Share

BAB 196

Author: Rainina
last update Petsa ng paglalathala: 2026-03-17 23:11:13

Udara di dalam Aula Takhta seketika terasa membeku. Tuntutan berani dari Marquess Ashford menggema, menantang otoritas sang penguasa baru di hadapan seluruh bangsawan kekaisaran.

Mata merah Lucian menyipit tajam. Hawa membunuh yang luar biasa pekat mulai merembes keluar dari pori-porinya, siap mencekik pria tua arogan di hadapannya itu. Tangannya yang terbungkus sarung tangan baja perlahan bergerak menuju gagang pedangnya.

"Kau memang membantuku menembus gerbang istana ini, Marquess." geram Luc
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 211

    Keesokan paginya, sebelum matahari sepenuhnya naik menghangatkan ibu kota, langkah kaki yang berat dan berdentum keras memecah keheningan di bagian istana yang menjadi kediaman pribadi Beatrice.Para pelayan dan ksatria penjaga yang berdiri di lorong seketika menunduk pucat pasi, menyingkir ke dinding seolah mereka baru saja melihat malaikat maut melintas.Pintu ganda itu didorong terbuka dengan kasar tanpa ketukan.Di dalam ruangan yang dipenuhi aroma teh melati yang mahal, Beatrice sedang duduk dengan anggun di kursi beludrunya. Wanita paruh baya itu meletakkan cangkir tehnya dengan tenang, matanya yang tajam menatap lurus ke arah putranya yang kini berdiri menjulang di tengah ruangan. Hawa membunuh yang dibawa Lucian membuat ruangan itu menjadi dingin."Keluarlah." titah Lucian pelan kepada seluruh pelayan di ruangan itu, tanpa menoleh. "Semuanya."Hanya dalam hitungan detik, paviliun itu kosong melompong. Pintu ditutup rapat dari luar, meninggalkan sepasang ibu dan anak penguasa

  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 210

    Lucian tahu persis mengapa istrinya yang pemalu memaksakan dirinya dan memohon seperti ini.Sienna tidak sedang mendambakan keintiman suaminya karena cinta semata. Gadis itu sangat sangat putus asa untuk segera hamil. Tekanan dari para bangsawan, bayang-bayang selir yang terus menghantui, dan mungkin kata-kata tajam dari entah siapa di istana ini telah mendorong Sienna ke jurang kepanikanMenyadari bahwa istrinya sedang membuang perasaannya sendiri demi sebuah kewajiban, hati Lucian hancur berkeping-keping."Sienna..."Lucian melepaskan tautan bibir mereka dengan lembut. Ia menangkup kedua sisi wajah istrinya yang basah oleh keringat dingin, memaksa Sienna untuk berhenti bergerak dan menatap matanya."Kumohon..." rintih Sienna, air mata akhirnya menggenang di pelupuk matanya yang memancarkan ketakutan. "Beri aku anak, Lucian. Aku butuh anak darimu. Jika tidak... mereka akan benar-benar membawakan wanita lain ke kamarmu."Lucian memejamkan matanya sesaat, menahan napasnya yang terasa

  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 209

    Damien perlahan mengangkat wajahnya. Ia tahu betul bahwa kata-kata yang akan ia ucapkan selanjutnya bisa saja membuat sang Kaisar meledak dalam kemarahan, namun kesetiaannya pada kekaisaran menuntutnya untuk jujur."Mohon ampun, Yang Mulia." ucap Damien dengan suara tenang namun penuh kehati-hatian. "Tetapi, melihat situasi saat ini... posisi pewaris takhta yang kosong memang membuat kekhawatiran dan perasaan para bangsawan itu menjadi valid."Mata merah Lucian seketika melebar. Napasnya tercekat di tenggorokan.Dikhianati oleh logika ajudannya sendiri adalah hal terakhir yang Lucian harapkan hari ini. Sang Kaisar menggebrak meja kerja di hadapannya dan langsung berdiri. "Apa kau juga menyuruhku mengambil selir?!" bentak Lucian, suaranya menggelegar memantul di dinding-dinding ruang kerja, dipenuhi oleh rasa tak percaya dan amarah yang akhirnya tumpah. "Kau tahu persis apa yang sudah Sienna lewati!"Damien tidak mundur selangkah pun. Ia tetap berdiri tegak menerima amarah sang Kais

  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 208

    Beatrice tidak langsung menjawab. Wanita paruh baya yang telah melewati berbagai intrik berdarah itu melangkah masuk dengan langkah pelan yang terukur. Sepasang matanya yang tajam menyapu wajah pucat Sienna, memperhatikan lingkaran hitam yang disembunyikan di bawah riasan, serta bahu rapuh yang seolah sedang memikul beban seluruh dunia."Sampai kapan kau dan Lucian akan terus seperti ini, Sienna?"Pertanyaan itu diucapkan dengan intonasi yang sangat tenang, namun kata-katanya meluncur bak anak panah yang menembus tepat ke jantung pertahanan Sienna."Saya tidak mengerti maksud Anda, Ibu Suri." jawab Sienna kaku. "Kami baik-baik saja. Kekaisaran berada dalam kendali…""Kekaisaran memang dalam kendali pedang putraku.” potong Beatrice, matanya mengunci mata biru Sienna tanpa ampun. "Tapi kau dan Lucian tidak sedang mengendalikan apa pun. Kalian berdua sedang membusuk secara perlahan dalam duka yang kalian pelihara sendiri."Beatrice melangkah selangkah lebih dekat. Tatapan tajamnya memb

  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 207

    Beberapa bulan telah berlalu sejak malam kelam yang merenggut nyawa pewaris kekaisaran. Pendarahan hebat dan racun yang bereaksi waktu itu telah ditangani, dan luka fisik Sienna perlahan menutup seiring berjalannya waktu. Namun, di dalam kamar utama Permaisuri yang megah ini, waktu seolah membeku. Luka tak kasat mata di rahim dan hatinya masih terus menganga, menolak untuk sembuh.Pagi itu, Sienna duduk diam di tepi ranjang. Wajahnya terlihat pucat, meskipun pelayannya telah memoleskan perona pipi tipis untuk menyamarkan kelelahan Sienna. Pergelangan tangannya yang kurus terulur, bertumpu di atas sebuah bantal beludru kecil.Tabib Agung istana, pria tua yang sama, yang meneteskan eliksir berbulan-bulan lalu, berlutut di hadapannya dengan mata terpejam. Tiga jarinya menekan urat nadi sang Permaisuri dengan sangat hati-hati.Keheningan di ruangan itu begitu pekat hingga Sienna bisa mendengar detak jantungnya sendiri. Detak yang dipenuhi harap, namun sekaligus diselimuti ketakutan. S

  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 206

    Ingatan terakhir sebelum kesadarannya direnggut kembali berkelebat dengan kejam di benaknya. Suara Tabib Agung. Pilihan mustahil itu. Dan suara suaminya... suara Lucian yang meneriakkan perintah mutlak untuk memberikan eliksir pembakar itu."Sienna..."Panggilan serak dan parau itu terdengar dari sisi ranjang.Lucian duduk mematung di sana. Sang Kaisar tampak sangat mengerikan, lebih menyerupai hantu daripada seorang Kaisar. Zirah dan jubah mewahnya telah digantikan oleh kemeja putih yang kusut. Kantung matanya menghitam legam karena tak sedetik pun ia memejamkan mata selama dua puluh empat jam terakhir. Matanya yang merah menyala kini dipenuhi oleh genangan keputusasaan saat melihat istrinya akhirnya terbangun.Lucian mengulurkan tangannya yang gemetar, berniat menyentuh pipi pucat istrinya. "Syukurlah... syukurlah kau kembali padaku…"Plak!Sienna menepis tangan besar itu dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki. Gerakannya lemah, namun penolakan di dalamnya begitu nyata hingga memb

  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 48

    Saat Lucian kembali masuk ke dalam kamar, pemandangan di depannya membuat hatinya menghangat.Sienna sudah bangun. Wanita itu duduk di tengah tempat tidur dengan selimut yang menutupi hingga pinggangnya, matanya mengerjap-ngerjap pelan menahan kantuk, dan rambut pirangnya sedikit berantakan. Wanita

    last updateHuling Na-update : 2026-03-20
  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 46

    "Oh..."Binar kebanggaan yang tadi sempat menghidupkan wajah Sienna perlahan pudar. Sienna buru-buru menarik tangannya, seolah ia baru saja menyentuh bara api. Tubuhnya kembali membungkuk dengan postur yang kaku."Maafkan saya, Tuan Duke," cicitnya pelan. "Seharusnya saya...""Sienna," potong Lucia

    last updateHuling Na-update : 2026-03-20
  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 41

    Keheningan yang menyusul ucapan Alexandria terasa berat dan menyesakkan. Kata-kata wanita itu jelas merupakan kebenaran yang tak bisa disangkal. Hukum Kekaisaran, aturan Kuil Suci, dan tradisi para bangsawan akan menghalangi jalan Lucian jika dia tetap memaksa menggunakan Sienna untuk menyingkirka

    last updateHuling Na-update : 2026-03-20
  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 49

    "Itu..."Sienna meremas jemarinya sendiri yang saling bertaut di pangkuan, berusaha menyembunyikan getarannya. Lidahnya terasa kelu, bingung harus merangkai kata."Sienna?" panggil Lucian lagi, menuntut jawaban."Saya... saya hanya menemukannya tergeletak di kamar ini." jawab Sienna, memaksakan sua

    last updateHuling Na-update : 2026-03-20
Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status