เข้าสู่ระบบDua penjaga melangkah keluar dari barisan.Langkah mereka berat dan teratur, zirah tipis di bahu mereka berdenting pelan. Keduanya bertubuh tegap, dengan wajah keras dan mata sedingin logam langit di pundak mereka. Tatapan itu menyapu Wuhen, lalu Caelan, lalu Rex, dan berhenti lama pada jubah hitam bersulam ular dan pedang di tubuh mereka.Jubah Dunia Bawah.Rahang kedua penjaga itu mengeras. Hidung mereka mengerut tipis, seolah ada bau busuk yang terbawa angin.Tidak ada senyum. Tidak ada anggukan. Tidak ada sambutan seperti yang Caelan lihat diberikan pada kereta-kereta bangsawan yang keluar masuk gerbang di kejauhan."Berhenti," kata penjaga pertama. Suaranya rendah dan datar, seperti menyapa seekor anjing yang tersesat. "Orang-orang Dunia Bawah. Untuk apa kalian datang ke sini?"Caelan merasakan tatapan itu menekan kulitnya. Bukan karena kekuatan, tetapi karena kebencian yang dibiarkan telanjang.Wuhen Lianhun tidak bergeming.Ia justru tersenyum tenang dan menangkupkan kedua tang
Angin di ketinggian itu bukan angin biasa.Semakin tinggi mereka naik, semakin terasa sesuatu menekan dari segala arah. Bukan dorongan, bukan hantaman, melainkan berat yang merata, seolah seluruh langit sedang bersandar di pundak mereka. Udara terasa kental seperti air yang dalam. Setiap tarikan napas harus ditarik, setiap kedipan mata terasa berat.Ini membuat Caelan secara alami menggenggam tangan Rex dengan erat.Di sekeliling tubuhnya, energi Ranah Abadi menyala tipis seperti selaput, menahan tekanan itu. Ia bisa merasakannya menekan selaput itu dari luar, tanpa henti, ribuan kali lebih kuat dari gelombang mana pun di Dunia Bawah.Jadi ini maksud Pemimpin Sekte.Ia membayangkan dirinya seminggu lalu, tanpa selaput itu. Tekanan ini akan meremukkan tulangnya, memeras organnya, dan merobek dagingnya sebelum ia sempat berteriak. Tubuh manusia biasa di sini seperti buah yang dicengkeram kepalan raksasa.Caelan menarik napas dalam.Ia memang harus mencapai Ranah Abadi lebih dulu. Tidak
Pagi itu, langit di atas Sekte Jiwa Hitam bersih tanpa awan.Halaman utama sekte, hamparan batu hitam seluas puluhan lapangan, sudah penuh sejak fajar. Murid dalam, murid luar, pelayan, penjaga gerbang, hingga para penggarap padang rumput di belakang sekte. Ribuan orang berdiri rapat, memenuhi setiap sudut dan tangga, bahkan atap-atap bangunan di sekelilingnya.Tidak ada yang berbicara keras. Hanya dengung bisikan yang menyebar seperti angin di ladang.Di tengah halaman, tiga sosok berdiri berhadapan.Wuhen Lianhun. Caelan. Dan Rex.Dua yang terakhir sudah berganti pakaian.Jubah hitam pekat membalut tubuh mereka, kainnya jatuh halus dengan kilau samar seperti permukaan danau di malam hari. Di bagian kerah dan ujung lengan, benang perak menyulam motif ular dan pedang yang saling melilit, sama seperti ukiran di tiang aula perjamuan. Namun ada yang membedakan jubah ini dari jubah murid biasa, bahkan dari jubah para Tetua. Di punggungnya, sulaman konstelasi emas membentang dari bahu ke p
Hal pertama yang dirasakan Caelan adalah keheningan.Bukan sunyi dari luar. Angin masih bergerak, kolam masih beriak, jangkrik di kejauhan masih bernyanyi. Tapi di dalam dirinya, untuk pertama kalinya sejak ia bisa mengingat, tidak ada gemuruh. Tidak ada rasa menarik dan mengalirkan, tidak ada usaha menjaga energi tetap di tempatnya.Energi itu sudah tidak perlu dijaga. Ia hanya ada.Hal kedua adalah ringan.Tubuhnya masih tubuh yang sama, tapi seakan seluruh beban yang tak pernah ia sadari kini terangkat. Rasa lelah yang selama ini menempel di tulang, luka-luka lama yang kadang berdenyut saat hujan, napas yang terasa berat sehabis bertarung, semuanya lenyap seperti kabut disapu matahari.Hal ketiga adalah dunia yang melebar.Ia bisa mendengar detak jantung Rex tanpa menoleh. Pelan, tenang, teratur. Ia bisa merasakan setiap helai rumput yang bergoyang, setiap tetes air yang jatuh dari daun ke kolam. Ia bahkan bisa merasakan aliran energi spiritual yang merayap di bawah tanah, bergerak
