MasukEmpat tahun pernikahan mereka berjalan, dan dua tahun lamanya, Diana tak pernah lagi disentuh. Ketika malam pun, hanya punggung dingin yang ia dapat. Diana tahu suaminya berselingkuh di belakangnya. Namun ia tetap berusaha mempertahankan. Berharap pria itu kembali seperti dulu, saat masih mencintainya. Akan tetapi, manusia memiliki batas kesabaran, bukan? Dan Diana sudah berada dalam titik jeranya kala ia menemukan suaminya bercinta dengan selingkuhanya di apartemen mereka. Diana meminta talak. Diana meminta putus pernikahan. Tapi siapa sangka satu malam panjang yang ia lalui dengan sang suami merubah semuanya. Dimana, suaminya yang tak mau melepaskan Diana dalam ikatan perkawinan. Suaminya ... atau jiwa lain dalam tubuh suaminya?
Lihat lebih banyak~HOLLY~
My phone buzzes, I lazily stretch my hand to pick up the phone from where it's laying on my bed.
It's a message notification from Troy, my boyfriend. I open the message and instantly, my stomach sink.
“Hey. I think we should break up. Things are not working between us, and I can't force it anymore. I hope you understand. And I'm sorry for breaking up with you four days before Christmas. I know how you're looking forward to spending the Christmas with me. I'm sorry about that.”
I stare at the screen for a solid ten seconds before letting out a soft, humorless laugh. Figures.
I had seen it coming. Not because I was psychic, but because deep down, I had known he was never going to be the one, and I hadn't given my best in the relationship. It's only a matter of time before he got tired of me.
He was easy, familiar, and available—but he lacked the spark that made my heart race every time my best friend’s dad walked into a room.
Sliding onto the edge of my bed, I toss the phone beside me and bury my face in my hands.
“Good. Finally, honesty,” I mutter under my breath.
My reflection in the mirror caught my eye. My cheeks are flushed, a little from irritation, a little from embarrassment.
I give myself a wry smile. Troy wasn’t what I wanted anyway. I hadn’t needed him to break my heart—I had always known he was just… filler. A substitute for the real thing.
Consoling myself, I whispered, “It’s fine. I didn’t need him anyway. I’ve always known… I’ve always wanted him.”
My fingers itched with the memory of my best friend’s dad. The one person I can't have, no matter how badly I want him.
And so I had settled, like I always did. Settled for someone who was convenient, someone safe.
And now, he has broken up with me some days before Christmas. This is going to be the worst Christmas ever.
****
The weather decided to snow later in the day. I have never seen snow fall this heavily my life.
Thick white sheets blanketed the town, swallowing cars, burying rooftops, and turning the roads into glossy death traps.
My apartment building groans under the weight of winter, and inside my small room, the sound of water dripping grows louder. Too loud.
Another droplet falls from the ceiling.
Then another.
Then the whole plaster caved in, sending freezing water splashing across my blanket.
“Are you kidding me?!” I yelp, scrambling off the bed just as another stream burst through the ceiling.
This is not the right time for this…I groan.
Cold, miserable and absolutely ruined, I grab my phone with shaking hands and dial the only person I can think of.
“Holly?” Gabriel, my best friend answers groggily, his voice thick with sleep.
“My ceiling just gave out,” I snap. “My stuff is soaked. I’m freezing. Can I come stay at your place till I figure out what to do about it later??”
A pause.
Then, “You’re staying with me. I’m coming.”
Before I can argue, the call ends.
It takes Gabriel exactly seven minutes to arrive.
“Let’s go,” he says, already moving toward my bags. “Dad won’t mind.”
My stomach drops.
Damien Blackwood.
The stern, cold, devastatingly handsome Alpha of the Silver Thorn Pack. The man whose intense gaze makes me forget how to breathe. The man who lived by rules, structure, discipline.
The man I definitely should NOT have a crush on.
“Gabriel, I don’t think….”
“My dad isn’t even home most nights,” he interrupts. “He’ll barely notice.”
That was a lie and we both know it.
Damien notices everything.
But I am too cold, too tired, and too desperate to argue. I follow Gabriel through the snow, trembling as the icy wind bit into my skin.
When we reach the Blackwood residence, I curse under my breath.
The house is massive…. dark wood, warm lights glowing from inside, smoke curling from the chimney. Cozy, intimidating, and too perfect.
