INICIAR SESIÓNVanessa perlahan mengangkat wajahnya. Tatapan merahnya langsung bertemu dengan mata Arka, dan di dalam pupil yang mulai kehilangan kendali itu hanya ada satu bayangan yang terpantul. Kerinduan, cinta, ketergantungan, dan rasa sakit bercampur menjadi satu, membentuk gejolak yang nyaris meluap.Tanpa sepatah kata lagi, Vanessa kembali meraih wajah Arka dan menciumnya. Ciuman itu sama sekali tidak ragu ataupun malu. Ia menciumnya dengan seluruh kerinduan yang selama ini dipendam, seolah ingin memastikan pria di hadapannya benar-benar telah kembali."Arka... Arka..."Di sela napas yang tidak teratur, nama itu terus terucap lirih.Arka sempat kehilangan ritme. Ia bisa merasakan tubuh Vanessa terus bergetar, napasnya memburu, dan detak jantungnya berpacu begitu cepat hingga seakan hendak meledak."Vanessa... jangan..." Ia baru hendak berbicara ketika Vanessa kembali membungkamnya.Begitu gejolak yang selama ini ditekan menemukan tempat untuk diluapkan, semuanya berubah menjadi arus yang sul
Sekitar tiga puluh menit kemudian, mereka tiba di markas gua yang berada tak jauh dari Celah Mahesa.Di ruang pribadi yang dipisahkan lembaran kanvas tebal, Vanessa meringkuk di atas ranjang batu beralas kulit binatang. Tubuhnya bergetar pelan, sementara kemeja tipis yang dikenakannya telah basah oleh keringat hingga melekat erat di kulit.Wajahnya memerah tidak wajar. Kelopak matanya setengah terpejam dengan tatapan yang mulai kehilangan fokus, sedangkan bibir yang terus digigitnya hingga berdarah menjadi satu-satunya cara untuk menahan gejolak yang terus menguasai tubuhnya.Erangan lirih beberapa kali lolos dari tenggorokannya, terdengar seperti menahan rasa sakit sekaligus pergulatan batin yang semakin sulit dikendalikan.Serena dan Gavira berdiri di sisi ranjang dengan wajah penuh kecemasan."Nona Vanessa... kalau memang sudah tidak sanggup, jangan dipaksakan." Serena mengusap pelan keringat di dahi Vanessa menggunakan handuk basah."Jangan terus menahannya, tubuhmu bisa semakin l
Ucapan Adhyaksa membuat hati Arka langsung tenggelam."Sudah berapa lama kondisinya seperti itu?""Kurang lebih sepuluh menit. Awalnya Nona Vanessa masih sadar dan memaksa kami semua keluar, tapi barusan Gavira bilang keadaannya semakin buruk. Dia hampir kehilangan kesadaran."Kepanikan dalam suara Adhyaksa terdengar begitu jelas, sesuatu yang sangat jarang terjadi pada pria itu."Kalian sekarang di mana? Apa masih sempat kalau kau kembali?"Arka mengangkat pandangan. Di hadapannya, Uryu masih diborgol dan duduk di tanah, sementara di kejauhan asap tipis terus mengepul dari pintu keluar Gua Kelam. Pertempuran memang sudah dimenangkan, tetapi proses pembersihan medan dan interogasi baru saja akan dimulai.Namun saat ini, Vanessa jauh lebih membutuhkan dirinya.Tanpa berpikir lebih lama, Arka segera mengambil keputusan."Aku berangkat sekarang juga. Tuan Adhyaksa, suruh Gavira dan Serena tetap mendampinginya sebisa mungkin. Tahan sampai aku tiba, paling lambat setengah jam lagi aku suda
Niko sama sekali tidak memberi kesempatan lawannya bereaksi. Jari telunjuknya langsung menarik pelatuk.Roket itu meluncur dari jarak nyaris nol sebelum meledak tepat di dalam lorong sempit Gua Kelam.BAAAANG!Ledakan dahsyat mengguncang seluruh lereng gunung. Kobaran api dan kepulan asap pekat menyembur keluar dari celah bebatuan, gelombang kejutnya menghantam area sekitar hingga tanah dan pecahan batu beterbangan beberapa meter ke udara. Bahkan dari jarak lebih dari sepuluh meter, Arka dan Uryu masih bisa merasakan semburan panas serta getaran hebat yang menerpa tubuh mereka.Niko sendiri sudah lebih dulu melepaskan tabung peluncur itu dan mundur sebelum ledakan terjadi. Peluncur roket tersebut terpental akibat tekanan balik, menghantam tanah beberapa meter jauhnya hingga tabungnya penyok dan melengkung.Ia hanya menepuk-nepuk debu di kedua telapak tangannya, lalu meludah santai ke samping.Uryu hanya mampu menatap kosong ke arah pintu masuk gua. Bahkan rasa nyeri luar biasa di perg
