Masuk“Kita sudah menikah bukan? Apa lagi yang kau tunggu? Buka pakaianmu, dan cium aku.” *** Mae (25) sudah menikah tiga kali, dan menjadi simpanan dua sugar daddy. Tapi Ashton, pria yang menawarkan pernikahan Mae saat pemakaman suami ketiganya, tidak sesuai dengan kategori pria pilihan yang sebelumnya---terutama karena usia yang kurang tua. Mae ingin menolak, tapi setelah Asthon mengatakan dirinya sudah hampir mati karena sakit, dan akan mewariskan seluruh hartanya pada Mae ketika dirinya meninggal nanti, Mae menerima. Apalagi ia sedang dalam posisi terjepit akibat warisan suami ketiganya bermasalah. Mae menikah dengan Ashton, tapi tidak selancar dugaannya. Banyak hal disembunyikan Ashton, belum lagi reputasi Mae yang terkenal sebagai wanita murahan banyak mendapat cacian dari lingkungan, membuat Mae berat melanjutkan pernikahan itu. Apakah Mae akan bertahan sampai Asthon meninggal seperti perjanjian? Dan hal apa yang sebenarnya disimpan oleh Ashton?
Lihat lebih banyak“Di sini saja, lebih teduh.” Rowena menunjuk kursi di sebelahnya. Dean juga mengangguk setuju.Seluruh plot kursi taman itu sebenarnya ada di bawah pohon paling besar yang ada di taman rumah, tapi karena posisi matahari, ada bagian yang masih tersiram cahaya.Mae sebenarnya tidak keberatan mendapat siraman matahari setelah beberapa hari berada di rumah sakit, tapi ia masih ingat bagaimana nasib orang yang kali terakhir berdebat dengan Rowena—diusir, karenanya sekarang Mae memilih menurut dan duduk dengan manis di sampingnya.“Kau sudah tidak sakit?” tanya Amy yang sudah duduk dan kini menyerahkan satu cookies dari meja. Bukan buatan Mae tapi. Ia belum boleh mendekati dapur—atau melakukan apapun.“Tentu saja. Dokter tidak mungkin mengizinkan aku pulang kalau belum.” Mae melirik Ash yang juga sudah duduk di sampingnya. Orang yang tidak mungkin mengizinkan Mae pulang sebelum dokter memastikan tidak ada yang salah dari tubuhnya.Untung saja Mae kemarin berhasil membuat dokter itu merahasia
“Mae? Ada apa?”Jeritan itu tentu saja menarik perhatian Rowena, dan juga beberapa orang tamu yang bersamanya. “Mae, hentikan!” Rowena menyambar kran wastafel dan mematikannya. Ia lalu menyambar tisu dapur dan mengulurkannya untuk wanita yang kini tersedak dan terbatuk itu.“Lady Jane? Apa Anda baik-baik saja?” tanya Rowena, sambil membantu mengusap air dari wajahnya.Mae yang masih berdiri di situ sedikit menjauh. Mengeluh saat mendengar Rowena memanggilnya lady. Itu berarti Jane ini berasal dari kalangan bangsawan yang sama dengan Rowena. Ia menyombong karena tahu kedudukannya kurang lebih sama dengan Rowena.“Tidak! Wanita ini menyerangku!” Jane menuding ke arah Mae, segera begitu batuknya terhenti.“Mae? Apa—”“Pelayan ini kurang ajar. Kau harus memberinya pelajaran etika!” Jane mengadu tanpa memberi kesempatan Rowena untuk bertanya pada Mae.“Siapa? Pelayan yang mana?” Rowena bingung memandang sekitar, mengira ada orang lain yang terlibat.“Ini!” Jane menuding Mae dengan lebih je