Gabriel unlocks the door.
“Dad? You home?” he calls.
Silence.
Relief loosen my shoulders. Thank goodness he isn't home. I am not ready to face him again.
“See? All good. Come in…..” and then, Gabriel is interrupted.
“Why are you home early? Thought you just left??”
The deep, commanding voice freezes me in place.
Damien Blackwood step from the hallway like a shadow made flesh — tall, broad-shouldered, muscular, commanding, wearing a fitted black t-shirt that clung to muscle and authority. His presence fills the entire room.
I take a look at his intimidatingly handsome face—Strong jawline, Dark hair, neatly trimmed beard, Deep brown, controlled, intimidating eyes.
His eyes lands on me
And for a moment… I stop breathing.
Warmth spread across my cheeks. I suddenly wish the snow outside will swallow me whole.
“Holly?” Damien says slowly. “It’s been a while.”
Gabriel steps forward. “Her ceiling collapsed from the storm. She needs a place to stay until repairs are done.”
Damien’s jaw clenches.
I feel judged. Watched. Stripped bare.
But then…..his expression shifted.
He steps closer, and my breath siezes.
Just then, Gabriel's sister saunters into the room.
“Hey, Holly. It's been a while” she says gleefully, as she walk up to me and pull me into a hug.
“Hi, Ella. Yeah, it's been a while…and a merry Christmas to you in advance” I smile at the eighteen years old gorgeous girl with big brown eyes, chocolate brown hair, pointed nose and cute lips.
I am twenty two, and Gabriel is twenty three. While his father…is forty two.
When I look up, Damien is staring at me.
“You’re trembling,” he says.
I swallow hard. “I–I’m fine.”
He reaches out and brushes melting snow from my hair—an instinctive, protective gesture.
Electricity shot down my spine.
He must have felt it too, because he immediately withdraw his hand, expression tightening.
“You’ll stay here,” he says, not a question. A command.
My pulse spiked.
Damien Blackwood has never spoken to me like this.
Gabriel grins at me. “See? Easy.”
But I am not even listening to him. I am staring at the lips of the man I should never want and I'm wishing to have those cute lips on mine.
And when Ella pulls me away saying that we should take a stroll down the street because she is feeling bored, I'm grateful for the distraction.
I follow her immediately out of the door before I do something very stupid.
Jika kalian pikir dengan semua ancaman Edwin, Marley akan menyerah, kalian semua salah. Setelah dicekik, hampir tertabrak mobil, dan semua kata penuh nada amarah yang telah Edwin lontarkan, Marley masih tetap berani. Jika bertanya apa alasannya, Marley akan dengan keras mengucapkan bahwa dia mencintai Edwin. Dia tidak rela jika Edwin tiba-tiba lepas darinya tanpa alasan yang jelas. Dan Marley tetap yakin bahwa ... bahwa Edwin akan kembali kepadanya. Pasti. "Minumnya, Nona?" Suara seseorang membuyarkan lamunan Marley. Marley segera mengalihkan pandangan yang tadinya terfokus pada Edwin ke seseorang yang berpakaian seperti pelayan. Memegang nampan berisi berbagai alkohol yang ia bawa berkeliling dan ditawarkan pada semua tamu. Marley mengambil satu gelas tanpa mengatakan apapun. Kemudian kembali memandang Edwin sembari meminum minuman itu. Malam ini adalah malam kedua mereka di Bali. Dan saat ini, Marley serta Edwin sedang menghadiri pesta perayaan atas suksesnya pembangunan resort
Sekarang sudah waktunya pulang bekerja. Dan Kalyani benar-benar merasa takjub, kagum, dan tidak percaya dengan apa yang dirinya alami. Karena, semua orang divisi keuangan benar-benar diam membisu! Dari awal Kalyani kembali dari restoran itu, hingga pulang bekerja, mereka benar-benar diam tidak berbicara. Dan sekarang pun, saat membereskan meja dan barang-barang yang akan mereka bawa pulang, situasi masih sama. Merasa terlalu pusing memikirkan hal aneh itu, Kalyani segera membereskan barang-barang miliknya. Sesudah selesai, dirinya segera berjalan ke arah meja Diaa. "Kak Diana ngerasa aneh nggak si?" tanya Kalyani ketika sampai di samping Diana. Menunggu wanita itu membereskan barang-barangnya. Diana menghentikan kegiatannya dan memandang Kalyani bingung. "Aneh kenapa?" "Aku merasa, bukankah divisi kita terlalu sepi, 'Kak? Mereka benar-benar diam dan tidak menggosip seperti biasanya." Kalyani menerangkan pada Diana yang tampak tidak peka dengan keadaan sekitar. Mendengar itu, Dian
Kalyani merasa makanan yang baru saja masuk di perutnya adalah makanan paling enak. Bumbunya begitu terasa pas dan daging itu begitu lembut ketika menyentuh lidah Kalyani. Kalyani akan menambahkan restoran tersebut sebagai restoran favoritnya. Kalyani dan Diana sekarang sedang berjalan kembali ke divisi mereka. Dan seperti hari-hari biasa, karena kalyani berjalan bersama Diana, maka dari itu gosip tidak pernah lepas saat mereka melewati pegawai lain. Namun kali ini Kalyani bisa merasakan tatapa mereka yang menyimpan rasa tidak suka pada Diana. Bahkan mereka dengan terang-terangan melirik sinis Diana. Kalyani dengan segera menggandeng tangan Diana. Membuat Diana menoleh ke arahnya. Dan Kalyani memberikan senyum lebar. Seakan mengisyaratkan, "Aku ada di sini, Kak. Kakak tenang saja." Akhirnya setelah perjalanan horor penuh mata sinis, mereka sampai juga di divisi keuangan. Namun berbeda dengan divisi lain, divisi mereka justru sangat ... sunyi. Diana sepertinya tidak menyadarinya.
Kalyani dan Diana akhirnya sampai pada restoran yang Kalyani katakan menjual kelinci bakar dengan rasa sedap. Segera setelah mereka memesan, mereka memilih tempat duduk di pinggir jendela. Hingga dapat melihat pemandangan padatnya ibu kota dengan orang yang berlalu-lalang. "Maafkan aku karena melibatkanmu, Kalyani." Diana merasa bersalah ketika wanita itu selalu terseret dalam masalahnya. Namun Kalyani sepertinya tidak masalah. Dia justru tersenyum lebar ke arah Diana. "Tidak masalah, Kak. Aku senang bisa membantumu. Karena kau tahu, aku tidak memiliki teman selain Kak Aria." Walau Kalyani mengatakan itu, tetap saja Diana merasa tidak enak. Andai Zerkin sudah tidak mengejarnya lagi. Andai Diana bisa hidup tenang selama ia bekerja. Diana hanya menginginkan itu. Sekarang, Edwin sudah berubah. Rasanya Diana sangat senang. Namun ketika masalah satu selesai, masalah lain justru datang. Suara dering ponsel milik Diana terdengar. Menandakan adanya pesan masuk. Segera Diana mengambil ben
"Terima kasih atas kerjasamanya, Mr. Edwin dan Mrs. Marley. Saya pamit undur diri." Klien yang baru saja Edwan dan Marley temui, Mr. Adipta memberikan ulasan senyum pada keduanya. "Terima kasih juga, Mr. Adipta." Edwan membalas kembali senyum untuk menghormati Mr Adipta. Marley yang berada di sampin
Maya dan ketiga teman divisinya segera berlari terbirit-birit dari ruangan horor itu. Terlebih setelah di bentak oleh Zerkin, orang yang notabenya jarang menaikkan volume. CEO mereka itu lebih banyak berkata datar. Saat keluar, segera mereka berempat menjadi pusat perhatian. Karena entah sejak kapan
Mimpi indah Rebecca seketika sirna ketika mendengar pintu yang di banting dengan keras. Dirinya sampai terjatuh dari kursi karena terlalu kaget. Mimpi indahnya pun buyar. Padahal dia sedikit lagi akan melakukan malam pertama dengan Oliver setelah dipilih Oliver menjadi permasuirinya. Dengan tertatih
Kalyani menggeram marah ketika semua teman satu divisi miliknya membicarakan Diana dengan buruk. Namun walau rasanya ingin menarik lidah mereka semua, Kalyani mengurungkan niat itu. Dirinya bisa-bisa dikeroyok. Jadi Kalyani hanya bisa menahan amarah serta mendoakan mereka semua terkena sariawan di l












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasanLebih banyak