Tujuh hari berikutnya berjalan dengan ritme yang sama.Fajar, meditasi di bawah pohon raksasa. Siang, latihan teknik bersama Wuhen Lianhun di lapangan batu di belakang aula utama. Malam, kembali bermeditasi bersama Rex hingga bintang bergeser jauh dari tempatnya.Hari pertama latihan, Wuhen berdiri di hadapan Caelan dengan pedang di tangan."Aku akan mengajarkan dua teknik puncak sekte ini," katanya. "Belenggu Jiwa Seribu Bayangan dan Kutukan Kegelapan Abadi. Murid terbaik kami butuh bertahun-tahun untuk menguasai salah satunya. Jadi jangan kecewa kalau satu bulan ini kau hanya mendapat dasarnya."Caelan mengangguk. "Aku mengerti."Wuhen mengayunkan pedangnya.SRAKK.Satu tebasan, dan bayangan perak tertinggal di udara. Tebasan kedua, bayangan kedua. Dalam beberapa tarikan napas, belasan jejak pedang melayang di sekeliling Wuhen, berdenyut pelan seperti makhluk hidup yang menunggu perintah."Rahasianya bukan pada pedang," ujar Wuhen. "Tapi pada niat yang kau tinggalkan di setiap tebas
Caelan membuka matanya.Pelan, dan untuk sesaat dia tidak bergerak sama sekali.Ada sesuatu di dalam dirinya.Bukan sekadar sisa kehangatan dari batu tadi. Ini sesuatu yang besar, padat, dan hidup, bergolak di dalam dantiannya seperti samudra yang baru dibangunkan. Dia mengepalkan tangan, dan udara di sekitar kepalan itu bergetar tipis. Dia menarik napas, dan angin malam seakan ikut tertarik masuk bersamanya.Kekuatannya meningkat.Pesat. Jauh lebih pesat dari apa pun yang pernah dia rasakan dalam satu malam.Dan di ujung semua itu, dia merasakan sesuatu yang lain. Sebuah batas. Tipis, nyaris tembus, seperti dinding kaca yang tinggal menunggu satu ketukan terakhir.Hanya selangkah lagi.Selangkah lagi menuju tingkat yang lebih tinggi.Dada Caelan berdesir.Apakah itu... Ranah Abadi?Dia tidak tahu. Dia belum pernah berdiri di sana, jadi tidak ada yang bisa dijadikan pembanding. Tapi instingnya berkata sama, berulang-ulang, dengan keyakinan yang tidak bisa diabaikan: pintu itu sudah sa
Caelan menatap Dorian sembari jatuh ke dalam pikirannya. Keluarga Ashford adalah salah satu keluarga paling berpengaruh di Kota Velmont. Seharusnya mereka bisa membantunya, bukan?"Satu hal saja." kata Caelan akhirnya. "Bantu saya mendapatkan kembali lisensi praktik saya dan posisi sebagai dokter d
Kurang dari sepuluh menit, perawat itu kembali.Nampan steril diletakkan di sisi meja. Lima jarum akupuntur berkilau di bawah lampu operasi. Di sampingnya, tiga bahan tersusun rapi—vial ekstrak Danshen berwarna merah tua, bubuk Huanglian kuning pekat, dan cangkir seduhan Maidong yang masih mengepul
Lima belas menit berlalu tepat waktu.Pria itu muncul dari lift dengan langkah santai yang tidak terburu-buru. Usianya sekitar empat puluhan, rambut sedikit beruban di pelipis, wajahnya hangat dengan kerutan tawa di sudut matanya. Bukan wajah birokrat. Lebih mirip wajah seseorang yang benar-benar m
Aldric tidak perlu berpikir panjang. Jika dia bisa membuat Keluarga Ashford berhutang budi padanya, hidupnya akan berubah selamanya.Dia mengabaikan Caelan begitu saja dan melangkah maju dengan senyum profesional yang sudah dia latih bertahun-tahun."Tuan Dorian." Suaranya hangat, penuh wibawa. "Sa







