MasukSiang itu, Lady Alexandria berjalan menyusuri jalan setapak berbatu putih sambil bersenandung pelan. Nada yang meluncur dari bibir merahnya terdengar riang, sangat kontras dengan ketegangan yang menyelimuti istana hari itu.Di balik pepohonan dan dari sudut-sudut pilar, Alexandria bisa merasakan tatapan tajam dari para ksatria kekaisaran berseragam hitam yang mengawasinya layaknya elang yang memantau mangsa. Lucian telah memperketat penjagaan di sekitarnya, menempatkan anjing-anjing pelacaknya di mana-mana.Namun, Alexandria tidak peduli. Senyum merendahkan justru terukir di wajahnya. Biarkan saja mereka mengawasi sesuka hati mereka hari ini, batin Alexandria penuh kemenangan.Kini, setelah posisinya di istana dijamin oleh Ibu Suri, Alexandria mulai menyusun papan caturnya sendiri. Ada begitu banyak hal yang harus dihancurkan di istana berdarah ini demi memuluskan ambisinya. Dan ia memutuskan untuk memulainya dari hal yang paling mudah.Ia akan mulai menghancurkan kecoak-kecoak tid
Keesokan harinya, sinar matahari pagi belum sepenuhnya menghangatkan dinding-dinding batu istana ketika Marquess Ashford melangkah masuk ke dalam ruang audiensi pribadi sang Kaisar.Pria paruh baya itu menunduk hormat di hadapan takhta. Namun, ketenangan yang ia tampilkan hanyalah sebuah topeng. Begitu ia menerima surat panggilan mendesak dari kaisar, ia tahu ada sesuatu yang tidak beres."Bawa putrimu kembali ke wilayahmu, Marquess Ashford." titah Lucian tanpa basa-basi, suaranya menggema penuh ancaman di ruangan yang sunyi itu. "Hari ini juga."Marquess Ashford terdiam kaku. Matanya sedikit melebar. Sejujurnya, ia sama sekali tidak tahu apa yang sedang direncanakan oleh Alexandria di belakang punggungnya. Putrinya itu tidak pernah mengabarkan rencana kepindahannya ke Istana Ibu Suri.Namun, terkejutnya saat menerima surat itu kemarin telah tergantikan oleh ambisi yang kembali menyala.Ini adalah sebuah peluang emas. Sebuah celah besar yang selama ini ia tunggu-tunggu.Sejak Lucian
Lucian akhirnya berbalik. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi, sang Kaisar melangkah keluar dari ruang minum teh tersebut.Pintu ganda kayu ek itu ditutup kembali dengan dentuman yang menggetarkan dinding. Namun, kepergian sang Kaisar sama sekali tidak membawa kelegaan. Dari balik celah pintu dan jendela, terdengar derap langkah berat dari puluhan sepatu bot besi. Lucian tidak sekadar pergi, pria itu baru saja menitahkan puluhan ksatria elit kekaisarannya untuk berbaris dan berjaga di sepanjang koridor Istana Ibu Suri.Lucian memastikan bahwa Alexandria tidak akan bisa mengambil satu napas pun di istana ini tanpa sepengetahuannya.Di dalam ruangan yang kini kembali tertutup rapat itu, keheningan mencekam sempat menggantung di udara. Nyonya Beatrice masih berdiri kaku, dadanya naik turun dengan ritme yang tidak teratur, menahan sisa-sisa badai amarah yang baru saja menghantamnya.Prok. Prok. Prok.Suara tepukan tangan yang pelan, lambat, dan luar biasa sarkastis memecah kesunyian
Urat-urat di pelipis Nyonya Beatrice berkedut keras menahan amarah yang mendidih hingga ke ubun-ubun. Melihat senyum merendahkan dari wanita di hadapannya, sang Ibu Suri mencengkeram erat sandaran kursinya."Jangan bersikap congkak di hadapanku, Alexandria." desis Beatrice dingin, suaranya sarat akan peringatan. "Aku yang membawamu masuk kemari, dan aku juga yang bisa menghancurkanmu. Jangan lupa tempatmu. Aku tetap Ibu Suri di kekaisaran ini."Mendengar ancaman itu, Alexandria sama sekali tidak terlihat gentar. Ia justru tertawa kecil, suara yang mengalun memuakkan di telinga Beatrice. Wanita itu melangkah maju dengan angkuh, memiringkan kepalanya dengan tatapan penuh kepolosan palsu."Begitukah?" balas Alexandria lembut, mencondongkan wajahnya mendekati sang Ibu Suri. "Bukankah dulu Anda begitu menyukai sikap percaya diriku yang seperti ini? Anda memujinya, mengatakan bahwa hanya wanita dengan keberanian dan ambisi sepertiku yang pantas bersanding dengan putra Anda."BRAK!Sebuah
Mendengar jawaban yang begitu terus terang itu, jantung Sienna berdegup satu ketukan lebih cepat. Darahnya berdesir hangat. Semburat merah seketika menjalar, mewarnai kedua pipinya.Sienna menundukkan pandangannya, tiba-tiba merasa sangat malu dan salah tingkah. Melihat wajah istrinya yang merona merah padam, tatapan Lucian semakin melembut. Senyum tipis yang memabukkan terukir di sudut bibirnya. Pria itu mengulurkan tangannya, memetik sekuntum bunga berwarna putih yang mekar sempurna dari semak di dekat mereka.Dengan sentuhan yang sangat berhati-hati, seolah takut merusak barang berharga yang mudah pecah, Lucian menyelipkan tangkai bunga itu ke balik telinga Sienna. Jari-jari besarnya, kini mengusap lembut pipi istrinya yang merona, lalu menelusuri garis rahangnya, hingga beristirahat dengan posesif di tengkuk wanita itu.Sienna kembali mendongak. Mata biru jernihnya menatap lurus ke dalam manik mata merah suaminya."Kau jauh lebih indah dari bunga manapun di taman ini, Sienna."
Lesley menggigit bibir bawahnya kuat-kuat hingga nyaris berdarah. Kedua tangannya yang berada di atas pangkuan kini mengepal erat. Harga dirinya terasa hancur diinjak-injak, dan amarah tertahan membuat napasnya sedikit memburu.Melihat reaksi Lesley, Elizabeth mencondongkan tubuhnya ke depan."Apa pun yang sedang kau pikirkan di dalam kepalamu saat ini, Lady Lesley." desis Elizabeth tajam, memutus setiap angan-angan Lesley bahwa mereka berdua adalah rekan yang setara. "Jangan pernah merasa bahwa kita berada di tempat yang sama. Kau dan aku... darah yang mengalir dalam diri kita sangat berbeda."=Matahari mulai naik ke tengah, namun pikiran Sienna masih tertinggal pada kehangatan dan percakapan intim antara dirinya dan Lucian tadi pagi.Bahkan setelah Lucian keluar, sang Permaisuri merenung dalam diam. Ia baru menyadari sebuah kebenaran yang selama ini ia abaikan. Hubungannya dengan Lucian memang selalu terasa begitu tegang dan dipenuhi kewaspadaan, bahkan jauh sebelum mereka pindah
Cahaya keemasan matahari melalui celah tirai tebal di kamar utama kediaman Borgia.Sienna mengerjap pelan, menyesuaikan matanya dengan cahaya. Ia menggeliat di balik selimut tebal yang hangat, meraih sisi ranjang di sebelahnya. Tempat itu kosong dan terasa dingin. Lucian pasti sudah bangun lebih a
Kereta kuda putih berlambang matahari Kekaisaran itu akhirnya berhenti di pelataran paviliun pribadi istana yang jauh dari kastil kaisar. Lucian turun lebih dulu, lalu mengulurkan tangannya untuk membantu Sienna. Dengan genggaman protektif yang tak pernah ia lepaskan, sang Duke memandu istrinya me
Sementara persiapan keberangkatan Lucian dan Sienna dilakukan secara rahasia di sayap utama, ketegangan yang berbeda tengah memuncak di sayap lain mansion.Langkah kaki yang berat dan berdentum keras terdengar memasuki kamar Tabib. Sir Roderick, ksatria senior yang menjabat sebagai Kepala Keamanan
Sore itu Sienna duduk dalam keheningan, mencoba menenangkan saraf-sarafnya yang tegang. Jemarinya bergerak telaten, merajut benang emas membentuk lambang kebanggaan Duchy Lorraine di atas sehelai sapu tangan sutra putih. Sapu tangan itu rencananya akan menjadi hadiah kecil untuk Lucian, sebuah pen