เข้าสู่ระบบ“Kamu yang main-main!” Aku menukas keras. Berharap kamar ini kedap suara. “Selama seminggu kamu diem, nggak ngajak aku ngomong, ditanya cuma jawab singkat. Sekarang tiba-tiba kamu ngajak makan. Siapa yang mau?!”
Aku melotot padanya.Dahi Nata semakin mengerut.“We need to talk,” putusnya.“Yah, we are!” Aku mengeram s Tetapi sadar kami harus bersikap layaknya orang dewasa. Pekerjaanku pasti lambat laun akan terganggu dengan perang dingin kami. Dan aku tidak“Mesin kopi saya mendadak nggak berfungsi, mungkin saya harus membeli yang baru atau berhenti minum kopi.” Aku terkekeh, paham betul bahwa ini hanya akal-akalan Damian untuk memintaku datang ke ruangannya. Namun aku tetap duduk di sofa panjang, mendengar dia mengeluh dan mengetuk-ngetuk mesin itu yang sepertinya memang sudah rusak. “Aku suka minum kopi, tapi aku nggak ngerti soal mesin, biasanya aku selalu beli jadi. Kamu manggil orang yang salah Damian,” balasku tenang. Dia mengerling, menatapku kalem. Ada sesuatu tentang tatapan Damian yang membuatku tertegun. Tidak seperti Nata yang selalu menatap dingin tanpa ekspresi seakan aku melakukan kesalahan. Damian selalu menatap dengan menilai, tapi tidak lancang, dia pun orang yang cukup peka dengan perubahan suasana hati seseorang. Mungkin itu juga yang menjadi alasan kenapa kami masih bisa berteman. “Kamu harusnya minta tolong Ma
“Tumben banget traktir? Memangnya udah gajian? Atau baru dapet bonus?”Melihat wajah Tria yang berbinar-binar ketika aku mengajaknya lunch di hari berikutnya, membuatku ikut senang.Dia menenteng paper bag, dan setelah dibuka isinya adalah bekal yang dimasak sendiri tadi pagi.“Wah, nggak jadi dong kalau gitu.”“Ih, jadi.” Tria menggerutu. “Kalau soal makan aku masih bisa nampung.” Dia menepuk perutnya lalu kami tertawa.Setelah makanan disajikan oleh pelayan yang berupa tomyum serta pangsit. Aku tidak menyia-nyiakan waktu.“Enak banget kayaknya kerja di sini ya, dekat dari stasiun. Mau ke mana-mana juga dekat, tempat makan banyak.” Aku melirik Tria seraya menyuap pangsitku sendiri. “Oh ya, loker yang kamu tawarin waktu itu masih ada?”Tria mengernyit. “Yang admin itu?”“Iya.”“Udah lama itu Mba, udah diisi fresh graduate sama anak magang. Kenapa tiba-tiba nanyain loker? Memangnya kerjaan yang sekarang
“Aku penasaran siapa sebenarnya yang ngirim foto-foto kayak gitu ke HRD maksud aku, kayak kurang kerjaan banget gitu loh.” Adisty mengomel panjang lebar ketika kami memilih melipir ke kantin untuk makan siang. Meski badanku lemas, tapi aku berusaha memberi tubuhku asupan. “Berarti ada orang yang diam-diam ngikutin kita sampai ke hotel, Mba!”Plot twistnya adalah, aku dituduh jadi pelakor di hubungan Nata dan Calista.Maksudnya, aku mengantri makanan yang sedang viral saja mager, apalagi bersaing dengan orang seperti Calista.Baiklah, aku akui, aku salah. Apa yang kulakukan dengan Nata selama di Bandung itu berlebihan, terutama dengan status Nata yang sudah bersama dengan Calista. Tapi di sisi lain, aku percaya pada Nata, kalau dia bilang bahwa mereka tidak bertunangan, maka itulah faktanya.Lagipula setelah kejadian itu, aku berusaha keras menghindar. Meredam perasaan yang pula kurasakan sejak ciuman terakhir kami. Bahkan Salsa
Aku berusaha tetap tenang, menyalakan PC, mengecek email, mengecek jadwal meski sebenarnya konsentrasiku buyar.Punggungku dingin, tapi seluruh tubuhku terasa panas. Tuduhan Wenda sangat mengerikan, dan bagaimana dia bisa menyimpulkan aku bersama Nata?“Tolong jangan ribut, malu. Urusan kayak gini sebaiknya nggak dibahas di kantor.” Sebagai yang paling dewasa, Gilman berusaha keras agar ruangan kondusif.Namun Wenda masih saja merepet panjang lebar di mejanya. Aku ingin menyanggah namun tidak lama Calista masuk ke ruangan. Dia tampak rapi hari ini, tidak ada lagi penyangga di lengan. Wajahnya pun kelihatan lebih cerah. Tubuhnya lebih ramping tapi itu malah membuat penampilannya stunning.Dia melirikku saat melintas, dan langsung memasang wajah lelah.“Aku nggak nyangka kalau kamu selicik ini,” bisiknya ketika melewati mejaku.Hidungku mengerut.Berbagai pikiran buruk berkecamuk, pekerjaanku jadi berantakan. Aku kesulitan
“Kamu jadi mata-matanya Nata ya?” Tria hampir keselek bubur sarapannya sendiri ketika aku masuk ke kamarnya tanpa permisi dan menuduh.“Hah?” tanyanya melongo, buru-buru mengambil air dan meneguknya. “Kamu ke mana aja Mba, tiba-tiba nanya—”“Halah.” Aku mengibaskan tangan. Tidak ingin berbasa-basi. “Kok bisa sih? Sejak kapan? Dan gimana caranya? Nggak ada orang lain di sini yang dikenal Nata. Nggak mungkin juga Nata chattingan sama Bibi Elsi, jadi pasti kamu.”Tria cengar-cengir.Aku berdecak. “Dibayar berapa?”“Nggak dibayar lah, apaan banget? Aku masih waras,” katanya sewot. “Lagian Mas Andrew itu udah curiga dari yang pertama kali naik ke sini. Dia dengar ada ramai-ramai di atas, dan suara Ibu Elsi kedengaran sampai ke bawah. Terus sebelum pulang dia minta nomor aku.” Mataku mendelik, Tria segera klarifikasi. “Iya, iya maaf, aku nggak ngomong sama Mba. Mas Andrew cuma nanya itu aja kok, soalnya dia khawatir sama Salsa, makany
Bagaimana dia tahu aku di sini? Atau dia mengikuti aku diam-diam?Selama di sambungan telepon, aku sama sekali tidak memberitahukan lokasi, apa mungkin dia tahu kalau Salsa masih tinggal bersama Mama?Dengan sangat tidak anggun, aku mendengkus kasar. Sudah tidak tahu harus bereaksi seperti apa dengan mulut Nata yang tidak ada filter.Mama mengerling, tidak luput dari pendengarannya bahwa Nata baru saja menyebutku sebagai ‘istri’.Aku memijat pelipis, resah.“Oh, oh, iya boleh,” jawab beliau dengan nada suara yang diseret-seret. Nata mengerutkan hidung saat Salsa mengecupi rahangnya. “Papa lama sekali loh Papa, Salsa kangen. Papa udah janji mau ngajak Salsa belanja.”“Sekarang Papa di sini, kan?”Anak itu menjerit gembira dan kembali mendekap leher Nata erat. Seakan mereka sudah tidak bertemu selama berabad-abad. Yah, memang tiga hari terakhir mereka tidak bertemu.Aku meminta bantuan Mama untuk tetep m