“Aku saja yang membawa.” Mae mengambil alih piring besar berisi potongan kue yang sudah diatur rapi olehnya dari tangan pelayan. Ini karena memang jumlah orang yang membawa kurang. Mae membantu agar pekerjaan mereka cepat selesaiAcara makan sudah dimulai sejak dua jam lalu, dan kini saatnya dessert yang dihidangkan. Semua tamu ribut bicara dan menertawakan entah apa. Mereka sudah tidak lagi duduk, tapi berdiri berkelompok masing-masing. Beberapa mengerumuni Rowena sebagai tuan rumah untuk berterima kasih.“Mae.” Rowena menghentikan langkah Mae dengan meraih lengannya saat ia lewat untuk kembali ke dapur.“Kau tidak perlu bekerja lagi.” Kalimat Rowena itu terdengar seperti kalimat pemecatan, tapi Mae sudah menghapal kalau tujuan Rowena bukan itu. “Kau tidak terlihat baik-baik saja.”Kalimat Rowena yang menyusul berikut menjelaskan niatnya dengan lebih baik. Rowena sedang mengkhawatirkan keadaan Mae.“Ya, setelah ini aku akan beristirahat.” Mae tersenyum menenangkan, lalu meneruskan l
“Karena itu kalian bisa melapor pada—Oh? Sir.” Louis mengangguk saat melihat Ash mendekat.Tapi ia paham kenapa dan langsung bergeser, memperlihatkan sosok yang berdiri di sampingnya, lalu melanjutkan briefing. Tidak berkomentar saat Ash menarik kerah jas Ian, yang tentu saja sedang tersenyum lebar.“What the fuck are you doing here?” geram Ash, setelah mereka sampai di taman yang sepi, tidak termasuk area yang dipakai untuk menjamu tamu.“Tolonglah jangan banyak mengumpat. Untung saja tidak ada toples di sini—Oh, apa aku perlu menghitung berapa umpatan yang kau ucapkan? Jadi bisa membayar nanti?” Ian menepuk bahu Ash perlahan, menangkan sekaligus menikmati reaksinya. Ian memang sengaja tidak mengatakan apapun agar bisa menikmati reaksi itu.“Apa yang kau lakukan di sini?!” Ash mendesis sambil menatap Ian dari atas sampai ke bawah. Jas itu sangat baru, juga pin yang tersemat di dadanya—menandakan ia anggota RaSp.“Apa kau menyamar? Ada pekerjaan yang membuatmu harus menyamar di sini?
“Ya, katanya dia mencintaiku.” Serena menghela napas panjang.Teh yang ada di mulut Mae nyaris tersembur, untungnya hanya ada sedikit, jadi bisa langsung menelan.“Ian—dia mengatakannya padamu?” Selain terkejut, Mae sejujurnya agak tidak percaya. Menurut pengamatannya, Ian bukan tipe pria yang diting
Ian melirik notifikasi di ponselnya yang menumpuk karena sejak tadi mengabaikan. Paling tidak ada lima pemberitahuan dari bank.Yang paling mencolok tentu saja pemberitahuan dari toko perhiasan. Mencolok tapi tidak mengejutkan lagi sampai titik ini. Serena memang memiliki kebiasaan belanja random.“Me
“Aku lupa! Turunkan itu—Please!” Ian mengangkat tangan dan panik. Ash tidak akan membunuhnya, tapi tidak keberatan melukai. Ash tahu benar dimana sasaran tembak yang tidak akan membuatnya terbunuh.“KAU MENYEBUT MATI!” Ash masih murka.“Iya, itu tadi. Aku lupa mengirim pesan lagi.” Ian Mendekati Ash s
“Kau tidak suka wortel?” tanya Dawn, saat melihat Ian masih menyisakan potongan wortel di tepi piring. Steak yang menjadi makanan utama sudah berkurang separuh tapi sayuran rebus—termasuk asparagus—masih cukup banyak.“Suka. Saya terbiasa memakannya terpisah saja. Untuk lebih menikmati rasa.” Ian ter


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Peringkat
Ulasan-ulasanLebih banyak