LOGINSeorang Amira selalu di tuntut sang suami untuk tetap cantik dan sempurna dalam melayaninya namun suaminya tak pernah mau di tuntut dan memberi nafkah tak layak. Tiba-tiba lelaki itu membawa seorang calon istri dan akan segera menikahi, wanita itu yang tak lain adalah sahabat Amira sendiri. Keluarga Irfan, suami Amira sangat mendukung langkah Irfan untuk menikah lagi dan mengabaikan perasaan Amira. Mereka bersenang-senang dengan gaji Irfan dan menelantarkan Amira yang sedang mengandung dan putri kecilnya. Amira memilih pergi tanpa talaq, namun siapa sangka ia dicintai lelaki tampan sang CEO ahli waris kekayaan orang tuanya. Setelah tiga tahun Amira datang untuk meminta talaq kepada Irfan, namun Irfan menolak lantaran Amira sudah berubah cantik dan mempesona. Bagaimana kisah Amira selanjutnya, apakah ia bisa terlepas dari Irfan dan menerima cinta seorang CEO? Atau justru kembali pada pelukan Irfan. Bagaimana tanggapan orang tua lelaki CEO itu? Apa akan menerima Amira yang berstatus istri orang atau justru menolaknya. Ikuti Kisah perjalanan hidup Amira dalam cerbung Setelah Tiga Tahun Berpisah.
View More"Raka, kamu beneran ngasih ini semuanya buat kami?" tanya Amira setelah ia melihat mas kawin yang diberikan suaminya."Iya, Mir. Semuanya buat kalian, dan masih banyak lagi yang akan aku berikan buat kalian salah salah satunya kasih sayang," balas Raka."Masya Allah, Raka. Aku enggak meminta harta yang berlimpah, aku hanya meminta kasih sayang dan tanggung jawabmu, tetapi kenapa kamu memberiku sebanyak ini. Dari mana kamu dapatkan ini, Rak? Bahkan kamu bisa menyiapkan semuanya sebaik ini. Apa jangan-jangan kamu keluarga Sultan?" tanya Amira dengan kedua mata yang berkaca-kaca.Setelah selesai akad mereka naik ke atas panggung untuk sesi pemotretan dan lainnya."Iya, semua yang mengurus orang-orangku dari Bali. Hartaku di Bali sangat berlimpah dan aku yakin tidak akan habis di makan tujuh belas turunan. Kamu jangan ngomong kayak gitu, kamu dan anak-anak segalanya untukku. Jadi milikku juga jadi milikmu," ucap Raka menghapus air mata Amira yang mulai berjatuhan."Jangan nangis, Mir. Nan
Hari Minggu yang dinanti akhirnya tiba. Di sebuah ruangan dengan cermin besar berhias lampu, Amira duduk tenang, matanya menatap pantulan wajah yang perlahan berubah semakin memukau di tangan MUA terbaik yang telah dipilih oleh anak buah Raka. Jemarinya yang halus menyentuh gaun yang menjuntai indah, seolah merasakan kehangatan hari istimewa yang sudah di depan mata.Sementara itu, di sudut lain ruangan, Celine, putrinya yang ceria, tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya. Gadis kecil itu duduk dengan riang saat dirinya dipakaikan gaun yang membuatnya tampak seperti seorang putri dari negeri dongeng. Senyumnya mengembang, matanya berbinar, membayangkan momen di mana ia akan berjalan di samping Amira, dan akhirnya, memiliki seorang ayah. Hari ini bukan hanya hari untuk Amira, tapi juga untuk Celine, yang merasa dunia kecilnya kini lengkap dan penuh cinta.Jantung Amira berdegup semakin cepat seiring waktu berlalu. Pernikahan kali ini terasa jauh lebih mendebarkan dibandingkan sebelumnya
Pikiran Raka melayang-layang di dalam kecemasan, keluarganya di Bali, terutama Ajik dan Biyang—ayah dan ibunya, punya pandangan yang sangat tradisional tentang pernikahan. Status Amira sebagai seorang janda membuat segalanya terasa lebih sulit.“Halo, Bli. Saya sudah menyampaikan pesan kepada Ajik dan Biyang,” suara Pak Wayan terdengar dari seberang sana, tenang namun sedikit berat.Raka terdiam sejenak, mencoba meredakan degup jantungnya yang semakin cepat. “Bagaimana keputusan mereka, Pak?” tanyanya, tak mampu menyembunyikan kegugupannya.Di seberang telepon, Pak Wayan terdiam beberapa saat. Keheningan itu semakin membuat Raka gelisah. Ia tahu betul betapa keras kepala keluarganya dalam urusan pernikahan. Seandainya Amira tidak mendapat restu hanya karena statusnya, ia sudah bertekad tidak akan pernah kembali ke Bali—tanah kelahirannya yang selama ini ia jaga dalam hati.“Ajik dan Biyang setuju, Bli,” akhirnya Pak Wayan berbicara, suaranya terdengar lebih ringan. “Mereka sudah meres
Amira menarik napas dalam-dalam. Rasa haru memenuhi dadanya. Setiap kata yang diucapkan Raka menyentuh hatinya, meski keraguan masih bergelayut di pikirannya. Dengan Bismillah, ia akhirnya berkata, "Iya. Aku."Raka tersenyum lebar, matanya berbinar penuh kegembiraan. "Alhamdulillah, terima kasih, Mira. Terima kasih sudah mau menerimaku. Jujur, aku merasa hidupku kembali berwarna sejak bertemu kamu."Amira tersenyum tipis, "Aku juga bersyukur bisa ketemu sama kamu." Mereka saling tersenyum dan menatap satu sama lain, seakan-akan dunia di sekitar mereka menghilang. Hanya ada mereka berdua, tenggelam dalam keheningan yang penuh makna, seolah-olah waktu berhenti dan semua yang mereka butuhkan hanyalah kehadiran satu sama lain."Aku mau kita menikah Minggu depan ya, aku udah enggak sabar ingin menghalalkanmu, Mir," ujar Raka serius."Hah! Kamu beneran? Nikah itu bukan permainan, Rak, kita harus mengurus ini itu dan banyak hal yang harus di urus. Paling tidak dua bulanan lah," balas Amira.
"Maling, maling, tolong ada maling, Bang!" teriak Laura membuat Pak Andi segera membuka matanya."Maling, dimana malingnya?" Pak Andi kelabakan, ia bergegas melompat dari ranjang. Kedua tangannya sibuk melayang ke udara dan matanya pun awas mencari sesuatu ke sana kemari, persis seperti orang yang ma
Laura benar-benar merasa kesal, apa yang ia bayangkan tidak sesuai ekspetasi. Hidup bersama Pak Andi ternyata lebih ribet plus repot.Beberapa saat kemudian setelah selesai mandi Laura mencari Pak Andi yang ternyata tertidur pulas di kamar. Ia berinisiatif segera membangunkannya."Bang, bangun. Bangun
Beberapa waktu sebelumnya...."Kak, asyik tau' main air." Celine sedang asyik tertawa dan bermain air, bahkan ia beberapa kali mencipratkan air ke wajah Kevin berharap lelaki itu akan tertawa atau terhibur. Namun, ekor matanya tak sengaja melihat perahu lain yang dihuni oleh dua orang dewasa dan sat
"Kalau Bapak masih keberatan berarti mas kawinnya harus banyak. Biar aku enggak nyesel nikah sama Bapak, apalagi aku ini masih muda. Umurku masih dua puluh tujuh tahun loh, Pak, sedangkan Bapak udah lima puluh lima tahun. Harusnya mahal mas kawinnya," imbuh Laura yang matre. Ia melihat Pak Andi yang






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews