เข้าสู่ระบบPagi itu kampus lebih ramai dari biasanya. Di koridor lantai dua, suara mahasiswa lewat saling tumpang-tindih, mulai dari yang curhat soal kuis dadakan sampai yang panik karena lupa print tugas. Aurelya berjalan pelan sambil menguap, rambutnya dicepol seadanya. Tasnya cuma diselempang dengan satu tangan, tanda dia belum sepenuhnya “online”.
“Rel! Astaga muka lo… lo begadang lagi ya?” Shafira langsung nyamber dari belakang. Aurelya mendelik lemes. “Gue tuh udah niat tidur cepat, Fir… sumpah. Tapi mata gue punya kemauan sendiri.” Shafira cekikikan. “Kemauan atau kepikiran seseorang?” Aurelya berhenti jalan, menatap temennya itu dengan pandangan jangan mulai pagi-pagi. “Gue lempar lo pake buku modul beneran nih.” Mereka berdua baru mau masuk kelas ketika dari ujung lorong, Raksa muncul sambil bawa map tebal. Dia jalan santai, tapi tetap dengan aura dingin khas dia yang bikin banyak cewek diem sejenak. Aurelya refleks nahan napas. Jangan liat. Jangan liat. Pret, malah ngeliat. Raksa lewat tepat di depan mereka. Dan untuk sekian detik yang terlalu lama buat ukuran Aurelya, cowok itu menoleh sedikit. Cuma sedikit—tapi cukup buat bikin jantung Aurelya salto. “Pagi,” ucap Raksa datar. Aurelya: “Eh. Iya. Pagi.” Jawabannya lebih cepat dari otak. Shafira langsung nutup mulut supaya nggak ketawa. Mereka duduk. Dosen telat datang (lagi), dan kelas belum mulai. Aurelya akhirnya buka laptop, berniat nyiapin file buat rapat kelompok nanti siang. Tiba-tiba HP-nya bergetar. Raksa: Udah lo cek semua bagian yang kemarin? Aurelya: Udah. Ada beberapa gue rapihin. Raksa: Oke. Makasih. Simple. Tapi Aurelya langsung mencondongkan badan ke meja, nahan senyum supaya nggak keliatan norak. Shafira melirik. “Astaga Rel… itu cowok beneran ya? Kok tiap chat-nya singkat tapi nusuk ke hati gitu.” “Diam, Fir.” “Tapi lo senyum.” “Diam, Firaa.” Siangnya, mereka kumpul lagi di taman belakang kampus. Angin agak kencang, bikin kertas-kertas di meja sempat terbang. Satya buru-buru nahan dengan botol minum. “Yaelah, kabur lo. Mon maap nih laporan belum selesai,” keluhnya. Keira menghela napas panjang. “Rel, file yang lo pegang mana?” Aurelya membuka tas dan mengeluarkan flashdisk. Raksa refleks memperhatikan gerakan itu—halus, tapi ketahuan. “Gue gabungin data wawancara sama tabel analisisnya, ya?” Aurelya memastikan. “Boleh,” jawab Keira. Saat Aurelya colok flashdisk itu, Raksa sedikit mendekat. Bukan niat mau kepoin, lebih ke… ya, mau bantu ngawasin. Tapi dari sudut pandang Aurelya rasanya kayak cowok itu terlalu dekat. Bangku mereka sempit. Bahu mereka hampir bersentuhan. Aurelya berusaha fokus ke layar, tapi suara ketikan Raksa di laptopnya terasa jelas banget. Raksa berdehem pelan. “Bagian itu boleh lo highlight. Biar dosennya gampang ngecek.” “Oh. Iya.” Suaranya keluar lebih kecil dari yang dia kira. Dan sekali lagi—padahal cuma beberapa detik—mata mereka ketemu. Tatapannya nggak intens, tapi ada sesuatu di sana. Tenang, pelan, semacam perhatian yang nggak perlu diucapin. Aurelya cepat-cepat berpaling. “Oke, lanjut.” Sementara Shafira dari seberang meja udah mau meledak nahan tawa. Setelah beberapa jam, rapat selesai. Satya buru-buru pamit karena harus ngurus presentasi kelas lain. Keira juga cabut duluan. Tinggal Aurelya, Raksa, dan Shafira yang pura-pura ngorek-ngorek tas padahal nunggu momen. Raksa berdiri. “Rel.” Aurelya mendongak. “Hmm?” “Thanks ya. Kalau lo nggak cek, laporan ini pasti banyak bolongnya.” Aurelya garuk alisnya. “Alah, lo aja yang sebenernya lebih rapi dari gue.” Raksa menggeleng pelan. “Lo detail. Gue suka itu.” Deg. Aurelya beku. Sementara Shafira hampir keselek ludah. Raksa lanjut, masih dengan nada datar yang… entah kenapa justru bikin semua ucapan kedengeran lebih serius. “Besok kita kirim jam sepuluh. Kalau ada revisi, kabarin gue.” Aurelya cuma bisa mengangguk. “Iya.” Raksa berbalik pergi. Langkahnya tenang, seperti biasa. Tapi untuk pertama kalinya, Aurelya sadar: cowok itu nggak cuma dingin. Dia perhatian… cuma caranya beda. Shafira langsung memeluk lengan Aurelya dari samping. “REL. GUE NGELIAT SENDIRI. DIA NGOMONG ‘GUE SUKA ITU’. DIA NGOMONG. LANGSUNG. DEPAN MUKA LO.” Aurelya menutup muka dengan kedua tangan. “Fir, sumpah… gue nggak siap.” “Boong. Lo senyum.” Aurelya menurunkan tangannya. Senyum tipis itu sudah terlanjur muncul. “Ya nggak tau… aneh aja.” Shafira nyengir. “Rel… hati-hati. Batas antara ‘aneh’ sama ‘suka’ tuh tipis banget.” Aurelya yang tadinya mau bantah, malah diam. Karena entah kenapa, hati kecilnya bilang… Shafira mungkin nggak sepenuhnya salah. Malamnya, waktu Aurelya rebahan di kasur, semua kejadian hari itu berputar ulang di kepalanya. Tatapan Raksa. Komentar pendeknya. Cara dia bilang “gue suka itu” dengan tenang kayak itu hal paling biasa di dunia. Padahal efeknya ke Aurelya? Hancur lebur. “Rel…” gumamnya sendiri, menatap langit-langit kamar. “Lo jangan mulai aneh-aneh.” Tapi bibirnya tersenyum lagi—tipis, malu, tapi tulus. Dan di luar jendela, angin malam membawa satu kenyataan kecil yang diam-diam mulai tumbuh: Raksa mungkin bukan tipe yang banyak ngomong. Tapi tiap kata yang dia pilih… selalu kena di hati Aurelya. Selesai mandi malam itu, Aurelya berdiri di depan cermin. Rambutnya masih basah, jaket oversized dipakai seadanya. Tapi yang bikin dia diem bukan penampilannya—melainkan bayangan kalimat Raksa yang terus muter di kepala. “Lo detail. Gue suka itu.” Aurelya memukul pelan pipinya sendiri. “Rel… sumpah. Move on dari satu kalimat doang. Please.” Ia mengambil handuk kecil, mengusap rambut, lalu kembali ke meja belajar. Flashdisk Raksa masih di sana, tergeletak santai seolah sengaja ngejek. Aurelya meraihnya. “Kenapa sih lo bikin hidup gue ribet?” Flashdisk diam aja. Tapi di kepala Aurelya… ada adegan ulang yang bikin pipinya panas lagi. Ia akhirnya duduk, membuka laptop, berniat memeriksa ulang laporan. Tapi baru baca dua paragraf, pikirannya mulai kabur. Raksa tadi beneran ngomong kayak gitu ya? Atau cuma halu? Tapi Shafira dengar juga… Berarti bener dong?! Aurelya jatuh tersandar ke kursi sambil menutup wajah. “Aduh Rel… sumpah lu lemah banget sama cowok kaku.” HP-nya bunyi. Raksa: Jangan lupa cek lagi bagian tabel perbandingannya. Kayaknya ada satu data yang bisa lo tambah. Aurelya buru-buru duduk tegak. Aurelya: Bagian yang mana? Butuh lima detik sebelum balasan masuk. Raksa: Baris ketiga. Yang lo wawancara sendiri. Barusan aja Aurelya pengen berhenti mikirin dia. Tapi cowok itu malah muncul lagi. Aurelya: Oke. Gue cek sekarang. Ada jeda beberapa menit. Aurelya mikir Raksa udah offline. Tapi lalu… Raksa: Jangan maksain kalau capek. Besok juga bisa. Aurelya menatap layar lama banget. Wah. Ini Raksa loh. Orang yang jarang banget ngomong hal-hal begitu. Dan sekarang dia bilang jangan maksain? Aurelya langsung ngetik cepat. Aurelya: Nggak capek kok. Padahal jelas-jelas dia capek. Tapi gengsi mengalahkan logika. Beberapa detik kemudian, ada bubble typing… lalu hilang… lalu muncul lagi… kayak Raksa mikir dulu sebelum ngetik. Raksa: Oke. Makasih ya. Simple. Tapi hati Aurelya udah jungkir balik. --- Sekitar jam sembilan malam, hujan turun. Bukan hujan deras, cuma rintik-rintik yang nempel di jendela. Aurelya membuka tirai, menatap lampu jalanan yang jadi buram karena kaca basah. Samar-samar, dia mikir sesuatu. Sesuatu yang nggak mau dia akuin keras-keras. Kayaknya gue takut kalau besok dia nggak ngomong apa-apa lagi. Aurelya menutup tirai cepat-cepat, lalu menjatuhkan diri ke kasur. Dia meraih HP, membuka grup W******p kelompok. Satya: Besok jam 10 fix ya. Keira: Flashdisk aman kan, Rel? Shafira: Aman kok! (Biar Rel gak ngelak 😆) Aurelya mengetik balasan, tapi sebelum dikirim, notifikasi baru muncul. Dari Raksa. Raksa: Kalau ada yang perlu gue bantu, bilang aja. Aurelya langsung bengong. Itu bukan kalimat template. Bukan kalimat “formal kelompok”. Itu kalimat pribadi. Kalimat perhatian. Tangannya gemetaran dikit waktu ngetik jawaban. Aurelya: Iya. Makasih. Lama. Nggak ada typing bubble. Aurelya hampir taro HP-nya… tapi tiba-tiba masuk lagi. Raksa: Selamat istirahat, Rel. Aurelya jatuh terduduk di kasur. “Rel… kenapa sih lo deg-degan cuma gara-gara ‘selamat istirahat’???” Tapi kenyataannya, jantungnya beneran kayak mau copot. Ia balas pendek karena takut keliatan geer: Aurelya: Iya. Lo juga. Setelah itu dia lempar HP ke samping bantal kayak barang panas. Wajahnya merah. Tangannya nutup muka. Napasnya pendek-pendek. “Gila… itu cowok kalo ngomong santai aja efeknya begini.” Aurelya akhirnya masuk selimut, tapi matanya masih terbuka. Hujan di luar makin halus, hampir kayak white noise yang bikin suasana kamar jadi terlalu tenang… dan terlalu gampang buat mikir hal-hal aneh. Perlahan, dia berguling sambil memeluk guling. “Raksa tuh… kenapa sih?” bisiknya lirih. Siapa pun yang denger mungkin bakal nyangka Aurelya lagi jatuh cinta. Tapi Aurelya masih harus berdebat sama dirinya sendiri dulu. Satu hal pasti: malam itu, dia tidur dengan perasaan aneh—nyaman, deg-degan, dan… nunggu besok. Nunggu tatapan itu muncul lagi.Tapi ada sesuatu yang kembali utuh. Kepercayaan. Dan Aurel tau, kalau ujian ini bisa mereka lewatin— yang lain, pelan-pelan, akan menyusul. Raksa tau itu juga. Dia cuma nggak pernah jago nunjukinnya. Pagi itu, Raksa duduk di motor lebih lama dari biasanya sebelum turun. Mesin udah mati, helm masih di kepala, tapi pikirannya belum sampai kampus. Kepalanya penuh—bukan sama tugas, bukan juga sama deadline. Tapi sama Aurel. Bukan versi Aurel yang galak. Bukan juga yang dingin. Versi Aurel yang berdiri di lorong kemarin, bilang dia takut… tapi tetap milih tinggal. Kenapa orang bisa seberani itu? pikir Raksa. Ngaku takut, tapi nggak pergi. Raksa nggak terbiasa dengan itu. Sejak kecil, dia belajar satu hal: kalau sesuatu mulai terasa penting, jarak adalah cara paling aman. Dan sekarang, jarak itu justru yang hampir bikin semuanya runtuh. Raksa buka helm, menghela napas panjang, lalu akhirnya turun. Di kelas, Aurel duduk di tempat biasa. Raksa ngeliatnya
Dan untuk pertama kalinya, Aurel nggak merasa sendirian di dalam diam. Perasaan itu nggak langsung meledak jadi bahagia berlebihan. Nggak ada senyum lebay atau langkah ringan yang dibuat-buat. Justru semuanya terasa… stabil. Kayak sesuatu yang akhirnya nemu tempatnya. Besoknya, Aurel bangun dengan kepala lebih tenang. Masih ada pikiran tentang Raksa. Masih ada deg-degan kecil. Tapi nggak lagi bikin sesak. Di kampus, hari berjalan normal. Terlalu normal, malah. Raksa datang telat hari itu. Aurel sadar tanpa perlu nengok jam. Bangku di sebelahnya kosong lebih lama dari biasanya. Sekilas, dadanya nyentak—bukan panik, tapi refleks. Tenang, batinnya. Dia nggak ke mana-mana. Raksa baru muncul menjelang kelas dimulai. Wajahnya sama seperti biasa, tapi langkahnya sedikit lebih cepat. Dia duduk tanpa banyak basa-basi. “Pagi,” ucapnya pelan. “Pagi,” balas Aurel. Singkat. Tapi cukup. Namun sepanjang kelas, Raksa lebih banyak diam. Lebih dari biasanya. Fokusnya ke depan, ke catat
Aurel cuma bisa bilang, “Thanks,” dengan muka yang nggak jelas antara malu dan senang. Pintu lift keburu nutup sebelum dia sempat mikir lebih jauh. Pantulan wajahnya di kaca lift keliatan asing—pipinya agak hangat, matanya terlalu hidup buat dibilang biasa. Dia menghembuskan napas pelan. Aneh, batinnya. Satu kata doang. Tapi rasanya panjang. Di perjalanan pulang, Aurel lebih banyak diam. Tangannya sibuk mainin ujung jaket, sementara pikirannya muter ke satu titik yang sama—cara Raksa manggil namanya barusan. Pelan. Nggak lebay. Tapi kena. Bukan karena kata-katanya. Tapi karena caranya peduli tanpa nanya terlalu jauh. Malam itu, Aurel susah tidur. Bukan karena ribut. Justru karena terlalu sunyi. Dan di dalam sunyi itu, ada perasaan baru yang pelan-pelan berdiri. Nggak nyelonong. Nggak maksa. Cuma… nunggu disadari. Besoknya, kampus terasa beda. Bukan kampusnya yang berubah. Tapi Aurel yang datang dengan langkah sedikit lebih ringan. Dia masih jadi Aurel yang sama—nggak
Pilihan yang, cepat atau lambat, bakal nyeret mereka ke perasaan yang udah dari awal mereka coba sembunyiin. Mulai dari situ… hubungan Aurel dan Raksa mulai keliatan jelas—setidaknya buat orang-orang yang cukup peka ngeliatin keduanya dari jauh. Termasuk beberapa orang yang lagi ada di halaman kampus sore itu. Angin sore lewat pelan, nyeret daun-daun kering yang belum sempat disapu petugas kampus. Aurel lagi jalan pelan menuju gedung kelas, masih keinget omongan Raksa tadi malam. Besok bareng. Kata sederhana, tapi di kepala Aurel rasanya kayak suara yang terus ngegema. Sampai-sampai dia nggak sadar ada suara yang nyapa dari belakang. “Aurel?” Aurel noleh cepat. Shafira. Dengan totebag penuh sticky notes warna-warni dan wajah ceria seperti biasa. “Eh… Fira,” jawab Aurel, sedikit kaku karena kepalanya masih penuh Raksa. Shafira senyum, tapi tatapannya ngamatin. Peka, seperti biasa. “Lo kayak habis mikirin sesuatu.” Aurel buru-buru geleng. “Nggak.” “Yaudah,” Shafira anggu
Aurel langsung buang pandang. Karena kalau dia lihat lebih lama, dia takut kelewat ngerti apa maksud Raksa sebenarnya. Raksa kemudian ngelangkah lagi, tapi lebih pelan, kayak nunggu Aurel otomatis jalan di sampingnya. Dan Aurel beneran ikut. Tanpa mikir. Kayak kaki mereka udah nyari satu sama lain. Beberapa langkah kemudian— tanpa sengaja— jari mereka bersentuhan lagi. Tipis. Cepat. Tapi kali ini… Raksa nggak langsung narik tangannya. Aurel juga nggak. Mereka sama-sama ngebiarin momen itu lewat, tapi diamnya ngomong lebih banyak dari seluruh percakapan hari ini. Aurel ngerasa aneh. Aneh yang hangat. Aneh yang… bikin hati deg-degan. Raksa ngerasa cemas kecil, tapi bukan cemas yang bikin mundur. Cemas yang bikin dia sadar kalau dia udah mulai kehilangan kendali. Dan semua itu— sentuhan kecil, langkah yang pelan, tatapan yang keburu ngaku sebelum kata-kata— adalah awal dari sesuatu yang mereka sendiri belum siap buat akui. Tapi udah terjadi. Mereka cuma belum bila
Mulai dari situ — pelan, nyaris nggak kerasa — sesuatu di antara mereka berubah. Tetap sunyi. Tetap kecil. Tapi hadir. Raksa jalan duluan, tapi bukan kayak biasa yang langkahnya mantap dan cuek. Kali ini dia kayak… nahan diri. Biar Aurel nggak keteteran, biar ritme mereka tetap sama. Aurel nggak komentar. Tapi detik itu juga, dia tahu: ada hal yang nggak bisa dia pura-purain nggak kerasa. Mereka melewati koridor kampus yang adem, lampu-lampu kuning lembut, dan suara langkah yang echo pelan. Dan entah kenapa, suasana itu malah bikin semuanya terasa lebih dekat. Lebih pribadi. Sampai akhirnya, dari arah yang berlawanan… seseorang muncul. Seseorang yang bikin langkah Raksa ngehentiin sepersekian detik. Dan bikin Aurel merasakan udara di sekitarnya berubah. Alden. Cowok yang terkenal supel, pinter ngomong, dan… suka ngasih perhatian ke Aurel sejak semester kemarin. Alden senyum duluan. “Eh, Aurel.” Nadanya ramah — yang kayak biasanya aja — tapi entah kenapa terdengar t