Arka sama sekali tidak memberi Uryu kesempatan memulihkan diri. Begitu tubuh lawannya membeku akibat teknik memutus nadi, ia langsung memutar posisi, menindih punggung Uryu, lalu menghimpit pinggangnya dengan lutut. Dalam waktu yang sama, tangannya sudah mencabut pengikat kabel dari pinggang dan mengunci kedua tangan Uryu di belakang punggung dengan gerakan cepat serta rapi.Seluruh rangkaian itu bahkan tidak memakan waktu lebih dari tiga detik.Saat efek teknik tersebut mulai memudar, Uryu baru menyadari dirinya telah benar-benar dilumpuhkan. Kedua tangannya terikat rapat di belakang punggung, sementara Arka terus menekan tubuhnya ke tanah hingga mustahil baginya untuk bergerak.Uryu hanya mampu terbaring sambil mengatur napas yang memburu. Keringat dingin mulai membasahi dahinya, sedangkan rasa nyeri akibat pergelangan tangan yang terkilir dan mati rasa di dadanya perlahan menghilang. Namun, yang benar-benar membuat wajahnya menegang bukanlah rasa sakit itu, melainkan pukulan Arka b
Arka kembali menatap lurus ke arah Uryu. "Menyerahlah. Kau tidak akan bisa kabur.""Menyerah?" Uryu mencibir dingin. "Anggota Sindikat Noctis hanya mengenal kematian. Kami tidak pernah menyerah."Belum sempat kalimat itu selesai, tubuhnya kembali melesat ke depan. Kali ini ia tidak menggunakan kepalan tangan, melainkan tendangan menyapu yang meluncur secepat cambuk dan langsung mengincar pinggang serta tulang rusuk Arka dengan kekuatan yang jelas ditempa dari latihan bertahun-tahun.Arka tidak memilih menahan serangan itu secara langsung. Ia sedikit memiringkan tubuh ke belakang sambil mengulurkan tangan kiri untuk menangkap pergelangan kaki Uryu. Ia alu melangkah maju dengan kaki kanan dan memutar tubuhnya dalam satu gerakan mulus, berusaha melempar lawannya menggunakan teknik lempar bahu.Namun Uryu bukan lawan biasa. Begitu pergelangan kakinya terkunci, ia langsung meloncat menggunakan kaki satunya, memutar tubuh di udara hingga berhasil melepaskan diri, lalu mendarat tepat di sisi
BANGGGGG!Letusan kedua kembali mengguncang malam.DUAAAR!Ledakan lain langsung menyapu jalan. Pikap kedua meledak lebih brutal dari sebelumnya. Api membubung tinggi ke udara, sementara kendaraan itu hancur berkeping-keping bersama orang-orang di dalamnya. Beberapa tubuh bahkan terlempar hingga me
Peter dan anak buahnya masih menembak membabi buta dari atas. Kilatan moncong senjata terus bermunculan dari balik pagar lantai dua seperti hujan api.Pada saat yang sama, tiga mobil Jeep milik Adhyaksa akhirnya tiba di depan kawasan bar. Pintu kendaraan terbuka keras. Para pengawal elit keluarga M
“Benar.” Jawaban Arka pendek.Namun nada suaranya berubah begitu rendah hingga terasa seperti es yang menggores tulang.“Kelompok sampah yang membantai warga sipil di Pedesaan Kelam Ravora.” Rahangnya mengeras. “Wanita, anak-anak, tawanan… mereka membunuh semuanya.”Kilatan dingin melintas di matan
Beberapa detik kemudian, Arka akhirnya memalingkan wajahnya sedikit lalu menatap Adhyaksa dengan sorot tenang.“Kalau begitu,” suaranya terdengar datar namun langsung mengarah ke inti masalah, “Keluarga Mahesa sebenarnya berada di pihak yang mana?”Pertanyaan itu langsung membuat suasana di dalam m







