
Orang itu berjongkok di samping anjingnya. "Tenang saja, ini anjing ramah. Jenisnya memang tidak jelas tapi dijamin sifatnya jelas kok, baik juga sama anak kecil. Kalau ada anjing ini adik kecil tidak takut bukan?"
Gadis kecil itu mengulurkan tangannya dengan ragu sementara si anjing menyundul tangan kecil dengan kepala supaya mengelus kepalanya. Gadis kecil itu tertawa seolah melupakan kesulitannya.
Orang itu tersenyum lega. "Boleh saya tahu dimana orang tua kamu?"
"Di desa."
"Desa ya, kamu kenapa bisa di dalam hutan sendirian?"
Kedua mata anak kecil itu meredup. "Ada orang yang bilang kalau dia ayah kandung Riri, Riri senang dan diajak jalan-jalan terus..." anak kecil itu mulai terisak. "Terus orangnya hilang, Riri cari-cari nggak ada sampai Riri nggak bisa pulang."
"Dari desa mana kamu? saya antar ya."
"Tahu tempatnya? Riri aja nggak bisa pulang karena hutan ini luaaaasss sekali."
"Tapi hutan ini nggak jahat sama Riri 'kan?"
Anak kecil itu bingung dengan pertanyaan orang di depannya, ia hanya menjawab dengan anggukan.
"Ayo, saya antar kamu. Kamu masih ingat wajah orang yang bawa kamukan?"
"Kalau lihat, mungkin ingat."
"Kalau begitu sekalian ya kita cari desa, mungkin saja orang-orang kebingungan mencari kamu."
"Riri nggak kuat berdiri. Riri lapaar." Rengek anak kecil itu.
Orang itu menggendongnya lalu memberikan cokelat di saku jasnya. "Kalau begini bisa kan? Ini cokelat. Saya hanya punya ini."
Anak kecil itu menerima cokelat yang sudah digigit sedikit lalu memakannya dengan kelaparan. "Terima kasih."
Orang itu berjalan berdampingan dengan anjingnya untuk membawa anak itu pulang.
Aku menerima panggilan Rani meskipun dengan hati ragu. Semoga saja panggilan Rani ada hubungannya dengan pesan aneh yang dikirim Mas Hadi."Hallo, ada apa Rani?" tanyaku memulai pembicaraan."Ibu sudah menerima pesan dari Bapak?" tanya Rani yang membuatku sedikit terkejut."Iya, sudah. Kenapa kamu bisa tahu kalau Bapak mengirimkan pesan kepada saya?" tanyaku penasaran."Tentu saja saya tahu, karena Bapak dan anak-anak akan pergi bersama saya!" jawab Rani enteng."Kamu jangan main-main, Rani. Katakan kalau apa yang kamu ucapkan itu tidak benar!" hardikku merasa kesal dengan jawaban Rani."Saya tidak main-main. Kami akan pergi bersama dan hidup berbahagia untuk selamanya, ha ... ha ... ha ..." Rani mengakhiri panggilan dengan tawa yang mengerikan.Aku semakin bingung. Mencoba kembali menghubungi Rani untuk meminta penjelasan, namun tiba-tiba kontaknya tidak dapat dihubungi. Aku sedikit panik, namun berulang kali mencoba menghubunginya kembali. "Kenapa, Hanum?" tanya kak Lala penasaran.
Aku melihat tubuh ayah terkapar dengan mulut bersimbah darah. Posisi beliau yang terlentang dan tidak sadarkan diri. Aku panik melihat kondisi ayah yang mengenaskan. Dengan segera aku mendekat ke arah ayah dan meletakkan kepala beliau dalam pangkuanku. Hati di sampingku hanya terdiam dengan wajah bingung.“Ayah, bangun. Apa yang terjadi sebenarnya?” tanyaku seraya menangis. Hening, tidak ada jawaban dari beliau. Wajah laki-laki yang menjadi cinta pertamaku ini hanya terdiam dengan wajah yang tampak memucat. Perlahan aku mencoba memeriksa denyut nadi dari pergelangan tangannya dan masih terasa denyutannya meskipun lemah. Berarti masih ada harapan ayah untuk selamat. Keberanianku tiba-tiba muncul demi menyelamatkan beliau. Aku menghubungi rumah sakit untuk dibawakan ambulance segera.Aku bingung harus melakukan apa sembari menunggu mobil ambulance datang. Tiba-tiba terlintas nama kak Lala. Iya, aku harus menghubunginya. Mungkin saja kak Lala tau apa yang harus aku lakukan selanjutnya.
PoV: GunawanSi*al … Gara-gara Hanum, hidupku jadi sengsara seperti ini. Menghabiskan waktu di dalam jeruji besi yang membuatku hampir gila. Bagaimana tidak? Aku hidup dalam sel yang dihuni puluhan orang. Tidur berdesakan dengan hanya beralaskan kasur yang sangat tipis, setipis imanku. Selain itu, menu makanan disini juga sangat tidak menggugah selera. Baru beberapa minggu saja tinggal disini, aku merasa bobot tubuh merosot drastis.“Hei Gunawan, kenapa kamu melamun? Jangan bermimpi bisa kabur dari sini, karena aku sudah mencobanya berpuluh kali namun selalu gagal,” ledek Agus, teman sesama napi yang mendapatkan vonis seumur hidup. “Lihat saja nanti, aku akan keluar dari sel terkutuk ini,” jawabku jumawa.Agus terkekeh. Saking gelinya, ia tertawa hingga mengeluarkan air mata. Mungkin baginya ucapanku seperti sebuah lelucon yang sangat lucu. Bagaimana bisa aku seorang narapidana yang tergolong baru bisa keluar dari sel ini dengan selamat. Sedangkan dirinya yang sudah tinggal puluhan t
Aku terjaga di sepertiga malam, menengadahkan kedua tangan memohon ampunan dan petunjuk-Nya. Bukan berputus asa, namun aku lelah menghadapi masalah yang tidak jelas akar permasalahannya ini sendirian. Suamiku yang hangat dan penyanyang tiba-tiba berubah menjadi dingin dan acuh. Begitu pun dengan kedua putriku Hana dan Hani. Mereka yang penurut juga tiba-tiba berubah menjadi anak pembangkang dan lebih menuruti ucapan Rani, asisten rumah tanggaku.Ya, Rani. Ia penyebab semua permasalahan di keluargaku. Semenjak kedatangannya di rumah ini, hidupku yang bahagia berubah menjadi sebuah malapetaka. Aku terus bermuhasabah dan introspeksi diri, khawatir ada sikap atau kesalahan yang pernah dilakukan tanpa sengaja sehingga Allah memberikan teguran dengan mendatangkan permasalahan ini. Akan tetapi aku yakin, Allah tidak akan memberikan ujian di luar batas kemampuan hamba-Nya.Aku pikir dengan memecat Rani, semua permasalahan akan selesai. Namun ternyata perkiraanku salah, karena justru menambah m












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan